Terjebak Cinta Seorang CEO

Terjebak Cinta Seorang CEO
BAB 9


__ADS_3

Di kamar yang berukuran sedang, Amanda sedang berbaring di ranjangnya. Amanda tengah memikirkan pemuda yang waktu itu pernah bertemu dengannya. Amanda merasa ada yang aneh dengan sikap pemuda itu.


"Dasar Tuan aneh, ganteng-ganteng tapi suka maksa," ucap Amanda mengingat Brian yang memaksanya.


"Ih kok aku jadi mikirin Tuan aneh itu sih, dahlah tidur aja udah malam juga. Semoga aku tidak bertemu dengannya lagi," ucap Amanda dan segera tidur.


Di kediaman Brian. Brian yang baru selesai dengan acara makan malam langsung kembali ke kamarnya. Brian berjalan ke arah balkon kamar menghirup udara malam.


Brian kembali memikirkan Amanda. Gadis yang sudah berhasil membuatnya sadar akan cinta. Amanda adalah cinta pertama Brian dan bahkan baru pertama bertemu saja Brian sudah menyukainya dan ingin memilikinya.


"Ahk! aku bisa gila kalau seperti ini, kenapa jantungku selalu berdegub kencang saat di samping dia. Untung saja aku pintar menyembunyikan perasaan ini," ucap Brian.


"Apa aku harus menemuinya lagi besok?"


"Ya tuhan apa begini rasanya jika mencintai seseorang,ku sangat ingin memilikinya bahkan aku belum mengenalnya lebih jauh lagi kenapa hatiku menginginkannya. Aku juga belum sempat nanya siapa nama gadis itu,"


Brian mengucapkan isi hatinya pada dirinya sendiri. Sebelumnua Brian sering menjauhi yang namanya wanita bahkan menolak para wanita yang ingin di dekatinya. Tapi sekarang ada wanita yang menolaknya dan membuat Brian lebih tertarik dan ingin memilikinya. Wanita itu adalah Amanda.


"Aku harus memilikinya bagaimanapun caranya, kamu akan ku jadikan wanitaku, kamu milikku.' ucap Brian dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.

__ADS_1


Saat mengatakan itu Brian segera meninggalkan balkon kamar dan berjalan ke tempat tidurnya. Tak lama kemudian Brian pun tertidur.


Pagi harinya Brian sudah terlihat sangat rapi dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya. Brian turun ke bawah menghampiri papa dan mamanya yang tengah sarapan pagi.


"Pagi Pa, Ma," sapa Brian.


"Pagi sayang," sapa mama Brian tersenyum.


"Brian langsung berangkat ya Pa, Ma. Brian udah terlambat nih," ucap Brian.


"Loh? nggak sarapan dulu sayang?"


"Waalaikumsalam, hati-hati sayang."


Brian segera melajukan mobilnya menuju perusahaan. Brian ada meeting sebentar jadi dia sedikit buru-buru.


Tak lama mobil Brian sudah sampai. Brian melihat jika asistennya Farel sudah berdiri di depan yang tengah menunggunya.


"Pagi Bos," sapa Farel.

__ADS_1


Brian tidak membalas sapaan Farel dia terus berjalan masuk.


"Apa semuanya sudah di ruangan meeting?" tanya Brian.


"Sudah Bos, semuanya sudah menunggu kedatangan Bos,"


"Baiklah kita ke ruang meeting sekarang,"


Brian dan Farel segera menuju ke ruang meeting. Dan mengabaikan sapaan-sapaan yang di ucapkan para karyawan Brian.


Di kontrakan Amanda, gadis itu sudah mau berangkat kerja juga. Amanda sudah mengetahui kalau motornya sudah di antarkan oleh orang suruhan Brian.


Amanda sudah berada di tempat kerja. Feli hari ini tidak bisa kesana karena ada urusan dengan keluarga Feli. Tak lupa Feli memberitahukan Amanda.


Amanda melihat bunga yang sudah tertata rapi di tempatnya. Amanda yang sibuk merangkai bunga di kagetkan dengan suara pembeli.


"Selamat pagu mbak, saya mau beli buket bunga yang ukurannya besar," ucap sang pembeli.


"Pagi Pak, iya sebentar ya Pak," ucap ramah Amanda.

__ADS_1


Kemudian Amanda memilih sebuah buket bunga yang di pesan orang itu dan langsung memberikannya. Setelah membayar pembeli itu sudah pergi.


__ADS_2