Terjebak Cinta Seorang CEO

Terjebak Cinta Seorang CEO
PART 32


__ADS_3

Sore hari setelah Brian mengantarkan Amanda pulang dari kerja, gadis itu baru saja keluar dari kamar. Amanda baru selesai mandi dan menuju dapur. Sedangkan Brian belum langsung pulang karena ada kepentingan pribadi.


Amanda mau masak hari ini, tapi sayangnya di dalam kulkas sudah habis bahan-bahan makanan.


"Yah aku lupa belanja, mana stok bahan makanan udah habis lagi," ucap Amanda.


"Mau nggak mau aku barus belanja,"


Lalu Amanda segera mengambil kunci motor dan menuju ke tempat perbelanjaan.


Berapa menit kemudian akhirnya Amanda sudah sampai, lalu masuk ke dalam untuk segera membeli keperluan rumah.


Sedangkan di tempat lain Brian dan Farel berada di sebuah hotel bersama rekan kerja Brian. Mereka sedang membicarakan tentang penawaran kerja sama dengan lelaki itu.


Setelah selesai dengan obrolan antara dua pengusaha itu akhirnya Brian berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.


"Terima kasih atas kerja sama anda Pak Brian,"


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu karena ada kepentingan lain,"


Setelah berjabat tangan Brian dan Farel meninggalkan hotel.


Di mobil Brian mengambil ponsel lalu menghubugi Amanda, menanyakan gadia itu sedang apa. Brian rasanya tidak bisa berlama-lama tanpa gadisnya baru berapa jam saja dia sudah di buat rindu akan gadis itu.


Tuttt


📞


"Halo, kamu lagi dimana dan kenapa berisik sekali?" tanya Brian.


"..............."


"Kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu biar aku yang nganter kamu," protes Brian karena Amanda tidak memberitahunya.


"..............."


"Apa sudah selesai belanjanya?"


".............."

__ADS_1


"Oke, tunggu disana dan jangan kemana-kemana aku akan segera kesana."


Setelah menutup sambungan telepon, Brian langsung menyuruh Farel memutar arah karena Brian ingin menemui Amanda.


"Putar balik kita ke arah X," perintah Brian kepada Farel.


"Apa Bos akan menjemput nona Amanda?" tanya Farel.


"Iya,"


Farel pun sudah memutar arah dan menujubke lokasi Amanda yang tak lain adalah pacar dari sang atasan.


Sampainya mereka disana, Brian dan Farel menghampiri Amanda yang sedang membawa belanjaan. Farel tanpa aba-aba meminta Amanda untuk menyerahkan belanjaannya itu.


"Biar saya yang membawa belanjaannya nona," ucap Farel.


"Eh tidak usah Tuan biar saya saja," tolak Amanda sopan.


"Biarkan Farel yang bawa belanjaannya sayang," ucap Brian.


"Tapi--,"


"Baiklah Farel terima kasih,"


Amanda mengucap terima kasih serta menyunggingkan senyumannya kepada Farel membuat Brian tak suka.


"Jangan senyum kearahnya sayang," ucap Brian dengan rasa cemburu.


"Yaelah cemburuan amat sih orang cuman di senyumin doang bukan minta di nikahin," sindir Farel.


"Mau di potong berapa gajimu?" tanya Brian dengan datar.


Glek!


Farel menelan kasar salivanya, seketika nyali pria itu menciut mendengar ucapan dari sang bos sekaligus sahabatnya.


"Loh nggak bahaya ta bawa-bawa gaji hehe, maaf Pak Brian saya becanda," ucap Farel.


"Udah ah jangan berlebihan begitu, ayo pulang sekarang," ajak Amanda.

__ADS_1


"Hmm, kamu naik mobil sama aku. Biar motor di bawah curut itu," ucap Brian lalu Amanda hanya mengangguk dan berjalan masuk ke mobil.


"Gini nih kalau udah bucin, dunia serasa jadi milik berdua." ucap Farel.


Sampainya di rumah Amanda mereka pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Farel sudah meletakkan belanjaan Amanda di dapur. Di rasa sudah selesai semua Brian segera pulang ke rumah.


"Sayang aku pulang dulu, besok jadwal pagi aku mau berangkat," ucap Brian.


"Sampai rumah langsung istrahat dan jangan lupa makan malam," ucap Amanda dengan menampilkan senyum manisnya.


"Kalau kamu senyum seperti itu rasanya tidak rela aku ninggalin kamu,"


"Kumat deh gombalnya,"


"Aku nggak gombal sayang,"


"Ya sudah pulang dan beristrahatlah kamu pasti capek,"


"Dan sampaiikan ke mama kamu salam aku ya,"


"Mama sama Papa lagi diluar negeri sayang, Papa ada urusan disana sedangkan Mama ngikut," jelas Brian.


"Oh iya,"


"Cium aku," pintah Brian sambil menunjuk pipi kanan-Nya.


Amanda melototkan matanya karena malu apalagi disini bukan hanya ada mereka tapi ada asistennya Brian, Farel.


"Harus sekarang ya?" tanya Amanda polos dan sedikit malu akan melakukan itu.


"Sekarang sayang nggak mungkin 7 tahun ke depan lagi,"


"Iya-iya,"


Saat Amanda akan mencium pipi Brian tiba-tiba pria itu malah membalikkan wajahnya dan seketika bibir mereka pun bertemu. Tidak hanya kecupan tapi Brian sedikit ******* bibir Amanda sedikit lama. Brian tidak memperdulikan Farel yang sedang disana.


Farel hanya mengelus dada dengan wajah yang sedikit terkejut akan keganasan Brian sama Amanda.


"Buset, Bos ternyata brutal juga." gumam Farel dengan nada suara yang tidak terdengar oleh dua orang yang sedang bermesraan.

__ADS_1


__ADS_2