
Aliran air yang deras dan dingin berhasil membekukan tubuh Evan. Pria itu terbawa arus hingga sekian kilometer dari titik di mana dia terjatuh. Entah bagaimana, tetapi pria itu bertahan, dia bertahan dengan semua rintangan yang dilewati tubuhnya bersama aliran air yang deras selama 2 hari dua malam dia lalui.
POV EVAN
“ Ahhh ku pikir ini sudah jadi akhir hidupku. Yap lebih baik seperti ini, biar aku kembali bersama ayah, ibu dan adikku, biar aku kembali ke tempat di mana seharusnya aku berada.
Hari ini tubuhku jatuh dari tebing yang sangat curam, bahkan tingginya mungkin mencapai tinggi gedung 25 lantai. Dengan hantaman keras aku masuk ke dalam sungai yang kupikir dangkal ternyata cukup dalam sampai membuat tubuhku terbawa arus.
Masih jelas ku ingat malam itu bintang bersinar begitu terang sedangkan aku hanyut di bawa air sungai, aku menatap bintang sambil berharap aku segera mati. Perlahan kedua mataku tertutup, ahhh... aku lelah, aku hanya ingin pergi ke tempat yang teduh dan tenang, melupakan semua masa lalu ku dan siksaan yang ku dapatkan.
Mati mungkin jadi pilihan terbaik bagiku. Aku tidak sadarkan diri, tubuhku di bawa aliran sungai yang aromanya sangat khas, aroma kayu jati yang begitu menyegarkan dengan suhu air yang sangat dingin.
Entah berapa lama aku terbawa arus, tanpa makan, tanpa minum tanpa tahu apa saja yang sudah kulewati.
Hingga, beberapa saat lalu, aku terbangun karena rasa perih yang menusuk di tubuhku, dan aroma tak sedap dari benda benda lengket dan bau yang ditempelkan di tubuhku. Rasanya tidak nyaman tetapi jantungku seolah kembali berdetak, tubuhku yang dingin kembali dialiri darah yang hangat.
Aku bangun dan membuka mataku.
Gelap..
Satu kata yang bisa ku ucapkan, ya, semuanya gelap. Sepertinya pukulan di hari itu mebuatku kehilangan penglihatanku. Aku bisa merasakann cahaya, tetapi tidak bisa melihat objek di dekatku seolah semunya buram dan kabur. Ada warnanya tetapi tidak jelas, seolah ada selaput abu abu yang menutupi kedua mataku.
Aku mendengar suara itu, suara gadis yang sangat melengking dan menyakiti telingaku. Tetapi aku tidak bisa melihatnya.
Aroma khasnya menyeruak di hidungku, rasanya aku tahu sosok ini, tapi bagaimana mungkin?
POV end
“ Si.. siapa kau.. aku di.. dimana? Akhhh... apa yang kau lakukan padaku?” Evan meracau sambil meraba-raba kesana kemari sampai tangannya menjamah sesuatu yang kenyal dan bulat.
__ADS_1
“ Benda apa ini?” ucapnya sambil menekan benda kenyal nan bulat itu membuat pemiliknya terkejut malu dan syok dengan apa yang dilakukan Evan saat ini.
Pletakkk...
“ Dasar pria mesum, apa yang kau lakukan, kenapa kau menyentuh dadaku bodoh.. apa kau tidak bisa lihat ada orang di sini!!" pekik Nadira sambil terperanjat kaget dan memukul lengan Evan yang memegang bola kenyal miliknya.
Evan bahkan terkejut dengan dirinya sendiri,” ku pikir apa tadi, ahhh kecil tapi lembek, “ gumam pria itu sambil mengangkat tangannya dan menggerakkan jarinya sebagaimana dia memegang benda itu tadi.
Nadira tak habis pikir,” yakkk pria mesum kurang ajar, beraninya kau... apa apan kau... beraninya kau menyentuhku!" pekik gadis itu hendak memukul Evan tapi tak tahu mau memukul bagian yang mana karena semuanya terluka.
“ grrhhhhh arrkkhhhh sialan....” teriak gadis itu geram sambil menghentakkkan kedua kakinya ke atas tanah saing kesalnya dnegan ucapan dari Evan.
Evan hanya terdiam, dia seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa,” bisakah kau diam? Suaramu sangat jelek,” ejeknya lagi.
“ Apa? Jelek? Arrkkhhh mau ku bunuh kau sekarang!!” pekik Nadira lagi yag sudah sangat kesal.
“ Bunuh saja, itu akan mengurangi penderitaanku, lagi pula kenapa kau menyelamatkan orang yang tidak kau kenal, ayo bunuh aku sekarang, toh aku bosan dengan hidupku,” ucap Evan dengan nada sendu.
“ Sepertinya kepalamu terbentur cukup keras sampai kau ingin mati, dasar bodoh, hidup Cuma sekali , jangan cepat cepat mati,” ketus Nadira sambil duduk di dekat Evan dan menatap pria itu.
Evan hanya diam, baginya hidup juga percuma karena tidak ada yang bisa dia dapatkan dari hidup yang dia jalani.
“ Kau tidak mengerti, kau selamanya tidak akan paham nona, “ ujar Evan .
Nadira menatap pria itu, matanya menganak sungai, dia cepat cepat menghapus air matanya. Melihat Evan yang kebingungan dengan posisi Nadira, gadis itu melambaikan tangannya di depan wajah Evan,” apa kau tidak melihatku?” tanya Nadira sambil menyerngitkan keningnya.
Evan melihat ke sisi kanan, tetapi bola matanya tidak bergerak ke arah yang tepat,” aku melihatmu, pergilah, tinggalkan aku disini,” ucapnya yang hanya bisa meraba bayangan Nadira.
Nadira terkejut bukan main dnegan apa yang baru saja dia saksikan, Evan mengalami cedera mata yang sangat parah sampai merusak penglihatannya.
__ADS_1
“ Pak.. Ka.. kau buta.. kau .. sejak kapan begini?” tanya Nadira sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Evan.
Tetapi Evan yang tidak senang di sentuh orang lain segera menepis tangan gadis itu,” jangan menyentuhku,” kesal pria itu.
Nadira mengerucutkan bibirnya,” Kau banyak berubah,” batin gadis itu.
“ Sepertinya ada kejadian besar yang terjadi, aku takut, dia sudah bertemu dengan orang orang itu, sampai saat ini mereka masih mencari keberadaan anak anak budak terdahulu, hah... apa kecelakaan Evan ada hubungannya dengan mereka?” batin Nadira sambil menatap pria itu dengan cermat.
Nadira tahu semua tentang keluarga Sanjaya yang adalah majikan dari keluarga budak yang di basmi bertahun tahun lalu. Majikan keluarga Nadira dan Evan yang dulu. Dia sudah mencari tahu semua tentang mereka, tentang keturunan dan tentang silsilah keluarga itu.
Nadira menepuk bahu Evan,” apa yang terjadi padamu Pak? Apa kau tidak mengenaliku?” tanya Nadira dengan nada kecewa.
“ Apa dia secepat itu melupakan gadis kecil ini? Cihhh dasar pembohong besar,” batinnya kesal.
Evan memiringkan kepalanya,” apa seharusnya aku mengenali perempuan berisik seperti dirimu?” ucap Evan lagi lagi dengan nada dinginnya.
Nadira memijit pelipisnya, sepertinya untuk berbicara dengan pria ini harus dengan koneksi jaringan internet 5G supaya bisa tersambung dengan baik. Alam memang baik, setidaknya mereka tidak terguyur hujan di tengah hutan belantara ini dengan kondisi musim hujan yang cukup parah.
Nadira menatap langit yang awalnya jingga kini mulai menggelap, pertanda malam akan berkuasa. Belum lagi semilir angin semakin dingin menusuk tubuhnya. Bagaimana lagi dengan Evan yang sama sekali tak pakai baju?
“ Katakan, apa aku seharusnya mengenali gadis cerewet seperti dirimu? Gadis cerewet yang senang mencampuri kehidupan orang lain, kenapa tidak kau biarkan saja aku mati di sini, maka kehidupanku akan tenang,” ucap Evan sambil menggenggam erat tangan gadis itu dan menatap ke sembarang arah.
“ Pak... apa Anda sungguh sungguh tidak kenal dengan saya?” tanya Nadira lagi dengan nada penasaran.
Evan hanya terdiam sambil memiringkan kepalanya,” Ini saya pak.. Ini saya...
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen