
Setelah kepergian Cika, Brian melihat kearah istrinya yang terlihat sangat kelelahan menerima tamu udangan dari pagi sampai malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke kamar, sedangkan Farel dia tengah mengobrol dekan beberapa tamu undangan Brian.
Sampainya di kamar Brian sedang melepas setrlan jas yang ada di tubuhnya, lalu ia melirik ke arah Amanda yang saat ini kesusahan melepas gaun pengantin. Brian berjalan dan hendak membantu istrinya.
"Kamu mandilah dulu Bi aku akan menyiapkan air hangat untukmu," ucap Amanda.
"Apa kamu tidak ingin mandi bersamaku?" goda Brian.
"A-aku akan mandi setelah kamu Bi,"
"Baiklah kalau gitu,"
Brian pun akhirnya mandi terlebih dahulu. Butuh waktu berapa menit akhirnya Brian selesai lalu bergantian dengan Amanda yang saat ini sudah membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Selesai mandi Amanda yang masih berada di dalam kamar mandi malu untuk keluar dengan handuk yang dililitkan di tubuhnya.
__ADS_1
Dia mengumpulkan tenaga agar berani keluar dari kamar mandi, saat pintu terbuka Amanda melihat jika sekarang Brian tengah sibuk dengan leptop di pangkuannya. Brian sedang memeriksa beberapa pekerjaan kantor. Amanda pun berjalan perlahan seperti maling yang takut akan ketahuan.
Amanda tidak menyadari jika Brian melihat kearahnya dengan senyum yang tidak dapat di artikan. Amanda refleks kaget saat merasakan ada tangan kekar yang melingkar di tubuhnya. Wangi tubuh yang sangat di rindukan Brian, sesekali dia mencium pundak mulus Amanda.
"Bi lepasin dulu aku mau ganti baju,"
"Tetaplah seperti ini sampai aku bosan sayang,"
"Apa kamu sudah siap malam ini, sayang?"
Seketika Amanda menelan saliva dengan kasar, tubuhnya merinding seketika mendengar bisikan tepat di telinganya.
"A-aku masih capek Bi," gugup Amanda.
__ADS_1
"Hm aku tahu kamu capek sayang jadi aku terima alasanmu malam ini tapi tidak dengan lain waktu jadi persiapkan dirimu, aku tidak sabar membuat Brian junior,"
Wajah Amanda memerah lalu Brian dengan mudah membalikkan tubuh Amanda menghadap ke arahnya, Brian terkekeh pelan melihat sembrutan merah di wajah sang istri. Mata Brian tertuju pada bibir pink Amanda, dengan segera ia mengecup bibir itu dengan lembut. Tapi lama-kelamaan ciuman itu menuntut lebih, Amanda yang sadar segera melepaskan tautan bibir mereka.
"Bi jangan sekarang ya,"
"Baiklah sayang,"
Akhirnya mereka berdua beristirahat karena seharian ini sangat menguras tenaga. Amanda dan Brian akhirnya menuju alam bawah sadar sembari tangan Brian di jadikan sebagai bantal. Amanda sangat nyaman tidur di pelukan Brian, karena baru pertama kali dia tidur dengan seseorang begitupun dengan Brian yang tak kalah senang akhirnya Amanda sudah menjadi istrinya bahkan sedikit lagi akan menjadi miliknya sepenuhnya.
Dari sebelum menikah kemarin Brian sudah menyuruh orang-orang-Nya untuk memindahkan semua baju dan juga barang keperluan Amanda di mansion baru milik Brian. Brian juga sebenarnya mempunyai mansion yang jarang ia tempati, dia masih memilih untuk tinggal di rumah milik orang tua Brian. Akan tetapi karena dia sudah berumah tangga Brian memutuskan untuk tinggal berdua dengan sang istri.
Besok paginya tepatnya di mansion yang berukuran sangat besar dan luas, terlihat dua pasangan yang masih berbahagia masih asyik tiduran di atas ranjang. Amanda samar-samar membuka matanya dan dilihat manusia yang sedang tidur pulas dengan wajah yang begitu tampan mirip seperti pangeran yang selalu ia baca di novel. Amanda bersyukur bisa menikah dengan pria yang sangat menyayangi dan mencintai dirinya.
__ADS_1