Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#10


__ADS_3

Dua hari kemudian,


Seluruh anak buah kelompok Boile dikerahkan untuk mencari keberadaan Evan, tetapi hasilnya nihil, mereka tidak menemukan jejak pria itu. Bahkan alat pelacak di kalung yang dia pakai tidak lagi aktif karena rusak atau hilang.


Di pinggir tebing, Jonash berdiri frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sama halnya dengan Mahesa dan Leo yang sudah frustasi mencari keberadaan Evan yang berakhir di pinggir tebing itu. Seluruh sisi hutan sudah mereka sisir bahkan sepanjang aliran sungai sudah mereka lacak tetapi tidak menemukan keberadaan sang pimpinan.


Jonash terduduk lemas di pinggir tebing sambil mengusap kasar wajahnya menatap ke dasar tebing yang sangat curam dan langsung berhadapan dengan sungai.


“Apa yang harus kita lakukan? Karena para bajingan itu, Evan...”


Mahesa dan Leo sama frustasinya, mereka mengerahkan seluruh tenaga dan waktu mereka untuk mencari keberadaan Evan yang menghilang setelah kejadian di kamp pelatihan mereka. Sedang Kevin turut melarikan diri bersama anak buahnya yang tersisa.


Mereka menatap ke arah sungai yang aliran airnya sangat deras,” apa dia terjatuh ke sana?” ucap Leo dengan wajah sedih dan khawatir.


“ Ku harap tidak, karena siapa pun yang jatuh ke jurang ini tidak akan selamat, kau lihat sendiri ini sangat terjal,” ucap Mahesa sambil menunjuk lokasi yang sangat berbahaya. Bahkan tidak dianjurkan untuk duduk ataupun berdiri disana karena ujung tebing yang beresiko retak, sudah ada papan peringatan di sana.


“ Lalu kita harus bagaimana? Ke mana lagi kita harus mencari Evan, sudah dua hari dan seluruh tim mulai kelelahan, tidak ada tanda sama sekali...” ucap Jonash.


Tak ada satu pun dari mereka yang bisa terlelap selama Evan belum ditemukan, sangat mengerikan. Mereka tahu luka hati Evan, mereka tahu segala sesuatu yang dihadapi oleh pria itu. Bagaimana kalau Eugene, kakak angkatnya yang berada di luar negeri mendengar kabar ini, dia mungkin akan pingsan jika tahu adiknya menghilang.


“ Semua ini salahku, seharusnya aku tidak mengejar perempuan itu, seharusnya aku mengikuti Evan saja hari itu...” Leo menyalahkan dirinya karena kejadian itu. Padahal Evan yang memintanya mengejar Nadira tetapi karena mengejar Nadira yang sudah bersembunyi dia malah kehilangan waktu untuk membantu Evan yang sudah di serang habis habisan oleh Kevin dan anak buahnya.


“ Jangan menyalahkan dirimu Leo, sebaiknya kita cari dia, ayo...” Mahesa mengajak kedua temannya, membawa mereka mencari keberadaan sang Evan yang tak tahu dimana.


Tiba-tiba...

__ADS_1


“ Tuaaannn..... kami menemukan Sepatu yang dipakai tuan Evan hari itu!!" teriakan salah satu anak buah yang mendaki tebing terdengar di telinga mereka bertiga. Sontak ketiganya berlari menghampiri sumber suara itu.


Pria itu adalah pria yang melaporkan pengkhianatan yang dilakukan Tom dan bagaimana kejadian itu menimpa mereka.


“ Apa kau yakin?” teriak Leo tidak percaya.


Pria bernama Yaksen itu berlari menghampiri mereka, dia terlihat lelah dan wajahnya sedikit pucat karena dinginnya suhu di bawah sana,” Benar tuan, kami menemukannya di pinggir sungai sekitar 100 meter dari jarak ini,” ucapnya menunjuk aliran air sungai yang deras.


Deghh...


Bak disambar petir ketiga pria itu terduduk lemas. Evan jatuh dari atas tebing yang sangat tinggi itu dan sampai saat ini jejak nya belum ditemukan.


“ Tidak... ini tidak mungkin...” Jonash panik, serangan panik yang dia alami kembali menyerangnya. Pria itu memukuli dirinya sendiri, Mahesa dan Leo sama syoknya dengan Jonash. Sudah bisa dipastikan kalau Evan memang terjatuh dari tebing itu melihat tetesan darah yang ada di pinggir tebing.


“ jadi itu benar benar darah Evan.. tidak mungkin... Evan.. dia tidak mungkin melakukan itu!!” ucap Leo sambil beranjak dari sana dan pergi menuruni sisi tebing melakukan pencarian lagi dan lagi.


“ Tuan, kita berhasil, dia jatuh dari tebing yang sangat tinggi dan kemungkinan untuk selamat sangat kecil, dia pasti sudah mati di bawah aliran air yang sangat deras itu, sesuai dengan foto, dia terjun dari tebing curam itu,” pria itu melaporkan situasi pada Kevin sambil tersenyum menyeringai.


“ hahahahhahaa... sudah ku bilang dia akan mati di tanganku, dia akhirnya mati, pembunuh ibuku akhirnya mati...” Kevin tertawa terbahak bahak di seberang sana.


Pria itu tersenyum lalu mematikan panggilan teleponnya bersamaan dengan itu hidupnya berakhir di tangan Jonash.


Duarrr.....


Satu tembakan melesat di kepala pria itu , membocorkan tengkoraknya dan membuat pria itu mati seketika di hadapan Jonash yang sejak awal sudah curiga dengan keberadaan mata mata pengganggu,” Evan belum mati, dia tidak akan mati... akan ku pastikan siapa pun yang berkhianat habis di tanganku!!" teriak pria itu menggelegar di seluruh area hutan belantara itu.

__ADS_1


Sementara itu, di sisi lain hutan di mana ada sebuah sungai kecil yang sering dikunjungi sang gadis cantik pemilik tubuh tinggi dan surai hitam nan panjang, dia sedang berjalan membawa keranjang dan jaring untuk menangkap ikan di sungai.


Nadira gadis cantik itu berjalan sambil tersenyum, sudah biasa dia berjalan sendirian ke hutan tanpa ada yang menemani, pasalnya rumah yang dia tempati berada tepat di dekat hutan belantara itu.


Nadira melewati rumput rumput kering sambil bersenandung, sesekali memotret pemandangan alam yang sangat cantik dengan pohon pohon rindang dan suara nyanyian alam yang begitu menenangkan.


“ hammmmmm.. wahhh udara sore hari memang sangat menyegarkan,” gumam Nadira sambil menghirup nafas dalam-dalam.


Gadis itu berjalan dengan santai sambil menatap kesana kemari, tidak ada hewan liar berbahaya di sana kecuali ular dan kalajengking yang sudah jadi pemandangan biasa di depan Nadira.


Dengan berani dia berjalan sembari mencabuti beberapa tanaman liar yang dipercaya memiliki khasiat yang sangat baik untuk dijadikan obat merawat luka atau sebagai bahan makanan.


Nadira juga membawa panah untuk berburu, siapa sangka gadis biasa ini memiliki kemampuan sehebat itu. Dia bisa memanah dan juga menguasai bela diri. Sambil tersenyum dia berjalan menyusuri hutan hingga dia tiba di sungai yang alirannya sedikit deras.


“ ahhh dua hari tidak pergi bekerja, rasanya tubuhku sangat ringan, ini dia yang ku inginkan, uang tabunganku cukup banyak untuk hidup sendiri dan aku bisa menikmati waktu ku di hutan, sayang sekali Chiko dan Eka tidak suka ke hutan,” ucapnya sambil bermain dengan daun daun kering hingga kakinya menendang sebuah benda yang tak terlihat seperti batu tetapi sedikit keras dan berambut.


“ehhh a.. apa...ini mayat?” Mata Nadira membulat sempurna saat melihat tubuh seseorang tergeletak di atas tanah tanpa kaos dan celananya sudah robek berantakan. Tubuhnya penuh dengan luka dan tak bergerak sama sekali.


“ Ya.. amp..pun...”Nadira melangkah mundur dengan wajah panik, dia terlihat ketakutan saat melihat orang itu di sana.


“ Kenapa mati di sini woi... ini tempat aku mancing ikan!!" teriak Nadira menghindar sampai beberapa meter saking takutnya melihat tubuh itu di sana.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2