
Ku pikir aku akan mati, sampai aku mendengar suara itu, suara gadis yang terus memenuhi kepalaku. Suara perempuan beraroma sitrus dan mawar yang sangat menenangkan itu terdengar di telingaku.
Aku hampir kehilangan kesempatan, aku lagi-lagi dengan tongkat besi ini, ingin mengakhiri semuanya, mengakhiri hidupku yang tidak berguna. Aku mungkin menghajar mereka dengan tanganku sendiri, aku mungkin membakar mereka dengan api kemarahan, aku mungkin menyiram mereka dengan air kebencian dan mengguyur mereka dengan hujan tusukan, tetapi semua itu sia-sia.
Tidak ada satu pun yang benar-benar menyembuhkan luka ku.
“ Kau hanya seorang budak, sekali budak akan selamanya menjadi budak sama dengan kedua orangtuamu yang lebih rendah dari anjing itu, aku akan menunjukkan kepada perempuan itu, siapa dirimu yang sebenarnya Evan, anak dari pembunuh ibuku, anak dari manusia-manusia yang tidak pantas untuk hidup....”
Ucapan Yanto, pria itu.. ahhh aku tidak mengenalinya sebelumnya. Kemampuanku mengenali orang semakin menurun, apa ini ada hubungannya dengan trauma itu?
Kata katanya membuatku marah, dia menyekapku dan pada saat yang tepat dia ingin membunuhku di depan Nadira yang tidak tahu apa-apa.
Aku tidak bisa melakukan apa pun, aku sulit mengenal mereka, aku takut... tetapi suara itu memberiku arah untuk berlari.
Saat aku berpikir untuk mengakhiri hidupku, gadis ini datang sama seperti ketika aku dia siram tanpa sengaja. Saat itu aku akan mengakhiri hidupku dengan damai tetapi dia membawa kisah baru bagi diriku.
POV end
Evan berjalan sempoyongan dengan tubuhnya yang babak belur. Dengan sebuah pipa besi berujung tajam di genggamannya dia berjalan tanpa arah.
Tangannya menggenggam erat besi itu, dia menoleh, samar-samar penglihatannya mulai jelas, mungkin efek pukulan keras itu. Ujung yang tajam, “ ahh... akan sangat sempurna jika benda ini tertancap di kepalaku, maka semua akan berakhir, aku akan dianggap mati karena kalah bertarung dan mereka yang kutinggalkan tidak akan bersedih,” gumam pria yang tampaknya telah kehilangan kewarasannya.
Dia menatap benda itu, keyakinannya sudah bulat, di saat dia akan menusuk lehernya, suara perempuan itu menghentikan dirinya.
“ Evaaann.... hiks hiks hiks... maafkan aku.....” Nadira menghamburkan pelukannya pada Evan yang bertelanjang dada. Dia memeluk Evan dengan begitu erat, menumpahkan ketakutan dan kesedihannya. Menangis sesenggukan sambil memastikan bahwa Evan baik-baik saja.
Nadira menengadah, dia menatap Evan yang juga menatap ke arahnya. Dengan jelas Nadira melihat wajah Evan yang syok, tangannya yang menggantung memegang pipa besi seolah ingin menusuk dirinya sendiri.
Nadira menangis dengan tubuh gemetaran, dengan berani gadis itu menarik paksa pipa besi berujung runcing itu dan membuangnya ke sembarang arah.
__ADS_1
“ Apa yang kau coba lakukan bodoh... arrkhhhhh apa kau mau mati lagi... hiks hiks hika... au takut.. aku takut kau... ahhhh bagaimana keadaanmu Evan... bagaimana keadaanmu, kau terluka parah lagi hiks hiks hiks.....”Nadira menangkupkan kedua tangannya di wajah pria itu, dia menatap Evan dengan uraian air mata yang begitu deras.
“ Maaf kau tidak menjagamu dengan baik, maafkan aku... ini salahku, kau dijadikan sasaran olehnya hiks hiks,.....”
“ Na... Nadira.....” Evan menatap gadis itu. Semakin lama penglihatan Evan semakin jelas, semakin lama wajah Nadira yang begitu sedih terlihat jelas di mata Evan. Dia tertegun, ini kali pertama ada orang yang menangisinya, mengkhawatirkan dirinya sampai seperti itu.
“ Kau mengkhawatirkan ku? Ka... kau peduli padaku?” tanya pria itu.
“ Pertanyaan bodoh apa itu....” kesal Nadira.
Evan membalas pelukan Nadira, dia memeluk gadis itu diikuti dengan buliran air mata yang menetes satu persatu dari kedua pelupuk matanya. Evan menemukan tempatnya, hatinya yang kosong, hatinya yang kesepian seolah menemukan tempat baru yang hangat dan aman baginya.
Di saat dia akan mengakhiri hidupnya, untuk kedua kali, Nadira datang dan mengatakan dia peduli padanya.
Kali pertama, saat Evan akan pulang dari Perusahaan, dia berada dalam kondisi terburuk tetapi menyembunyikan semuanya dengan obat penenang. Awalnya dia berpikir, kembali ke tanah kelahirannya akan membuatnya bisa menghadapi kematian dan traumanya. Tetapi selama satu minggu di sana, dia merasa seperti di teror, sangat tersiksa, dia menghabiskan hari harinya hanya untuk minum alkohol, tergantung pada obat penenang dan obat tidur, tak sekalipun dia bisa terlelap dengan baik.
“ Bagaimana keadaanmu? Arrhkkk si bajingan sialan itu memukulmu lagi ya? Dia... beraninya dia memukul pria buta, apa dia tidak punya hati, lihat luka di kepalamu semakin parah Evan...” Nadira kembali mengoceh, dia mengomel dan mengutarakan isi pikirannya secara blak-blakan sambil memeluk Evan dan memeriksa kondisi pria itu.
Evan memeluk Nadira, tubuh Nadira yang kecil seolah tenggelam dalam pelukan pria bertubuh bidang dan berotot itu. Sebuah senyuman tipis tergambar di wajah Evan saat memeluk Nadira. Dia merasa bahagia.
Mahesa berdiri di seberang sana, menatap Evan dan Nadira yang berpelukan.
Dengan mulut menganga lebar dan hampir saja di masuki lalat hijau yang besar pria itu melongo menatap Evan yang untuk pertama kalinya berpelukan dengan seorang perempuan selain Eugene.
“ What The h*ll... arrrhhhkkkk dunia akan kiamat....” teriak pria itu histeris sambil berlari mengelilingi tempat itu dengan wajah konyolnya.
“ JONASHHHH......LELELELELEEEOOOOOOOOO.... WAARRKKKKHHHHHH EVAN TERNYAT PENYUKA WANITAAAA.......” teriakan Mahesa yang menggelegar dengan kalimat anehnya itu sontak membuat dua pria yang berjalan ke arah belakang rumah itu berlari sekuat tenang dengan wajah terkejut saat mendengar teriakan Mahesa.
“Kupikir selama ini dia kaum pelangi hiks... temanku ternyata normal.. wahahhahahaa....” Mahesa terharu seraya mengusap air matanya menatap Eva berhasil memeluk seorang perempuan lain.
__ADS_1
“ Apa yang kau katakan tadi Bule kesasar? Evan penyuka wanita? Bagaimana bisa..?” Jonash terbelalak, tak yakin dengan ucapan Mahesa.
“ lihat itu Jonash, kau sudah tidak punya kesempatan, Evan itu normal, bukan kau rainbow seperti yang kau ucapkan.. arrhhhhhkkk syukurlah dia normal...” celetuk Mahesa sambil menangis terharu seperti seorang nenek yang bangga dengan cucunya.
Jonash memutar malas kedua bola matanya, tangannya terangkat ke atas dan....
PLETK...
Kepala Mahesa di gebuk, dia menatap kesal ke arah pria itu,” kapan aku bilang dia seorang gay, kau sudah tuli ya, dasar berengsek...”umpat pria itu.
Mahesa hanya tertawa cekikikan melihat wajah kesal Jonash. Dia merangkul bahu pria itu dan berdiri menatap Evan.
“ Tidak boleh, dia tidak boleh dekat dengan perempuan sialan itu, gara gara dia, Evan mengalami semua ini, hanya karena dia, Evan jatuh dan hilang selama seminggu, tak akan ku biarkan dia memanfaatkan Evan...” Leo tampak sangat marah. Wajahnya merah padam dan suara gertakan giginya terdengar begitu jelas.
“ aku akan membunuhmu hari, aku akan membunuh mu perempuan sialan...” geram Leo sambil mengambil satu bilah pisau yang sangat tajam dan runcing, lalu berlari ke arah Nadira dengan mengangkat pisau itu.
“ lah Leonardo kau kerasukan setan apa ? apa yang mau kau lakukan bodoh....
Crakkkk... jleeebb...
“ NADIRAA!!!”
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1