Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#17


__ADS_3

Nadira tersenyum lembut saat mengingat tatapan mata Evan yang sangat teduh tadi. Rasanya malah aneh karena dia berdebar dengan tatapan pria buta yang menatapnya seolah dia sedang melihat Nadira dengan dalam.


“ Hah.. kenapa juga aku malah berdebar karena dia? Evan.. kau semakin lama semakin aneh, banyak sekali perubahan padamu , tetapi senyuman cerahmu itu selalu sama,” batin Nadira mengingat masa kecilnya yang menyenangkan bersama Evan bahkan ketika mereka harus hidup berdua di jalanan dan mengemis untuk mendapatkan makanan.


Evan dan Nadira, pernah hidup menjadi gelandangan setelah kehilangan keluarga mereka masing-masing. Mereka berdua hidup melarat dengan uang dan makanan seadanya. Saat lelah mereka akan terlelap sambil berpelukan di bawah jembatan. Terkadang mereka di palak oleh preman, dan hasilnya Evan di pukuli untuk melindungi Nadira.


Masa lalu yang sulit, yang tidak akan pernah dilupakan oleh Nadira, bagaimana dia dan Evan saling menjaga satu sama lain ketika seluruh dunia menghina dan menyiksa mereka. Tetapi takdir seolah masih jahat pada mereka. Keduanya terpisah saat dikejar penculik anak di dermaga, Evan dan Nadira berlari di dermaga untuk melarikan diri dari penjahat yang hendak menculik mereka.


Keduanya akan naik ke atas kapal yang akan segera berangkat, tetapi Nadira tertangkap, dan Evan malah terpisah saat kapal itu berangkat dan meninggalkan Nadira yang berteriak agar Evan pergi, agar Evan menepati janjinya untuk tetap hidup dan menemukan keberadaan Nadira. Tetapi tampaknya setelah Dewasa, Evan tidak langsung mengenali Nadira.


“ ahhh.. aku jadi ingin menangis,” gumam Nadira sambil menatap ke atas seraya berusaha menghilangkan air matanya.


Nadira membersihkan kacang dan beberapa sayuran lalu menyimpannya pada wadah yang sudah dia siapkan. Gadis itu kembali beranjak ke belakang setelah beberapa menit membersihkan bahan bahan masak di sana.


“ Evan, kita ke dalam saja ya, ayo kita memasak, Eka dan Chiko akan datang hari ini, aku ingin mengenalkanmu pada mereka, kau juga pasti sudah lapar,” ucap Nadira sambil berjalan menuju tangga di belakang rumah.


“ Evan?” panggil Nadira tetapi tidak ada suara menyahut sama sekali.


"Evan,kenapa tidak menjawab!?" Nadira berjalan dengan cepat.


Gadis itu terkejut. Dia panik, seketika dia teringat dengan orang-orang mencurigakan yang dua hari lalu menatap ke arah rumahnya, berjalan mondar mandir dan menatap rumah itu pada pagi hari lalu kembali di siang hari.


Dua hari yang lalu,


Nadira sedang menjemur kain di samping rumah sedangkan Evan masih tidak dia bawa keluar rumah sama sekali dan memaksa pria itu untuk beristirahat dengan tenang sampai keadaannya lebih baik.

__ADS_1


Gadis itu menjemur pakaian sambil bersenandung, tetapi kedua netranya tiba tiba menangkap dua sosok pria yang cukup dia kenal, pak kumis dan Pak jenggot yang sedang berjalan kesana kemari di depan rumah mereka sedang ada dua pria lain yang berdiri di seberang jalan.


Hal ini jelas menarik perhatian Nadira, dia menatap ke arah halaman sambil mengerutkan keningnya,” bukannya mereka bodyguardnya Si Yanto kurang ajar itu? Apa dia masih mau memaksaku? Idih... najis, ya kali aku jadi istri berikutnya, mending tidak usah menikah daripada jadi bahan pelampiuasan n4fsu si bangsat itu?” batin Nadira bergidik ngeri.


“ terus si pak kumis dan pak janggut itu, hah.. mau apa mereka disana,, mau memabtu si Yanto itu lagi? Mengesalkan sekali, kalian tidak akan mendapatkan apa apa dariku,” kesal gadis itu sambil masuk ke dalam rumah dan menutup rumah rapat-rapat.


Nadira memperhatikan mereka, hingga beberapa kali dia melihat orang orang itu berdiri di sana seolah sedang mengamati lalu pergi dari sana. Tetapi Nadira tidak merasa curiga, karena hanya dia yang tahu kalau Evan ada di rumahnya, padahal dia tidak tahu kalau pak Kumis, pak jenggot dan temannya yang lain sudah tahu hal tersebut.


Nadira berasumsi kalau mereka memang mengawasi dirinya yang sedang dikejar kejar dan ditawari pernikahan mewah oleh Pak Yanto si pria pecinta wanita itu.


Kembali ke masa sekarang, setelah mengingat hal itu, Nadira terdiam dengan wajah syok. Jantungnya berdebar tak karuan, kini dia bisa menerka apa yang terjadi, Evan diculik. Pria itu pasti di bawa oleh salah satu anggota dari Pak Yanto, pria yang terus menerus mengejarnya dan meminta dia menyetujui lamaran pernikahan dari pria itu.


Jantung Nadira bagaikan di hantam batu yang sangat keras, dia benar benar terkejut, kakinya lemas, air matanya jatuh begitu saja,” E.. evan.. ti... tida... ini tidak boleh terjadi.. Evan... di.. dimana kamu...” gadis itu menangis panik dan khawatir .


Nadira berlari ke halaman belakang, mencari apakah Evan masih berada di dekat sana atau tidak. Kakinya berlari ke pekarangan di lingkungan rumahnya. Dia sama sekali tidak menemukan jejak Evan.


Gadis itu mencari kesana kemari, tetapi hasilnya nihil, dia hanya menemukan perban yang terlepas dari kepala Evan.


“ ini miliknya, dimana dia.. salahku tidak tanggap.. arrkhhh sialnya.. benar benar SIALAN!!” pekik Nadira sambil menangis.


Di saat kebingungan, tiba tiba dia mendengar suara Eka yang sudah tiba di rumah itu sesuai janji temu mereka.


“ nanad sayang aku datang... Chiko gembul jugaaa... bawa banyak makanan sama yang kamu pesan juga!!" teriakan melengking Eka terdengar begitu keras.


Nadira langsung berlari sembari menghapus air matanya.

__ADS_1


Di depan rumah, Eka datang bersama Chiko. Mereka berdua meluangkan waktu untuk bermain ke rumah Nadira, bergantian dengan Nadira yang selama ini bermain ke rumah mereka.


“ Kemana dia?” tanya ekay sambil celingak celinguk ke sana kemari seolah sedang mengawasi sesuatu.


“ Tunggu saja nona,” jawab Chiko singkat sambil meletakkan barang -barang ke teras rumah. Mereka datang dengan mobil yang sama.


“ eh.. by the way, kamu dengar gak sih ucapan pak kumis petak kayak barcode itu? Masa iya istri pak Yanto mesum yang mengajak Nadira menikah itu di bilang gila? Dia kali yang gila karena ganggu Nadira terus,”celetuk Eka.


Beberapa menit sebelum tiba mereka sempat berhenti di warung dan malah mendengar berita kalau Nyonya Mirna istri tertua pak Yanto menjadi gila.


“ Ehh tapi kan aneh sih, si tai upil itu bilang kalau mereka menyekap seseorang atas perintah si Yanto begitu, katanya si Yanto mau beraksi lagi, aku samar samar dengar tapi gak yakin sih nona,” ujar Chiko seraya duduk di teras rumah Nadira.


“ Ahh bukan urusan kita juga, mereka gak akan ganggu Nadira lagi, kan Nadira sudah menolak, tapi kasihan sih kalau sampai beneran ada yang di sekap,” celetuk Eka sambil duduk di samaping Chiko si gembul berprestasi.


“ Apa yang kalian bilang tadi? Apa kalian mendengar sesuatu dari warga kampung? “ tiba tiba Nadira memotong pembicaraan mereka setelah mendengar sedikit cerita mereka, pikirannya langsung teralihkan pada Evan yang hilang.


“ Na... nanadd? Kamu nangis nad? Ada apa? Kok tumben?” Chiko dan Eka serentak menanyakan kondisi Nadira yang jarang menangis itu. Bisa dikatakan kalau Tangisan Nadira adalah hal paling langka yang tidak pernah mereka lihat secara langsung.


“ Jelaskan dulu yang tadi? Soal penyekapan, si Yanto sialan dan istrinya itu!” Nadira menghardik mereka berdua dengan tatapan serius seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk meredam kepanikannya.


“ Aku harus berpikir jernih, jangan sampai aku terlambat,” batin gadis itu.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2