
“Sampai kapan aku berada di sini” gumam Audrey memeluk kakinya dan menenggelamkan wajahnya.
Dug.
Gedoran tembok membuatnya kaget, Audrey menatap tembok cukup lama, hingga gedoran tembok lagi membuat Audrey sadar dan segera mendekatkan dirinya lebih dekat lagi.
Dug.
“Iya, apakah kau ingin bicara sesuatu?” tanya Audrey.
Dug.
“Baiklah kau ingin bicara apa?” tanya lagi Audrey.
Kali ini tidak ada jawaban dari balik tembok. Hingga suara lirih membuat Audrey terdiam.
“Siapa nama panjangmu?” suara yang sedikit lirih berasal dari balik tembok.
Audrey terdiam, dia selerti mengenali suaranya, tapi dia lupa karena seperti siludah lama dia tak mendengarnya.
‘Oh Tuhan, aku seperti mengenali suara itu, siapa dia sebenarnya?’ batin Audrey bertanya-tanya.
Dug.
Suara gedoran lagi membuyarkan lamunan Audrey.
“E-eh... Namaku-” Audrey tak melanjutkan ucapannya lantaran suara deheman membuatnya menoleh pada seorang pria tampan yang sedang manatapnya datar.
“Ekhem”
Audrey melihat ke arah tembok lalu segera melihat lagi pria tersebut, dia menghela nafas pelan.
“Pangeran Xelo” Audrey segera menghampiri pangeran Xelo yang sedang berdiri di luar jeruji.
“Pangeran.... Apa yang kau lakukan disini?” tanya Audrey.
Pangeran tak menjawab, melainkan menatap manik mata coklat miliki Audrey.
Audrey yang gugup di tatap seperti itu oleh pangeran Xelo segera mencari topik.
__ADS_1
“Emmm.... Pangeran... Emm anu... Emm itu... Kau sedang apa pangeran?” tanya Audrey gugup.
Pangeran menghela nafas pelan, “Apakah kau betah di dalam sana?” tanya balik pangeran Xelo.
“Pangeran kau gimana sih mana aku betah berada di sini, di sini sangat dingin, dan kotor, apalagi jika malam hari, sangat gelap aku takut” lirih Audrey menunduk membunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Pangeran Xelo diam, dia melihat Audrey yang menunduk.
Tiba-tiba salah satu pengawal datang menghampiri mereka berdua.
“Permisi pangeran” ucapnya menunduk hormat.
“Ya, ada apa?” tanya pangeran Xelo dingin.
“Saya di perintahkan yang mulia raja untuk memanggil anda, pangeran” sautnya.
“Ayah memanggilku? Mau apa Ayah memanggilku?” tanya pangeran Xelo menatap pengawal tersebut, sedangkan Audrey hanya melihatnya saja.
“Saya pun tak tau, pangeran” sautnya.
“Hmm, baiklah” pangeran Xelo segera pergi sebelum pergi pangeran Xelo sempat tersenyum simpul pada Audrey.
Pengawal pun segera mengikuti pangeran di belakang. Audrey yang melihat pangeran Xelo tersenyum padanya, hatinya jedag-jedug.
***
“Bagus kau telah berhasil melakukannya” ucap seorang pria menatap gadis yang ada dihadapannya saat ini.
“Sekarang kau lakukan yang lain, jika tidak... Kau tau apa akibatnya” ucapnya menatap tajam sang gadis yang sedang menunduk takut.
“Sekarang kau pergilah, aku tak mau melihat wajahmu lama-lama, membosankan” usirnya.
Gadis tersebut segera pergi dari ruangan yang bernuansa gelap.
***
Sedangkan di sisi lain, semua anggota kerajaan sedang berkumpul. Mereka seperti membicarakan sesuatu yang serius.
Hingga pangeran Xelo datang menghampiri mereka dan segera duduk di sebelah kakanya, pangeran Cleo.
__ADS_1
“Ayah... Ada apa ayah memanggilku?” tanya pangeran Xelo.
“Xelo, rakyat desa sedang di landa kelaparan” ucapnya to the poin.
“Di landa kelaparan? Kenapa bisa?” tanya pangeran Xelo menatap sang ayah.
“Ayah pun tak tau, ayah mendapat kabar bahwa belakangan ini hasil panen rakyat ada yang mencurinya dan semua tumbuh-tumbuhan mati tak terkecuali dengan padi dan juga sayuran mereka, tanah mendadak kering dan air tidak mengalir dengan jernih hingga membuat warga sakit perut” jelasnya.
Semuanya terdiam mendengarkan penjelasan raja Laksamana.
“Dan sekarang kita akan kesana untuk mencari tau penyebabnya, karena ayah yakin ada yang tidak beres, selama ini semuanya baik-baik saja, tapi sekarang tidak” ucap raja Laksamana tegas.
“Pengawal siapkan kereta kuda” lanjutnya memerintahkan pengawal.
Setelah beberapa menit kereta kuda sudah siap.
“Yang mulia kereta nya sudah siap” ucapnya.
“Baiklah, Cleo... Xelo, mari” ucapnya dan segera berdiri dan diikuti oleh kedua anaknya.
“Hati-hati” ucap nenek.
“Iya nek, ya sudah kalau begitu kami pergi dulu” saut pangeran Cleo.
Mereka segera keluar kerajaan dan sudah ada kereta kuda.
Raja Laksamana segera masuk kedalam disusul oleh pangeran Cleo, tapi tidak dengan pangeran Xelo.
“Xelo, kenapa kau diam, ayo segera naik” ucap raja Laksamana.
“Tidak ayah, aku akan menaiki kuda milikku saja” sautnya dan segera pergi mengambil kudanya.
Tak berselang lama pangeran Xelo datang dengan menumpangi kuda berwarna putih tersebut.
“Segera jalankan keretanya” ucap dingin raja Laksamana.
Setelah itu mereka segera pergi menuju desa yang sedang di landa kelaparan untuk mencari tahu masalahnya.
**To Be Continue...
__ADS_1
***
Terimakasih sudah membaca dan selamat membaca di bab selanjutnya, jangan lupa di like ya.... Bye-bye**...