Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#Obral


__ADS_3

Nadira menatap ke arah bawah, ada penyekat di sana yang bisa digunakan untuk tempat berpijak. Dengan cepat gadis itu keluar dari dalam ruangan itu meninggalkan Yanto dan anak buahnya yang terkapar lemah karena ulah Nadira.


Benda pusaka mereka pecah teloh karena tendangan maut si Nadira.


Sungguh apes nasib mereka yang harus menahan rasa sakit yang teramat sangat, ingin menghajar Nadira tapi bergerak saja rasanya ngilu, seperti ada yang pecah di bawah sana.


Di saat gadis itu nekat turun dari jendela, di saat yang sama kedua netranya menangkap puluhan pria berpakaian hitam menyerang melalui tembok pembatas dan mendobrak gerbang pembatas.


"Wahhh perangnya sangat besar, tapi jumlah anak buah Sanjaya tak bisa diremehkan!!" batin Nadira.


Leo si pirang gila itu mengemudikan kendaraannya dan menabrak semua anak buah Sanjaya dengan brutal tanpa ampun.


Dia sama gilanya dengan sahabatnya yang lain, tak punya belas kasihan pada orang yang tidak pantas dikasihani.


Bersamaan dengan itu para tangan kanan kelompok Sanjaya juga melayangkan serangan tak kalah brutal.


Mahesa, Jonash, Amora dan anak buah tim Boile meyerang dengan brutal sambil tertawa bak psikopat.


Kesenangan mereka adalah bertempur tetapi bukan untuk sekedar menunjukkan kekuatan namun mencari keadilan.


Amora dan Mahesa menyerang dengan pemukul bisbol, terbang dan menerjang ke sana kemari menghajar semua orang yang ada di depan mereka tak peduli orang itu kehilangan nyawanya atau tidak.


Tiba-tiba jumlah anak buah Sanjaya semakin banyak, sepertinya seluruh tim dikerahkan dalam pertempuran ini.


Yanto sudah menyiapkan segala kemungkinan terbesar yang akan terjadi.


“ Sialan, anak buah mereka keluar dari sarangnya semua, wwahhh si Yanto sialnya itu benar benar gila, aku tak menyangka dia punya pengikut sebanyak ini...” teriak Joansh.


“ Serang saja, hajar semuanya wohhhooooooo...” teriak Leo sambil tertawa puas.


Dia keluar dari dalam mobilnya dengan pemukul bisbolyang terbuat dari besi.


“ Siap siap kehilangan kepalamu,” celetuk Leo sambil tertawa.


Dia menarik kepala yang satu dan yang lain dan...


Kluppp..


“ Upsss kalian kok ciuman cantik hahahahhaa.,..” seloroh pria itu setelah membuat korbannya berciuman satu sama lain, ya ampun orang ini memang tidak benar benar serius dalam pertarungannya.


“ Beraninya kau...” teriak mereka berdua sambil menyerang Leo, tetapi pria itu dengan cepat menghindar hingga keduanya berpelukan satu sama lain.


“ wohohohoh.. nanti kalian bisa bercerita, beginilah cara kalian bertemu hihihih... tapi... dalam mimpi...” teriak Leo sambil tertawa dan..

__ADS_1


Bughhhh bguhhhhh


Tuuugnbgggg...


Leo memukul kepala botak kedua pria yang berpelukan mesra karena ulah si pirang psiko itu.


“ haahhha... ayo ayo, di obral pukulan menuju akhirat, siapa yang mau mati dalam waktu singkat silahkan ke mari.... wohohoohoho....” teriak Leo sambil mengayunkan tongkatnya dan memukuli semua orang.


Sama halnya dengan Evan, para tangan kanan Yanto yang sangat hebat menghajar pria itu secara berkelompok, cara yang licik dan curang, tapi Jonash tidak akan membiarkan tuannya di serang berkerumun seperti itu.


“ Wahhh dasar orang sinting, berani main keroyokan ya...” Jonash bergabung dengan Evan, dia tak kalah hebatnya dengan Evan.


Mereka berdua melawan pentolan berbakat anak buah Sanjaya yang berjumlah sangat banyak itu. Mereka juga termasuk dalam bagian keluarga sanjatya dan Evan ingat betul dengan wajah-wajah orang sombong yang merendahkan para budak di jaman itu.


“ Kaian semua akan mati di tangan budak yang kalian siksa Bajingan...” teriak Evan.


Evan dan Jonash menghajar mereka, sama halnya dengan Mahesa, Amora, Leo dan anak buah yang lain. Semuanya berjuang melawan anak buah yang semakin bertambah sampai membuat Mahesa ragu kalau mereka bisa menang.


“sangat banyak, apa yang harus kita lakukan?” teriak Mahesa.


“ Cihh.. sialan!" umpat Evan.


“ Amora cari Nadira!” teriak pria itu.


Dia hanya setia pada Evan bukan pada istrinya.


“ Amora...”


“ Maaf tuan, saya tidak bisa...” tegas Amora.


Evan benar benar kesal, tadi dia masih melihat istrinya turun dari jendela lantai dua, tetapi sekarang gadis itu tak terlihat sama sekali.


“ Sial... Biar aku yang cari...” teriak Mahesa.


Pria itu berlari ke sembarang arah untuk mencari keberadaan nadira .


Evan mendengus kesal. Amarahnya sudah melewati batas maksimum,” para manusia rendahan, kalian mencari kematian kalian sendiri!!” teriak Evan .


Dia mengambil pedang yang terletak di atas tanah dan membalas serangan mereka tak peduli jika dia harus memenggal kepala orang-orang itu.


Pertempuran yang sengit terjadi.


Namun isi kepala Evan sepenuhnya adalah Nadira yang tak kunjung terlihat.

__ADS_1


Ternyata gadis itu sedang berlari menuju ruang tahanan, setahunya menurut infromasi Revina mantan istri Yanto, istri ketiga pria itu di kurung di dalam sana dan di perlakukan seperti hewan liar.


Nadira menatap ke arah tembok pembatas, dia melihat para kaum budak yang jadi korban pembantaian terlah tiba melalui bendera kuning yang dilambaikan di atas tembok pertanda serangan utama akan dilaksanakan.


“ arrkhhhh aku harus cepat, sebelum mereka menembak smeua orang di dalam sini,” batin Nadira.


Dengan cepat gadis itu berlari menuju ruang tahanan yang dia temukan melalui peta bangunan di salah satu ruangan yang dia lewati tadi.


Nadira berlari ke arah ruangan itu, tetapi tak menemukan siapa pun di sana, pintunya terbuka, bau amis yang menyengat di hidung tercium begitu kuat, kotor, lembab, sepertinya tempat itu adalah kandang hewan.


“ Di mana perempuan itu?” batin Nadira .


Di saat yang sama....


“ Nadira apa yang kau lakukan di sini, ayo cepat keluar,” panggil Mahesa.


Nadira terkejut melihat Mahesa masuk dan menemukan tempat itu.


“ bagaimana kau bisa.. ahh tidak sekarang, kita dalam kondisi darurat, segera suruh seluruh anak buah Evan untuk mundur, serangan utama akan dilakukan, jangan sampai kalian juga terkena serangannya,” ucap Nadira.


“ apa maksudmu?” tanya Mahesa.


“ Para anak dari kaum budak melakukan serangan pembalasan dendam hari ini, mereka akan menggunakan panah beracun, kita harus perintahkan smeua orang untuk mundur,” jelas Nadira.


“ Astaga, kenapa tidak bilang?” kesal Mahesa yang langsung menghubungi semua orang melalui ear phone yang terhubung pada setiap tim.


“ Semuanya mundur, red flag... red flag, mundur dari lapangan dan tutup gerbang...” titah pria itu.


“ Ayo keluar, di sini tidak aman, Evan bisa gila karena mu,” ucap Mahesa.


“ Tunggu kak, aku mencari seorang perempuan yang dikurung di sini, “ jelas Nadira.


Mahesa menatap tempat itu,” sepertinya sudah lepas, sebaiknya kita cepat, ada bom di tempat ini, mereka bisa meledakkannya kapan pun, “ jelas Mahesa.


“ ahhh baiklah,”


Mereka berdua berlari dari sana, Nadira masih menatap ruangan itu dengan tatapan sendu, berharap perempuan itu tetap selamat.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan


__ADS_2