
Seminggu telah berlalu. Pesawat Jet pribadi milik papa Brian baru saja sampai ke tanah air. Mobil yang terbilang sangat mewah itu sekarang sedang menuju ke rumah. Papa Brian merasa sangat merindukan negara kelahiran mereka dan juga putra tunggal mereka yaitu Brian.
"Apa Mama sudah menghubungi Brian kalau kita sudah berada disini?" tanya papa Brian.
"Sudah, Pa. Tapi anak nakal itu tidak mengangkat panggilan dari mama,"
"Kita hubungi lagi nanti mungkin Brian lagi sibuk."
Di tempat lain Brian masih di sibuk kan dengan beberapa dokumen di meja kerja. Bawahannya Farel juga sedang sibuk dengan beberapa file yang harus ia cari tahu dan di serahkan pada Brian. Akhir-akhir ini banyak pemegang saham lainnya mengajuka kerja sama dengan perusahaan Brian Evanz.
Brian menghentikan kegiatannya saat menandatangani beberapa file, Brian mengecek ponsel miliknya yang sedari tadi berdering. Disana sudah ada beberapa panggilan yang tidak terjawab dari sang mama. Akhirnya Brian kembali menghubungi nomor itu, tak lama panggilan pun tersambung.
Brian yang tidak lama berbicara dengan sang mama segera mematikan telepon. Brian mendapatkan informasi dari sang mama kalau mereka sudah berada di Indonesia. Brian mengira jika orang tuanya tidak jadi pulang ke tanah air.
Brian menghubungi Farel untuk datang ke ruangannya, karena hari ini Brian akan mengunjungi rumah orang tua Bria. Tak lama Farel akhirnya sudah datang.
"Saya akan memberimu tugas dana selesaikan pekerjaan ini karena saya akan ke rumah orang tua saya lebih dulu," ucap Brian.
"Loh Bos banyak kali Bos lembur dong saya,"
"Saya tambah gajimu jadi nggak usah protes,"
Langsung saja mata Farel langsung berbinar mendengar ucapan Brian.
"Wah kalau itu mah gaskeun Bos hahaha,"
"Cih dasar,"
"Mau sekalian saya antar, Bos?" tawar Farel.
"Tidak perlu saya akan nyetir sendiri, tugasmu selesaikan ini."
Lalu Brian meraih jas dan berlalu meninggalkan Farel di ruangan. Sebenarnya Farel ingin protes karena malam nanti dia gagal dinner dengan seseorang, akan tetapi karena gajinya akan di tambah membuat rasa senang menguasai diri Farel.
__ADS_1
Mobil Brian melaju begitu saja meninggalkan perusahaan. Sebelum menuju rumah orang tua Brian, lelaki itu memutar arah karena dia juga akan mengajak Amanda untuk bertemu dengan papa dan mama-Nya. Hingga akhirnya mobil itu sampai di mansion, satpam rumah segera membuka pagar agar mobil tuannya segera masuk.
Amanda yang mendengar suara mobil Brian berjalan keluar dan benar saja Brian baru saja pulang. Seperti biasa Amanda mencium tangan Brian dan Brian mencium kening Amanda.
"Loh tumben pulang cepet Mas," ucap Amanda.
"Hari ini kita akan ke rumah Papa sama Mama, mereka sudah sampai di Indonesia. Kamu siap-siap gih aku tunggu,"
"Oh ya ampun, iya tunggu sebentar aku siap-siap dulu Mas." Brian hanya menjawab dengan anggukan.
tidak butuh waktu lama Amanda turun ke bawah sambil membawa tas yang berukuran sedang. Tampilan yang terlihat sangat sederhana tapi sangat menarik jika Amanda yang memakainya. Brian tersenyum melihat Amanda yang mulai terlihat berisi bahkan tambah gemes.
"Ayo Mas kita berangkat sekarang,"
"Iya sayang."
Di mobil Amanda dan Brian saling berpegangan tangan dengan Amanda yang bersandar di pundak Brian.
"Namanya juga lagi hamil Mas jadi kelihatan berisi hahaha kamu gimana sih,"
"Iya juga ya ... aku kok jadi ogeh gini,"
"Baru sadar kamu mas hahaha,"
"Malah ngeledek ih,"
"Wlee."
Mereka saling bercandaan saat di mobil. Tanpa sadar mobil Brian sudah sampai di rumah yang bisa Amanda lihat itu tak kalah lebih mewah dari mansion milik Brian. Amanda takjub dengan dekorasi rumah ini.
Jantung Amanda berdegub kencang saat ini, Brian yang mengerti mencoba menggenggam tangan Amanda agar wanitanya tetap tenang. Amanda gugup karena mau bertemu dengan mertua-Nya. Mereka berjalan masuk ke dalam sambil bergandengan tangan.
Kedatangan Brian dan juga Amanda sudah di sambut oleh para pelayan di rumah. Tepat di ruang keluarga sudah ada mama dan juga papanya Brian, mereka menyadari jika Brian sudah datang.
__ADS_1
"Kamu sudah datang ternyata," ucap papa Brian.
"Iya, Pa. Brian baru saja sampai,"
Mereka melihat Brian datang bersama seorang wanita yang sudah pasti wanita itu adalah istri dari putra mereka. Sang mama yang sangat antusias senang langsung memeluk Amanda.
"Kamu Amanda, kan?" tanya sang Mama dengan wajah senang.
"Iya Tante,"
"Loh jangan panggil Tante dong sayang panggil Mama mulai sekarang, kami sudah menjadi orang tuamu juga,"
"Iya, Ma."
Begitu banyak pertanyaan yang di berikan oleh mama Brian kepada Amanda, namun beda lagi dengan papa Brian yang bertanya sekedarnya saja. Dengan sangat ramah Amanda menjawab satu-persatu pertanyaan dari mama mertua.
"Oh ya aku mau ngasih tahu jika sekarang Amanda sedang hamil," jelas Brian yang sontak saja membuat orang tua Brian ikut bahagia karena sebentar lagi akan punya cucu.
"Syukurlah sayang, mama ucapin selamat ya biat kalian. dan Mama sama Papa minta maaf karena tidak bisa hadis di acara pernikahan kalian,"
"Tidak masalah Ma,"
"Apa kalian sudah tinggal di mansion itu?" tanya sang papa.
"Iya Brian sudah tinggal di mansion dan sudah menyewa beberapa pelayan,"
"Baguslah, kamu harus menjaga istrimu dan juga cucu Papa jangan sampai mereka kenapa-kenapa,"
^^^"Itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang suami Pa jadi Papa dan Mama tenang saja."^^^
Ada rasa bahagia di hati Amanda karena keluarga Brian begitu menerimanya dengan baik tanpa memandang dirinya dari keluarga sederhana. Begitu bersyukurnya ia bisa bersama dengan seseorang yang begitu ia cintai dan memiliki keluarga yang tanpa memandang status.
...TAMAT...
__ADS_1