
Sekarang semua warga dan juga pangeran Xelo serata Audrey sudah berkumpul di lahan yang cukup luas.
“Apakah kalian sudah membawa alat dan bahannya?” tanya Audrey.
“Sudah” jawabnya serempak.
“Baiklah, alat dan bahannya kalian letakan di sini” ucap Audrey.
Semua warga yang membawa alat dan bahan segera meletakannya di tempat yang Audrey tunjuk.
“Setelah alat dan bahannya sudah ada, kita lanjutkan ke tahap yang kedua” ucap Audrey sembari duduk di depan alat dan bahannya.
Semua warga juga ikut duduk dan mereka membuat sebuah lingkaran, pangeran Xelo tentunya duduk di sebelah Audrey.
“Tahap keduanya apa?” tanya salah satu warga.
“Kan kita menggunakan bahan seadanya, dan hanya menggukana botol bekas, nah tahap keduanya adalah mengubah botol ini untuk menjadi tempat menanamnya” jawab Audrey sembari mengambil salah satu botol plastik.
“Caranya cukup gampang, yaitu potong bagian atas botol hingga menjadi dua bagian, nah seperti ini” ucap Audrey sembari meperlihatkan contoh botol yang tadi dia potong.
Semua warga melihatnya dan mengikutinya, “Setelah itu apa?” tanya warga.
“Setelah itu, kalian buat lah lubang pada tutup botol dengan ukuran yang sekiranya cukup untuk kain, buatlah dua lubang pada sisi yang berlawanan di bagian atas botol dekat area penutup botol, mmmm.... Nah seperti ini, susah juga melubanginya” ucap Audrey.
Tahap demi tahap mereka lakukan, dan sudah pasti Audrey yang memimpinnya.
Pangeran Xelo terus saja memperhatikan Audrey yang mengajari para warga, dia tak pernah lepas pandangannya dari gadis cantik tersebut.
‘Dia memang hebat, dan cantik’ batin pangeran Xelo tersenyum melihat Audrey yang tersenyum pula.
Setelah sekian lama mereka membuat tanaman hidroponik, sekarang semuanya sudah selesai.
“Aaahhh... Akhirnya sudah selesai” ucap Audrey sembari membersihkan lengannya yang kotor.
“Pangeran lihatlah sudah selesai, aku kerenkan” ucap Audrey tersenyum kepada pangeran Xelo sembari berkacak pinggang.
Pangeran Xelo terkekeh pelan dan mengangguk, “Iya kau sangat keren, nona Audrey yang bawel ini sangat hebat” ucap pangeran Xelo sembari merapihkan rambut Audrey yang sedikit berantakan.
Audrey terdiam, dia malihat pangeran Xelo yang sedang merapihkan rambutnya.
“Aku tau aku tampan” ucap pangeran Xelo yang sadar dengan tatapn Audrey.
Audrey segera memalingkan wajahnya, “Huhh, PD sekali kau wahai pangeran Xelo” ucap Audrey menjauhi pangeran Xelo.
Pangeran Xelo terkekeh pelan, dan para warga yang melihatnya juga sama.
Paman Li menghampiri mereka berdua, “Pangeran, nona Audrey terimakasih banyak, dan maaf sebelumnya kalau saya tidak sopan pada kalian dan tidak mengenali kalian” ucap paman Li menunduk.
“Paman kau tidak usah meminta maaf, lagian kami pun tidak masalah. Justru kami yang harus nya berterimakasih pada paman, karena mau memberikan tempat untuk kami beristirahat” saut Audrey tersenyum.
“Iya paman, apa yang Audrey bilang benar” pangeran Xelo ikut menyahuti.
“Paman senang jika kalian juga senang” ucap paman Li tersenyum.
__ADS_1
“Nona Audrey, pangeran Xelo terimakasih, dan maafkan kami atas kesalahan kami” ucap salah satu warga.
“Iya kami pun” ucap yang lainnya lalu meunduk tanda meminta maaf.
“Kami pun meminta maaf” ucap Audrey dan pangeran Xelo bebarengan mereka berdua saling pandang, setelah itu semuanya tertawa bersama.
Dari kejauhan ternyata ada yang terus memperhatikan mereka, “Sekarang bersenanglah sebelum kalian bersedih” gumam orang tersebut tersenyum smrik lalu segera berlalu pergi.
***
Kini Audrey dan pangeran Xelo beserta ketiga pengawalnya sudah berada di rumah paman Li.
“Kalian istirahatlah pasti sangat melelahkan” ucap paman Li.
“Tidak paman kami tidak terlalu lelah,terimakasih... Oh ya paman bolehkah kita menginap di rumah paman lagi beberapa hari hingga urusan kami selesai” ucap Audrey.
“Tentu saja boleh, siapa yang tidak boleh. Nanti akan paman siapkan dan bersihkan kamar yang kosong lagi untuk kalian” ucap paman Li tersenyum.
“Terimakasih” saut pangeran Xelo.
Tian datang dengan membawa nampan berisi air, dan meletakannya di atas meja, setelah itu dia duduk di samping ayahnya.
Pangeran Xelo terus saja memperhatikan Tian dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Ohh ya bagaimana dengan Soo Yun? Di mana dia?” tanya Audrey.
“Sepertinya ada di kamarnya” jawab paman Li.
“Bolehkah aku ke kamar Soo Yun?” tanya Audrey.
Lalu Audrey segera pergi ke kamar Soo Yun. Audrey mengetuk pintu kamar Soo Yun.
Tok... Tok... Tok...
“Soo Yun... Bolehkah aku masuk?” tanya Audrey.
“Silahkan” jawab Soo Yun dari dalam kamar.
Lalu Audrey segera membuka pintu dan masuk kamar tak lupa untuk menutup pintu kamar kembali.
“Soo Yun kau sedang apa?” tanya Audrey.
“Tidak sedang apa-apa, nona” jawab Soo Yun.
“Soo Yun...” Audrey menggantung ucapannya.
“Aku sudah tau kalau kau dari kerajaan, dan yang berpura-pura sebagai suami mu itu sebenarnya adalah seorang pangeran” ucap Soo Yun cepat.
“Kau-”
“Aku sudah tau dari pertama kali” potong Soo Yun cepat.
“Maaf sebelumnya, kalau aku lancang, karena aku pernah tak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua” lanjut Soo Yun.
__ADS_1
• Flashback On •
Soo Yun yang saat itu ingin memanggil paman Li mengurungkan niatnya lantaran dia mendengar percakapan seseorang.
“Pangeran kenapa kau bilang kalau kita ini suami istri?”
“*Emang kenapa?”
“Ihh... Aku takut mereka itu berpikiri yang enggak-enggak”
“Ya gak papa, justru bagus kalau mereka itu berpikir kalau kita ini suami istri, jadi biar kita bisa nginap di rumah paman Li, kalau tidak...kita tidak tau harus tidur di mana, ya kan*?”
“Baiklah jika itu yang terbaik untuk kita”
“Soo Yun, sedang apa kau di sini?” tanya paman Li mengagetkan Soo Yun.
“E-eh paman, tidak sedang apa-apa, kalau begitu aku ke kamar dulu paman” ucap Soo Yun lalu segera pergi.
Soo Yun kembali masuk ke kamarnya dia duduk di tepi ranjang.
‘Maksud mereka tadi itu apa, apakah mereka hanya berpura-pura?’
‘Wanita itu bilang `Pangeran` kepada si pria, apa mereka dari kerajaan, sepertinya mereka datang dari kerajaan, tapi kenapa mereka menyamar seperti itu?’
Soo Yun terus saja berkecamuk dengan pikirannya sendiri, ‘Jika benar, apa tujuannya mereka?’ batinnya bertanya-tanya.
• Flashback Off •
“Maafkan aku” ucapnya lagi setelah menceritakannya pada Audrey.
Audrey tersenyum, “Tidak papa, aku tak marah, terimakasih kau telah menjaga rahasia, karena tidak bilang pada siapapun lagi” saut Audrey.
“Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Soo Yun.
“Boleh, kau mau bertanya apa?” jawab Audrey.
“Sebenarnya apa tujuan kalian?” tanya Soo Yun.
Audrey terdiam, apakah dia harus kasih tau tujuan awal dan utamanya mereka datang kedesa, atau tidak?
“Jika kau tidak mau kasih tau pun tidak papa” saut Soo Yun yang melihat Audrey terdiam.
“Aku hanya takut” ungkap jujur Audrey.
“Tenang saja aku janji akan menjaga rahasia ini” ucap Soo Yun.
Audrey menatap Soo Yun dia menghela nafas pelan, setelah cukup lama dengan pikirannya akhirnya Audrey menceritakan semua tujuannya datang ke desa.
Soo Yun mengangguk paham, setelah dia mendengar dan di kasih tau oleh Audrey.
“Kalau tentang pemuda itu aku pun tidak tau, tapi jika tentang pria bertato bintang aku tau” ucap Soo Yun yang membuat Audrey menatapnya lekat.
**To Be Continue....
__ADS_1
***
Terimakasih telah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**....