
Pagi harinya, Audrey terbangun dan dia tak melihat pangeran Xelo di kursi.
“Di mana pangeran?” gumam Audrey dan turun dari ranjang dengan mata yang masih sedikit terpejam.
KREK
“Awss...” ringis seseorang.
Audrey yang kaget segera melihat kebawah yang tadi tak sengaja di injak.
“Astaga... Pangeran sedang apa kau di bawah?” tanya Audrey jongkok di hadapan pangeran yang terbaring di lantai.
“Kau tak melihatnya?” tanynya ketus dan duduk sambil memegang lengannya yang sakit akibat terinjak oleh Audrey.
“Tidurlah” saut Audrey tak kalah ketus.
“Sudah tahu nanya” sinis pangeran Xelo.
“Huh kau ini, sini ku lihat pasti sakit” ucap Audrey mengambil alih tangan pangeran Xelo yang terinjak olehnya.
“Iya lah” saut pangeran Xelo.
“Maaf aku tak sengaja dan tak melihatmu, lagian kau kenapa tidur di bawah” ucap Audrey sembari mengusap pelang lengan pangeran Xelo.
“Kursi itu sangat kecil, badanku sakit jadi lebih baik aku tidur di bawah saja” sautnya menjelaskan.
“Ya aku minta maaf” Audrey terus saja mengusap dan meniup lengan pangeran Xelo.
Pangeran Xelo terus memperhatikan wajah Audrey dari dekat, cantik itulah yang ada di pikirannya saat ini.
Audrey menoleh dan pandangan mereka saling beradu, jantung keduannya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu membuyarkan lamunan masing-masing.
“Nak Tari... Nak Leo mari nak kita sarapan terlebih dahulu” ucap paman Li.
Audrey segera berdiri dan membenarkan posisinya, “S-sepertinya paman Li sudah memanggil kita” gugup Audrey memalingkan wajahnya yang sudah memerah, pangeran Xelo yang melihatnya tersenyum simpul.
“Iya, paman sebentar lagi kami akan keluar” jawab Audrey.
“Baiklah” saut paman Li.
Audrey segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan segera menggunakannya pada wajahnya.
Sedangkan pangeran Xelo hanya menatapnya bingung, dan menghampiri Audrey.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya pangeran Xelo.
“Menyamar” jawabnya singkat.
“Kau pakailah juga, agar kau bisa melepas penutup wajahmu tanpa orang lain mengenalmu” Audrey menyodorkan sebuah wadah kepada pangeran Xelo.
“Apa ini?” tanyanya.
“Ini krim wajah, untuk merubah warna kulitmu, dan nanti kau pakailah ini agar tak ada yang mengenalimu” jawab Audrey.
“Baiklah” lalu pangeran Xelo memakai krim yang di berikan Audrey.
Setelah selesai mengoleskan krimnya, pangeran Xelo mengambil sebuah tempelan, dan menempelkan di wajahnya lalu memakai kaca mata.
Pangeran Xelo menatap dirinya di pantulan cermin, aneh itulah pikirannya saat ini.
Audrey terkekeh pelan, “Pangeran Kau lucu” kekehnya pelan.
“Tak usah ketawa, kau juga sama” ucap pangeran Xelo menunjuk wajah Audrey.
Audrey menatap dirinya juga, sama halnya dengan pangeran Xelo, Audrey memakai krim yang merubah warna kulit aslinya, tapi dia tidak memakai tempelan dan kaca mata hanya saja gaya rambutnya di kepang dua.
“Tapi aku lucu, hehe” kekeh Audrey, sedangkan pangeran Xelo memutar bola matanya malas.
“Terserah kau saja” ucapnya malas.
Audrey terkekeh, “Tapi kita belum mandi” ucap pangeran Xelo.
“Aku sih tak perlu mandi karena aku sudah wangi” saut Audrey mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah pangeran Xelo, dan segera pergi keluar meninggalkan pangeran Xelo yang terdiam.
“Ishh PD sekali dia” gumamnya dan menyusul Audrey.
***
Pangeran Xelo sudah melihat Audrey dan yang lainnya sudah kumpul di meja makan.
“Mas, ayolah kau lama sekali” ucap Audrey, sebenarnya dia merasa geli dengan sebutan 'Mas' untuk pangeran Xelo.
“Iya” pangeran Xelo segera duduk di samping Audrey dan meraka memulai sarapan tanpa ada yang membuka suara.
Setelah selesai sarapan, mereka semua akan pergi ke tempat kerjanya paman Li kecuali Soo Yun yang tidak mau ikut.
***
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, lebih tepatnya di Kerajaan Magixion.
Nenek dan pangeran Cleo sedang duduk menemani raja Laksamana yang masih terbaling lemah.
“Pangeran apakah, adikmu akan baik-baik saja?” tanya raja Laksamana yang sudah tau kalau anaknya yang ke dua dan Audrey menyamar dan pergi kedesa.
“Iya ayah, pasti baik-baik saja. Ayah tidak usah terlalu memikirkannya, dia pasti bisa menangani semuanya, percayalah. Sekarang Ayah fokus saja dengan kesehatan ayah, Cleo tidak mau terjadi sesuatu dengan ayah” jawab pangeran Cleo tersenyum.
“Iya Laksamana, jangan terlalu memikirkan nya” saut nenek.
“Iya, aku hanya khawatir saja bu” ucap raja Laksamana.
Tiba-tiba salah satu pengawal datang, “Permisi yang mulia” ucapnya menunduk hormat.
“Ada apa?” tanya pangeran Cleo.
“Saya hanya ingin kasih ini saja, ini surat hasil tes dari serbuk putih, dan surat minta maaf dari Guru Cheon, karena terlalu lama untuk mengeceknya” jawab pengawal tersebut dan memberikan gulungan surat kepada pangeran Cleo.
Pangeran Cleo menerimanya, “Iya terimakasih” ucap pangeran Cleo.
Pengawal tersebut mengangguk lalu pamit undur diri.
Pangeran Cleo membuka isi surat dan membaca isinya dengan seksama. Setelah membacanya dia menggulung kembali suratnya.
“Pangeran, lebih baik surat itu kirim saja ke adikmu yang di desa, agar dia juga bisa segera memulihkan keadaan di desa” ucap raja Laksamana.
“Iya, nenek pun setuju” saut nenek.
“Baiklah” ucap pangeran Cleo mengangguk lalu segera memanggil pengawal untuk mengirim surat.
“Kau kirim ini ke pangeran Xelo dan Audrey yang ada di desa, dan ingat jangan sampai ketahuan oleh siapa pun” ucap pangeran Cleo ketika pengawal tersebut sudah ada di hadapannya.
”Baik pangeran, kalau begitu saya permisi dulu” ucapnya lalu segera pergi.
“Semoga saja suratnya ke kirim hingga ke desa” ucap pangeran Cleo.
“Hah, surat ke kirim kedesa?” tanya putri Laras yang tiba-tiba datang, lalu putri Laras menunduk hormat.
“Untuk siapa pangeran?” tanya putri Laras.
“Tidak untuk siapa-siapa” jawab pangeran Cleo.
Putri Laras mengangguk pelan, “Ohh ya pangeran Xelo mana?” tanya putri Laras menanyakan pangeran Xelo.
“Di tidak ada, mau apa kau mencarinya?” tanya pangeran Cleo.
“Kemana?” bukannya menjawab putri Laras balik bertanya.
“Kau tidak perlu tau” saut nenek.
“Tidak papa” jawab nenek.
‘Kemana pangeran Xelo?’ batin putri bertanya.
“Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu” pamit putri laras menunduk hormat lalu pergi.
“Semoga dia tidak tau kalau pangeran sedang ada di desa, karena ini hanya kita saja yang tau tentang masalah ini” ucap pangeran Cleo menghembuskan nafas pelan.
“Iya, semoga” saut nenek.
Tanpa mereka sadar ternyata putri Laras belum benar-benar pergi, dia mendengarkan percakapan barusan.
“Pangeran Xelo di desa? Sedang apa dia?” gumam putri Laras pelan, setelah itu dia benar-benar pergi.
***
Sesampainya di tempat kerja paman Li, Audrey dan pengeran Xelo melihat sekeliling nya.
Ternyata paman Li bekerja di penambangan, yang membelah batu menggunakan alat betel¹.
“Kalian duduklah saja, karena pekerjaan ini sangat berat dan melelahkan” ucap paman Li.
“Tidak paman, biar mas Leo membantu paman dan juga Tian” ucap Audrey tersenyum.
Sedangkan pangeran Xelo menatap Audrey tak percaya, Audrey yang melihatnya terkekeh pelan.
“Tidak usah” tolak paman Li.
“Tidak papa paman, mas Leo ayo lah bantu paman Li karena kau baru pertama kalinya kan?” ucap Audrey mendorong sedikit tubuh pangeran Xelo.
Pangeran Xelo hanya pasrah saja dan tak lupa dia menatap datar Audrey yang sekarang sedang tersenyum mengejeknya.
Paman Li dan Tian yang melihatnya tersenyum, mereka pikir sangat lucu dengan pasangan pasutri baru.
Jika pangeran Xelo, paman Li, dan Tian mulai bekerja, berbeda lagi dengan Audrey yang hanya melihatnya saja.
Cukup lama Audrey duduk memperhatikan mereka, merasa bosan akhirnya Audrey melihat-lihat sekeliling.
Dari bawah Audrey bisa melihat rumah-rumah warga, ya memeng posisi tempat paman Li bekerja berada di atas bukit.
Dari atas bukit Audrey bisa melihat pemandangan yang sejuk dan segar, hingga matanya menatap sebuah lokasi yang sangat kering dan tak berpenghuni.
__ADS_1
Tak bukan dan tak lain lokasi itu adalah ladang yang dulu para petani menanam di kebun mereka, tapi sekarang sudah tidak ada lagi, sepi dan sangat kering, saking keringnya tanah bahkan bisa sampai terlihat dari atas bukit.
Tidak hanya ladang yang Audrey lihat, bahkan perairan yang ada di sekeliling ladang pun sama mengering.
“Ya Tuhan sampai segitunya, pantas saja para warga semarah itu ke kerajaan” gumam Audrey pelan.
PUK
Audrey terperanjat kaget lantaran ada yang menepuk bahunya, dia menoleh ke arah si pelaku.
“Astaga pangeran, kau mengagetkanku saja” ucap Audrey sedikit kesal.
“Maaf, kau sedang apa di sini?” tanya pangeran Xelo.
“Aku hanya sedang melihat pemandangan saja, lihatlah bagus sekali bukan?” tanya balik Audrey sembari melihat lagi pemandangan yang ada di bawah bukit.
Pangeran Xelo ikut melihat, tapi setelah itu menoleh ke arah Audrey, “Iya, sangat indah dan cantik” jawab pangeran Xelo tersenyum tipis.
Audrey juga ikut menoleh ke pangeran Xelo, tatapan mata mereka saling beradu. Tompaan jantung Audrey lagi-lagi lebih cepat dari sebelumnya.
‘Astaga, kenapa denganku? Kalau aku ikut lari maratos bisa-bisa aku yang menjadi juaranya’ batin Audrey gugup.
‘Cantik’ batin pangeran Xelo.
“Audrey... Kau-” ucapan pangeran Xelo terhenti lantaran paman Li memanggil mereka.
“Nak Leo, nak Tari... Paman akan pulang” panggil paman Li.
Mereka berdua menoleh ke arah paman Li, “Iya paman, kami akan menyusul” jawab Audrey.
“Baikalah, paman dan Tian duluan ya nak” ucap paman Li lagi.
“Iya paman” saut Audrey.
Paman Li dan Tian pun pergi terlebih dahulu meninggalkan Audrey dan pangeran Xelo.
“P-pange-” ucapn Audrey terpotong lagi.
“Jangan panggil aku pangeran. Bukankah kau yang bilang sendiri, kalau di sini tidak ada yang namanya pangeran Kerajaan. Jadi, kau harus panggil aku sesuai dengan penyamaran kita masing-masing” potong pangeran Xelo cepat.
Audrey kicep, baru kali ini Audrey mendengar pangeran Xelo berbicara panjang kali lebar, atau mungkin dia yang salah aja kali? Hmmm I Do Not Know.
“Pangeran apakah kau tak sakit?” tanya Audrey sembari meletakkan punggung tangannya di kening pangeran Xelo.
“Tidak ko” lirih Audrey pelan, tapi pangeran Xelo masih bisa mendengarnya.
Pangeran Xelo memutar bola matanya malas, “Aku tidak sakit kau tidak sakit” ketus pangeran Xelo bersedekap dada.
“Aku tidak” jawab Audrey menggelengkan kepalanya pelan.
“Pang-” lagi dan lagi terpotong.
“Sutt... Kan aku sudah bilang panggil sesuai propesi kita masing-masing, propesi kita itu suami-istri jadi kau panggil aku dengan sebutan ketika kau ada di depan paman Li” pangeran Xelo meletakkan jari telunjuknya di bibir Audrey dan menatapnya lekat.
“P-panggil apa?” gugup Audrey sembari menepis pelan tangan pangeran Xelo.
“Mas” ucap pangeran Xelo to the point.
Audrey melotot, yang benar saja ketika ada paman Li juga dia canggung apa lagi ketila tidak ada. Ahh pangeran Xelo memang selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
“M-mas?” tanya Audrey tak percaya.
“Iyalah” jawabnya PD dan bersedekap dada.
Audrey yang melihatnya bukan gugup lagi melainkan kesal, dia mendengus kesal.
“Iya LEO” ucap Audrey dan menekan nama 'Leo' lalu segera pergi meninggalkan pangeran Xelo.
Pangeran Xelo berkedip dua kali, lalu melihat kepergian Audrey.
“Hah, apakah ada yang salah denganku?” gumam pangeran Xelo bingung dengan Audrey, lalu dia segera menyusul Audrey.
***
Di posisi paman Li dan Tian.
Ketika paman Li sedang mengobrol dengan anaknya, tiba-tiba para warga datang berbondong-bondong sembari menyeret tiga orang pria.
“Li Guan” teriak salah satu dari mereka.
“Ada apa ini?” tanya paman Li mengerutkan keningnya.
“Kemana orang asing yang bersama mu?” tanyanya.
“Maksudnya kami”
Semua orang menoleh ke orang tersebut....
To Be Continue.....
***
__ADS_1
•Betel merupakan alat yang biasa digunakan untuk membelah batu atau mencongkel batu. Betel ini merupakan betel jenis besar berdiameter 32 mm•___¹
Terimakasih telah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, jangan lupa like dan dukungannya, makasih bye-bye......