Teleportasi Kedunia Kerajaan

Teleportasi Kedunia Kerajaan
Bab 26 : sebuah karung?


__ADS_3

Pagi harinya, semuanya sudah siap dengan penyamarannya masing-masing, dan akan segera berangkat ke desa.


“Kalian hati-hati” nasehat nenek pada Audrey.


“Iya nek” saut Audrey.


“Eh... Di mana pangeran Xelo?” tanya pangeran Cleo.


“Ehh iya ya, di mana pangeran Xelo? Nek, pangeran Cleo, biar Audrey cari pangeran Xelo” ucap Audrey yang di angguki oleh nenek dan pangeran Cleo.


Audrey segera pergi untuk mencari pangeran Xelo, hingga dia berhenti di sebuah ruangan dan melihat pangeran Xelo dari balik pintu.


“Bunda... Cepatlah sadar dan do'akan Xelo agar Xelo bisa mencari jalan keluarnya untuk mengembalikan kerajaan seperti semula. Bunda... Keadaan ayah semakin buruk, jika saja bunda sadar pasti keadaan ayah tidak akan semakin memburuk, karena bunda lah yang tau bagaimana caranya merawat ayah dengan baik dan benar, bunda ceparlah sadar kami semua rindu bunda” ucap pangeran Xelo dan mencium kening sang ibunda yang tertidur begitu pulas hingga tak mau di bangunkan dari alam mimpinya yang begitu indah.


Audrey yang mendengarnya begitu sedih dan merasakan apa yang pangeran Xelo rasakan, dia terdiam.


“Audrey apa yang kau lakukan di sini?” tanya pangeran Xelo membuyarkan lamunan Audrey.


“E-eh... Pangeran, emm t-tidak ada, oh ya nenek dan yang lain sudah menunggu kita, ayo” ucap Audrey gugup dan segera menarik pangeran Xelo pergi.


“Tuh mereka” ucap pangeran Cleo ketika melihat Audrey yang sedang menarik tangan pangeran Xelo.


“Habis dari mana pangeran?” tanya nenek pada pangeran Xelo.


“Tidak dari mana-mana nek” jawab pangeran Xelo.


Tiba-tiba salah satu pangawal datang, “Pangeran Kereta kuda sudah siap” ucap salah satu pengawal yang akan ikut menyamar juga, sebut saja namanya John.


“Ya sudah nek, kami berangkat dulu” ucap Audrey.


Nenek dan pangeran Cleo mengangguk, lalu Audrey dan pangeran Xelo segera masuk ke dalam kereta kuda.


Pangeran Xelo dan Audrey melambaikan tangannya dan kereta pun pergi dari halaman kerajaan.


Nenek dan pangeran Cleo melihat kepergian mereka, “Semoga berhasih dan mereka baik-baik saja” ucap nenek menatap kereta kuda yang semakin menjauh.


“Iya nek, semoga saja” saut pangeran Cleo lalu membawa nenek masuk ke dalam kerajaan.


***


“Pangeran aku takut” lirih Audrey menatap pangeran Xelo.


Pangeran Xelo menatap Audrey balik, “Tak usah takut, ada aku di sini bersamamu, apa yang kau takuti?” tanya pangeran Xelo menggenggam lengan Audrey.


“Aku takut mereka akan mengenali kita dan akan melukai kita” ucap Audrey.


Pangeran Xelo semakin memperat genggaman tanggannya pada tanggan Audrey.


“Tak akan, tenanglah kau tak usah takut ada aku di sisimu” ucapnya tersenyum.


Audrey membalas senyuman pangeran Xelo dan mengannguk pelan.


Kereta kuda berhenti, “Pangeran kita sudah sampai” ucap John, pengawal tertua di antara pengawal yang ikut bersamanya.


“Oh sudah sampai, ya sudah ayo turun” saut pangeran Xelo turun dari kereta kuda dan di ikuti Audrey di belakangnya.


Pangeran terus saja menggenggam tangan Audrey dan mengangguk, pertanda semuanya akan baik-baik saja, Audrey tersenyum dan mengangguk pelan.


Pangeran Xelo dan Audrey menyusuri hutan-hutan yang terdapat beberapa rumah warga, sedangkan ketiga pengawal diam di kereta kuda untuk menjaganya. Selama perjalanan tak ada yang mencurigakan sama sekali.


“Pangeran disini aman-aman saja” ucap Audrey lirih agar tak kedengaran oleh orang lain.


“Heem... Kita lihatlah saja dulu” saut pangeran Xelo yang terus saja menggenggan tangan Audrey tanpa niat untuk di lepas.

__ADS_1


Tiba-tiba pangeran Xelo menarik tangan Audrey dan bersembunyi di balik tembok, pangeran Xelo mengunci pergerakan Audrey.


Audrey di buat gugup oleh pangeran Xelo, “P-pageran... Apa yang kau lakukan?” tanya Audrey gugup.


“Sutt...” pangeran Xelo meletakan jari telunjuknya tepat di bibir Audrey.


“Diamlah dulu” ucapnya.


Pangeran Xelo melihat segerombolan orang berbadan besar sedang menurun-nurunkan karung-karung dari kereta kuda.


“Pa-pangeran... Ada apa sebenarnya?” tanya Audrey masih dengan kegugupannya.


Setelah melihat segerombolan orang tersebut pergi membawa kereta kudanya pangeran Xelo menatap manik mata Audrey lekat.


Dan itu semakin membuat Audrey gugup, siapa pun tolong selamatkan Audrey dari tatapan pangeran Xelo. Cukup lama mereka bertatap-tatapan hingga Audrey mendorong pelan dada pangeran Xelo.


“M-maaf... A-aku tak sengaja” ucap Audrey memalingkan wajahnya yang sudah memerah.


Sedangkan pangeran Xelo yang melihatnya hanya terkekeh pelan saja, “Emm... Emang t-tadi ada apa?” tanya Audrey mencoba agar menghilangkan kecanggungan.


“Tuh lihatlah” pangeran Xelo menggunakan wajahnya untuk memperlihatkan apa yang dia lihat tadi.


Audrey mengikuti arah pandang pangeran Xelo, dia tidak melihat kereta kuda melainkan hanya ada setumpukan karung-karung berukuran cukup besar.


“Apa itu pangeran?” tanya Audray menatap pangeran Xelo.


“Entahlah” pangeran Xelo mengangkat bahunya.


Audrey yang penasaran ingin menghampiri setumpukan karung tersebut tapi segera di tahan oleh pangeran Xelo.


“Tunggu, kau mau kemana?” tanya pangeran Xelo mencekal pergelangan tangan Audrey.


“Aku mau ke sana, mau cari tau apa itu” jawab Audrey melepaskan cekalannya dan segera saja menghampiri karung tersebut tanpa menghiraukan pangeran Xelo.


Audrey sudah sampai di setumpukan karung-karung tersebut, dia melihatnya begitu bingung.


“Apa ini?”


“Apa aku coba buka saja?”


“Tapi ini punya siapa ya?”


“Ah sudahlah buka saja, siapa tau ada hal yang mencurigakan”


Gumaman Audrey pelan, dan Audrey mengangkat tangannya untuk membuka salah satu karung tersebut, tapi sebelum benar-benar terbuka ada yang menahan tangannya.


Audrey melotot kaget, dia sedikit demi sedikit melihat ke arah orang yang mencekal tangannya, matanya semakin melotot ketika dia melihat pria berbadan besar dan memiliki wajah sangar.


“E-eh...” gugup Audrey.


“Lepaskan dia... Jangan kau sentuh dia” ucap pangeran Xelo yang tiba-tiba menghampiri mereka dan segera melepas cekalan pria tersebut dari tangan Audrey dan menghempaskannya kasar.


Pangeran Xelo menyembunyikan Audrey di belakangnya, dan dia yang sekarang berhadapan dengan pria tersebut.


“Siapa kalian?” tanya pria tersebut menatap pangeran Xelo.


“Itu bukan urusan mu” jawab pangeran Xelo ketus.


“Tidak sopan sekali anda” ucapnya yang mulai marah.


Audrey segera menahan pangeran Xelo agar tak ikut juga tersulut emosi.


“Tenanglah” bisik Audrey.

__ADS_1


“Maaf, kami telah lancang kepada anda” saut Audrey meminta maaf.


“Sebenarnya kalian sedang apa di sini?” tanyanya lagi.


“Kalau kalian tidak ada urusan penting segera pergilah, mengganggu saja!” lanjutnya sinis.


Pangeran Xelo mengepalkan tangannya yang siap untuk membogem wajah pria yang ada di hadapannya saat ini.


“Maaf, kami hanya tak sengaja saja lewat kesini dan menemukan ini, saya kira apa” jelas Audrey tersenyum kikuk di balik kainnya.


“Ini bukan apa-apa, sudahlah kalian pergi saja jika tidak ada kepentingan, mengganggu waktu kerja ku saja” ucapnya mengusir.


“Baiklah, maafkan kami, kalau begitu mari kami permisi” saut Audrey lalu segera menarik pangeran Xelo agar pergi.


Setelah cukup jauh dari tempat yang tadi, Audrey berhenti berjalan dan menegok kebelakang.


“Huhh... Pangeran ingat kau harus jaga sikapmu” peringat Audrey kepada pangeran Xelo.


“Iya, aku lupa” ucap pangeran Xelo.


“Untung saja dia tidak mengajak mu bertengkar, coba kalau itu sampai terjadi ahh aku tidak bisa membayangkan” ucap Audrey menggelengkan kepalanya.


“Ya sudah jangan di bayangkan” saut pangeran Xelo santai.


“Ihhh... Pangeran kau ini” Audrey membuang nafas kasar.


“Ehh pangeran kau tau tidak?” ucap Audrey serius dan membuat pangeran Xelo mentapnya.


“Tidak, emang kenapa?” tanya pangeran Xelo menggeleng.


“Tadi itu...” Audrey menjeda ucapannya dan itu membuat pangeran Xelo semakin penasaran.


“Tadi itu apa?” tanyanya.


“Tadi itu... Kau menyebalkan” ucap Audrey menatap datar pangeran Xelo.


Pangeran Xelo yang mendengarnya lebih menatap datar Audrey.


Audrey yang melihatnya terkekeh pelan, “Hehe... Kau lucu pangeran” kekeh Audrey.


“Sudahlah ayo” ucap pangeran Xelo kembali berjalan.


Tapi Audrey segera menahan tangan pangeran Xelo cepat, “Tunggu dulu pangeran” ucap Audrey menarik tangan pangeran Xelo.


“Apa lagi?” tanya pangeran Xelo membalikan badannya menghadap Audrey.


“Aku ingin kasih tau satu hal padamu” ucap Audrey menatap pangeran Xelo.


“Audrey plis deh... Jangan mulai lagi” saut pangeran Xelo menghela nafas palan dan berbalik badan lagi hendak pergi.


“Pangeran... Pangeran... Tunggu sebentar kali ini aku beneran serius” ucap Audrey kembali menarik tangan pangeran Xelo lagi.


“Ini soal pria tadi” ucap cepat Audrey yang membuat pangeran Xelo berbalik kearahnya.


“Soal apa?” tanyanya.


“Pria tadi....”


**To Be Continue....


***


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya.

__ADS_1


Kasih like nya ya... Makasih, bye-bye**....


__ADS_2