
Barang belanjaan Amanda sudah berada di dalam mobil. Dia di bantu sama Reyhan dan juga supir pribadi Brian. Tak lupa jika gadis itu mengucapkan terima kasih kepada Reyhan karena sudah membantu membawakan belanjaan. Lalu Amanda dan supir segera pulang ke mansion.
Sampainya di rumah supir dan juga pelayan yang sudah membawakan belanjaan ke dapur, sedangkan Amanda menaiki tangga untuk ke kamar. Amanda merasa takut jika Brian tahu kalau dia bertemu lagi dengan Reyhan. Tak lama suara dering ponsel milik Amanda berdering, disana sudah tertera nama sang penelpon adalah Brian.
📞
"Halo, iya Bi?"
"Hari ini aku tidak bisa pulang cepat sayang, karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini,"
"Aku pikir kamu akan makan malam di rumah, tapi tidak masalah aku akan menyuruh Pak Rama yang akan mengantarkan makan malam,"
"Tidak perlu sayang aku akan makan diluar bersama Farel saja,"
"Hmm baiklah,"
"Aku tutup telponnya dulu I love you,"
__ADS_1
"I love you more suamiku."
Lalu sambungan telepon terputus. Amanda sedikit merasa kecewa karena suaminya akan lembur dan makan malam di luar. Amanda pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Di tempat lain tepatnya di rumah orang tua Cika, mereka sedang berada di ruang keluarga. Cika berusaha membujuk sang papa agar bisa membujuk Brian untuk menjadi miliknya, akan tetapi sang ayah menolak dengan keras keinginan putrinya yang begitu nekad. papa Cika tahu jika Brian sudah menikah.
"Aku nggak mau tahu Pa Brian itu harus menjadi milikku bukan milik orang lain," tegas Cika.
"Cukup Cika! apa kamu sudah tidak waras hah? Brian itu jelas-jelas sudah menikah dan kamu ingin merusak kebahagiaan orang lain dengan keegoisanmu sendiri? mau jadi apa kamu hah!" suara papa Cika tak kalah nyaring dan juga tegas.
"Pa kan tahu sendiri kalau aku dari dulu sangat mencintai Brian, Pa. Bagaimana bisa aku nerima dia begitu saja menikah dengan orang lain bahkan asal-usul istrinya saja kita nggak tahu,"
"Aku yakin satu hari nanti rumah tangga mereka akan hancur."
Setelah mengucapkan itu Cika pergi keluar rumah entah mau kemana. Papa dan mama Cika sudah tidak tahu harus berbuat apa karena putri mereka Cika sudah terobsesi kepada Brian. Mereka tahu jika Cika menginginkan sesuatu akan selalu terkabulkan. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu yang dibuat oleh Cika.
Cika yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya merasa sangat marah karena orang tua nya tidak setuju akan rencana dia untuk mengambil Brian dari Amanda. Cika meremas setir mobil. Seketika dia mengingat jika kemarin dia menyuruh orang untuk mengikuti Amanda dan dia sempat mendapatkan beberapa foto Amanda yang sedang bersama Reyhan.
__ADS_1
"Ini rencana bagus dengan foto ini pasti Brian akan marah dan mungkin sedikit demi sedikit akan membenci Amanda," ucap Cika tersenyum licik.
"Let's start the game, Amanda."
Sedangkan di perusahaan Brian, terlihat pria itu sedang sibuk dengan beberapa dokumen yang bertumpukkan di meja kerjanya. Sedangkan bawahannya Farel sibuk dengan tugas yang di berikan oleh Brian kepadanya. Brian sampai lupa jika sekarang sudah pukul 05:55. Tak lama terdengar ketukan pintu, disana sudah ada Farel yang membawakan Brian makanan dan juga segelas minuman karena Farel tahu Brian sempat tidak makan siang.
"Thank's Rel," ucap Brian.
"Santuy Bos, Bos mau lembur malam ini?"
"Sepertinya begitu,"
"Aduh kasihan nona Amanda Bos kalau Bos lembur kan kalian masih pengantin baru haha,"
"Kalau begitu kamu harus gantiin saya mengerjakan ini saya akan pulang ke mansion,"
"Siap laksanakan Bos, semoga Bos dan nona Amanda bisa secepatnya memberikan saya ponakan hahaha,"
__ADS_1
"Kalau itu sudah pasti."
Brian dan Farel tertawa bersama, Farel tersenyum saat melihat Bos sekaligus sahabatnya kembali hangat seperti dulu. Karena semenjak dengan Amanda Brian sudah mulai menghangat bahkam sudah jarang menampilkan wajah tanpa ekspresinya ke orang lain maupun ke Farel sendiri. Brian akhirnya bersiap-siap pulanv ke mansion karena sekarang sudah gelap sedangkan Farel dengan santainya mengerjakan apa yang di perintah oleh Brian.