
Jonash dan Mahesa di buat terdiam dengan ucapan Evan yang benar benar di luar dugaan. Evan, pria gila yang haus darah itu ternyata bisa mengucapkan kata kata seaneh itu dari mulutnya yang biasa dipakai mengumpat dan mengucapkan salam kematian pada semua lawannya.
“ Laporan,” ucap pria itu dengan nada ketus sambil menatap Jonash dan Mahesa yang sudah diberitahu pasal kondisi penglihatannya yang sudah normal. Kedua pria itu hanya bisa mengikuti permaianan Evan terlepas dari apa tujuan Evan sebenarnya.
“ Saya sudah menemukan lokasi Kevin dan juga Yanto, mereka anak anak dari keluarga itu, keluarga Sanjaya. Orang orang yang mengejar Anda selama ini tuan,” jelas Jonash sambil memberikan beberapa dokumen mengenai identitas Kevin dan Yanto yang menyerangnya dalam waktu berbeda.
Evan menggenggam kertas putih berisi data kedua orang itu, dia menatapnya dengan tatapan dingin,” Jika Kevin dan Yanto menyerangku maka kemungkinan saudara mereka yang lain sudah tahu keberadaanku, temukan Yanto, dia sudah tahu kedekatanku dengan Nadira, aku akan mengurus bajingan itu terlebih dahulu, lacak keberadaan mereka semua dan jangan biarkan tersisa!“ ucap Evan.
“ beberapa hari lagi kita akan ke penjara itu, akan kutunjukkan pada bajingan sialan itu bagaimana anak-anaknya akan mati di tanganku,” ucap Evan sambil menyeringai.
Jonash dan Mahesa hanya bisa menenggak saliva mereka dengan kasar, Evan terlalu menyeramkan untuk mereka tangani sendiri.
“ bagaimana dengan informasi tentang Nadira?” tanya Evan sambil menatap Jonash dengan tatapan tajamnya.
“ Sial.. ada baiknya tuan buta untuk beberapa saat, tatapan mata itu sangat menakutkan,” batin Jonash yang selalau dibuat ketakutan dengan tatapan mengintimidasi dari Evan yang sangat menyeramkan.
“ Jonash, aku tahu kau mengharapkan aku buta, tapi kau tidak beruntung jawab aku cepat!" kesal Evan .
“ Ba.. bagaimana tuan ta.. eh...” Jonash cepat cepat menutup mulutnya saat dia malah keceplosan tentang apa yang dia pikirkan saat ini.
“ Jadi kau....
“ Tuan perempuan itu adalah perempuan yang Anda cari selama ini, saya sudah cari tahu semau masa lalunya,” potong Jonash sebelum Evan mulai mengomelinya lagi dan menugaskannya tugas yang aneh dan mengesalkan.
Sambil memberikan dokumen tentang Nadira, Jonash berharap kemarahan Evan mereda.
Dengan nada kesal, pria itu mengambil dokumen yang dibawa Jonash dengan kasar dan membacanya. Semua bukti dan catatan tentang masa lalu dan tentang penculikan bahkan gadis itu tertera dengan jelas dalam dokumenn tersebut.
“ Dia dua kali diadopsi, paman dan Bibi juga bukan orangtua kandungnya, hubungannya dengan Leo..” Evan menatap dokumen itu sambil berpikir.
“ tempatkan anak buah terbaik di sekitar Nadira, dan pastikan keamanannya terjaga karena dia sudah terekspos ke salah satu keturunan manusia setan itu, mulai saat ini keselamatan Nadira adalah prioritas utama, kita akan mengadakan pertemuan dengan seluruh anak buah Boile, akan kuhancurkan mereka satu persatu,” ucap Evan sambil mengeraskan rahangnya dan menatap tajam ke arah dokumen dokumen itu hingga suara Nadira membuatnya melemparkan kertas kertas itu ke wajah Jonash dan bertingkah seolah dia buta .
__ADS_1
“ Evan, aku bawa pakianmu, kamu ganti pakaian dulu ya,” suara ceria dan girang dari Nadira membuat segurat senyuman indah tergambar dengan jelas di wajah Evan yang kembali ke mode si buta dari gua hantu denagn antek anteknya yang belum berubah jadi monyet.
Jonash dibuat kelabakan dengan semua dokumen itu, dengan cepat dia memungut semua kertas itu dan menyembunyikannya di Balik jasnya.
“ Ya ampun si bos, bisa gawat kalau sampai perempuan ini tahu kami sedang mencari tahu informasi tentang dia,” batin Jonash yang terlihat gugup sambil mengambil semua kertas itu dengan cepat.
“ Sialan, Pak Evan bisa tidak mempermudah pekerjaanku,” geram Jonash sambil menatap kesal pria yang duduk sambil tersenyum ceria itu.
Di saat yang sama Nadira dan Eka masuk bersama Leonardo yang sudah berdamai dengan gadis itu.
“Evan ganti baju, biar ku bantu,” ucap Nadira dengan senang hati dan langsung menghampiri pria itu.
“ ehhh... ehhh masa kamu yang ganti bajunya? Biar mereka saja,” larang Eka si gadis protektif itu.
“ Seminggu ini aku yang bersihihn badan dia Eka, sudah gak masalah, sudah biasa,” celetuk Nadira yang tak lagi segan melihat tubuh pria itu.
“ apa!!?” Mahesa, Leo, Eka dan Jonash berteriak heran dengan ucapan Nadira.
“Aa.... aku tidak salah dengar kan? E.. Evan kau membiarkan dia melihat tubuhmu yang bahkan aku sendiri tidak pernah lihat?” Mahesa terbelalak kaget bahkan sampai menyentuh lengan Evan saking terkejutnya.
Mahesa seorang pecinta sejenis, dan teman temannya tau itu!!
“ Ck... jangan mempermasalahkan yang tidak tidak, tutup tirainya, biar Nadira membantuku,” ketus Evan sambil mengeraskan rahangnya, wajahnya yang dingin menjadi kode bagi ketiga temannya kalau dia bisa membuat mereka melakukan pekerajaan yang sangat sulit dan mengesalkan seperti berjam jam berdiri di depan bar sebagai manekin untuk mengawasi bar milik Evan.
“ baiklah, baik.. Nadira, tolong ya, tolong jinakkan serigala hutan ini, kami selalu dibuat ketakutan dengan sifatnya itu,”celetuk Leo sambil mendorong Nadira dan menutup tirai di atas brankar Evan sehingga brankar itu tertutupi dengan tirai yang sudah dimodifikasi untuk pasien yang butuh privasi.
“ Kalian ini kenapa sih? Kok ya aneh!?,” celetuk Nadira sambil menatap mereka semua sembari tirai tertutup oleh Leo.
“ bukan apa-apa, sekarang bantu aku..” Evan senyum dan menatap ke sembarang arah padahal dia melihat wajah manis Nadira yang sedang kebingungan. Tangannya menarik tangan gadis itu dan membuat posisi Nadira berada tepat di dekatnya.
“ iya sebentar, kau tidak terlihat seperti orang sakit, kau tahu tidak Evan, tadi aku mimpi kalau kamu bisa melihat, padahal gak mungkin iya kan, “ celetuk Nadira.
__ADS_1
“ apa kau tidak ingin aku bisa melihat dengan cepat?” tanya Evan.
Gadis itu menggeleng dengan cepat, raut wajahnya sedih,” aku mana mungkin mau, kalau cepat-cepat sembuh kamu mungkin akan langsung pergi,” batin gadis itu.
“ ahh.. aku ingin kok,” ucap Nadira berbohong. Dia berpikir bisa menyembunyikan raut wajahnya dari Evan tapi pria itu sudah tahu semuanya.
“ Ingin!?? tapi kenapa suaramu seperti itu?” tanya Evan seraya mengusap tangan Nadira,” dia sedih, seperti pagi tadi,” batin pria itu yang jelas mengetahui wajah sedih Nadira saaat ini.
“ Ehh aku bersemangat kok, hehe.. ayo ganti pakaian, setelah itu kita pulang ke rumah,” ujar nadira dengan penuh semangat.
“Pulang ke rumahmu?” tanya Evan.
“ tentu saja, apa kau ingin kembali bersama mereka?” tanya Nadira dengan nada seolah dia ceria padahal wajahnya sudah sangat kecewa,” bagaimana kalau dia akan pulang ke rumahnya, aku akan kesepian lagi, seperti dulu aku akan tinggal sendirian lagi di rumah itu, Eka, Chiko sudah cukup aku merepotkan mereka, jangan lagi, kalau Evan pergi.... bagaimana denganku?” batin gadis itu menangis.
“ kau mau pulang dengan teman-temanmu?” tanya Nadira perlahan seolah mempersiapkan hatinya untuk menerima ucapan Evan.
“ Tentu, aku harus pulang bersama mereka, itu hal yang benar kan? Tidak mungkin aku tinggal di rumahmu terus menerus dan menyusahkanmu, aku ini buta Nadira, kau bisa kesulitan menjagaku, lagipula kita tidak punya hubungan apa-apa,” ujar Evan dengan senyuman tipis, setipis daun sereh yang tak bisa dilihat langsung oleh Nadira.
“ Siapa bilang kau menyusahkanku? Aku tidak merasa demikian.. aku...
“kau kenapa?” tanya Evan.
“ Ini mungkin akan kedengaran sangat konyol, tapi.... aku ingin tetap bersamamu..” bisik Nadira tepat di telinga pria itu.
“ Bisakah kita tetap bersama sampai kau sembuh!??" bisiknya lagi.
"Nadira, ku harap kau tahu konsekuensi perkataan mu itu!!"
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗