Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#31


__ADS_3

Nadira melepaskan Eka, dan menghampiri suaminya yang duduk sambil menatap lurus ke depan seolah dia tidak melihat apa-apa.


"Evan, bisakah aku menemani dia untuk satu malam saja?" tanya Nadira hendak mendapatkan ijin.


Evan terdiam," dia meminta ijinku? aku ternyata memang dihargai sebagai suaminya, padahal baru beberapa jam," batin Evan yang sangat peduli dengan sekecil apa pun perhatian gadis itu.


"Evan?" tanya Nadira sambil menyentuh lengannya.


" Baiklah, tapi bisa dekatkan telingamu?" tanya Evan.


Nadira menurut dan mendekatkan telinganya ke arah Evan.


" Ada apa?" bisik Nadira yang membuat semua orang di ruangan itu penasaran.


" Apa dia pecinta sejenis!?? nadanya saat bicara padamu sangat aneh, jangan terlalu dekat dengannya!" bisik Evan dengan lirikan tajam ya ke arah Eka yang sedang menunduk.


Nadia membulatkan kedua bola matanya," Evan, tenang saja, kau juga hati-hati dengan si Mahesa itu, caranya menatapmu aku tidak suka," bisik Nadira.


Siapa sangka Mereka berdua punya teman dengan kelainan yang sama. Keduanya sama-sama punya trauma mendalam yang menyebabkan mereka jadi orang belok, entah bagaimana mengatasi sifat kedua orang ini belum lagi Mahesa dengan pacar laki-lakinya dan Eka dengan pacar perempuannya.


Evan was-was, tapi dia memilih percaya pada Nadira karena dia pun menghadapi hal yang sama, yakni Mahesa yang bahkan sempat merayunya di awal pertemuan mereka.


"Aku akan menemaninya untuk malam ini, besok aku kembali ke sini, apa kau keberatan?" tanya Nadira.


"Sebenarnya keberatan, tapi tak apa, tenangkan dia, aku akan menjemputmu besok"ucap Evan.


"Terimakasih," ucap Nadira sambil bangkit berdiri.


Gadis itu berpamitan pada mereka, membawa Eka bersama Chiko menuju kediaman keluarga Eka. Kedua orangtua Eka juga sudah tahu tentang trauma yang dialami Eka di masa lalu, trauma yang belum pernah dia bongkar pada orang lain.


Orangtuanya mengusahakan pengobatan terbaik, tetapi tampaknya penyakit dan mental Eka hanya akan disembuhkan oleh waktu. Kedua orangtuanya hanya bisa mendukung anak mereka, berat memang tetapi mereka tidak bisa memaksa Eka, karena rasa sakit yang dirasakan perempuan itu jelas mereka ketahui.


Nadira membawa Eka keluar dari ruang itu dengan Evan yang terus mengawasi mereka sampai istrinya benar-benar menghilang dari balik pintu.


"Ck... perasaanku tidak enak, atau ini hanya firasat saja?" batin Evan yang merasakan jantungnya berdebar setelah Nadira pergi.

__ADS_1


Kini tersisa Evan dan ketiga sahabatnya di sana. Suasana terlihat hening, Leo berjalan mundur selangkah demi selangkah hendak melarikan diri dari sana.


Greeppp.....


Tangan Jonash menarik kerah pria itu dan mendorongnya sampai terjatuh ke atas sofa.


Glekkk...


Leo menelan kasar salivanya.


Niat hati bercanda, taunya malah menimbulkan masalah yang lebih besar, sungguh apes hidup pria bobrok yang satu ini, tak pernah dia lepas dari masalah.


"He...he....he.... ma...maaf..." ucap Leo sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada, menatap Evan, Jonash dan Mahesa yang dibuat kesal karena tingkah absurd si pembuat masalah yang satu ini.


" Tangkap dia dan ikut aku ke markas!" ucap Evan dengan nada kesal dan ketus sambil mengambil kunci mobilnya.


Dia benar benar kesal saat ini" Kau tahu tidak Leo, kau merusak momen malam pertamaku dengan Nadira!" kesal pria itu sambil menatapnya dengan tatapan maut yang mematikan.


" Evan, kau bisa melakukan itu dengan perempuan!?? Ka.. kau mau tidak..." Mahesa menatap Evan dengan tatapan anehnya.


Bughhh...


"Sadarlah Mahesa, apa enaknya terong makan terong, dasar bodoh!" umpat Evan dengan kalimat sarkasnya.


" Jangan melulu terlarut dengan traumamu, hadapi, kau pria normal, jangan jadi pria belok, aku mengatakan ini sebagai keluarga yang peduli padamu!" ucap pria itu dengan tatapan sinis.


Mahesa menunduk, dia tak bisa, sudah menjadi rahasia mereka kalau Mahesa tertarik dengan pria, masa lalu yang kelam membuatnya malah jadi pria aneh yang membenci hubungan dengan wanita, dan alasan dia menjadi seperti ini karena di masa lalu, Evan menyelamatkannya sampai semua orang mengatakan Evan dan Mahesa berpacaran.


"Hei sudah, jangan berdebat sekarang, kau sadarkan dirimu Mahesa, sekarang kita urus si kunyuk ini!" ucap Jonash sambil menarik kerah baju Leo mengikuti langkah kaki Evan, keluar dari dalam rumah itu.


Mahesa hanya bisa menghela nafas, perasaannya mengatakan dia melakukan hal yang benar, tetapi orang-orang menilai dirinya salah.


"Ya maaf, aku tidak akan mengulanginya padamu, kau juga sudah punya pawang," ucap Mahesa menghela nafas berat dengan wajah kecewa sambil menatap Leo dan Jonash.


" Jangan coba-coba pada kami!!" ucap Jonash dan Leo panik.

__ADS_1


Mahesa hanya mengangguk sambil tersenyum dan berhasil membuat kedua pria itu bergidik ngeri.


Mahesa bersyukur bisa bertemu sahabat-sahabatnya, mereka menerima dia apa adanya sekalipun tahu kalau dirinya punya kelainan.


Leo dibawa ke markas Boile sekaligus untuk melakukan pertemuan besar degan anak buahnya yang kala itu timbang di tangan Kevin.


Evan berjalan dengan tubuh tegapnya, dia memakai masker dan kacamata hitam, dari balik kacamatanya dia bisa tau kalau ada yang mengintai mereka. Pria itu berhenti sejenak," Mari kita buat mereka bingung!" ucap pria itu dengan senyuman licik di wajahnya.


" Jonash berikan tongkat, ada tikus sialan yang sedang memantau, pastikan dia terperangkap!" ucap Evan.


Jonash memberikan tongkat panjang khusus tunanetra dan Evan menggunakannya selalu dia benar-benar buta.


Dengan penyamaran seperti itu, dia memasuki mobil dan Jonash mengemudi. Sedangkan Mahesa membawa motornya sendiri dan Leo bersama Jonash dan Evan.


Mereka berangkat menuju markas dengan Jonash yang menghubungi semua ketua tim kelompok mafia yang dipimpin oleh Evan.


Sementara itu,


Pria yang memotret Nadira dan Eka di rumah sakit hari itu telah mengirimkan beberapa foto pada tuannya sembari mengawasi rumah Evan dari balik pohon di seberang gedung besar itu.


"Ternyata perempuan itu istrinya, ini akan jadi berita penting bagi tuan Yanto dan Nona Amanda, aku akan dapat banyak uang dengan Informasi ini!" batin pria itu sambil mengetik pesan di ponselnya hingga tiba-tiba....


Jreettttt.......


Tubuhnya terkena sengatan listrik bertegangan tinggi sampai membuat dirinya pingsan tak sadarkan diri, terjatuh ke atas tanah dengan wajah membentur batu.


Yaksen, anak buah Evan menatap tajam pria itu sambil mengambil Ponselnya," mencoba mengganggu tuan Evan? hah... kau akan berakhir mengerikan di penggorengan itu!" ucapnya sambil memungut ponsel milik pria itu.


"Suruhan keluarga Sanjaya, musuh terbesar tuan Evan, nyonya Boile tidak ikut dengan mereka, sebaiknya aku mengirim anak buah untuk berjaga-jaga kalau Nyonya Nadira sudah jadi target melihat foto ini sudah dikirim pada manusia laknat itu!" Yaksen menggenggam benda itu dengan kuat sambil tersenyum licik," sepertinya aku punya ide tuan Jonash, ini akan jadi permainan yang menyenangkan!" ucap pria itu.


" Bawa dia ke markas!" titah Yaksen.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2