
Di perjalanan pulang tiba-tiba motor Amanda terhenti. Amanda baru teringat ternyata dia belum sempat mengisi bensin.
"Pake mati segala, mana aku lupa isi bensin lagi," ucap Amanda.
"Gimana dong ini?"
Karena sudah tidak tahu harus berbuat apa Amanda terpaksa mendoronh motornya. Amanda melihat sekelilingnya tidak ada satu kendaraan pun yang lewat. Hari mulai sore jarak kontrakan Amanda saja masih jauh.
Amanda seketika merinding saat melewati jalanan sepi itu. Hingga tiba-tiba Amanda di kagetkan dengan suara klakson mobil dari arah belakang.
"Astagfirullah," ucap Amanda yang reflek kaget mendengar bunyi klakson.
"Apa-apaan sih nih mobil ngagetin orang aja," ucap Amanda kesal.
Amanda melihat mobil hitam dan terlihat mewah berhenti tepat di belakangnya. Seketika Amanda pernah melihat mobil itu. Tak lama Amanda melihat sang pemilik mobil itu keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Amanda.
Pemuda itu adalah Brian yang tanpa sengaja mengenal gadis itu. Amanda seketika kaget mengingat wajah pemuda itu yang pernah menabrak seorang ibu-ibu.
Brian yang melihat raut wajah Amanda yang terlihat kaget hanya tersenyum smirk sembaru melangkah mendekatinya.
"Dia kan cowok yang waktu itu, ngapain dia kesini?" gumam Amanda dalam hatinya.
Amanda terus melamun sehingga tidak menyadari jika Brian sudah berdiri tepat di hadapannya. Jarak Brian dan Amanda sangat dekat hingga Brian bisa mencium aroma parfum di tubuh Amanda.
"Apa sebegitu tampannya saya sehingga matamu tanpa bosan menatapnya?" suara bariton Brian menyadarkan Amanda dari lamunannya.
"E--eh maaf, saya minta maaf," ucap Amanda terbata karena seperti orang yang tertangkap basah.
"Apa kamu membuat kesalahan?" tanya Brian yang serius menatap wajah cantik milik Amanda.
Amanda hanya diam lalu mendongakkan kepalanya menatap Brian.
"T-tidak," ucap Amanda sambil melangkah mundur karena sadar jarak di antara mereka terlalu dekat.
Brian hanya tersenyum melihat ekspresi kegugupan Amanda.
"Kita bertemu lagi nona," ucap Brian sembari tersenyum smirk.
__ADS_1
Amanda yang melihat senyuman itu langsung merinding seperti lagi berbicara dengan makhluk tak kasat mata.
"Apa yang Tuan lakukan disini? dan kenapa Tuan mengetahui disini?" tanya Amanda.
"Aku ingin bertemu denganmu nona," ucap Brian.
"Hah? maaf sebelumnya Tuan saya tidak ada urusan dengan anda," ucap Amanda tegas.
"Saya permisi dulu," ucap Amanda yang sudah berbalik dan akan pergi meninggalkan Brian.
Brian yang mendapat penolakan dari Amanda hanya tersenyum.
"Menarik, baru kali ini aku di tolak seorang perempuan. Aku akan menjadikanmu milikku," ucap Brian dalam hati sembari tersenyum.
Sebelum meninggalkan tempat itu Brian langsung menahan lengan Amanda. Amanda berbalik badan menghadap Brian karena lengannya di tahan sama pemuda yang tidak di kenalnya.
"Tuan apa-apaan megang tangan orang sembarangan," ucap Amanda ketus.
"Ikut denganku," ucap Brian dingin.
"Ngapain saya harus ikut Tuan sedangkan saya tidak mengenali siapa Tuan. Saya permisi," ucap Amanda menolak ajakan Brian.
Amanda pun akhirnya melihat sekelilingnya, terlihat jalanan yang sepi bahkan hanya ada dirinya dan pemuda itu. Amanda bergidik ngeri saat membayangkan jika dirinya sampai kemalaman disini.
Brian menyunggingnya senyumannya saat melihat Amanda yang terlihat ketakutan. Sedangkan Amanda merasa sudah sangat takut dan mencoba untuk berpikir jernih dan melawan ketakutan.
"Maaf Tuan yang terhormat saya tidak takut sekalipun saya kemalaman disini, saya bisa saja menghubungi teman saya untuk menjemput saya jadi saya permisi sekarang," ucap Amanda kembali menolak mencoba melawan rasa takutnya.
Brian merasa geram dengan tingkah gadis ini.
"Kamu!" ucap Brian geram yang melihat Amanda sudah kembali berjalan.
Brian segera mengejar Amanda yang belum terlalu jauh.
"Kamu mau masuk ke mobil saya apa saya harus melakukannya dengan cara saya sendiri?" ucap Brian yang sudah sangat geram karena di tolak Amanda.
Amanda merasa aneh dengan pemuda di sampingnga ini. Amanda sudah menolak secara harus akan tetapi tetap saja pemuda itu memaksanya bahkan berani mengancamnya.
__ADS_1
"Saya sudah bilang kalau saya bi---,"
ucapan Amanda terpotong saat Brian dengan sigap menggendongnya. Mata Amanda membulat seketika saat Brian menggendongnya.
"Tuan apa-apaan, lepasin saya!" ucap Amanda sedikit mengeras pada Brian.
"Diam," hanya kata itu yang keluar dari mulut Brian.
Amanda mencoba berontak di gendongan Brian akan tetapi pria itu seperti tidak memperdulikan Amanda dan terus melangkah menuju mobil dan segera memasukan Amanda ke dalam mobilnya.
"Saya bisa pulang sendiri Tuan, tolong buka pintu mobilnya," ucap Amanda merengek ingin keluar dari mobil Brian.
"Kamu bisa diam tidak? saya hanya akan mengantarmu saja dan tidak berniat jahat sedikit pun," ucap Brian kesal.
"Tapi saya tidak mau ikut dengan anda Tuan, tolong buka pintunya," ucap Amanda dengan raut wajah yang terlihat sedikit kesal.
"Diam Nona, jika tidak ingin aku melahap bibir cerewet mu itu," ucap Brian yang sudah menatap Amanda dengan tatapan tidak bisa di artikan.
Brian menatap ke arah bibir yang berwarnah pink mudah itu. Rasanya ia ingin mencicipi manis bibir gadis ini. Amanda yang melihat Brian menatapnya dengan tatapan aneh langsung beralih menatap ke arah jendela mobil.
"Apa kamu belum puas dengan unek-unekkan mu itu?" tanya Brian.
"J-jalan aja Tuan keburu malam," ucap Amanda.
Amanda terlihat sedikit gugup. Brian hanya tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menggoda Amanda lagi. Setelah itu Brian menghidupkan mesin mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan sedang.
"Lalu bagaimana dengan motor saya Tuan?" tanya Amanda memecahkan keheningan.
"Saya akan menyuruh orang saya untuk mengantarkan motor kamu," ucap Brian tanpa menatap Amanda.
"Beritahu alamatmu," ucap Brian.
Lalu Amanda memberitahu alamat kontrakannya pada Brian. Butuh waktu yang cukup lama akhirnya mobil Brian berhenti tepat di depan kotrakan Amanda.
"Terima kasih Tuan, saya permisi masuk ke dalam dulu," ucap Amanda tanpa menyuruh Brian masuk ke kontrakan karena Amanda masih sedikit takut.
"Hmm, masuklah." titah Brian.
__ADS_1
Amanda pun segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam kontrakannya. Brian melihat kontrakan Amanda yang terlihat berukuran sedang. Brian meraih ponselnya dan menghubungi orangnya untuk memperbaiki motor Amanda dan segera mengantarkan ke alamat yang telah di beritahu Brian.
"Sekarang aku sudah tahu alamat kamu gadisku," gumam Brian tersenyum.