Teleportasi Kedunia Kerajaan

Teleportasi Kedunia Kerajaan
Bab 28 : bingkai foto?


__ADS_3

PLAKK


Suara tamparan yang begitu keras itu ternyata berasal dari pangeran Xelo yang menampar pria tersebut, hingga yang di tampar menoleh kesamping.


Audrey membuka matanya dan melihat pangeran Xelo berada di depannya saat ini dengan nafas yang memburu.


“Berani sekali kau ingin menamparnya!!!” tekan pangeran Xelo marah.


“Wah... Wah... Wah siapa lagi ini, kau pahlawan hah?!” bentaknya.


“Berani sekali kau menamparku!!” ucapnya marah dan segera menampar lagi pangeran Xelo keras.


PLAKK


“PA- TIDAK!!” hampir saja Audrey keceplosan akan mengatakan PANGERAN.


Audrey menghampiri pangeran Xelo, pangeran Xelo menatap tajam pria tersebut, matanya memerah menahan amarah.


“Apa Hah?! Mau marah? Iya?” teriak si pria di depan wajah pangeran Xelo.


Saat pangeran Xelo ingin melayangkan bogeman, tiba-tiba ada suara yang menghentikannya.


“HEY... ADA APA INI?” teriak orang tersebut mengurungkan niat pangeran Xelo. Semua orang menoleh pada orang tersebut.


“Kau... Astaga kau lagi yang membuat ulah, apa kau tidak lelah?” tanyanya pada pria tersebut.


“Kenapa emang? Masalah untuk kau, tidakkan” jawabnya sinis.


Orang tersebut menggelengkan kepalanya pelan, lalu membubarkan kerumunan tersebut.


“Semuanya bubar, tidak ada pertunjukan lagi, ayo bubar semuanya” teriaknya membubarkan para warga.


Para warga pun membubarkan dirinya masing-masing dan sibuk kembali dengan kegiatannya masing-masing, tapi tidak dengan Audrey dan pangeran Xelo.


“Lah, kalian ini siapa?” tanyanya ketika melihat Audrey dan pangeran Xelo.


“Kami pendatang” jawab Audrey.


“Cuman pendatang saja sudah tidak sopan, belagu sekali” sinis pria tersebut menatap Audrey dan pangeran Xelo.


Pangeran Xelo yang hendak memukul si pria pun segera di tahan oleh Audrey.


“Tidak, kau harus jaga sikapmu pangeran” bisik Audrey menggelengkan kepala, pangeran Xelo hanya menghele nafas kasar.


“Sudah-sudah, kau pergi biar anakmu bersamaku saja” ucap orang tersebut menatap si pria.


“Terserah kau saja” sautnya.


“Kau tak usah balik kerumah” ucap pria tersebut menunjuk anak gadisnya lalu dia segera pergi.


Mereka semua menatap ke arah si pria hingga tak terlihat lagi.


“Oh ya nama kalian siapa?” tanya orang tersebut.


“Emm nama kami... Emm kalau saya Lestari panggil saja Tari, kalau ini namanya Leo” Audrey memperkenalkan dirinya dengan pangeran Xelo.


Ya Audrey sengaja menyamarkan nama mereka agar tak di ketahui oleh orang lain.

__ADS_1


“Ohh begitu, kalau saya Li Guan panggil saja paman Li, pamannya gadis ini. Dan dia namanya Soo yun” ucap paman Li memperkenalkan dirinya dan juga gadis malang tersebut.


Audrey mengangguk paham dan tersenyum, sedangkan pangeran Xelo diam saja.


“Mari ikut saya, kita ke rumah saya untuk beristirahat” ucapnya mengajak ke rumahnya.


“Mari, Soo Yun ayo, kerumah paman saja” ucapnya lalu merangkul keponakannya dan jalan terlebih dahulu.


Audrey mengikutinya di belakang dan menarik pangeran Xelo karena dia hanya diam saja.


Dalam perjalanan kerumah paman Li, hanya ada keheningan, tiba-tiba paman Li nanya yang membuat Audrey dan pangeran Xelo kaget.


“Kalian ini suami istri?” tanya nya.


Audrey dan pangeran Xelo saling pandang, “E-ehh bu-” ucapan Audrey terpotong.


“Iya” potong pangeran Xelo cepat.


Audrey melotot menatap pangeran Xelo tak percaya, sedangkan pangeran Xelo hanya tersenyum di balik penutup wajahnya.


“Ohh pantas saja, mungkin kalian baru menikah, jadi mencari suasana baru ke desa kami” ucap paman Li mengangguk paham.


“E-ehh i-iya” saut Audrey gugup.


“Nah kita sudah sampai, silahkan masuk” paman Li mempersilahkan pangeran Xelo dan Audrey masuk.


“Silahkan duduk, duh maaf ke adaan rumah saya seperti ini, kecil” ucapnya tak enak.


“Iya tidak apa-apa, terimakasih” saut Audrey dan duduk di kursi kayu dan pangeran Xelo duduk di samping Audrey.


“Sebentar ya paman tinggal kebelakang dulu, membawakan kalian minum” ucap paman Li dan langsung pergi kebelakang membawa Soo Yun bersamanya.


“Pangeran kenapa kau bilang kalau kita ini suami istri?” tanya Audrey lirih agar tak kedengeran oleh paman Li ataupun Soo Yun.


“Emang kenapa?” pangeran Xelo malah balik bertanya.


“Ihh... Aku takut mereka itu berpikir yang enggak-enggak” ucap Audrey.


“Ya gak papa, justru bagus kalau mereka itu berpikir kalau kita ini suami istri, jadi biar kita bisa nginap di rumah paman Li, kalau tidak... kita tidak tau harus tidur di mana, ya kan?” ucap pangeran Xelo santai.


Audrey berpikir sejenak dan ada benarnya juga pangeran Xelo, tapi kan... Ahh lupakan. Audrey menghela nafas pelan, “Baiklah jika itu yang terbaik untuk kita” ucap Audrey pasrah.


Tak lama kemudian paman Li datang dengan membawakan nampan berisi air teh hangat dan makanan ringan.


“Silahkan di minum dan di makan dulu, pasti kalian lelah” ucap paman Li sembari meletakannya di atas meja.


“Ohh iya terimakasih” saut Audrey.


“Silahkan di minum” ucapnya lagi dan duduk di hadapan pangeran Xelo.


Audrey mengambil salah satu teh hangat, dan meminumnya dengan cara tidak membuka kain di wajahnya, paman Li yang melihatnya hanya tersenyum saja.


“Suaminya gak minum?” tanya paman Li ketika melihat pangeran Xelo hanya diam saja tanpa menyentuh sedikit pun.


Audrey menatap ke arah pangeran Xelo dan menyiku lengan pangeran Xelo pelan, tapi pangeran Xelo tetap diam saja.


“Ohh... Iya, dia memang seperti itu, mungkin tidak haus, ya kan... M-mas?” tanya Audrey gugup ketika menyebut kata terakhir, sedangkan pangeran Xelo yang mendengarnya menahan ketawanya dan hanya mengangguk saja sebagai jawaban.

__ADS_1


“Oh ya sudah tidak papa” ucap paman Li tersenyum.


“Ohh ya kalian kesini, sudah ada tujuan untuk tidur dimana?” tanya paman Li Audrey menggeleng sebagai jawaban.


“Kalau kalian berkenan, kalian bisa tidur di rumah saya, kebetulan ada satu kamar yang kosong, sebagai tanda terimakasih saya kepada kalian telah membantu keponakan saya” ucapnya menawarkan kamar pada mereka berdua.


Audrey diam dia menoleh ke arah pangeran Xelo, pangeran Xelo mengangguk sebagai jawaban.


“Baik, jika paman membolehkannya” ucap Audrey.


“Tentu saja saya akan memperbolehkannya, dengan senang hati” sautnya tersenyum ramah.


“Kalau kalian lelah istirahatlah saja, kamarnya sebelah sana” lanjutnya lagi sembari menunjuk pintu kamar yang tertutup.


Audrey mengikuti arah tunjuknya, lalu mengangguk paham.


“Ya sudah kalian istirahat lah terlebih dahulu, tidak papa saya tinggal sebentar” ucap paman Li.


“Iya, terimakasih ya paman” ucap Audrey.


”Iya, yasudah saya pergi sebentar nanti saya akan kembali lagi” sautnya dan di angguki oleh Audrey, lalu paman Li keluar rumah.


Mata Audrey menelusuri rumah tersebut hingga matanya berhenti di sebuah bingkai foto berukuran kecil menempel di dinding.


‘Bukankah itu...’ batin Audrey mengerutkan keningnya.


“Audrey...” panggil pangeran Xelo.


“Eh iya pangeran?” saut Audrey menatap pangeran Xelo.


“Kau kenapa?” tanyanya.


“Tidak apa-apa” jawab Audrey menggelengkan kepalanya.


“Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Audrey menatap pangeran Xelo.


“Istirahat” jawabnya.


“Ohh ya bagaimana dengan ketiga pengawal tersebut?” tanya Audrey ketika dia mengingat ketiga pengawal yang ikut bersamanya.


“Entahlah” pangeran Xelo mengangkat tangannya acuh.


***


“Ka John, kemana pangeran Xelo dan juga nona Audrey? Mereka belum kembali lagi” tanya pangawal muda yang bernama Rion.


“Entah tadi mereka sedang menelusuri daerah yang ada di sekitar sini” saut pengawal John, dia yang paling tertua di antara kedua teman pangawalnya.


“Ya sudah kita cari saja sekalian cari yang meski kita cari” ucap pengawal Lion kembarannya pangawal Rion.


“Tapi bagaimana dengan kereta kudanya?” tanya pengawal Rion.


“Kita tinggalkan saja, karena tidak ada barang yang berharga, lagian siapa yang mau maling kereta kuda yang sudah tua dan rapuh seperti ini?” jelas John.


“Baiklah” saut pengawal kembar bareng.


**To Be Continue....

__ADS_1


***


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**....


__ADS_2