Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#21


__ADS_3

Nadira ditarik paksa ke luar oleh Pak Yanto, sedangkan Mahesa keluar dari jendela kamar itu atas rencana Nadira dan menunggu gilirannya,” gila ya perempuan itu? Bagaimana bisa dia memikirkan cara ini?” batin Mahesa .


“ Sisanya kita lihat situasi, kau bisa bertarung bukan? Yang terpenting Evan keluar dulu dari dalam gudang itu, sisanya kita lihat nanti,” ucap Nadira.


“ Sebenarnya apa dia punya rencana?” pikir Mahesa.


Sementara itu, Nadira dibawa paksa oleh Pak Yanto tangannya di tarik dengan kasar oleh pria itu, tubuh Nadira di dorong dengan paksa dan di bawa ke halaman lebar di samping rumah Pak Yanto.


“ Lihatlah hasil dari perbuatanmu, kau akan menyaksikan pria itu mati di depan matamu, kau pikir bisa bermain-main dengan ku?” geram pak Yanto sambil mendorong Nadira ke tengah lapangan.


Tak tampak Chiko dan anak buahnya di sana, Nadira menatap lapangan itu dengan tatapan nanar, situasi tampak aman, belum ada tanda-tanda perlawanan.


“ Bawa pria itu kesini!" teriak Yanto yang sedang dalam mode banteng yang sedang mengamuk. Wajahnya merah padam, dia benar-benar marah saat menyadari dua anak buahnya yang mencurigakan, tidak pernah dia memiliki anak buah bertubuh besar seperti itu, dan benar saja, ternyata mereka mencoba untuk membekap pak Yanto.


Pria itu juga hebat dalam bertarung dan tak bisa diremehkan tetapi Nadira labih mencurigakan lagi.


“ Mau apa kau, bukannya kau bilang akan melepaskan dia.. kenapa kau menyakitinya bajingan!!" teriak Nadira.


Plakkk...


“ Diamlah dan perhatikan, kita akan menikah setelah pria itu mati di depanmu, aku tidak bisa percaya denganmu Nadira, kau perempuan picik, aku tahu kau bicara dengan Revina, dia sudah kusadap, apa pun yang kau bicarakan dengannya dan rencananya pasti akan terdengar padaku, bodoh... kau tidak tahu sedang melawan siapa,” ucap pak yanto.


Nadira hanya diam,” aku tahu itu bodoh, tapi anak buah yang kau lumpuhkan itu bukan bagian rencanaku, sepertinya mereka anak buah pria mata biru tadi,” batin Nadira yang menyadari kalau anak buah yang dilumpuhkan Pak Yanto bukanlah anak buah yang dibawa oleh Chiko dan Eka, mereka orang yang berbeda.


Pak Yanto duduk di kursi kebesarannya di tengah lapangan dengan Nadira duduk berlutut di sisinya.


Mereka terus menunggu kedatangan Evan yang rasanya terlalu lama dari waktu yang di harapkan,” hei di mana pria itu kenapa lama sekali kalian membawanya!” teriak pak Yanto mulai kesal. Jelas bahwa lokasi itu hanya diketahui oleh dia dan seisi rumah itu, tidak ada yang tahu ada gudang di belakang rumahnya, dan memasukinya saja harus pakai ID card yang dipakai membuka pintu.


“ Sialan, kenapa lama sekali,” gumamnya sedangkan Nadira masih terus mengamati,” apa yag terjadi? Kenapa lama sekali?” batin Nadira sambil menatap ke kiri dan kanan.


Tiba-tiba salah satu anak buah pria itu berlari dengan wajah ketakutan, bersimbah darah dengan tubuhnya yang penuh luka seolah baru sajdi cabik cabik oleh binatang buas.

__ADS_1


Chiko dan anak buahnya yang bersiap di tempat bahkan sampai terkejut saat melihat pria itu berlari dari belakang rumah dengan kondisi tubuh babak belur.


“ ya ampun, apa yang terjadi padanya, dia seperti baru di hajar oleh binatang buas, tubuhnya tecabik cabik sangat mengerikan,” ucap Chiko tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.


Nadira menatap orang itu sama halnya dnegan pak Yanto yang dibuat terbelalak melihat anak buahnya berlari dengan bersimbah darah.


“ pak.. pakk... pria itu monster, pria itu monster gilaaa.... lari atau kalian semua akan mati.. arrkrkkhhhh........” teriak pria itu histeris dengan tubuh penuh luka.


Bersamaan dengan itu, seorang yang lain berlari dengan api yang membakar tubuhnya, sambil berteriak histeris dia berlari ketakutan dengan apa yang baru saja dia alami. Evan bukan tandingan mereka, Evan bukan lawan mereka, menyekap Evan sama dengan menyerahkan nyawa mereka pada psikopat paling keji di muka bumi ini.


“ Apa apaan ini, cepat kalian periksa apa yang baru saja terjadi!!” teriak Pak Yanto panik saat melihat anak buahnya tumbang satu persatu dengan tubuh babak belur, ini pertama kali, dia tidak pernah menyangka kalau anak buahnya akan berhasil di tumbangkan.


“ Kau pasti sengaja melakukan ini kan Nadira, kau pasti sengaja menjebak ku bukan, kau ingin menghancurkan ku kan? Pria itu tidak buta kan? Kalau dia buta bagaimana bisa dia melakukan hal sekeji ini pada anak buahku jal4ng sialan!!" geram Pak Yanto sambil mencengkram kuat wajah Nadira.


Tiba-tiba...


Syuuuttttt....... tak....


“ Ini semua karena ulahmu bangsat!!” pekik Pak Yanto hendak memukul Nadira tetapi gadis itu langsung menarik kaki yanto dan...


Brukkkkk....


Yanto terjatuh ke atas tanah hanya dengan sekali tarik. Nadira menggunakan bobot tubuh Yanto yang besar dan membuatnya terjatuh ke bawah,” kau pikir aku mau menikah denganmu bodoh, kau terlalu tolol, biar ku beritahu aku ikut kesini hanya untuk memancingmu melakukan ini, cihh.. beraninya kau menyentuh wajahku bangsat!!” ucap Nadira sambil melayangkan tendangan ke arah bagian pribadi Yanto.


Bugghhhh.... Krakkk...


Ada yang pecah tapi bukan telor, rasanya menyengat seperti disambar listrik.


“ arrrkrhhhhhhhh.........”


Nadira berlari sekuat tenaga, kekacauan besar terjadi, anak buah pak Yanto keluar dan menyerang mereka, tetapi Chiko dan pasukannya sudah bersiap dan membalas serangan mereka.

__ADS_1


Anak panah datang entah dari mana, tetapi tampaknya Mahesa telah menghubungi teman temannya untuk misi ini.


Di luar pagar rumah, Leo dan Jonash memimpin anak buah Boile untuk menembakkan anak panah ke dalam rumah itu, membunuh siapa saja yang terlibat dengan kejadian ini.


“ bunuh semuanya, bahan jika kalian melihat perempuan itu, bunuh langsung dia!!" teriak Leo yang menyimpan dendam terhadap Nadira.


Sangat kacau, Nadira sendiri berlari menuju ke arah belakang rumah sambil menghindar dari anak panah.


Mahesa keluar dari persembunyiannya dan mengejar Yanto yang meringsut kesakitan karena ulah Nadira.


Gadis itu berlari sekuat tenaga, “ Evaaaan..... Evan di mana kau... Evaaann!!!” pekik Nadira sambil menangis mencari keberadaan Evan.


Dia berlari ke belakang melihat kesana kemari, kakacauan besar terjadi di sana,


“ Evan!!” pekik Nadira berharap dia bisa melihat Evan, ucapan Yanto tentang kaum budak membuat Nadira kehilangan fokusnya, “ dia... dia memang berhubungan dengan keluarga sialan itu, dia.. harusnya mati di tanganku tadi, tapi situasi tidak memungkinkan, Evan.. aku harus mencarinya, dia tidak boleh bertemu dengan mereka, “ batin Nadira.


“ Evan di mana kau!!" teriak Nadira sambil berlari sekuat tenaga. Matanya langsung menangkap sosok Evan yang berdiri dengan tubuh bersimbah darah di depan gudang tidak terpakai itu.


“ E... Evan... ti.. tidak... Evan!!” air mata Nadira tumpah, dia berlari ke arah Evan yang tampak tidak fokus, pria itu berdiri seperti orang kebingungan.


Nadira berlari dan menghamburkan pelukannya ada Evan,” maafkan aku hiks hiks hiks ......” Gadis itu memeluk erat tubuh Evan sambil menangis sesenggukan. Hatinya lega melihat Evan masih selamat, hatinya tenang saat menyaksikan Evan tetap bertahan .


“ Nadira? Ka.. kau kah itu?” tanya Evan dengan suara lirih.


“ Maafkan aku, ini aku, maafkan aku...” ucap Nadira sambil menangis sesenggukan.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2