Terjebak Cinta Seorang CEO

Terjebak Cinta Seorang CEO
PART 21


__ADS_3

Tidak lama dari itu, makanan mereka pun datang dan langsung di sajikan. Amanda begitu terpukau melihat ada berbagai macam makanan yang di pesan oleh Brian.


Setelah para pelayan itu pergi, Amanda mencoba untuk bertanya kepada lelaki itu.


"Tuan, apa tidak kebanyakan pesannya?" tanya Amanda.


"Memangnya kenapa?" tanya Brian balik.


"Sepertinya ini terlalu mahal Tuan, takut uang saya tidak cukup untuk membayar makanan ini," jujur Amanda yang terlihat ragu untuk menyantap makanan itu.


Brian tersenyum tipis yang tidak terlihat oleh Amanda karena saking tipisnya senyuman itu.


"Saya yang mengajakmu makan dan saya juga yang akan membayarnya, kamu tidak perlu khawatir," ucap Brian.


"Eh jangan Tuan, saya tidak mau merepotkan anda," ucap Amanda kaget dan tidak enak kepada Brian.


"Tidak masalah nona Amanda, saya tidak akan bangkrut dengan membelikanmu makanan yang banyak. Karena restoran ini milik Papa saya sendiri,"


"Jafi makanlah sekarang sebelum makanan itu dingin."


Amanda hanya mengangguk patuh tapi masih dengan perasaan kaget.

__ADS_1


Brian menjelaskan dengan jelas kepada Amanda agar gadis itu tidak merasa takut. Amanda menutup mulutnya karena barusan mendengar bahwa restoran ini ada milik orang tua Brian.


Brian dan Amanda pun akhirnya makan makanan mereka dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Tiba-tiba Amanda merasakan mual, pusing dan gatal-gatal di tubuhnya. Brian yang melihat gerak-gerik aneh dari Amanda langsung bertanya.


"Are you okay?" tanya Brian sambil melirik Amanda yang terlihat pucat bahkan tangan dan leher amanda terlihat ada bintik merah.


"A-apa dimakanan ini ada udangnya?" tanya Amanda panik dan sudah berkeringat.


"Iya ada, memangnya kenapa Amanda?"


Amanda tidak membalas ucapan Brian, tubuhnya terasa begitu panas dingin bahkan rasa mual, pusing dan gatal-gatal sudah menguasai dirinya. Brian panik dan beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Amanda.


"Amanda, kamu kenapa?" Brian bertanya dan terlihat sedikit khawatir.


Brian memeluk pundak Amanda dari samping dan mengecek keadaan gadis itu. Amanda yang sudah tidak bisa menahan rasa pusing langsung pingsan.


Brian refleks langsung menggendong Amanda dan membawanya ke RS terdekat.


Semua para pengunjung di tempat itu melihat ke arah Brian yang menggendong Amanda. Banyak orang yang berpendapat bahwa gadis yang di pelukan Brian adalah pacar dari Brian.


Tidak lama dari itu, makanan mereka pun datang dan langsung di sajikan. Amanda begitu terpukau melihat ada berbagai macam makanan yang di pesan oleh Brian.

__ADS_1


Setelah para pelayan itu pergi, Amanda mencoba untuk bertanya kepada lelaki itu.


"Tuan, apa tidak kebanyakan pesannya?" tanya Amanda.


"Memangnya kenapa?" tanya Brian balik.


"Sepertinya ini terlalu mahal Tuan, takut uang saya tidak cukup untuk membayar makanan ini," jujur Amanda yang terlihat ragu untuk menyantap makanan itu.


Brian tersenyum tipis yang tidak terlihat oleh Amanda karena saking tipisnya senyuman itu.


"Saya yang mengajakmu makan dan saya juga yang akan membayarnya, kamu tidak perlu khawatir," ucap Brian.


"Eh jangan Tuan, saya tidak mau merepotkan anda," ucap Amanda kaget dan tidak enak kepada Brian.


"Tidak masalah nona Amanda, saya tidak akan bangkrut dengan membelikanmu makanan yang banyak. Karena restoran ini milik Papa saya sendiri,"


"Jafi makanlah sekarang sebelum makanan itu dingin."


Amanda hanya mengangguk patuh tapi masih dengan perasaan kaget.


Brian menjelaskan dengan jelas kepada Amanda agar gadis itu tidak merasa takut. Amanda menutup mulutnya karena barusan mendengar bahwa restoran ini ada milik orang tua Brian.

__ADS_1


Brian dan Amanda pun akhirnya makan makanan mereka dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Tiba-tiba Amanda merasakan mual, pusing dan gatal-gatal di tubuhnya. Brian yang melihat gerak-gerik aneh dari Amanda langsung bertanya.


__ADS_2