
Nadira dibawa ke markas utama kelompok mafia yang dipimpin oleh Evan.
Bukan markas tempat di mana tuan Sanjaya di sekap, tetapi markas yang terlihat seperti sebuah kantor. Siapa sangka gedung besar yang berada di tengah kota itu adalah sebuah bar dengan markas Rahasia di dalamnya.
Nadira dibawa ke sana, Evan tidak akan membawa Nadira secara langsung ke markas mereka yang lain terutama markas eksekusi tempat Kevin anak tuan Sanjaya yang telah kehilangan tangannya dan kini disekap di dalam ruang bawah tanah setelah di bantai.
Menurutnya terlalu menyeramkan dan kotor untuk didatangi oleh istrinya.
Tetapi Nadira akan diberitahu tentang titik markas mereka di beberapa kota, Entah Nadira bisa menerima Evan setelah mendengar kebenarannya atau tidak, Evan hanya bisa pasrah.
Jonash keluar dari dalam mobil setelah mereka tiba di depan gedung Klub Boile milik Evan, salah satu Klub yang banyak diminati oleh penggemar Vodka, Martini, Tequila dan kawanannya.
"Silahkan tuan," ucap Jonash.
Nadira dan Evan keluar dari mobil itu dengan Nadira yang setia menggandeng tangan Evan.
" Wahhh....." Gadis itu menatap gedung terbesar di antara semua gedung di area itu, tatapan takjub dan tak menyangka seolah selama ini dia menjadi pertapa yang baru keluar dari bawah gunung tempat nya bermeditasi.
Evan tersenyum tipis melihat wajah polos Nadira dan tatapan takjub dari gadis itu.
Tentu saja senyuman Nadira membuat hati Evan menghangat.
Mereka berjalan mengikuti arahan dari Jonash.
Kedatangan mereka disambut baik oleh para pengawal.
Masih baru mengawali hari, tetapi klub itu sudah ramai pengunjung. Di siang hari sistemnya bagaikan restoran dan Kafe dan di malam hari tempat bermainnya dunia malam.
Di saat yang sama, Mahesa berjalan sambil tertawa serta menggandeng tangan seorang pria yang terlihat gemulai, jika dilihat dari interaksi mereka, sepertinya Pria yang bersama Mahesa itu adalah 'Pacar' Mahesa.
" Ya ampun Mahesa, kau sedang apa siang bolong begini!?? apa kau bermain lagi!!!!" Leo yang terkejut melihat Mahesa dengan pacar MB ya sampai berteriak.
"Ehh haha.. maaf, kalian datang ya? kami tidak bermain, hanya sedikit urusan pekerjaan, aku pergi dulu ya," ucap Mahesa sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
" Bye Nadira, sampai jumpa nanti," teriaknya.
Mahesa berjalan dengan cepat bersama pacarnya.
"Waah jadi benar tebakanku, aku dan kau punya teman aneh Van, Teman kita aneh semua!!!" ucap Nadira tak heran lagi dengan Mahesa yang sudah dia curiga adalah kaum pelangi seperti Eka.
__ADS_1
"Kau benar, maaf soal itu," ucap Evan.
"Cihh entah apa lagi yang akan kau sembunyikan dasar pria ini!!" omel Nadira tetapi tangannya dengan hati-hati menuntun Evan untuk berjalan.
Mereka masuk ke dalam bar itu dengan sambutan dari anak buah.
Kedatangan Evan tentu membuat mereka terkejut, apalagi dengan penampilan Evan yang sangat apik mendalami peran menjadi orang buta.
Tatapan mata semua orang tertuju pada mereka berdua, Evan dan Nadira yang menurut para penonton karena pria tampan bertemu dengan gadis cantik.
Apalagi ini kali pertama bos di tempat itu membawa seorang perempuan yang terlihat mesra dan sangat dekat dengannya.
Mereka berjalan menuju aula utama di sisi lain gedung, aula tempat latihan anak buah sekaligus ruangan kontrol seluruh area markas.
Mereka memiliki sistem big data, dengan kecanggihan teknologi terbaru yang dimiliki bisa dengan cepat mencari semua informasi yang mereka butuhkan.
"Selamat datang bos!" sang pendekar wanita Kelompok Boile menyambut Evan bersama dengan rekan-rekannya.
Perempuan berbakat bernama Amora itu membungkuk hormat diikuti anak buah yang lain.
Amora adalah pemimpin di Markas Utara, sedang mencari informasi di markas utama.
"Hmm.. lanjut pekerjaan kalian!" ucap Evan datar.
"Bos siapa perempuan dekil ini!??" Tanya Amora dengan nada sarkas sambil menatap Nadira yang sedang menatap ruangan itu dengan mata berbinar binar.
Jonash dan Leo sampai melotot mendengar pertanyaan sarkas dari Amora.
Mereka berdua menoleh dan menatap Nadira, tetapi gadis itu tampaknya tidak terganggu dengan Amora karena takjub melihat bangunan yang dilengkapi dengan teknologi canggih yang sangat keren dan lengkap.
Evan mengeraskan rahangnya, tetapi senyuman sumringah Nadira membuatnya tetap tenang.
"Wahhh apa ini milikmu!??" tanya Nadira sambil menatap Evan.
Amora yang tidak ditanggapi mendengus kesal.
"Ahh iya, milik kita," jawab Evan.
"Tuan siapa dia? kenapa anda membawa perempuan kampungan ke markas ini!? di sini banyak rahasia perusahaan dan markas besar, bagaimana kalau dia mata-mata!?" Amora protes, dia menata tak suka pada Nadira, agaknya dia tahu siapa Nadira setelah mendengar berita bahwa bosnya sudah menikah.
__ADS_1
" Bukannya sudah jelas hubungan kami seperti apa? dia istriku, dan kenapa aku butuh ijinmu membawa orang pentingku ke markas ini?! ingat posisimu Amora!" Senggak Evan tanpa menoleh pada perempuan itu.
" Tapi tuan, jangan jangan dia ini hanya mata-mata yang berusaha mendekati Anda, saya tidak akan biarkan siapa pun mengusik kelompok ini!" tegas Amora sambil menatap Nadira dengan wajah kesal.
"AMORA!!" Evan membentak perempuan itu sambil mengepalkan kedua tangannya. Kesal dan Marah bercampur menjadi satu.
"Ma..maaf tuan, saya terbawa emosi," ucap Amora menunduk ketakutan.
Nadira menatap mereka," Sepertinya penggemar suamiku sangat banyak, Wahhh Evan kau benar-benar luar biasa ya," ujar gadis itu sambil menatap kesal ke arah Amora yang berani merendahkan dirinya di depan semua orang.
Bahkan reaksi Evan terhadap Amora membuatnya kecewa," Sepertinya kalian punya hubungan yang sangat dekat," celetuk gadis itu sambil melepaskan tangannya dari Evan.
" Nad... Nadira, bukan seperti itu!" Evan meraba ke sana kemari. Berakting menjadi orang buta terkadang membuatnya kesusahan.
Amora yang melihat hal itu sampai terkejut, benar ucapan Evan hari itu, kalau dia akan melakukan segalanya untuk membuat Nadira tinggal bersamanya.
Selain itu kebutaan nya dia gunakan sebagai umpan untuk mengelabui musuhnya.
"Tuan sampai rela melakukan itu!?? apa spesialnya Perempuan dekil ini!??" tanya Amora.
Jonash yang mendengar nya malah dibuat kesal, jangan sampai penyamaran Evan terbongkar, bisa saja Nadira benar-benar marah.
"Heh sudahlah, kau sangat pemarah hari ini, apa kau sedang datang bulan, dasar wanita!" ketus Jonash sambil menarik kerah baju Amora dan membawanya pergi dari sana.
"Nadira, tolonglah mengerti, dia anggotaku," ucap Evan sambil menatap Nadira dari balik kacamatanya, dia tidak berpikir kalau gadis itu ternyata pencemburu.
"Huh... terserah, dia kan lebih dekat denganmu, apalah daya dengan aku yang baru bertemu denganmu setelah pulan tahun berpisah, aku bisa apa Evan," balas gadis itu sambil mendengus kesal.
"Siapa bilang, selama ini aku mencoba mengingatmu, tapi karena tak punya foto aku tak bisa, aku mencarimu tapi karena takut aku membatasi di pencarianku, aku justru takut kau malah menghindari ku setelah tau aku hidup seperti apa, " ucap Evan dengan jujur.
" Benny, perlihatkan pada istriku seluruh rekaman aktivitas markas, supaya dia tahu suami seperti apa yang dia miliki!" ucap Evan.
" Tapi Tuan... markas sedang melakukan penghukuman, ini tidak enak dipandang mata," jawab Benny, pria bertato Aries bertubuh besar dan sebelah matanya cacat, dia adalah kepala bagian IT.
"Lakukan saja, dan untukmu Nadira, sekarang adalah saatnya bagimu untuk memilih, ikut denganku atau pergi, karena kau akan tau seperti apa kehidupan ku!" ucap Evan.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗