
Rumah sakit,
Leo mendesis kesakitan sambil menekan lengannya yang sedikit berdenyut. Pria itu baru saja keluar dari ruang istirahat setelah mendonorkan darahnya.
Leo berjalan pelas sambil menatap ke kanan dan kiri. Dia telah membuat kekacauan yang menyebabkan dirinya terkena masalah yang lebih besar.
Beberapa jam yang lalu, karena dikuasai dengan kemarahan, Leo tanpa pikir panjang menusuk perut Nadira tepat di bagian vitalnya dan menyebabkan gadis itu harus kehilangan banyak darah.
Nadira langsung di larikan ke rumah sakit, di bawa oleh Jonash, Mahesa, Evan, dan Leo serta Chiko sahabat Nadira yang tetap menunggu di ruang tunggu bersama teman-teman Evan yang lain sementara Nadira dan Evan di tangani oleh pihak medis.
Namun Nadira mengalami kekurangan darah dan ternyata stok darah rumah sakit tidak ada yang sesuai dengan jenis golongan darah langka yang dimiliki oleh Nadira. Dia mengalami penurunan jumlah darah yang drastis dan berada dalam kondisi darurat.
Nadira tidak akan selamat jika tidak segera menemukan pendonor dengan jenis golongan darah yang sama. Chiko yang berada di sana menjelaskan kalau Nadira bahkan tidak kenal dengan orang tua kandungnya, bagaimana bisa dia menghubungi keluarga kandung yang bahkan tidak pernah nadir ketahui keberadaannya.
Jenis golongan darah itu sangat langka dan biasanya hanya didapatkan dari saudara sedarah atau orang tua. Begitu mendengar Nadira korban penusukan Leo butuh donor darah berjenis langka tersebut, jonash dan Mahesa yang tanggap dengan jenis darah teman mereka Leo langsung menyuruh pria itu masuk ke dalam ruangan pendonor darah .
Dan betapa terkejutnya Leo saat mengetahui jenis darah langka yang dimiliki oleh Nadira.
Leo yang menusuk, ,dia juga yang mendonorkan darahnya atas ancaman dari Evan, Jonash, Mahesa bahkan Chiko yang walaupun wajahnya terlihat imut, tetapi karakternya dingin dan menyeramkan pada orang lain.
Leo berjalan sambil menggaruk-garuk kepalanya menuju ruang tunggu dimana yang lain berada.
Bugggh....
Satu pukulan mendarat di wajah Leonardo. Chiko, pria bertubuh gemuk dan tinggi itu memukul wajah Leo sampai dia terjerembap ke atas lantai dengan sudut bibir terluka.
“ beraninya kau melukai Nadira bajingan sialan, kau menusuknya, mau ku putus kepalamu sekarang bangsat....” Chiko benar-benar marah. Tidak ada yang menyangka kalau dia akan semarah itu dan sampai menumbangkan Leo.
Leo mengusap wajahnya, dia menatap mereka dengan wajah kesal,” Ck... berisik,” kesal pria itu sambil bangkit berdiri dan pergi dari sana dengan wajah kesal.
“ Leo kaumau ke mana?” teriak Mahesa tetapi hanya di balas dengan lambaian tangan oleh anak tunggal kaya raya pengangguran yang sering berbuat seenaknya itu.
__ADS_1
Chiko mendengus kesal, menatap tajam kepergian orang itu,” bagaimana bisa Nadira berhubungan dengan orang-orang berengsek ini,” geram pria itu sambil mengepalkan kedua tangannya.
“heh gendut, jangan sembarangan bicaraku....” ketus Mahesa yang tidak suka dengan sikap Chiko yang ternyata keras dan penentang.
Mereka bertiga menunggu di depan ruang tunggu khusus untuk keluarga pasien, di saat yang sama, Eka berlari dengan cepat dengan tas nya yang terbang ke sana kemari . gadis itu terlihat panik, rambutnya acak-acakan dan lututnya terluka.
Saking paniknya, Eka berlari terlalu kencang dan malah tersandung sampai melukai kakinya. Dia datang sendirian setelah mengamankan Revina begitu dia mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Nadira sahabatnya.
“ Chiko di mana Nanadku.... di mana dia, bajingan setan mana yang menusuk Nadiraku....” teriak Eka.
Mereka semua menoleh ke arah kedatangan gadis itu, Jonash berdiri tegap berbalik dan menatap kedatangan Eka, rasanya suara itu sangat familiar di telinganya.
Seorang gadis cantik sedang berlari ke arahnya seolah sedang tersenyum, rambutnya yang panjang melambai lambai ke sana kemari dan langkahnya yang indah bak bunga yang sedang menari-nari di mata jonash hingga tiba-tiba...
Brukkk...
“ AWAS... KAU PUNYA MATA TIDAK... grrhhhhh...” Eka menggertak Jonash yang menghalangi jalannya dan mendorong pria yang sedang melamun itu. Melamun menatap Eka yang sangat cantik dalam balutan pakaian kerjanya yang cantik dan menawan.
Chiko menggenggam tangan Eka dan menatapnya,” tenanglah, semua baik-baik saja, Nadira sudah ditangani, aku tidak berani berasumsi sebelum mendengar penjelasan mereka ini. Kita tunggu saja, jika sampai Nadira dalam bahaya, aku akan pastikan bajingan yang menusuknya mendekam di penjara,” ucap Chiko dengan nada sarkasnya.
Mahesa menatap mereka, lebih tepatnya menatap Chiko yang terlihat sangat maskulin sekalipun bobot tubuhnya lebih besar dari yang lainnya, tetapi dia terlihat keren ketika membela teman temannya.
“ duduklah dahulu, kau terluka, apa terjatuh lagi? Dasar ceroboh, rumah sampai penuh dengan plester, belum lagi di apartemenku, kau ini bukan plastik anti pecah, lihat ini, kakimu sampai lecet dasar bodoh,” kesal pria itu sambil menyentil kening Eka .
“ Huhh... aku panik, aku buru-buru jadinya lari.. ya maaf... aku takut dia kenapa-kenapa,” ucap Eka sambil menangis dan mengerucutkan bibirnya.
Chiko mengusap air mata gadis itu,” sudah jangan menangis,, diam di sini biar ku ambilkan obat,” ucapnya sambil beranjak dari sana.
Kedua orang itu membuat Jonash dan Mahesa terdiam di tempat. Mahesa menatap Chiko dengan tatapan misterius sedang Jonash sepertinya sedang memasuki masa galau saat melihat kedekatan Eka dengan Chiko yang jelas terlihat lebih dari seorang teman.
“ Sial... sial... apa kau menyukai pacar orang? Ini benar-benar gila, tidak boleh, aku tidak boleh begini,” Jonash berbalik, dia tak tahan, jantungnya berdebar kencang dan dia merasa cemburu, “ ahhhh jatuh cinta pada pandangan pertama tidak pernah berakhir baik bagiku, sialan,” umpat pria itu merutuki dirinya yang jatuh cinta semudah itu pada sembarang wanita.
__ADS_1
Jonash beranjak dari sana sambil mengacak acak wajahnya,” Mahesa tunggu di sini, aku akan mengurus administrasi,” ucapnya sambil berjalan cepat.
Suasana hening memenuhi ruangan itu, Mahesa dan Eka sama-sama diam. Keduanya tampak hening tak mengucapkan sepatah kata pun . Sama-sama terlarut dalam pikirannya, Mahesa dan Eka melamun memikirkan banyak topik di kepala mereka masing-masing.
Hingga Eka membuka pembicaraan,
“ Apa yang terjadi di rumah itu? Kenapa Nadira sampai tertusuk?” tanya Eka seraya menatap mahesa. Pria tampan berwajah khas Eropa itu menoleh dan membalas tatapan Eka,” Salah satu rekan kami marah karena ada kesalahpahaman antara dia dengan Evan, Leo berpikir kalau karena perempuan itu lah Evan hampir mati, kami belum sempat membahasnya,” jelas Mahesa dengan lembut.
“Ahhhh sial, seharus...
Belum selesai Eka melanjutkan kata katanya, Dokter yang menangani Nadira keluar bersamaan dengan itu dokter yang menangani Evan juga telah selesai melaksanakan tugasnya.
“ Bagaimana keadaan Evan dok?”
“’ Bagaimana keadaan Nadira dok?”
Tanya mereka berdua bersamaan.
“ Kami akan memindahkan pasien terlebih dahulu ke ruang perawatan, Tuan Evan akan baik-baik saja, beliau meminta saya menyatukan ruangannya dengan Nona yang tertusuk, kami akan menangani mereka dahulu, untuk masalah keadaan mereka, tuan Evan meminta ini di rahasiakan sampai dia bangun,” jelas dokter yang menangani Evan .
“Apa terjadi sesuatu yang serius?” tanya Mahesa sambil menggenggam tangan dokter laki-laki itu, sebuah cara berkomunikasi yang agak aneh menurut Eka,” pria ini aneh,” batin gadis itu.
“ Yang bisa saya sampaikan, tuan Evan kehilangan penglihatannya, “
“ Ti.. tidak mungkin!!!”
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen