
Evan dan Nadira bersama Jonash dan Leo tiba di kampung tempat tinggal Nadira, di mana Evan selama beberapa hari dirawat oleh gadis itu dengan penuh perhatian sebelum keduanya haru berakhir di rumah sakit karena ulah Yanto dan kelompoknya itu.
Revina istri Yanto telah kembali ke kampung halamannya dengan selamat. Melarikan diri dari Yanto dan hidup berdua dengan janinnya.
Nadira menggandeng tangan Evan, mereka melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu. Suasananya sangat tenang dan hangat.
Leo mengamati rumah itu sambil melihat foto -foto yang terpajang di dindingnya, “ apa semua foto ini dibawa Nadira?” tanya Leo sambil menunjuk dinding berisi kenangan indah Nadira .
“ Tentu saja , semua itu berharga untukku,” ucap gadis itu .
“ Baiklah, kami akan bantu berkemas , kau rapikanlah barang-barang pribadimu,” ucap Leo .
“ baiklah, Evan duduk di sini, aku akan cepat,” ucap Nadira sambil berlari menuju kamar dan menyusun barang barangnya.
Evan berdiri, dia menatap rumah itu,” ahhh jadi begini pemandangan rumah yang kutinggali selama beberapa hari?” pikir Evan sambil menatap seisi rumah itu . Sebenarnya dia sedang mencari tahu apa kesukaan Nadira dan warna apa yang nyaman bagi gadis itu.
Matanya tertuju pada meja di pojok ruangan, sebuah foto yang tidak asing terpajang di sana.
Dengan langkah penasaran, Evan mengambil foto itu dan bertapa dia terkejut, foto keluarganya yang dia pikir hilang saat di bandara ternyata dibawa oleh Nadira, disandingkan dengan foto keluarga Nadira yang juga berlatar waktu yang sama.
Masih jelas di dalam ingatan Evan saat keluarga mereka pergi ke studio foto bersama untuk memotret foto keluarga setelah mengumpulkan upah bekerja di rumah keluarga Sanjaya. Saat itu hubungan keluarga Sanjaya dengan para pelayan masih sangat baik dan mereka saling menghormati.
Tetapi keserakahan yang dimiliki oleh Tuan Sanjaya menghancurkan segalanya. Evan menggenggam figura itu, dia ingat bagaimana perjuangan mereka selama hidup di bawah tekanan setelah kematian nyonya Sanjaya. Tuduhan yang tidak-tidak dilayangkan pada keluarga mereka bahkan Nadira hampir mendapat pelecehan saat gadis itu masih sangat kecil.
Evan menatap foto itu sambil mengusapnya dengan lembut, segurat senyum tipis tergambar di wajahnya saat melihat wajah gadis kecil di figura itu, wajah Nadira, gadis kecil yang dia lindungi selama setahun penuh perjuangan hingga mereka terpisah karena penculikan.
“ Aku akan menjagamu Nadira, cinta masa kecilku, kini kau jadi istriku, akan kulakukan apa pun untuk kebahagiaanmu Nadira, aku berjanji,” batin pria itu.
Tatapan Evan pada foto itu membuat Leo dan Jonash penasaran sampai kedua manusia super kepo ini berdiri di belakang Evan dan berdiri menatap foto yang dilihat oleh Evan .
“ Jadi ini dia saat kecil?” ucap Leo terkesima dengan wajah cantik Nadira yang memang sudah ada sejak kecil.
__ADS_1
“ Dia begitu mirip denganku saat kami masih kecil, aku tidak sabar menunggu hasil tes DNA itu,” batin Leo menatap foto Nadira dengan mata berbinar-binar.
Foto masa kecil Nadira yang memiliki paras yang begitu mirip dengan Leo. Paras yang menawan turun dari ayah Leo.
“ Apa kalian tidak akan bergerak membantu mengemasi barang-barang istriku?” Evan membalikkan foto itu dan menyenggak mereka berdua dengan nada kesal.
“ Ehh iya..iya... dasar pelit... wllekkkk... Evan pelit....” ejek Leo sambil menjulurkan lidahnya dan langsung beranjak dari sana mengemasi barang-barang Nadira bersama dengan Jonash.
“ bawa yang penting-penting saja,” ucap Evan yang dianggukkan oleh kedua orang itu.
Tak beberapa lama berkemas, Nadira keluar dari dalam kamar dengan sebuah koper penuh berisi barang -barangnya.
“ Apa sudah semua?” tanya Leo yang langsung mengambil alih koper Nadira.
Gadis itu mengangguk,” sudah semua, ini juga sangat banyak, “jawab gadis itu sambil menatap Evan yang duduk dengan tenang di sofa.
“ Banyak? Yang benar saja? Hanya sekoper dan barang-barang secuil ini kau bilang banyak? Yang benar saja Nadira, ini sangat sedikit... bagaimana kau bisa bertahan dengan ini semua?” celetuk Leo seraya menatap dua koper yang berisi semua barang Nadira.
“ Aku sudah selesai, “ ucapnya sambil menepuk lengan Evan untuk memberi tahu kalau dia ada di dekat Evan.
“ Baiklah ayo kita pergi,” ucap Evan.
Jonash dan Leo memasukkan semua barang milik Nadira ke dalam mobil sedang kan Nadira menggandeng tangan Evan dan membawa suaminya masuk ke dalam mobil dengan sangat berhati-hati.
“ Nadira, kenapa kau begitu baik padaku? Apa kau sebelumnya sudah mengenalku?” tanya Evan penasaran.
" Jika dia menemukan foto itu, pasti dia mengingat siapa aku, tapi kenapa Nadira tidak bilang apa pun soal itu?" batin Evan yang masih kepikiran soal foto yang dia lihat tadi.
Mendengar itu membuat Nadira gugup.
Gadis itu menatap Evan sambil memasang seat beltnya.
__ADS_1
" Aku sudah mengenalmu sejak lama Evan, kau yang lupa padaku," jawab Nadira.
"Sebaiknya aku jujur sekarang, toh kami sudah menikah, dia tak akan meninggalkan ku bukan? dia berhak tahu, " batin gadis itu.
"Sejak lama? benarkah? tapi kenapa aku tidak ingat apa pun?" tanya Evan menguji.
Nadira menggenggam tangan Evan," Ahhh bagaimana menjelaskannya, Aku Nadira, Dira kecil yang bersamamu dulu, kita terpisah saat ada penculik yang mengejar kita, waktu itu kau naik ke atas kapal terlebih dahulu karena aku membantu anak kucing yang terjatuh ke pinggir laut, aku dibawa dan dijual beruntung bertemu ibu asuh yang baik," jelas Nadira.
"Aku menunggumu datang, setiap hari aku datang ke dermaga itu dan menatap laut, bahkan karena kejadian itu lama kelamaan aku jadi trauma dengan lautan, karena aku berpikir kau mati di sana sendirian, sampai sekarang aku benci melihat laut," jelas Nadira dengan tangan gemetaran.
"Apa kau sama sekali tidak mengingat ku Evan? Abraham Evan Boile, ini aku Dira, gadis kecil itu, apa.kau sama sekali tidak mengingatku? " tanya Nadira dengan suara bergetar.
"Keluarga Sanjaya terus memburu anak anak yang keras dari pembasmian budak waktu itu. Bukan hanya keluarga ku dan keluargamu, ternyata mereka juga membasmi 4 keluarga lain yang tinggal di rumah saudara keluarga Sanjaya, anak anak mereka juga lari dari sana, aku tahu hal ini dari Chiko, dia juga salah satu anak dari budak keluarga itu,"jelas Nadira.
"Chiko!??" Evan terkejut, dia teringat sosok pria gendut yang sangat memanjakan Nadira dan Eka. Ternyata pria gendut itu salah satu dari mereka, salah satu dari anak keluarga budak yang dibasmi hari itu.
Evan tidak mengingatnya, kemampuannya mengingat mulai berkurang sejak dia terlarut dalam obat obatan insomnia dan juga alkohol.
Evan melirik Nadira, bahkan Nadira saja tidak bisa langsung dia kenali karena kelemahannya itu.
"Aku tidak bisa mengingat dengan detail, tapi aku tahu... aku tahu Nad... maafkan aku," ucap Evan sambil menggenggam tangan Nadira dengan lembut.
"Apa kau mengalami masalah dengan ingatan? sudah berapa lama? sejak kapan!?? apa yang terjadi pada mu selama ini!???"
.
.
.
like, vote dan komen 🤗
__ADS_1