Teleportasi Kedunia Kerajaan

Teleportasi Kedunia Kerajaan
Bab 29 : Hyun Tian


__ADS_3

“Eh kalian masih di sini, tidak istirahat?” tanya paman Li yang sudah datang.


“Tidak paman” jawab Audrey.


“Apa kalian lapar?” tanyanya lagi.


“Tidak paman, kami belum lapar” jawab Audrey lagi.


“Oh ya paman, boleh kah aku berbicara dengan Soo Yun?” tanya Audrey.


“Oh tentu saja boleh, silahkan ini kamarnya” jawab paman Li menunjuk pintu kamar yang tertutup.


“Iya” lalu Audrey mengetuk pintu dan membuka sedikit pintu kamarnya.


Dia melihat Soo Yun, gadis itu sedang duduk di tepi ranjang menatap kosong ke arah depan.


Perlahan Audrey masuk dan melangkahkan kakinya mendekati Soo Yun.


“Bolehkah aku duduk?” tanya Audrey lembut.


Soo Yun hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah mendapat jawaban Audrey duduk di samping Soo Yun.


“Nama mu Soo Yun?” tanya Audrey, walau pun dia sudah tau namanya hanya sekedar untuk basa basi saja.


Soo Yun mengangguk lagi sebagai jawaban. Audrey tersenyum melihatnya.


“Oh ya namaku Lestari, sepertinya umur kita tak jauh berbeda” ucap Audrey mencoba mengajak ngobrol Soo Yun.


“Namamu cantik ya, seperti orangnya. Orang tua mu sangat pandai memberikan nama padamu” ucap Audrey sembari tersenyum.


Diam, hening, tak ada suara. Audrey menoleh ke arah samping dan dia melihat Soo Yun yang menangis, air matanya jatuh membasahi pipinya yang putih.


Audrey merasa bersalah telah mengatakan itu pada gadis di sampingnya. Perlahan Audrey mengangkat tangannya menghapus air mata di pipi Soo Yun.


“Jangan menangis, maafkan aku jika telah menyinggung perasaan mu, aku tak bermaksud” ucap Audrey sendu.


Bukan nya berhenti Soo Yun semakin terisak, air matanya semakin deras mengalir bagaikan air terjun yang jatuh.


Audrey langsung memeluk tubuhnya, kecil dan kurus, itu lah tubuh yang saat ini Audrey peluk. Audrey bisa merasakannya, dia juga sedih.


‘Ternyata tidak hanya aku yang merasa tersakiti, banyak orang yang masih lebih menderita selain aku. Selama ini aku hanya memikirkan diriku dan perasaanku saja yang selalu tersakiti oleh orang di sekitarku tanpa melihat orang lain yang hidupnya lebih menderita, begitu bodohnya aku, mereka benar aku bodoh’ batin Audrey yang tanpa sadar dan di minta air matanya yang ikut juga jatuh membasahi wajah cantiknya.


“Kalau kau ingin cerita, cerita saja kepadaku, mungkin aku bisa membantu mu dan mendengarkan ceritamu” ucap Audrey membelai surai hitam Soo Yun.


Cukup lama Soo Yun menangis di dalam pelukan Audrey hingga dia merasa lega dan tidak terisak lagi, perlahan Soo Yun melepas pelukannya dan menatap Audrey.


“Terimakasih, kau mau memberikan bahumu dan pelukanmu padaku” ucap tersenyum.


“Iya sama-sama, kalau kau masih kurang kau boleh memelukku lebih lama” saut Audrey membalas senyuman Soo Yun.


“Kau juga boleh menceritakan semuanya padaku, jangan kau pendam sendiri” lanjut Audrey.


“Iya, maaf tapi aku belum bisa cerita” saut Soo Yun menunduk.


“Tidak apa-apa, aku mengerti” ucap Audrey mengelus bahu Soo Yun lembut.


“Maaf mengganggu, mari makan terlebih dahulu” tiba-tiba paman Li masuk ke kamar dan mengajaknya untuk makan.


“Iya paman, nanti kami menyusul” balas Audrey.


“Ya sudah kalau begitu” ucap paman Li dan keluar kamar.


“Soo Yun mari makan terlebih dahulu, pasti kau lelah dan lapar setelah menangis” ucap Audrey mengajak Soo Yun.


“Baiklah” Soo Yun bangkit dari duduknya.


Audrey dan Soo Yun keluar kamar, dan dia melihat paman Li sedang duduk dan mengobrol dengan pangeran Xelo.


“Mari sini duduk” ucap paman Li.


Soo Yun duduk di samping paman Li dan Audrey duduk di samping pangeran Xelo.


“Makanlah, tadi paman habis memasak ikan asin” ucap paman Li.

__ADS_1


“Maaf cuman ada ini saja” lanjut paman Li.


Audrey tersenyum sebagai jawaban, sedangkan pangeran Xelo dia melihat ikan asin, tahu dan tempe sebagai lauknya berbeda dengan di kerajaan, pikir pangeran Xelo.


“Ayo makan lah” ucap paman Li.


“Iya paman, kalian saja makan, kami belum lapar” saut Audrey.


“Oh ya sudah tidak apa-apa” paman Li lalu membawakan makanan untuk Soo Yun.


Audrey yang melihatnya tersenyum, ‘ Seperti perlakuan ayah kepadaku, ayah kau di mana?’ batin Audrey rindu kepada sang ayah.


“AYAH... TIAN PULANG” dari arah pintu masuk ada suara teriakan dan munculah seorang pemuda tinggi hitam manis menghampiri mereka.


“Tian jangan teriak-teriak” saut paman Li memperingati Tian, si pemuda.


“Hehe maaf ayah” ucapnya lalu duduk di sebelah paman Li.


Tian menatap bingung Audrey dan pangeran Xelo, “Ayah siapa mereka?” tanyanya.


“Mereka tamu, ini namanya Lestari, dan ini suaminya namanya Leo” jawab paman Li memperkenalkan Audrey dan pangeran Xelo.


”Oh iya, dan ini anak paman namanya Hyun Tian panggil saja Tian” lanjut paman Li.


Audrey tersenyum dan mengangguk ke arah Tian dan di balas hal yang sama oleh Tian.


“Ahh Soo Yun, kau pun ada di sini?” Tian pindah tempat duduk menjadi di samping Soo Yun.


“Sejak kapan kau ada di sini?”


”Ahh kau lagi makan, Soo Yun apa kau tau aku membawa apa, lihatlah aku membawa makanan kesukaanmu”


“Nih makanlah, kau pasti suka” ucap Tian berturut turut dan mengeluarkan daging ayam yang sudah matang dan memberikan nya kepada Soo Yun.


“Ayo makanlah” lanjutnya menyodorkan piring yang sudah berisi ayam goreng.


Audrey dan paman Li yang melihatnya tersenyum, berbeda dengan pangeran Xelo yang bingung melihatnya.


‘Aneh’ batin pangeran Xelo terus menatap Tian.


‘Tatapan dan matanya aku seperti mengenali nya, siapa sebenarnya dia, kenapa wajahnya di tutup’ batin Tian bingung.


Audrey menoleh kearah pangeran Xelo, sejak tadi Audrey terus memperhatikan pangeran Xelo dan juga Tian.


“Tian dari mana kau mendapatkan dagingnya?” tanya paman Li.


“Ohh ini, Tian di kasih yah oleh atasan Tian” jawab Tian, paman Li mengangguk.


“Apakah enak Soo Yun? Kau suka kan?” tanya Tian terus memperhatika Soo Yun makan.


“Iya Hyun Tian, terimakasih kau memang yang terbaik” jawab Soo Yun tersenyum manis.


“Iyalah aku kan sodara terbaikmu” ucap Tian tersenyum pula.


“Mereka memang sangat akrab” saut paman Li.


“Iya, aku bisa melihat nya, dari perlakuan Tian kepada Soo Yun, mereka saling menyayangi satu sama lain” ucap Audrey tersenyum.


“Kau benar” paman Li membenarkan.


***


Malam harinya, Audrey dan pangeran Xelo kini sudah ada di kamar yang di sediakan oleh paman Li untuk mereka.


Aura di kamar tersebut sangat lah dingin dan menegangkan, bagaimana tidak? Audrey kini sedang duduk di tepi ranjang sembari menunduk dan memainkan ujung bajunya, sedangkan pangeran Xelo berdiri di dekat jendela yang terbuka dan menatap sang bulan dan bintang yang begitu indah menghiasi dan menerangi suasana malam hari yang gelap dan sunyi.


Gugup itulah yang saat ini Audrey rasakan, sangat gugup, dan hening.


Hingga keheningan di buyarkan oleh pangeran Xelo, “Audrey tidurlah, ini sudah malam” titah pangeran Xelo tanpa menoleh kearah lawan bicara.


“Aku belum mengantuk” jawab Audrey.


“Tidurlah, aku tau isi pikiranmu, tenang saja aku tidak akan berbuat macam-macam padamu” ucap pangeran Xelo tersenyum simpul yang terus menatap langit malam yang indah.

__ADS_1


“T-tidak ada, i-itu pikiranmu saja” gugup Audrey tambah menunduk.


“Pangeran aku ingin bicara padamu” lirih Audrey yang masih bisa di dengar oleh pangeran Xelo.


“Ingin bicara? Bicara apa?” tanya pangeran Xelo kini menatap Audrey.


“Sinilah duduk” ucap Audrey menepuk tempat di sebelahnya.


Pangeran Xelo menghampiri Audrey dan duduk di sampingnya.


“Ada apa?” tanyanya.


“Tadi kenapa kau dan Tian menatap satu sama lain?” tanya Audrey tanpa menatap lawan bicaranya.


“Emang kenapa? Aku dan dia hanya menatap saja” jawab pangeran Xelo menatap Audrey.


“Tidak, tapi tatapan kalian berbeda, seperti ada sesuatu” ucap Audrey.


“Kau ingin tau kenapa?” tanya pangeran Xelo.


Audrey mengangguk sebagai jawaban, pangeran Xelo menghela nafas pelan.


“Aku hanya aneh saja pada pemuda itu” lanjutnya.


“Anehnya?” tanya Audrey kini menatap pangeran Xelo.


“Anehlah, dia bisa mendapatkan daging, sedangkan keadaan di desa sedang seperti ini, bahkan untuk mendapatkan sayurpun sulit, tapi dengan mudahnya dia bisa mendapatkan daging” jelas pangeran Xelo.


Audrey diam, “Tapikan dia mendapatkannya dari atasannya” ucap Audrey.


“Iya tapikan... Ah sudahlah lupakan” ucap pangeran Xelo dan bangkit dari duduknya.


“Tapi pangeran... Aku pun sempat bingung dan curiga padanya” saut Audrey.


Pangeran Xelo membalikan badannya dan menatap Audrey.


“Benarkah?” tanya pangeran Xelo memastikan.


“Iya”


“Apa alasanmu bisa curiga padanya?” tanya pangeran Xelo.


“Ya aku melihat dari tatapannya kepada kita, apa lagi kepadamu” jawab Audrey.


“Iya kau benar, kau pintar bisa menebak tatapan seseorang” saut pangeran Xelo mengusap pelan rambut Audrey.


Audrey semakin di buat gugup, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


“I-iya” Audrey menjauhkan kepalanya dari tangan pangeran Xelo dan segera membaringkan tubuhnya untuk tidur.


“Tidur ini sudah malam, besok kau haru melakukan aktivitas yang lain” ucap Audrey membelakangi pangeran Xelo.


Pangeran Xelo yang melihatnya terkekeh pelan, dan duduk di tepi ranjang hendak tidur.


“Ehh, kau tidur di kursi itu” ucap Audrey menunjuk kursi kayu yang panjang.


Pangeran Xelo melihatnya dan dia menggelengkan kepalanya tidak mau, “Tak mau, kau menyuruhku seorang pangeran kerajaan untuk tidur di kursi itu, aku tidak mau bisa-bisa badanku sakit semua” ucap pangeran Xelo menolak.


“Ya sudah kalau kau tak mau, kau boleh tidur di lantai, lagian kasur ini sempit dan tak cukup untuk dua orang” ketus Audrey.


Pangeran Xelo menghela nafas kasar, “Kau ini” pangeran Xelo menggeram kesal ke arah Audrey.


“Biarkan saja sempit, tapi ini cukup untuk kita, kau itu kecil, badanmu kecil jadi cukup” lanjutnya dan membaringkan tubuhnya di samping Audrey.


Audrey melotot, dia segera duduk dan mendorong pangeran Xelo menggunakan kakinya.


“Enak saja, tak boleh, kau ini mencari kesempatan dalam kesempitan. Di sini dan sekarang tak ada yang namanya pangeran Kerajaan, karena kau sedang menyamar menjadi rakyat biasa, kau paham?” ucap Audrey ketus dan menutupi badannya menggunakan kain tipis sebagai selimutnya.


Pangeran Xelo mendengus kesal, “Iya nona Audrey yang bawel” saut pangeran Xelo berdiri dan segera mengambil bantal guling dan membaringkan tubuhnya di kursi kayu tesebut.


Audrey yang melihatnya juga sedikit kesal dan kembali membaringkan tubuhnya lalu menutupi nya dengan kain.


**To Be Continue...

__ADS_1


***


Terimakasih telah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**....


__ADS_2