
Seluruh anak buah dikerahkan, perang besar antara Sanjaya dengan Boile dan juga para mantan budak akan segera terjadi.
Mobil yang membawa Nadira tiba lokasi yang dimaksud.
Gadis itu tetap diam sampai mereka tiba karena jika dia melawan sekarang maka sama saja dia menyerahkan nyawanya.
Sehebat apa pun keahlian bela diri Nadira, dia tidak akan selamat melawan empat pria berbadan besar yang mungkin saja menyimpan senjata di mobil itu.
Nadira terus mengawasi dan menghapal jalanan untuk bersiap melarikan diri.
Hingga tak makan waktu lama, mereka semua tiba di markas besar Sanjaya yang kini sedang dikawal oleh ratusan anak buah Sanjaya, bahkan untuk masuk ke markas itu saja harus melewati gerbang besar yang menjulang tinggi yang didesain untuk mewaspadai perang yang mungkin terjadi mengingat kelompok ini punya banyak musuh.
"Wahh tempatnya benar-benar luas, siapa sangka keluarga Sanjaya akan semakin jaya di atas darah para budak yang mereka hilangkan nyawanya, kapan kalian akan mati!? hah menjijikkan!!!" batin Nadira sambil menatap seluruh area yang mereka lewati.
Nadira dibawa, tanpa mereka ketahui Leo yang sebelumnya seolah kehilangan jejak Penculik itu ternyata berhenti tak jauh dari markas karena sudah tahu ke arah mana Nadira akan di bawa.
Evan juga sama, pria itu kini berada tak jauh dari lokasi Markas, dia masih berhenti di dalam mobil sambil menatap gerbang pembatas yang sangat tinggi dan dijaga ketat oleh para penjaga.
Siapa sangka selama perjalanan, pria itu sudah membicarakan apa yang akan mereka lakukan terhadap Sanjaya.
"Aku akan masuk!!!" ucap Evan.
Pria itu menginjak gas dan melaju secepat kilat sebelum gerbang di tutup.
srrkhhhh....
Mobil Evan melesat dan menabrak semua objek yang ad Adi hadapannya tak peduli mereka mati tertabrak olehnya.
" Sialan!!! ada penyusup cepat tutup gerbangnya!!!" teriak penjaga Gerbang panik saat melihat mobil Evan masuk begitu saja ke dalam markas setelah menabrak beberapa orang anak buah Sanjaya.
"Tuan, ada penyusup!!!" salah satu dari penjaga gerbang langsung melapor pada Yanto yang kini berdiam di dalam gedung besar di tengah lahan luas di mana seluruh tim Sanjaya sering berlatih.
"Biarkan dia masuk, tutup gerbang rapat-rapat!! " titah Yanto Sambil tersenyum licik di dalam bangunan itu.
inilah yang dia rencanakan, memancing Evan ke perangkap nya dengan menggunakan Nadira istri pria itu.
"Akhirnya kau terpancing bodoh, selamat datang di kematian!!" Yanto berdiri di atas balkon lantai dua sambil tertawa menatap ke arah mobil Evan yang sudah masuk tanpa anak buahnya di sana.
Yanto tidak tau seberapa besar dan seberapa hebat kekuatan yang dimiliki oleh Evan sehingga dia menganggap remeh lawannya yang satu ini.
__ADS_1
"Bawa perempuan sialan itu ke sini!!!" titah Yanto.
Nadira di tarik paksa, tubuhnya masih terikat dan mulutnya tertutup rapat dengan lakban hitam, padahal mereka tidak tahu tangan dan Kaki Nadira tidak benar-benar terikat dengan baik.
Yanto berbalik dan menatap Nadira dengan tatapan sinis," inilah yang akan terjadi pada orang yang melawanku, kau lebih memilih menikahi anak budak itu daripada aku bukan!?? kau tidak tahu siapa pria itu!!!"ucap Yanto sambil berjalan perlahan dan...
greepp...
Tangannya yang besar menarik rambut Nadira dengan kasar dan menyeret gadis itu ke dekat balkon untuk melihat Evan di dalam sana.
"Pakai matamu dan lihat suamimu di sana!!!" ucap Yanto.
"Evan!?? dia datang!?? tidak, jangan-jangan dia memaksakan diri, penglihatannya bermasalah, arrkhhh Kren aku dia terpancing datang ketempat ini!!!" batin Nadira menatap nanar ke arah mobil yang biasa dipakai suaminya dengan Hendry sebagai supir nya tanpa tahu kalau suaminya sendiri yang mengemudikan mobil itu.
"Sialan tidak boleh begini, Evan akan berada dalam bahaya!!!"
Namun sedetik kemudian dia terdiam membatu saat melihat suaminya keluar dari bangku supir dan melihat dengan normal sambil memegang sebuah senapan angin di tangannya menatap ke atas dengan tatapan dingin dan datar yang membuat siapa pun merasa sesak.
"E...Evan!?? dia bisa melihat!!???" Nadira sangat terkejut, apa selama ini dia dibohongi?
"Hahahhaha.... ternyata anak budak Jaman sekarang juga sudah bisa menggunakan senapan ya!?? dasar pengorek kotoran hina!!!" umpat Yanto sambil meludah ke bawah, merendahkan Evan dan kaum budak lainnya.
"Nadira, beraninya dia menyentuhmu, maafkan aku..." batin Evan menatap dalam kedua netra sang pemilik hati yang baru sadar kalau dia telah jatuh dalam lautan cinta sang istri.
Nadira menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, ada rasa senang baginya karena Evan ternyata bisa melihat dan sekarang sedang menatapnya tetapi ada rasa takut kalau sampai Evan meninggalkan nya dan tidak butuh bantuan nya.
Karena sejak dulu sampai saat ini, Nadira telah menaruh hatinya pada Evan.
Bahkan ketika Evan belum kembali, dia tetap percaya kalau Evan akan datang.
"Serang!" titah Yanto.
Di saat yang sama pulang anak buah Yanto menyerbu Evan di bawah sana.
Evan menyeringai dan menatap ke atas," Tunggu aku sayang!!" gumamnya.
Evan membalas serangan mereka, satu lawan puluhan pria berbadan besar.
Tampaknya jam tempur pria itu berhasil membuatnya menjadi sangat lihai dan cepat.
__ADS_1
Sekali pukul, lawannya akan merasakan sakit yang teramat sangat di bagian tubuh yang terpukul.
"Mati kau!!" teriak anak buah Yanto.
Mereka sangat yakin kalau mereka akan berhasil melumpuhkan pria di depan mereka tanpa tahu identitas sebenarnya dari pria tampan yang sedang mereka serang itu.
Pertumpahan darah, perkelahian tak lagi terelakkan.
Yanto dan anak buahnya mencari kuburan mereka sendiri dengan menyerang Evan yang jelas sampai saat ini belum terkena pukulan mereka barang sekali pun.
Yanto tertawa terbahak-bahak sambil menatap Evan dengan tangannya yang terus mencengkram kepala Nadira tanpa dia sadari kalau kedua tangan dan kaki gadis itu sudah lepas dari ikatan tali sejak tadi.
" Lihat, suamimu akan mati, mayatnya akan tergantung di atas pohon dan dimakan oleh burung!!!" ucap Yanto sambil menatap tajam ke arah Nadira.
" Wahhh aku takyuuuttt huhuhuhu.... cuihhh...." Nadira yang sudah melepas lakban dimulutnya meludahi wajah Yanto sambil mengejek pria itu dengan wajah konyol.
" Ka..kau!!!!"
" Hehehhe Hai Yanti, Mau Kue panas!??" celetuk Nadira sambil tersenyum dan...
Bughhh...
Kue panas alias Bogeman mentah mendarat tepat di hidung pria itu membuatnya meringis kesakitan dengan tulang hidung yang retak.
" Arrkhhh beraninya kau perempuan Jal4ng!!!;"
" ehhh menyemenyemenye... wleekkkk... rasakan ini kampret tulang lunak!!!!" pekik Nadira sambil melayangkan tendangan ke arah pusaka Yanto.
Crakkkhhhh....
"Pe...pecah... arrkkhhhh.....
.
.
.
like, vote dan komen 🤗
__ADS_1