Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#11


__ADS_3

Nadira menatap tubuh orang itu, dia tidak berani tetapi penasaran di saat yang sama. Gadis itu melihat ke sana kemari lalu kembali menatap tubuh tersebut, “ Apa dia masih hidup? “ gumamnya sambil menatap aliran sungai yang sangat panjang itu, terhubung ke aliran sungai di sepanjang hutan di pinggiran kota, sangat jauh jaraknya ke tempat di mana mereka berada sekarang.


Nadira menatap tubuh pria itu, mengamatinya dan betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh itu masih hidup melihat gerakan punggungnya yang naik turun pertanda dia masih bernafas.


“ ma...masih hidup arhhh syukurlah masih hidup, kupikir mati tadi,” gumamnya sambil melangkah perlahan lahan. Nadira menggenggam tali keranjang yang dia selempangkan di tubuhnya, sambil sedikit membungkuk dia mendekati tubuh itu.


“ ya ampun, tubuhnya hancur, sebelah tubuhnya melepuh seperti terkena bakar, apa yang sebenarnya terjadi? dan luka ini seperti....!???" Nadira sambil duduk berjongkok dan menyentuh tubuh pria itu, mengamati luka luka di tubuhnya.


“ Dia masih hidup, tapi bagaimana dia bisa bertahan di sini?” gumamnya sambil membalik tubuh pria itu dan menampakkan wajahnya.


Setengah wajahnya terluka parah, Nadira terkejut bukan main saat melihat sosok itu, jelas dia ingat wajah itu, wajah pria yang menabraknya di bandara sekaligus jadi pria yang merebut ciuman pertamanya walaupun karena insiden kecil dan juga pria yang dia siram dua hari yang lalu.


“ Ya ampun... bapak ini kan?” Nadira sangat terkejut, dia tak percaya melihat Evan berada di pinggir sungai dengan kondisi tubuh mengenaskan. Sangat parah dan mengerikan belum lagi luka di kepalanya yang cukup lebar dan masih berdarah.


“ Pak... pak bangun pak... sadar pak, hei hallo ada orang di rumah? Pak bangun!!” pekik Nadira sambil mengguncang tubuh pria itu.


Dia memegang tubuh Evan, suhunya terlalu tinggi, tangannya mendarat di dada bidang pria itu,” Jantungnya terlalu kuat berdebar, ini bahaya, dia demam tinggi, aduhhh sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa dia sampai terdampar di tempat seperti ini?” gumam Nadira frustasi.


Apalagi kondisinya di tengah hutan seperti ini, bagaimana bisa dia membawa pria itu dari sana? Kalau memanggil orang kampung, bisa ribut urusannya.


“ Aduhhh.. Pak bapak itu badannya besar, bagaimana saya bawanya coba?” Nona manis itu hanya mendumel kesal. Dia menatap wajah Evan yang begitu menyedihkan seolah begitu banyak beban yang dia tanggung selama ini.


Nadira berkaca-kaca untuk sejenak,” bodoh...”gumamnya sambil memalingkan perhatiannya.


Nadira teringat dengan foto yang dijatuhkan oleh Evan hari itu, dia teringat dengan foto berlatar tahun 90 an, air mata Nadira Lolos begitu saja,” sial... kenapa kita harus bertemu dalam kondisi ini... Abraham... kau... kau tidak ingat denganku sama sekali, tapi kau berjanji akan menemukanku, kenapa hanya aku yang ingat Abraham..” gumamnya sambil menatap Evan.


Di masa lalu, ada dua keluarga yang di hukum mati oleh bangsawan angkuh salah satunya adalah keluarga Evan tetapi siapa sangka, keluarga yang mereka bunuh dan basmi satu lagi adalah keluarga angkat Nadira, Ibunya bersama kakek dan neneknya dipenggal di depan mata Nadira, di sisi lain rumah itu.


Nadira melarikan diri, gadis kecil yang kehilangan sosok orangtua sejak lahir, diadopsi oleh pasangan suami istri yang tak punya keturunan, kemudian di perbudak keluarga majikan mereka dan harus menyaksikan kematian ibu, ayah, kakek dan nenek dari pihak ayahnya di depan matanya sendiri.

__ADS_1


Gadis kecil itu melarikan diri bersama Evan, selama satu tahun mereka hidup bersama hingga Nadira hilang dibawa oleh penculik sedangkan Evan terombang-ambing di tengah kapal pesiar saat bersembunyi dari penculik.


“ Aku akan mencarimu Dira, aku berjanji akan mencarimu jika kita terpisah ,” janji masa kecil yang diucapkan Evan pada Nadira. Tetapi Evan tidak mengenali gadis itu setelah dia beranjak dewasa, sedang Nadira langsung mengenali Evan di saat pertama kali dirinya melihat Evan marah di bandara.


“ Hei... bangunlah.... sudah puluhan tahun dan kau tidak mengingatku, kau jahat, aku menunggumu tapi kau tak kunjung Datang, Abraham bangunlah...” panggil Nadira.


Gadis itu menghela nafas sambil mengusap air matanya. Alasan dia meminta bantuan Evan dengan berani di hari Leo mengejarnya adalah karena Evan sosok yang selalu dia tunggu untuk datang. Tetapi Evan tidak mengenalinya.


Nadira berdiri, dia mengusap kedua matanya lalu meletakkan keranjangnya di atas tanah,” aku tidak bisa membawanya, dia harus sadar dahulu,” gumamnya.


Dengan cepat Nadira mengambil beberapa lembar daun pisang yang tumbuh di pinggiran sungai dan menyusunnya berbaris untuk tempat berbaring. Dengan sekuat tenaga dia menarik tubuh Evan menuju lapisan daun pisang itu. Evan dibaringkan di atas sana. Nadira menatap sekitaran sungai lalu menatap tubuh Evan yang terluka dan bercampur dengan tanah,” lukanya harus dibersihkan, “ gumamnya.


Dengan cepat Nadira mengambil air dengan menggunakan ember yang dia bawa di dalam keranjang ikannya. Gadis itu membuka kemejanya dan mencelupkan benda itu ke dalam ember kecil lalu membersihkan tubuh Evan.


Setelah dirasa bersih dia mengambil akar akar pohon dan beberapa tumbuhan liar yang merupakan obat penyembuh luka lalu menggilingnya dengan batu batu di sungai dan menempelkannya di luka-luka Evan.


“ Apa yang terjadi padamu bodoh, kau... kau sangat bodoh, kenapa kau terluka seperti ini, sudah tidak mengenaliku kau malah kutemukan terluka, dimana sopan santunmu Abraham!” kesal Nadira.


Dimana aku bisa menemukan makanan untuk dia,” gumamnya.


Matanya tertuju pada berry liar yang tumbuh di dekat sungai. Dengan cepat dia melangkah dan mengambil berry liar itu serta beberapa buah lainnya yang ada di sana.


Api unggun yang hangat berhasil membuat tubuh Evan yang panas tinggi mulai membaik. Dengan cepat Nadira membasuh semua buah itu, lalu mengambil kain kemejanya dan merobek benda itu. Nadira meletakkan buah berry liar di atas kain, lalu mengambil pelepah daun pisang dan membentuknya seperti mangkuk.


Creeshhhhh......


Dengan pelan dia memerah buah berry itu, mengekstrak sari sarinya dan menaruhnya dalam wadah daun pisang. Dirasa cukup, Nadira mendekati Evan, lalu mengangkat kepala pria itu,” minumlah, ini akan membuatmu merasa sedikit segar,” gumamnya.


Nadira memasukan perasan buah berry itu ke mulut Evan dengan sangat pelan.

__ADS_1


“ dia masih bisa selamat,” gumamnya.


Hari semakin gelap dan Evan tak kunjung sadar, Nadira tidak habis pikir, dia berburu kelinci hutan dan ayam liar, lalu memasaknya dan memakan daging panggang di sana sembari mengumpulkan ikan dan menunggu Evan bangun.


Nadira memanggang kelinci sambil berjongkok melamun dan memikirkan apa yang terjadi pada Evan, pria di masa lalunya.


“ Kenapa penderitaanmu tak kunjung berhenti Abraham, kau.. kau sangat menyedihkan,” gumam Nadira .


Tiba-tiba...


Uhuk... uhukkk... uhukkk....


Suara Evan terbatuk membuat Nadira beranjak dan langsung menghampiri pria itu, ramuan Nadira sangat hebat sampai membuat Evan sadar dalam hitungan jam.


“ Abraham... Abraham bangunlah...” panggil Nadira sambil menepuk lengan pria itu.


Evan mendnegar suara Nadira, dia membuka matanya tetapi...


“ Di.. dimana.. apa aku sudah mati? Aku tidak bisa melihat... di.. dimana ini? Si... siapa kau... aku.. aku akkhhhh tubuhku sakit... uhuk uhuk uhuk......”


“ Abraham... sadarlah..” ucap Nadira panik.


Evan duduk perlahan dengan tubuhnya yang lemah dan penuh luka,” di... dimana? Si... siapa itu? “ racaunya sambil meraba-raba kesana kemari. Dia membuka matanya tetapi tak bisa melihat apa pun.


“ Tuan, sadarlah!!" panggil Nadira.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen


__ADS_2