
Seperti biasa Amanda dengan sangat ramah melayani beberapa sang pemesan buket bunga. Tak jauh dari sana ada orang yang terus-terusan mengintai Amanda dari jarak yang tidak terlalu jauh dari sana. Orang itu adalah suruhan Cika untuk memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh Amanda.
Saat sudah selesai melayani pembeli bunga, Amanda keluar untuk mengantarkan beberapa pesanan bunga ke alamat yang sudah di beri oleh pemesan. Alamat itu tidak begitu jauh dengan tempat dimana dia bekerja. Amanda merasa ada yang selalu mengikutinya akhir-akhir ini akan tetapi gadis itu tidak terlalu peduli.
Akhirnya Amanda sudah sampai di tempat orang yang membeli bunga tersebut. Setelah mendapatkan bayar dia segera kembali ke toko bunga, akan tetapi di perjalanan motor Amanda di hadang oleh mobil berwarna merah. Dengan kaget Amanda menekan rem motor agar motornya tidak menabrak mobil yang sudah menyalipnya.
Di dalam mobil itu keluarlah seorang perempuan yang berpakaian ketat dan terbilang cukup seksi, orang itu Amanda kenal. Dia adalah Cika. Dengan tidak ada rasa bersalahnya Cika menghampiri Amanda dengan tersenyum remeh.
"Kita bertemu lagi Amanda," ucap Cika tersenyum miring.
"Apa kamu tidak punya mata mbak, Cika? dengan sengaja menghadap motor saya?"
__ADS_1
"Hei jaga ucapanmu! apakah orang tuamu tidak mengajarkan sopan santu saat berbicara dengan orang?"
"Apa yang spesial darimu sampai-sampai Brian tertarik dengan perempuan rendahan sepertimu, bahkan aku saja yang lebih dari segala-galanya di bandingkan kamu,"
"Sekalipun saya hanya seorang gadis rendahan tapi saya masih punya rasa malu untuk mengejar pria yang sudah jelas-jelas menolakku, dan aku peringatkan jangan terlalu berharap pada Brian karena cinta tidak bisa di paksakan. Sekalipun kamu menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan hati Brian, akan tetapi Brian tidak semudah itu di hasut sama rayuan perempuan sepertimu. Ingat itu!" tegas Amanda.
"Kita lihat saja nanti Amanda, rencanaku belum sepenuhnya berjalan dengan lancar. Tapi suatu hari nanti kamu akan merasakan di campakkan oleh Brian,"
Dengan tidak tahan Amanda segera menjalankan motornya meninggalkan Cika yang sedang meremahkan ucapannya. Sebenarnya Cika sudah sangat panas karena reaksi Amanda begitu terlihat sangat tenang saat di panas-panasi.
Sesampainya di toko bunga Amanda langsung masuk ke dalam. Amanda sangat kesal karena pertemuan dia dengan Cika. Akan tetapi omongan Cika selalu terngiang-ngiang di pikiran Amanda, Amanda takut jika yang di katakan Cika benar kalau misalnya Brian akan mencapakkan dia.
__ADS_1
"Amanda jangan berfikir aneh-aneh, itu semua hanya tipu muslihat Cika saja. Percaya saja pada Brian," gumam Amanda mencoba membuang pikiran negatif pada Brian.
Sedangkan di perusahaan Brian pria itu sedang asyik dengan pekerjaannya. Tak lama datanglah Farel dengan menjelaskan jika Brian di undang untuk acara peresmian salah satu Universitas milik orang tuanya di kota itu.
"Pak, anda di undang untuk peresmian kampus milik Tuan besar,"
"Bisakah di tunda dulu pekerjaanku masih sangat banyak dan masih banyak E-mail perusahaan masuk yang harus ku periksa,"
"Baiklah, Pak. Nanti saya akan meghubungi pihak kamous untuk menunda acaranya,"
"Hmm."
__ADS_1
Lalu Brian melanjutkan pekerjaan. Tiba-tiba ia mendapat panggilan dari nomor yang tidak di kenal, ia memberhentikan kegiatannya sebentar lalu mengangkat panggilan tersebut. Dengan penasaran siapa yang menghubunginya saat itu juga ekspresi wajah Brian berubah menjadi sangat datar, yang menelponnya ada Cika.