Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#15


__ADS_3

“ Tuan, sepertinya tuan muda Evan memang benar benar menghilang,” ucap Yaksen sambil mengangkat sisa pakian Evan yang terletak di pinggir sungai, hari sudah malam tetapi mereka masih belum menyelesaikan pencarian.


Jonash mengacak acak rambutnya, dia sudah benar benar kacau saat ini, dia tidak terima kalau Evan mati begitu saja. Mahesa dan Leo juga sudah berubah acak acakan bahkan seluruh pakaian mereka terkena lumpur karena masuk ke dalam sungai dan mencari langsung di mana gerangan Evan berada .


Tetapi sampai hari malam, mereka tak menemukan keberadaan pria itu sama sekali, semuanya frustasi, rasanya sangat menyedihkan ketika mereka dalam ketidakmampuan menemukan sang sahabat yang hilang setelah pertempuran besar itu terjadi.


Mahesa duduk di batu besar di pinggir sungai sambil mengusap kasar wajahnya. Dia sangat lelah tetapi pikirannya tak bisa berhenti mencari di mana gerangan Evan berada.


“ Apa yang harus kita lakukan, kita bahkan tidak bisa menemukan jasadnya, sudah malam ke tiga...” ucap Mahesa berat. Suaranya lirih dan perasaannya sangat kacau.


“ jasad apanya Mahesa, Dia belum mati, jangan mengatakan yang tidak tidak!!” pekik Leo yang tak mau menerima kenyataan bahwa ada kemungkinan besar kalau sahabat mereka telah meninggal.


“ Leo, kita menemukan pakaiannya terkoyak, sepatunya terlepas, dan aliran sungai sangat deras, sudah hampir tiga hari tetapi kita tidak menemukan apa pun, dia terkena air keras hari itu , apa kau pikir dia bisa selamat? Arrhhhk aku tidak mau mengatakan ini, tetapi Evan.. Evan mungkin saja...


Bughhh...


Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, bogeman dari Leo telah mendarat di wajah pria itu sampai membuat sudut bibirnya berdarah,” JANGAN SEKALI SEKALI KAU MENGATAKAN KALAU DIA SUDAH MATI!" Leo terlihat kesal dan marah, dia sangat benci dengan kenyataan pahit seperti ini.


“ Leo, sadarkan dirimu, segala kemungkinan itu bisa terjadi, apalagi sudah tiga malam kita mencari dan tak ada hasil sama sekali, kau pikir jatuh dari tebing setinggi itu bisa selamatt? Aku hanya mengucapkan faktanya berengsek!” balas Mahesa yang terbawa amarahnya.


“ aku juga lelah, aku juga tidak rela dengan kenyataan ini, tetapi mau sampai kapan? Mau sampai kapan kalian mencari, lihat anak buah kita, mereka semua sudah kelelahan tak ada istirahat, kita harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terbesar yang akan terjadi!” ucap Mahesa sambil menunjuk anak buah yang memang mulai tumbang satu persatu.


Mereka semua terdiam, rasanya sangat tidak adil kalau Evan sampai dalam bahaya.


“ Sebaiknya kita pulang malam ini, kita juga butuh istirahat, kita butuh tenaga untuk mencari keberadaan Evan, setidaknya sampai kita menemukan tubuhnya,” ucap Mahesa, pria yang selalu berpikir logis bahkan di keadaan darurat sekalipun.


Mereka terpaksa pulang untuk malam ini dan menandai titik akhir pencarian mereka. Pencarian berikutnya akan melibatkan lebih banyak personel untuk menemukan keberadaan teman mereka.


Jonash, Leo dan Mahesa menatap sungai itu, tatapan sendu dan sedih terlihat jelas di kedua pelupuk mata mereka. Rasanya tidak sanggup bagi mereka jika harus menerima kabar bahwa sahabat mereka telah berpulang untuk selama-lamanya.


“ Aku takut, ucapannya setahun yang lalu malah terjadi hari kemarin, keinginannya untuk bunuh diri, keinginannya untuk mengakhiri hidupnya sendiri, aku takut itu terjadi,” ucap Jonash sambil menunduk.


Leo menepuk bahu Jonash demikian juga Mahesa,” kita pulang dulu, kita juga butuh istirahat, setidaknya kita harus yakin karena ada dua kemungkinan dia masih hidup atau sudah kembali berkumpul dengan keluarganya” ucap Mahesa menguatkan Jonash dan Leo sekalipun dia terguncang dengan kejadian ini.

__ADS_1


Leo menatap sungai itu,” ini semua karena perempuan itu, seandainya hari itu.. hari itu dia tidak membuat masalah dengan menyiram Evan, aku pasti sudah bisa membantu Evan, ini salahnya.. aku tidak akan membiarkan dia hidup jika aku menemukannya!!” batin Leo sambil mengeraskan rahanganya. Menyalahkan Nadira atas apa yang terjadi pada Evan.


Sementara itu, tanpa mereka ketahui, Evan selamat dan dirawat oleh gadis yang ingin dimusnahkan oleh Leo, Evan sedang dirawat oleh Nadira dengan sepenuh hati. Setelah makan malam dengan bubur wangi yang membuat Evan lahap makan, Nadira membantu ptia itu membalut luka-luka di tubuhnya.


Evan duduk tegap di atas kasur sedang Nadira duduk di sampingnya dengan berbagai peralatan pertolongan pertama yang tersedia di rumahnya.


“ Ini akan sakit, kau tahan saja, aku akan membalut luka di kepala dan wajahmu, untuk sementara waktu kau akan dibalut dengan perban,” ucap Nadira sambil sambil menyentuh kepala Evan dengan lembut, berusaha agar pria itu tidak kesakitan.


Nadira menatap luka di belakang kepala Evan, cukup parah dan lukanya lebar dengan benjolan di sekitar luka.


“ kau di pukul pakai apa sampai separah ini? Sebuah keajaiban kau masih hidup setelah mendapatkan pukulan sekaras itu,” ujar Nadira.


“ Pakai pemukul bisbol dari besi,” jawab Evan jujur.


“ hah? Dan kau hanya mengalami kebutaan?” mata Nadira terbelalak.


“ apa kau mau aku mati?” ketus Evan.


“ Diamlah, aku akan mengobatinya dengan baik, kau serahkan saja semua padaku, percaya padaku aku akan merawat dan mejagamu dengan baik,” ucap Nadira sambil mengambil alat cukur,” aku akan mencukur kepalamu, lukanya harus dibersihkan, tidak masalah kan?” tanya Nadira.


Evan hanya mengangguk sambil mengontrol detak jantungnya yang terasa aneh,” ini pertama,” ucap Evan tiba-tiba.


Nadira yang sedang mencukur rambutnya dari belakang tampaknya tidak terganggung,” pertama apanya?” tanya gadis itu sambil membersihkan kepala Evan, membotaknya sampai benar benar bersih.


“ Pertama kali ada seseorang yang berkata akan menjagaku, rasanya aneh, aku berdebar,” jujur pria itu dengan polosnya.


Nadira terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis dan melanjutkan pekerjaannya.


“ Wohhhooo.... apakah jatuh cinta padaku tuan? Hahahhah kau sangat blak blakan soal perasaanmu, hahahha” balas Nadira seraya mengejek pria itu.


“e h.. ti.. tidak mungkinlah, mana mungkin aku jatuh cinta padamu, dasar perempuan aneh!!“ kesal Evan.


Gadis itu hanya tersenyum, setidaknyya Evan tidak terlalu memikirkan masalah matanya yang kehilangan kemampuan penglihatannya, dia merasa senang kalau Evan tertawa dan melupakan rasa sakitnya.

__ADS_1


Dengan pelan dan lembut Nadira merawat luka luka Evan, di perutnya, punggung yang melepuh, kaki dan tangannya yang terluka dia rawat dengan baik.


Evan yang merasa Nadira diam justru malah merasa tidak nyaman, “ ekhm... Nadira, apa kau tidak penasaran denagn apa yang terjadi padaku?” tanya pria itu.


“ Penasaran sih, tapi aku takut rasa penasaranku malah membuatku kehilangan nyawa, apalagi penasaran dengan pria plin plan seperti dirimu,” ucapnya.


“ Dasar pendendam,” balas Evan yang tanpa sadar tersenyum tipis dan jelas di lihat oleh Nadira.


“ Dia sudah bisa tersenyum, baguslah, aku tidak tahu seberapa parah lukanya, tetapi dia harus segara ku bawa ke rumah sakit, tetapi masalahnya bagaimana cara membawa Evan agar tidak ketahuan Pak Yanto mesum kurang ajar itu, aku takut dia akan melukai Evan,” batin gadis itu.


“ Hei bicaralah, kenapa kau diam, aku tidak suka dalam kondisi ini, rasanya seolah dunia menghilang, gelap dan tidak ada suara...” ucap Evan sambil meraba raba kesana kemari dan lagi-lagi...


Pammp... pammmmp...


Tangannya menyentuh bongkahan kenyal bulat yang sepertinya dia sudah kenal apa itu,” eh... aku....


“ EVAN... LAGI LAGI KAU... ARRRKHHHHH SIALAN... DASAR MESUM..... ATAU JANGAN JANGAN KAU PURA-PURA BUTA YA? KENAPA KAU MEMEGANG DADAKU LAGI EVAAAANNN...”


“ Ehhhh.. ma.. maaf bukan maksudku bebruat aneh, aku tidak sengaja... kau tahu aku buta.. aku tidak mungkin melakukan hal yang aneh aneh padamu,”ucap Evan yang sontak mengangkat kedua tangannya ke atas, berharap agar Nadira tak salah paham.


“ bodoh, aduhhh.. mana ini yang kedua kali lagi, kenapa juga tanganku langsung menyentuh itu sih... . arrhhhkkk ini sangat memalukan....”


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang memotret Evan yang tak sengaja menyentuh dada Nadira dan tersenyum licik dengan rencana gila di otaknya.


“ hahaha... mampus kau gadis jal4ng, beraninya mencoba menikahi suamiku, kau akan ku permalukan, tunggu saja tanggal mainnya,”


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2