
Suasana hening sejenak menguasai ruangan luas bernuansa maskulin yang baru saja dibuat gaduh oleh dua manusia laknat yang saling kejar kejaran. Jika Leo sudah bisa mereka maklumi tetapi kali ini sepertinya orang yang harus mereka maklumi bertambah satu lagi. Akankah para pria tampan dengan pesona masing-masing ini sanggup memaklumi kegilaan dua anak manusia pembawa bencana itu?
“ Evan, ka... kau baik-baik saja?” Mahesa dengan cepat berlari dan mendekati pria itu, dia panik saat melihat Evan yang hanya diam tanpa mengatakan apa pun. Artinya, dia siap untuk membunuh orang saat ini.
“ Ya ampun kalau si iblis ini diam begini dia pasti akan membunuh gadis tadi, lagian si Leo ada ada saja, sudah tahu Evan benci dengan hal-hal seperti itu masih saja cari kesempatan, dasar manusia gila...” Mahesa menggerutu di dalam hatinya sendiri. Sedangkan Jonash masih melongo melihat apa yang baru saja terjadi.
“ Ya ampun, Evan sudah tidak normal...” gumam pria itu dengan mata melotot yang hampir saja terlepas dari kedua kelopak matanya.
“ Arrhhh dia memang jadi tidak normal, ekspresi apa tadi itu?” batin Mahesa.
“ kurasa dia akan segera mengejar gadis tadi, kasihan sekali, padahal masih muda tapi akan segera mati di tangan Evan,” Jonash masih bergelut dengan pikirannya hingga matanya bertemu dengan mata Mahesa yang juga sedang melamun.
“ benar, dia akan membunuhnya, gadis itu minimal akan digantung, maksimal....” Mahesa menatap Jonash seolah sedang berbicara denagn pria itu dengan jalur telepati bukan telegram.
“ Di kuliti hidup-hidp lalu diberikan pada si putih....” Jonash menyambung dalam pikirannya.
“ kasihannya......”
Jonash dan Mahes sama-sama mengarang cerita yang mungkin akan terjadi pada Nadira sampai tidak sadar kalau Evan sudah berdiri dan bersiap pergi keluar.
“ Apa kalian akan terus melamun seperti itu? Tidak lanjut bekerja? Jonash? Mahesa?” suara Evan yang berat dan sedikit serak membuat keduanya tersadar dari lamunan konyol mereka berdua.
“ Ehhh.. ba.. baiklah, bekerja, lanjut bekerja,” ucap mereka berdua sambil saling melirik tak berani menatap wajah Evan untuk membaca ekspresi pria itu.
Evan mendengus kesal, dia mengambil kunci mobil bersama ponsel dan dompetnya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu tanpa memakai jaketnya.
“ mampus... mampus... mampuss.....” Mahesa dan Jonash saling menatap satu sama lain, membayangkan apa yang akan terjadi pada Nadira jika sampai Evan dibuat marah.
"Ini semua karena ulah Leo, dia marah!!!"
Evan meninggalkan ruangannya di mana dua anak Adam tengah berdiam diri di dalam sana sambil memikirkan akan apa yang selanjutnya terjadi pada sang anak dara yang akan kehilangan nyawanya di tangan sang Mafia kejam berdarah dingin.
Membayangkannya saja sudah membuat mereka berdua bergidik ngeri. Sama halnya dengan si pirang Leo yang sedang berlari mengeliling perusahaan, di saat yang sama dia sadar kalau dirinya telah berbuat kesalahan
"Dia pasti akan membunuh gadis itu, ck... ck..... ck.... kasihan sekali nasibmu jodoh masa depan," gumam Leo sambil berlari dengan penampilannya yang acak-acakan, melewati semua karyawan tanpa peduli kalau mereka bergidik ngeri saat melihat penampilan Leo yang sangat berantakan.
"Hei orang sinting kemari kau!!!!!" Pekikan Nadira yang sedang memegang kemoceng terdengar melengking di sepanjang koridor lantai itu.
"Grhhhh.... Tidak akan ku biarkan kau sampai lepas!!!!" Geram Nadira.
__ADS_1
Gadis itu berlari sekencang-kencangnya," Aaawaaaass......." teriaknya sambil menerjang dengan cepat ke arah Leo berlari.
"Mampus gawat, tidak ku sangka ada cheetah di perusahaan Ini, setahun tidak kembali, begitu banyak perubahan, bagaimana bisa mereka mempekerjakan seorang manusia Chetah... Arrhgggggg.... Nggak Evan nggak gadis masa depan sama sama gila... Siapa pun tolong aku!!!!" Pekik Leo dengan langkah kaki sekencang-kencangnya menghindari sang cheetah yang sedang mengejarnya di belakang sana.
Sementara itu, Nadira terus berlari dengan wajah kesal dan marah, toh besok hari terakhir nya, tak peduli dengan ucapan para karyawan dia akan menghajar pria bajingan yang membuatnya kehangan ciuman pertamanya.
" Awas kau nanti!!!" Geram gadis cantik itu.
Hingga saat dia sedang berlari, di depannya ada dua perempuan yang sedang berjalan, mereka adalah manager pemasaran divisi A yang terkenal angkuh dan sombong tengah berjalan dengan rekannya dari divisi promosi tim C yang sama sombongnya.
"Nadira awas!!!" Teriak rekannya yang melihat dia berlari bak cheetah, karena kalau sampai terlibat masalah dengan kedua perempuan itu, Nadira atau siapa pun itu pasti akan tamat hari itu juga.
" Ya ampun itu Ibu Lika dan Ibu Susi, bisa dipermalukan Nadira kalau kena masalah dengan mereka!!"
"Gak mau tahu deh, lebih baik kita pergi, mereka itu sangat angkuh, aku heran kenapa Presdir belum memecat orang-orang sombong ini!"
Para karyawan yang berada di lorong itu langsung meninggalkan tempat setelah melihat Lika dan Susi, dua perempuan sombong yang akan segera mendapatkan malapetaka.
Mereka berdua berjalan sambil bergosip ria, sembari menggenggam mangkuk kopi dingin mereka.
"Awaaasss...." Pekik Nadira tetapi kedua perempuan itu seolah tuli dan tidak peduli dengan teriakan manusia Tarzan yang sedang berlari kencang di depannya.
Brukkk....
Syyuuuunbbgggg......crasshhhh
Gadis itu menabrak keduanya hingga mereka bertiga terjatuh ke lantai dan kopi yang mereka pegang terjatuh membasahi pakaian ketiganya. Jadilah Nadira, Lika dan Susi mandi kopi dingin di siang bolong.
"Awhhhh...sakit ....." Gadis itu mendesis kesakitan karena terpleset.
"BERANINYA KAU PEGAWAI RENDAHAN!!!" Lika dan Susi berteriak histeris sambil bangkit berdiri dan dengan sengaja menginjak tangan Nadira dengan sepatu heels mereka yang runcing.
Plakkk .
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Nadira dan berhasil melukai wajah gadis itu.
"Awhhhhh... Sakit tau, kenapa di pukul, kau pikir ini muka mamak kau!!!" Teriak Nadira sambil menatap Susi yang menampar wajahnya.
"TANGANKU !!" teriak Nadira lagi.
__ADS_1
"Beraninya kau mengotori pakaianku, dasar pegawai rendahan!!!!" Ejek Lika sambil mencengkram wajah Nadira dengan tangannya dan menatap gadis itu dengan tajam.
Matanya menelisik penampilan Nadira,"sialan bagaimana bisa ada perempuan secantik ini tanpa riasan!" Umpatnya di dalam hati saat melihat wajah segar dan sehat gadis itu, pipinya yang kemerahan membuatnya seolah memakai blush on, bibirnya yang merah muda tanpa polesan lipstik dan kulit nya yang putih bersih tanpa cacat membuat Lika insecure dengan dirinya sendiri.
"Kan aku sudah bilang awas, kalian yang tuli!!!" Kesal gadis itu sambil menepis tangan Lika dan mendorong perempuan yang menginjak kakinya itu.
Brukkk...
Lika terjatuh ke atas lantai ," beraninya kau mendorong Lika, karirmu bisa tamat, dasar perempuan hina!!" Pekik Susi sambil mengayunkan tangannya hendak memukul Nadira dan...
Plakkk....
Nadira dengan cepat menarik Lika dan malah wajah perempuan itu yang di Tampar oleh Susi.
"Susi wajahku!!
"Bwahahahhahaha.... " Nadira tertawa terbahak-bahak sambil bangkit berdiri dan....
Brukkk...
Sekali lagi dia mendorong Susi sampai perempuan itu terjerembab ke atas lantai dengan wajah membentur lantai.
"Arrkhhhhhh sialan!!!!" Pekik Susi geram.
"Bwahahhaa...Rasakan itu wleekkk.... Dasar Mak lampir tepung kanji, bedak tebal kayak semen putih wleekkk!!! Wahahahahahh...."Nadira berlari sekuat tenaga, dia mempertaruhkan seluruh hari terakhir nya di kantor itu untuk membuat kekacauan.
"Whahahahaha aku tidak peduli, ini hari terakhir ku, aku harus meninggalkan kesan yang bagus ahhahaha....." Seloroh gadis itu sambil tertawa dan melompat kesana kemari.
Di sudut lorong, tampak dua pria tampan tengah berdiri dengan tatapan berbeda, yang satu sudah hampir pingsan yang satunya seolah tak terusik sama sekali.
"Ya ampun, aku salah pilih lawan!" Celetuk Leo sambil menatap tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia melirik Evan yang hanya berdiri dan diam bak robot.
"Hihihi.... Waktunya kabuuurr....."
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen status