Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
# Minta Ampun kak!


__ADS_3

Seluruh anak buah Bolie bahkan Evan dan yang lainnya di buat terkejut dengan kode red flag dari mahesa yang artinya ada serangan lain yang akan terjadi di luar kelompok mereka sendiri.


Semuanya langsung mundur dengan cepat dan keluar dari dalam gerbang membiarkan semua anak buah Sanjaya di dalam halaman besar itu.


Yanto yang masih kesakitan berlari keluar bersama seluruh anak buah yang berjaga di dalam dan menatap ke sana kemari.


“ apa yang terjadi? Kenapa mereka mundur?” tanya pria itu heran.


“lapor tuan, mereka kalah jumlah, kali ini kita yang menang,” jelas tangan kanannya dengan bangga.


Yanto tersenyum licik, padahal dia tidak tahu bahaya apa yang akan menyerang mereka.


“ hahhh sialan, perempuan itu membuatku terluka, tidak masalah mereka lepas hari ini, tetapi perang sesungguhnya akan segera terjadi!!" Gumam Yanto.


Sementara itu di luar gerbang, Mahesa dan Nadira menunggu semua orang keluar dari sana.


Semua anak buah keluar terlebih dahulu sambil membawa rekan mereka yang terluka.


Begitulah kelompok ini dibentuk, saling mempedulikan nyawa rekan mereka. Karena setiap nyawa berharga bagi mereka apalagi orang orang itu adalah orang dengan jiwa besar dan cerita hidup yang beragam.


Sekalipun mereka menghabisi para penjahat, mereka tidak akan meninggalkan jasad rekan mereka di lahan musuh, mereka akan membawanya, memberikannya pada keluarganya dan melaksanakan pemakaman yang terbaik bargi rekan mereka.


Hingga pintu gerbang di tutup atas titah Chiko yang memimpin penyerangan bersama seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan rambut abu abu yang sedikit panjang.


Dia terlihat seperti serigala dalam balutan mantel berbulu dan wajah mahalnya itu.


Di sekeliling tembok tersebut sudah berjejer para korban perbudakan bertahun tahun yang lalu dengan sebuah alat panahan yang dirakit yang siap untuk di tembakkan.


Alat alat ini berjumlah puluhan, mereka masih menunggu tim yang lain tiba dan membiarkan Yanto merasa menang atas hal ini.


Evan berlari dengan tertatih, lengan dan kakinya terkena pedang , teluka dan darahnya bercucuran,” di mana Nadira!!” teriak pria itu menggelegar.


Saat melihat Evan, Amora langsung menghampiri pria itu dan memapahnya dengan sengaja tanpa memberitahu kalau Nadira ada di sana memperhatikan mereka.


“ Tuan sini saya bantu,” ucap Amora sambil memeluk pinggang Evan seraya tersenyum sinis ke arah Nadira yang menatap mereka dnegan tatapan yang tida bisa diartikan.


“ hahh... lepas!!" kesal Evan.


“ Kenapa kau seperti cicak, terus menempel padaku, mengesakan sekali!" ketus pria itu sambil menghempaskan tangan Amora.


“ tapi Anda terluka tuan,” ucap Amora.


“ Aku tahu, aku mencari istriku, apa-apaan sikapmu tadi, sudah ku bilang untuk mencari Nadira tapi kau melawan?” Evan mencengkram wajah perempuan itu di depan smeua orang, tak peduli dia anggota kepercayaannya.

__ADS_1


Leo juga menatap sinis kearah Amora. Dia sampai terengah-engah karena kelelahan tapi tampaknya Amora masih memikirkan masalah haitnya saat ini.


“ Evan!!” suara lembut Nadira membuat tangan Evan terlepas dari rahang Amora.


Perempuan itu menatap Nadira dengan tatapan kesal, karena lagi lagi Nadira menang.


“ Cihhh... “


Evan berbalik perlahan, dan langsung membingkai sosok Nadira dalam penglihatannya.


Istrinya terlihat sehat dan aman, senyuman lembutnya berhasil melelehkan hati Evan.


Jantung pria itu berdegup kencang, entah dorongan dari mana, dengan hati nya yang berdebar debar, pria itu berlari dan memeluk Nadir adengan erat.


Sosok gadis yang selalu dia nantikan, tetapi lupa karena penyakit yang dia miliki.


Namun selama pertempuran, dia mengingat nya dengan jelas, semuanya, tak tersisa satu pun .


“ Nadira.. ahhhh nadira, Diraku... kau selamat, aku khawatir,” suara Evan bergetar, dia memeluk istrinya dengan erat. Tanpa sadar air matanya malah mengalir.


Seolah kerinduan yang selama ini dia simpan akhirnya bisa tersampaikan meskipun di momen seperti ini.


Evan menatap wajah Nadira, sama halnya dengan gadis itu.


Evan hanya tertawa sambil menangis dan mengusap wajah Nadira,” Maafkan aku, aku hanya ingin terus berada di dekatmu dan mendapatkan perhatianmu, sekarang akau bisa melihatmu dengan puas,” jelas Evan sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah sang istri.


Nadira menangis sesenggukan, hatinya yang berdebar dan berbunga-bunga membuatnya merasa bahagia.


Gadis itu mengusap wajah suaminya,” aku menyayangimu Evan, sangat menyayangimu,” ucap Nadira sambil tersenyum bahagia, menyatakan perasaaan yang ada di dalam hatinya saat ini.


Evan tersenyum, dia menarik rahang Nadira dengan lembut dan mendaratkan ciuman mesra di bibir sang istri,” aku juga sayang,” bisik pria itu sambil melancarkan ciuman pertama mereka secara sadar tanpa ulah menjengkelkan dari Leo si pirang yang sedang menangis terharu di pojokan bersama Jonash dan Amora yang memasang wajah jengkel.


Kedua nya berciuman di depan semua orang.


Chiko dan pria tampan di sebelahnya yang bernama Aresh, teman sepermainan Nadira dan juga Chiko tersenyum bahagia ketika melihat gadis yang penuh dengan beban itu kini telah hidup bahagia bersama orang yang selalu dia nantikan.


Kedua manusia itu berpelukan hangat satu sama lain, membuat siapa pun yang ada di sana merasa iri dengan hubungan manis mereka.


Di saat yang sama, terdengar suara kendaraan yang begitu keras, anak buah Evan datang membawa kevin Sanjaya dan beberapa tahanan lainnya.


Semuanya di kumpulkan dan dimasukkan ke dalam gerbang itu.


Gerbang di buka, pertumpahan darah sekali lagi akan terjadi karena kejahatan keluarga Sanjaya.

__ADS_1


Yanto yang berada di dalam gedung itu sedang marah besar karena tak melihat manusia yang dia jadikan hewan peliharaan tak lagi ada di dalam ruangannya.


Tiba tiba di kejutkan dnegan teriakan wakilnya,” bos.. saudara Anda dan anak buahnya di bawa masuk ke tempat ini, tuan Kevin... tuan Kevin kehilangan sebelah tangannya!!" teriak orang itu histeris.


Deghhh....


Benar ucapan adik perempuannya beberapa hari lalu, seseorang mengirim potongan tangan yang disebut sebagai tangan milik Kevin.


“ kevin? Adikku?” teriak yanto.


Segera pria itu berlari ke arah halaman utama, dan betapa syoknya dia saat melihat adiknya, Kevin sanjaya ada dalam kondisi mengenaskan, hidup segan mati tak mau.


“ Kevin, siapa yang melakukan ini padamu..”teriak Yanto.


“ Para budak... me.. mereka tidak salah kak, mereka... mereka bukan pembunuh Mama, minta ampun pada mereka sebelum terlambat, Papa adalah dalang semuanya, Papa membunuh Mama kita , tapi kita malah membantai mereka selama bertahun-tahun, ahhh aku menyesal, aku pantas mendapatkan ini, aku sudah memotong banyak tangan kaum budak dan menghancurkan mereka, minta ampun kak, minta ampun sebelum semuanya terlambat, kita yang salah, keluarga kita yang serakah, para budak itu hanya ingin kebebasan , kita yang salah!!” Kevin menangis di hadapan kakaknya.


Dia menatap ke arah langit, mengakui kesalahannya dan memohon ampun hingga dia menghembuskan nafas terakhirnya.


“ Kevin.. tidak.. tidaaakkkkk....”


“ Seraaang...”


Markas itu di serang, markas tempat pembantaian keluarga budak itu di serang dengan ratusan anak panah dan membunuh semua yang ada di dalamnya.


Tempat paling menyakitkan bagi para budak, di mana mereka menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka saat ibu mereka harus melayani kebejatan para kepala keluarga, dan malah melahirkan anak dari benih mereka dan hidup tanpa identitas.


Tempat di mana ayah dan ibu Nadira mati, tempat di mana ayah dan ibu Chiko di penggal, tempat di mana seluruh keluarga Aresh di hancurkan dan tempat di mana dendam Evan berasal.


Semuanya berakhir hari ini.


Pembalasan dendam itu disiarkan langsung pada tuan Sanjaya dan putrinya yang telah ditangkap atas kasus pembunuhan berencana, padahal dia sedang hamil.


Paman, bibi dan kerabat dan seluruh keturunan Sanjaya memang tidak ada yang beres, mereka semua menyebabkan kesulitan bagi orang lain.


Perusahaan mereka dihancurkan dan semuanya berakhir hari ini .


Keadilan bagi para kaum budak ditegakkan, meskipun kasusnya banyak tetapi semuanya berhasil dibawa ke depan hukum sehingga semua yang terlibat mendapat ganjaran setimpal untuk perbuatan buruk mereka.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2