
“Maksudmu?” tanya Audrey menatap lekat Soo Yun yang juga menatapnya.
“Aku mengetahuinya, tato bintang itu adalah sebuah komunitas. Dan nama komunitasnya adalah bintang sabit” jawab Soo Yun.
“Bintang sabit?” beo Audrey.
“Iya, komunitas itu di buat oleh salah satu pria, yang di mana dia membentuk komunitas itu karena dia tidak diterima sebagai anggota perang kerajaan Magixion, dan setelah dia membentuk komunitas dia mengumpulkan beberapa orang yang juga sama seperti dirinya agar bergabung menjadi anggotanya” jelas Soo Yun.
Audrey terdiam mencerna perkataan Soo Yun, tapi setelah itu dia menatap Soo Yun kaget.
“Dan salah satu anggotanya adalah ayahku” lanjutnya menunduk.
“Ayahmu?” tanya Audrey tak percaya.
“Iya” jawabnya mengangguk.
”Apakah mereka jahat?” Audrey bertanya lagi kepada Soo Yun.
“Dulu mereka tidak jahat, mereka selalu membantu dan melindungi daerah desa kami ketika tidak ada para pengawal yang menjaga” jawab Soo Yun.
“Dulu? Kalau sekarang?” tanyanya lagi.
Soo Yun mengha nafas pelan, “Entahlah, beberapa hari kebelakang ini mereka tidak seperti biasanya. Bahkan di saat sedang ada masalah seperti kemarin-kemarin mereka acuh saja, tidak hanya itu kini mereka juga sering menindas warga desa ini” jawab Soo Yun.
Audrey mengangguk, “Ohh ya, komunitas mereka komunitas apa, jika bukan sebagai prajurit perang?” tanya Audrey.
“Mereka memang bukan prajurit perang, tapi mereka sering bertarung dengan para bandit-bandit desa sebelah, bisa di bilang mereka anggota bersenjata dan para warga pada menakutinya” jawab Soo Yun.
“Apakah kerajaan dan raja mengetahui tentang mereka?” Audrey terus saja bertanya hingga rasa penarasannya hilang.
“Tidak, tidak ada satu pun orang kerajaan yang mengetahuinya selain para warga di desa ini, karena jika salah satu warga memberitahu raja Laksamana mereka di ancam akan di bvn*h, mereka juga ada untung dan ada ruginya” jawab Soo Yun.
“Ohh ya, tadi kau bilang ayahmu salah satu anggotanya?” tanya Audrey lagi dan di balas anggukan oleh Soo Yun.
Mereka kini sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing, hingga Audrey bertanya lagi.
“Di mana markas mereka?” tanya Audrey.
“Kenapa kau menanyakan markas mereka?” bukannya menjawab Soo Yun malah balik bertanya.
__ADS_1
“Aku hanya ingin tau saja, di mana markasnya?” ucap Audrey.
“Markasnya di gedung tua perbatasan antara desa ini dan desa sebelah” jawab Soo Yun.
“Kau sudah mengetahuinya, peringatku kau tidak perlu berurusan dengan mereka, walaupun kalian sedang mencari mereka” lanjutnya.
“Memang kenapa?” tanya Audrey menatap Soo Yun.
“Karena mereka kini berbahaya, lebih berbahaya dari sebelumnya. Setauku kini mereka sudah memiliki tuan, dan jabatan tuan mereka berada di atas nya ketua anggota, dan yang sekarang kalian cari adalah ketua anggotanya” jawab Soo Yun menatap balik Audrey.
“Dan tuan mereka adalah musuh kerajaan Magixion, yang ingin menghancurkan kerajaan Magixio dan raja Laksamana. Dan aku kasih tau kepadamu, semua permasalahan yang sekarang kalian alami adalah perbuatan satu orang, dan orang itu adalah orang yang ingin mengahancurkan kerajaan Magixion tak terkecuali raja Laksamana” lanjut Soo Yun dengan serius.
“Dan sekarang kalian harus berhati-hati, kalian sedang di incar oleh musuh kalian” Soo Yun memperingati Audrey.
“Sekarang kau sudah tau semuanya, aku pun mengetahui ini dari ayahku katika aku masih tinggal bersamnya” lanjutnya menunduk.
Audrey terus saja terdiam, dia kaget ternyata ini semua adalah ulah satu orang, dia tak percaya dengan semua ini.
Audrey menoleh ke arah Soo Yun yang menunduk, dan Audrey pun melihat buliran air yang jatuh.
“Soo Yun mengapa kau menangis?” tanya Audrey memegang pundak Soo Yun.
“Tidak papa, aku hanya rindu saja pada ibuku dan ayahku, aku rindu berkumpul dengan mereka” ucap Soo Yun dan isak tangisnya semakin kencang.
“Ibuku telah menginggal dan a-ayahku kau tau ayahku bukan, dia s-sudah membenciku, hisk” Soo Yun terus saja menangis hingga bahunya bergetar, Audrey memeluk gadis manis tersebut.
“I-ibuku meninggal karena aku, k-karena aku yang membuat i-ibu meninggal ayah menjadi benci terhadap diriku” isak Soo Yun.
“T-tapi, aku tak sengaja membuat i-ibu meninggal, w-waktu itu umurku masih 8 tahun, aku sedang m-main di sungai bersama teman seumuranku, tiba-tiba arus a-air sungai besar, a-aku terbawa hanyut, tapi ibuku menolongku h-hingga ibu pun terbawa arus. A-aku di temukan oleh p-para warga.....t-tapi... Hisk, hisk... I-ibu t-tidak di temukan, hingga 3 bulan lamanya, sejak s-saat itu ayah mulai m-membenciku, d-dan d-dia menyesal.... Hisk, hisk, p-punya anak sepertiku... Hisk... Hisk” Soo Yun bercerita sembari terisak di dalam pelukan Audrey.
Audrey terus saja memeluk Soo Yun dan membelai surai hitamnya lembut, dia ikut sedih ketika mendengar ceritanya.
“D-dan kini... A-aku hanya tinggal s-sendiri... Hisk, hisk” lanjutanya.
“Tidak, kau tidak tinggal sendiri. Masih ada paman Li dan Tian yang bersamamu dan menyayangimu, mereka sangat sayang kepadamu, kau harus tau itu” ucap Audrey terus saja membelai rambut Soo Yun.
“Tidak kau sendiri yang merasakannya, Soo Yun. Aku pun merasakannya” lirih Audrey di telingga Soo Yun.
Mereka sama-sama saling berpelukan menyalurkan kekuatan satu sama lain.
__ADS_1
***
Kini sudah larut malam, dan Audrey pun sudah kembali ke kamarnya setelah dia sudah banyak bercerita dengan Soo Yun.
Audrey duduk di tepi ranjang sembari melamun memikirkan perkataan Soo Yun tadi siang, hingga dia tidak sadar bahwa pangeran Xelo sudah ada di sampingnya saat ini.
“Ekhemm” pangeran Xelo berdehem tapi tidak ada sautan dari Audrey.
Pangeran Xelo berdehem kembali dan tetap sama, hingga dia berdehem tiga kali, dan deheman terakhir membuahkan hasil.
“Eh... Pangeran, kau sejak kapan di sini?” tanya Audrey menatap pangeran Xelo.
“Sejak tahun yang lalu” jawabnya ketus.
“Ohhh” hanya itu balasan Audrey, pangeran Xelo yang mendengarnya berdecak kesal, tapi tak urung dia tetap menanyakan apa yang ingin dia tanyakan.
“Kau sedang memikirkan apa? Sejak tadi kau hanya diam saja” tanya pangeran Xelo
“Aku sedang memikirkan sesuatu” jawab Audrey menatap lurus kedepan.
“Apa?” tanya pangeran Xelo.
Audrey menatap pangeran Xelo, “Pangeran soal komunitas bertato bintang aku sudah mengetahuinya” ucap Audrey.
Pangeran Xelo juga sama menatap Audrey lekat, “Maksudmu?” tanyanya.
Lalu Audrey menceritakan semuanya yang dia dapat dari Soo Yun. Pangeran Xelo diam mendengarkan Audrey, hingga Audrey selesai bercerita.
“Soo Yun benar sekarang kita sedang dalam bahaya” ucap pangeran Xelo ketika dia sudah mendengarkannya hingga selesai.
“Karena musuh bisa saja bersembunyi di dalam selimut” lanjutnya menatap tajam ke arah depan.
“Dan soal pemuda itu aku pun sudah mengetahuinya” ucap pangeran Xelo tanpa sadar tanggannya mengepal yang membuat Audrey diam untuk mendengarkan pangeran Xelo.
**To Be Continue....
***
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya.
__ADS_1
para readers aku mau nanya, kalian mau ceritanya cepat tamat atau gak? kalau cepat akan aku percepat kalau enggak akan aku perlambat, dan akan menambah lagi sedikit bumbu konflik, komen ya.
Dan BTW makasih ya yang udah like dan komen, bye-bye**....