Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#8


__ADS_3

Di dalam gedung perusahaan, Jonash yang sedang duduk berduaan dengan Mahesa bukan sedang kencan tetapi sedang membahas kerja sama, malah dibuat pusing tujuh keliling dengan ucapan tak jelas yang disampaikan Evan barusan.


“ Bule kesasar, sepertinya ada masalah tadi, nanti saja kita lanjutkan, siapa lagi yang membuat Evan marah, benar benar merusak suasana saja,” kesal pria itu.


“Aku akan membahasnya dengan para petinggi, kau uruslah dulu,” Mahesa berdiri dan beranjak dari sana menuju ruangan rapat di mana semua petinggi akan dikumpulkan.


Dengan kecepatan jaringan data milik Jonash, dia mengecek apa yang terjadi pada atasan sekaligus sahabat baginya. Pria itu menatap rekaman kamera CCTV yang menunjukkan Lika dan Susi sebagai pengganggu yang sudah masuk dalam daftar black list dari Evan, " ahhh jadi ini harinya, tapi gadis itu... hahah... gadis itu sepertinya berhasil menarik perhatian Evan, ini kali pertama aku tidak bisa membaca ekspresi Evan, kau pasti gadis yang luar biasa nona,” batin Jonash.


Pria kutu buku itu berjalan keluar dari sana dan langsung menghubungi pihak HRD untuk mengumumkan Pemecatan secara tidak hormat terhadap dua oknum yang bekerja di perusahaan itu, Lika dan Susi, sedangkan Nadira, kontrak kerjanya memang sudah berakhir hari ini.


Seluruh kesalahan mereka akan di pajang di setiap layar LCD perusahaan dan menyiarkan langsung pemecatan mereka untuk jadi pelajaran bagi semua karyawan agar tidak bermain main. Ini hanya salah satu cara yang biasa, jika sampai Evan turun tangan, maka mungkin kedua perempuan itu sudah kehilangan tangan mereka.


Sementara itu, Evan tiba di sebuah markas besar Boile yang dia pimpin. Dia sangat hebat dalam urusan bisnis dan memisah lini bisnis yang dia miliki. Tetapi pekerjaannya penuh dengan risiko dan banyak musuh yang selalu mengintai dia dari jauh, bahkan siapa pun yang dekat dengannya mungkin saja bisa menjadi korban karena mereka menargetkan kematian Evan.


Evan menjaga jarak dengan banyak orang, hanya saja banyak yang mendekatinya dan malah menyerahkan nyawa mereka menjadi tumbal karena para musuh yang salah sasaran berpikir kalau mereka dekat dengan Evan.


Pria itu keluar d.air dalam mobil sambil melepaskan kemejanya yang basah kuyup.


“ Selamat datang tuan,” sambut tangan kanannya di markas itu.


“ Tom... bakar!” ucapnya kesal sambil melemparkan kemeja itu ke sembarang arah. Evan berjalan dengan cepat diiringi sambutan anak buahnya yang sedang berlatih. Dia berjalan menuju ruangannya dan menutup pintu dengan kasar.


Tom dan anak buah kelompok mafia Boile terdiam saat melihat wajah datar dan dingin dari tuan mereka.


“ Ya ampun ada masalah apa lagi? Kenapa moodnya buruk lagi?” gumam Tom sambil menggenggam kemeja itu.


Sementara itu Evan telah mengganti seluruh pakaiannya, dia memanggil Tom untuk masuk ke dalam ruangannya.


“ Tom...” teriak pria itu.


Langkah kaki Tom yang begitu cepat dan tergesa-gesa terdengar jelas di telinganya.


“ Ada apa tuan Evan?” tanya pria itu dengan hormat.

__ADS_1


“ Panggil semua pimpinan kelompok, dalam satu jam mereka harus berkumpul di markas jika mereka tak ingin kehilangan kepala mereka, kumpulkan seluruh anak buah, sekarang juga.” Ucap pria itu seraya menggenggam belati di tangannya sambil mengeraskan rahangnya.


Beberapa hari yang lalu dia menerima laporan ada anak buah nya yang berkhianat dan membocorkan tentang kepulangannya ke Indonesia, dia akan melakukan eksekusi mati saat ini juga di depan semua orang.


“ Tapi dalam rangka apa tuan?” tanya Tom heran.


“ Pesta, ini kepulanganku setelah sekian tahun, apa kau tidak ingin mengadakan pesta Tom?” Evan menatap pria itu dengan tatapan datar sebagaimana biasanya. Wajahnya saja yang tampan tetapi perangainya membuat semua orang ketakutan.


“ ahhh baik tuan,” jawab Tom patuh dan langsung menghubungi semua rekan dan kepala masing masing tim kelompok yang tersebar luas di berbagai tempat.


Evan duduk dengan tegak sambil terus menatap ke arah Tom, dia mengeraskan rahangnya seraya menggenggam belati kecil di tangannya ,” semudah itu kau menjual ku? Hanya demi sebuah batu tak berharga? Kupikir kau loyal tapi nyatanya kau hanya sampah,” gumam pria itu.


Evan paing benci dengan yang namanya pengkhianat, sekecil apa pun itu dia tidak akan bisa menoleransi yang namanya pengkhianatan karena satu pengkhianat akan memunculkan pengkhianat pengkhianat yang lainnya.


Tom berjalan keluar dari ruangan itu dengan gelagat aneh sembari menaruh ponselnya di telinga dan melirik kesana kemari," ini saatnya serangan, mereka semua sudah kulumpuhkan!" Ucap pria itu sambil berlari dan sekilas menatap ke dalam ruangan latihan di mana para anak buah pingsan tak sadarkan diri.


Tom tersenyum rencana liciknya berhasil, dia telah memberikan obat tidur ke seluruh minuman dan makanan para prajurit, dengan langkah cepat dia berlari menuju ke luar menunggu pasukan yang menjadikannya mata-mata di tempat itu tiba.


"SEKALI BUDAK, KAU TETAP AKAN JADI BUDAK SELAMANYA EVAN!" gumam pria itu sambil tersenyum menatap gedung besar markas kelompok Mafia Boile yang dibentuk oleh Evan.


Seorang pria berdiri di antara mereka semua, dengan stelan pakaian serba putih duduk di depan mobilnya sambil menghisap rokoknya, tersenyum menatap markas Boile.


" Hah... Akhirnya aku bisa melihat ketua kelompok mafia ini secara langsung, kenapa sulit sekali menemukan orangnya? Cuihh... Sehebat apa orang itu!??" Dia bergumam sambil menatap rendah markas yang tampak sepi itu.


Tampak Tom berlari tergesa-gesa dengan senyuman sumringah menatap ke arah pria bernama Kevin itu .


" Ck...ck....ck.... Lihatlah si bodoh yang menjual bosnya ini hanya demi batu Permata, aku tidak Sudi punya tangan kanan setolol ini!" Umpat pria itu sambil menatap Tom.


"Tuan semua sudah beres, bayaran saya!??" Tom tersenyum sumringah.


Kevin mengambil sekantong penuh berlian dengan berat 500 gram dan melemparkan benda itu pada Tom.


" Ini bayaran mu!"

__ADS_1


Tom mengambil benda itu dengan tatapan rakus, mendapatkan berlian langka dengan harga selangit sangat sebanding dengan tugasnya menjebak bos mereka.


"Tom, dimana kau!??" suara bariton sang Bos Mafia terdengar menggelegar di telinga semua orang. Evan keluar dengan senapan panjang di tangannya sambil berjalan seperti seorang raja yang baru turun dari singgasananya.


"Si.... sialan!!!" umpat Tom yang langsung berlari hendak melarikan diri dengan masuk ke dalam salah satu mobil di sana.


Evan mengeraskan rahangnya, dia menatap ke arah Tom sembari mengarahkan senapannya.


Duar....


Satu tembakan mendarat di punggung pria itu dan Tom ambruk ke atas tanah begitu saja.


Seisi area itu tegang, Kevin dan anak buahnya bersiap mengarahkan senjata mereka pada Evan.


" Serang!!!" teriak Kevin memerintah.


Evan mengeraskan rahangnya, seluruh anggotanya telah tumbang, anak buahnya yang lain tersebar di seluruh penjuru negeri sedang teman-temannya bekerja," Sialan!!!!" umpat pria itu menerjang mereka dengan senapan dan keahlian bela dirinya yang luar biasa.


Puluhan pria berbadan besar bertanding dengan satu pria, sebuah kombinasi yang berat sebelah.


Kevin tersenyum sinis, dia menatap Evan menyerang anak buahnya dengan brutal.


"Kau tidak akan menang, ini adalah akhir dari Boile!"


Kevin berlari dengan sebuah botol air mineral berisi cairan di tangannya dia menargetkan Evan.


"Kau harus mati!!!" ucap Kevin.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen.


__ADS_2