
“Pria tadi.... Ahh aku takut kau tidak percaya, pangeran” ucap Audrey.
“Emang pria tadi kenapa Audrey?” tanya pangeran Xelo berusaha sabar.
Audrey yang melihatnya cengegesan, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah lagi menjadi serius.
“Tadi itu aku lihat, kalau di tangan yang pria tadi ada tato bintang di tangan kirinya” ucap Audrey menatap pangeran Xelo.
Pangeran Xelo terkejut, “Maksud kamu...” pangeran Xelo menatap balik Audrey.
“Iya pangeran, tapi aku tak melihat goresan luka di matanya” saut Audrey yang paham akan tatapan pangeran Xelo.
”Jadi kita harus hati-hati, karena dia salah satu anggotanya” ucap pangeran Xelo yang di angguki oleh Audrey.
“Ya sudah ayo kita lanjut lagi jalannya” lanjutnya dan kembali menelusuri hutan.
***
Sesampai tepat di desannya, yang dimana banyak penduduk dan rumah-rumah. Pangeran Xelo dan Audrey melihat sekelilingnya, tapi itu terlihat biasa-biasa saja tidak ada yang aneh lagi.
“Pangeran tidak ada yang aneh” bisik Audrey pelan.
“Iya, tapi kita harus tetap waspada, karena musuh bisa saja mengenali kita dan menyerang kita” bisik pangeran Xelo juga dan di angguki oleh Audrey pelan.
Lantas Audrey bertanya pada salah satu pria paruh baya yang sedang berlalu lalang di depannya.
“Permisi pak...” ucap Audrey.
“Eh iya, ada apa?” tanya si bapak tersebut melihat Audrey.
“Saya mau tanya, apa benar ini namanya desa Subur?” tanya Audrey.
“Iya, betul emang ada apa ya? Dan kalian berdua ini siapa? Dan darimana? Karena saya baru melihat kalian berdua” ucap bapak tersebut melihat pangeran Xelo dan Audrey secara bergantian.
“Ohh... Kami dari desa sebelah pak, jadi wajar saja kalau bapak baru melihat kami, karena kami juga baru kesini” saut Audrey menyembunyikan identitas mereka berdua.
Bapak tersebut mengangguk paham, “Oh pantes saja, ternyata pendatang” ucap bapak tersebut.
“Iya pak” saut Audrey tersenyum kikuk di dalam kain yang menutupi wajahnya.
“Terimakasih ya pak, maaf mengganggu waktu bapak” ucap Audrey.
“Iya sama-sama, tidak papa ya sudah saya permisi dulu, mari” sautnya tersenyum ramah lalu segera pergi.
__ADS_1
“Kenapa kau menanyakan yang seharusnya tidak kau tanyakan?” tanya pangeran Xelo menatap datar Audrey.
“Pangeran kau ini bagaimana sih, ya agar mereka tau kalau kita itu pendatang dari desa sebelah” ucap Audrey tanpa melirik pangeran Xelo dan hanya fokus ke sekelilingnya.
“Iya deh terserah kau saja” sautnya malas.
Audrey matanya menangkap segerombolan orang-orang, dia penasaran sekali lantas menghampirinya. Pangeran Xelo yang melihatnya bingung tapi tetap mengikuti langkah kaki Audrey.
“Ada apa ini?” gumam Audrey pelan.
Audrey masuk ke segerombolan orang-orang, dan ketika dia sudah sampai di paling depan, matanya melotot sempurna.
“Audrey ada apa?” bisik pangeran Xelo yang sudah berada di samping Audrey.
Audrey hanya diam saja dan matanya terus menatap ke arah depan, pangeran Xelo mengikuti arah pandang Audrey dan pangeran Xelo juga sama terkejutnya seperti Audrey.
Mereka berdua melihat seorang wanita muda yang sedang menangis, keadaan wanita tersebut sangat lah mengenaskan. Wajah yang sudah bengkak akibat seringnya menangis dan juga ada beberapa luka, rambut yang sudah berantakan seperti tak peranah di rawat, dan juga baju yang sudah robek-robek tak layak untuk di pakai.
Audrey melihatnya begitu iba, dia jadi mengingat masa lalunya yang takalah bedanya dengan wanita muda di depannya saat ini.
Semua orang di sana tidak ada yang berniat sama sekali untuk menolongnya, mereka semua hanya menontonnya saja dan menggunjingnya.
Perlahan tapi pasti, Audrey berjalan menghampiri wanita muda tersebut yang terus di pukuli oleh seorang pria yang berbadan besar dan banyak tato di tubuhnya dan di perkirakan umurnya 30an.
Audrey mencekal tangan pria tersebut yang hendak memukul kembali wanita muda yang malang tersebut.
Semua orang yang melihatnya kaget, dan membicarakan Audrey.
“Hey... Apa yang di lakukan oleh gadis itu?”
“Berani sekali gadis itu”
“Siapa gadis itu, dia sangat berani sekali, apa dia tidak takut”
Begitulah kira-kira bisikan para orang-orang yang menyaksikannya. Pangeran Xelo yang mendengarnya hanya diam saja dan pandangan matanya tak lepas dari Audrey.
Pria tersebut menatap Audrey tajam, dan menghempaskan kasar tangan Audrey.
“Berani sekali kau memegangku, dan menghalangiku memukulnya, kau siapa hah? Berani-berani nya kau!” teriak pria tersebut tepat di depan wajah Audrey.
Sedangkan Audrey hanya diam saja, sebenarnya Audrey sekarang sedang manahan rasa takutnya, tapi dia tidak boleh jadi Audrey yang lemah lagi.
“Kau tidak perlu tau siapa aku” jawab Audrey santai.
__ADS_1
Dan dia menatap wanita muda tersebut lalu menghampirinya, “Apa kau tak apa?” tanya Audrey memegang pundak wanita muda tersebut.
Wanita muda itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Berdirilah” saut Audrey dan membatunya berdiri.
Pria tersebut melihatnya begitu marah, rahangnya mengeras menimbulkan bunyi.
“KAU!!! BERANI SEKALI KAU” bentak nya marah.
Audrey hanya menatapnya datar, “Kau tidak boleh main hakim sendiri, salah apa wanita ini hingga kau tega memperlakukannya seperti ini?” tanya Audrey menatap pria tersebut.
“Kau mau tau salahnya apa, hah? Salahnya dia SUDAH LAHIR DI DUNIA INI!!” teriaknya di akhir kalimat.
DEG
Entah kenapa ketika mendengarnya hati Audrey begitu sakit, pikirannya tiba-tiba berputar beberapa tahun yang lalu, memory yang sudah dia lupakan dengan susah payahnya sekarang muncul kembali, dan dia seakan mengalaminya kembali.
Audrey lansung menatap tajam pria yang tak jauh dari tempatnya berdiri, karena Audrey bisa merasakan bahwa wanita muda yang saat ini dalam pelukannya itu sedang menangis dan Audrey tau rasanya seperti Apa.
Audrey melepas perlahan pelukannya pada wanita muda tersebut, dan maju perlahan dengan terus menatap tajam ke arah si pria.
Semua orang hanya diam saja melihat apa yang akan di lakukan oleh Audrey, termasuk pangeran Xelo.
‘Apa yang akan dia lakukan? Semoga saja dia tidak melakukan hal yang aneh’ batin pangeran Xelo berdo'a agar Audrey tidak melakukan hal yang aneh.
Ketika sudah di depan si pria, Audrey menunjuk tepat di depan wajah pria tersebut, “Kau yang seharusnya tak pernah lahir di dunia ini!!! Pria tua b@n9*a sepertimu tak pantas untuk di katakan sebagai seorang ayah!!! Dan tak pantas untuk mendapatkan penghormatan, karena kau tak jauh bedanya dengan sebuah ban9k@i!!! Bahkan b@ng*ai pun yang bau nya busuk akan kalah dengan bau mu yang sangat busuk melebihi ba*9kai!!!” hardik Audrey menekan setiap ucapannya, Audrey meluapkan semua amarah yang selama ini dia pendam.
Semua orang yang mendengarnya begitu terkejut, bahkan pangeran Xelo pun tak menyangkanya.
Pria paruh baya tersebut melotot marah, “APA KAU BILANG, HAH!? UCAPKAN SEKALI LAGI!” bentaknya marah di depan wajah Audrey.
“KAU SEPERTI β@N9KAI!!” tekan Audrey mengulang kata-katanya.
Pria tersebut sudah sangat marah dan mengepalkan tangannya, “KAU-” marahnya melayangkan tangan di udaranya, sedangkan Audrey menutup matanya.
**PLAKK
TO BE CONTINUE...
***
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR DAN SELAMAT MEMBACA DI BAB SELANJUTNYA
__ADS_1
BYE-BYE**.....