Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#14


__ADS_3

Nadira membawa Evan dengan bibir cerewetnya yang selalu mengeluarkan kata kata yang membuat Evan terheran-heran dengan Omelan gadis itu.


Mereka tiba di rumah sederhana di mana Nadira sejak usianya 10 tahun tinggal bersama ibu angkatnya yang sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu sampai dia merutuki dirinya sendiri karena tiga kali tidak berhasil dengan yang namanya orang tua. Tidak mengenal orangtua kandungnya, orangtua angkatnya yang pertama meninggal di depan matanya dan ibu angkatnya yang berikutnya tak berumur panjang karena memang sudah lama sakit-sakitan.


Dengan pelan Nadira menuntun Evan memasuki rumahnya yang kecil dan sederhana tetapi di tata dengan sangat baik dan rapi. Rumah yang sudah diwasiatkan oleh mendiang ibu angkatnya menjadi miliknya. Ibu angkatnya memang bukan orang dengan kemampuan ekonomi fantastis, tetapi sebelum kematiannya dia menyiapkkan beberapa aset untuk kebutuhan Nadira dan sudah di balik nama atas nama gadis itu lengkap dengan sertifikatnya.


Hidup Nadira memang tidak melarat, malah dia merasa sangat cukup, tetapi entah dorongan dari mana atau mungkin untuk menutupi rasa sepinya karena Eka sahabatnya dan Chiko teman dekatnya tidak bisa sering berkunjung atau meluangkan waktu bersama, dia bekerja begitu keras mengumpulkan uang sendiri dan tidak memakai sepeser pun uang peninggalan ibunya sampai saat ini.


Eka sahabatnya yang cerewet sering bolak balik luar negeri melakukan perjalanan bisnis karena posisi nya sebagai wakil direktur perusahaan Pradana milik ayahnya. Usianya begitu muda, orangtuanya kaya raya dan dia adalah anak tunggal keluarga Pradana yang tersohor, tetapi hal itu tidak membuatnya menjadi gadis manja terutama setelah melihat Nadira yang sejak SMP kerja serabutan di berbagai tempat untuk mendapatkan uang tambahan sekalipun dia selalu diberi uang jajan yang lebih oleh orangtuanya.


“ Ayo pelan pelan, hati hati, ikuti saja aku, jangan sampai tersandung,” Nadira menuntun Evan memasuki rumahnya yang bernuansa hijau yang sangat segar dipadukan dengan warna kuning pastel, krim dan beberapa lukisan cantik di dinding yang dibuat oleh mendiang ibu angkat dan dirinya kala mereka memiliki waktu senggang.


Evan berjalan dengan berhati-hati, dia sama sekali tidak bisa melihat dan jujur saja hal itu membuatnya frustasi, tetapi perlakuan Nadira membuatnya merasa nyaman.


Pria itu menghirup nafas dalam aroma khas buah persik dipadukan aroma mawar dan jeruk nipis tercium dan menenangkan pikiran Evan yang sempat kalut karena keadaannya.


“ Aroma ini..... No... nona... aroma ini.. ka.. kau dapatkan dari mana?” tanya Evan terkejut. Pasalnya aroma itu jarang ditemukan, kalau pun ada hanya aroma racikan yang terakhir kali dia cium belasan tahun yang lalu.


“ racikan, sini duduk di atas kasur, aku akan mengambilkanmu pakaian,” ucap Nadira sambil menuntunya untuk duduk di atas kasur miliknya.


"Kenapa aku merasa aroma ini sangat familiar!??" Batin Evan.


Nadira hendak pergi tetapi tangan Evan menggenggam tangan gadis itu dan melihat ke arah lain tak tahu posisi Nadira di mana. Gadis itu menatap Evan, rasanya menyedihkan melihat kondisi Evan demikian.

__ADS_1


“ Aku di sebelah kirimu, ada apa?” tanya Nadarisa smbil memabalas genggaman tangan Evan tanpa ragu, sambil terus memperhatian wajah Evan yang dipenuhi dengan luka.


“ Ma.. maaf, siapa namamu?” tanya pria itu.


“ Nadira, panggil aku Nadira, bagaimana perasaanmu sekarang? Lukamu pasti sakit bukan, duduklah dahulu supaya ku ambilkan makan dan kau minum obat setelahnya,” ucap Nadira.


“ Bisakah kau tetap di sini, gelap, aku... aku...”


Nadira tak kuasa menahan kesedihannya, Evan mengalami kebutaan, gadis itu menangis tanpa suara, sambil menggigit bibirnya dia menggenggam tangan Evan,” tidak apa, tenanglah kau aman di sini, aku akan menemanimu tapi tunggu aku membuatkan makan malam untukmu, kau juga harus minum obat, beristirahat lah dulu, aku akan kembali,” ucapnya sambil memegang bahu Evan.


“ Aku menyedihkan bukan, hah... aku sekarang buta dan sama sekali tidak berguna, apa aku layak untuk hidup? Ini benar benar menyiksa, bagaimana bisa aku... aku buta seperti ini? Aku sama sekali tidak bisa melaukan apa pun, semakin lama penglihatanku semakin gelap, tadi aku masih bisa melihat bayanganmu dan cahaya, tapi kini.... semuanya Gelap Nadira... “ Ucap Evan dengan nada sendu sambil menunduk dan masih menggenggam tangan Nadira.


“ Ini kali pertama aku merasa nyaman berbicara dengan orang lain, orang yang rasanya sangat familiar bagiku, aromanya, dan kehadirannya yang tiba tiba di bandara hari itu, rasanya aku kenal sosok ini, tapi kenapa begitu sulit bagiku untuk mengingatnya?” batin pria itu.


Rasanya dia bisa dekat dengan gadis itu untuk pertama kalinya seumur hidupnya. Bahkan saat kejadian di dalam kantornya beberapa hari yang lalu, ketika dia melihat Nadira bersembunyi di bawah mejanya, jika itu orang lain dia mungkin akan langsung menyeret orang itu ke markas mereka, tetapi Nadira malah membuatnya terdiam.


Nadira menatap Evan, dia menangis tanpa sadar air matanya meneter ke punggung tangan pria itu.


“ Hei apa kau menangis?” tanya Evan bingung.


Nadira menarik nafas dalam dalam sambil memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya dengan seksama,” hah.. siapa yang menangis, dasar banyak omong,” ketus gadis itu sambil melepaskan tangannya dari Evan dan berdiri menatap pria itu.


“ jangan jadi pria yang cengeng Evan, jangan jadi pria yang mudah menyerah, dasar tidak malu, kau karyawan di perusahaan bergengsi tapi kau mudah sekali menyerah, kau tidak malu dengan atasan dan teman temanmu? Cih... dasar.... diam di situ dan jangan berpikir yang aneh-aneh, setelah kau pulih kita akan ke rumah sakit memeriksa kondisi matamu, jangan mengatakan yang tidak tidak dan fokus saja pada kesehatanmu, pria lemah!” ejek Nadira sambil membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan beberapa pakaian oversize yang sangat senang dia kenakan. Dia memiliki beberapa helai pakaian yang cocok untuk di pakai oleh Evan.

__ADS_1


Evan selalu saja berhasil dibuat terkejut dengan ucapan Nadira yang sarkas dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Tetapi lebih sialnya lagi ucapannya semua adalah benar, seharusnya Evan fokus untuk sembuh bukan malah membuat dirinya semakin menyedihkan.


“ Kau.. kau tidak tahu kalau kau sedang merendahkan orang yang buta hah? Kenapa kau sangat kasar? Kau tidak punya hati nurani...” kesal Evan.


“ cih.. tak punya hati nurani, siapa yang pertama bilang akan menguliti ku hidup hidup karena kejadian itu, dasar bodoh!” celetuk Nadira sambil memasang kemeja tipis nan longgar ke tubuh Evan sebelum di olesi obat nanti.


“ Eh... i.. itu...kau ternyata pendendam ya,” balas Evan.


Nadira tersenyum tipis,” Kau yang plin plan,” ketus gadis itu.


“ Kau pakai celana sendiri, nanti ku belikan canc*tnya hihihih... gak pakai canc*t dong malam ini,.. gak malu ihhh sudah besar bwahahahhahaha.....” Nadira memberikan celana panjang longgar pada Evan sambi tertawa cekikikan menggoda pria itu.


“ Dasar perempuan mesum... beraninya kau... apa kau mencoba melihat tubuhku!!” teriak Evann seraya menyilangkan kedua tangannya di depan aset berharga kebanggannya.


“ Hahahha... kasihan.. ada yang kedinginan tapi gak punya sangkar bwahahhahaaa.....”


“ Nadiraaaa!!!!”


“ Hahahhahahah”


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2