Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#25


__ADS_3

Nadira dan Evan mendapatkan perawatan intensif selama seminggu penuh di rumah sakit hingga luka-luka di tubuh mereka pulih dengan cepat dan kesehatan keduanya berangsur membaik.


Eka dan Chiko rutin mengunjungi gadis itu di malam hari setelah mereka pulang kerja, bahkan kedua orang tua Nadira turut datang ke rumah sakit untuk mengecek keadaan gadis baik hati yang telah mengubah putri manja mereka menjadi putri yang kuat dan mandiri sampai bisa memimpin sebuah perusahaan besar.


Sama halnya dengan Jonash yang bolak balik kantor dan rumah sakit untuk memastikan keadaan Evan baik-baik saja.


Sedangkan Mahesa juga melakukan pekerjaannya dan dia banyak menjaga di rumah sakit, Leo? Jangan ditanya, sejak kejadian terakhir, dia tidak pernah menampakkan diri di hadapan mereka.


Evan duduk di brankarnya sambil mengusap wajahnya yang masih berbekas luka. Dia duduk di brankarnya yang masih berada di dekat brankar Nadira, sengaja di letakkan berdekatan atas permintaan Evan sendiri. Dia duduk, membuka matanya perlahan-lahan.


Jam menunjukkan pukul 4 pagi, Evan sudah bangun dengan kondisi yang lebih bugar dan sehat, luka lukanya tak separah itu lagi dan kepalanya sudah membaik dari sebelumnya.


Perlahan dia membuka matanya, cahaya remang remang menguasai ruangan itu. Kedua matanya di kedipkan, menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan berbau obat yang dia dan Nadira tempati.


“ Ahhh... kupikir kebutaan ini akan bertahan lama,” ucapnya pelan sambil bangkit berdiri. Kedua matanya menatap Nadira yang sedang terlelap. Gadis itu juga sudah pulih setelah penusukan dadakan yang dilakukan oleh Leo. Evan berdiri, kedua netranya yang hitam pekat menatap wajah cantik Nadira.


Penglihatan pria itu telah kembali, bahkan sejak dibawa ke rumah sakit, penglihatannya sudah berangsur membaik sekalipun masih buram. Tetapi dia menyembunyikan kebenarannya dari semua orang, dia merahasiakan hal ini dengan tujuan rahasia yang dia simpan di dalam hatinya.


Pria itu menyeret kursi dan duduk di samping brankar Nadira yang terlelap dengan tenang. Segurat senyum lembut tergambar di wajahnya yang tampan tetapi masih berbekas luka akibat terseret arus sungai waktu itu.


Tangannya yang kekar mengusap wajah lembut Nadira. Dia sangat suka melihat wajah Nadira yang polos dan lembut itu,” aku diberkahi dengan wajah gadis cerewet nan cantik ini, betapa beruntungnya aku,” gumam Evan sambil menyisihkan rambut Nadira yang mengganggu tidur gadis itu.


Evan menatapnya ,” apa yang akan dia katakan kalau tahu aku sudah bisa melihat?” pikir Evan.

__ADS_1


“ Rasanya akan menyenangkan diperhatikan oleh perempuan cerewet ini, nanti saja, nanti saja ku beritahu kalau aku sudah sembuh,” batin pria itu sambil menatap gadis itu.


Tangannya mengusap wajah lembut Nadira, “ ahhh Leo... kau benar-benar membuat masalah, kenapa kau harus membuat Nadira seperti ini, dasar bajingan tidak berguna, “


Perhatian Nadira selama Evan dan dirinya dirawat di rumah sakit membuat Evan merasa diperhatikan, merasakan bagaimana hidupnya ternyata sangat berharga bagi orang lain, menyaksikan betapa Nadira peduli pada dirinya.


Rasanya sangat familier dengan aroma dan cara bicara gadis itu, wajah itu juga membuatnya teringat dengan gadis yang selama ini dia cari,” gadis itu.. namanya juga Nadira... Na... Nadira.... dia Nadira?“ Evan terdiam, dia menelusuri wajah gadis itu dengan tatapan tak percaya.


“ Nadira? Kenapa aku belum menyadari ini?” pikir pria itu.


Rasa familier dan cara Nadira memperlakukannya sangat dikenai oleh Evan, rasanya dia sangat dekat dengan perempuan itu. Jantung Evan berdebar tak karuan, perlahan dia menyibakkan kaos Nadira dan menatap bahu gadis itu.


Tanda lahir yang sama persis dengan milik gadis yang dia cari selama ini ada di tempat yang sama dengan milik Nadira yang ada di depannya saat ini.


Evan tak percaya dengan apa yang dia lihat, dia benar benar syok saat melihat tanda lahir tersebut. Tak puas melihat tanda lahir di bagian bahunya, Evan menarik kaos Nadira dan melihat pinggang kiri gadis itu , ada tanda lahir lainnya yang terletak di sana.


“ Emhhh.... dasar Abrahamm bodoh, kenapa tidak mengenaliku? Kau masih sama bodohnya, dasar kau ini.... “ Nadira bergumam sambil menggaruk kepalanya.


Evan hanya terdiam dengan tatapan tak percaya, “ aku harus memastikan hal ini,” batin Evan.


Tiba-tiba Nadira terbangun dari tidurnya,” Eggghhhh... hoaaaammmm... Evan? Kenapa duduk di situ? Kenapa bangun? Aku masih mengantuk.... apa kau tidak tidur?” gumam gadis itu sambil menggenggam tangan Evan dan menatap pria itu dengan tatapan sayup.


Evan tersenyum, di mendekatkan dirinya pada Nadira dan menatapnya sambil tersenyum, “ Tidurlah lagi, dasar cerewet,” bisik Evan sambil mengusap wajah Nadira dengan lembut. Jarak mereka terkikis, Evan berada tepat di atas Nadira dengan kedua manik matanya yang menatap gadis itu dengan tenang sekalipun rasa bergejolak di dalam dadanya semakin lama semakin tak tertahankan, seolah dia ingin memeluk perempuan itu lagi dan lagi.

__ADS_1


Nadira tersenyum manis menatap wajah Evan, kedua tangannya terangkat,” aku pasti sedang bermimpi melihat kamu bisa menatapku dengan jelas. Lihat wajahmu yang tampan ini, ahhh kau banyak berubah Abraham Evan Boile, bagaimana bisa kau tidak mengenaliku hmm? Dasar tukang ingkar janji..” celoteh gadis itu sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Evan.


“ Apa kita punya hubungan sedekat itu?” tanya Evan memancing Nadira.


Nadira mengangguk sambil tersenyum,” hu.. um.. aku menunggumu bertahun tahun bodoh, dan aku malah menemukanmu di bandara, tapi kau tidak mengenaliku, ahhhh dasar kau ini, tapi saat bangun nanti aku tidak akan jujur padamu, aku tidak mau kau pergi, hanya kau yang ku punya sekarang,” celetuk gadis itu sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Dia menekan wajah Evan seraya mengacak acak pipi pria itu dengan gemas,” ummm... kangen banget tauuuu... muaahhhh....” gadis itu mengecup pipi Evan sambil tertawa bahagia.


“ Kau pikir ini mimpi ya?” tanya Evan yang terkejut dengan betapa agresifnya Nadira.


“ hu....umm... ini memang mimpi, karena kau tidak mungkin bisa melihat, kedua mata mu kan belum di operasi, hahaha.. menyenangkan melihatmu seperti ini...” celotehnya yang masih berpikir kalau ini adalah mimpi.


“ Tidurlah lagi, masih terlalu pagi untuk bangun saat ini,” ucap Evan sambil memperbaiki selimut gadis itu.


Nadira mengangguk,” hooaammmm aku masih mengantuk... mimpi ini terasa sangat nyata, dasar kau ini.... sampai jumpa lagi Evan, aku sangat merindukanmu teman masa kecilku, hehehe.... aku akan melindungimu aku berjanji, jangan cepat cepat sembuh, aku tidak mau cepat berpisah darimu,” ucap Nadira sambil menutup lagi kedua matanya dan terlelap dalam tidurnya.


Evan hanya diam, tidak tahu harus berkata apa, tetapi dia bahagia, dia sangat bahagia dengan kenyataan ini,” akhirnya aku menemukanmu Dira... akhirnya... maaf, aku hanya takut, terlalu takut untuk mencarimu, “ gumamnya sambil mengusap wajah perempuan itu dengan lembut.


Evan berdiri, dia melangkahkan kakinya seraya melepaskan jarum infus yang terpasang di tangannya. Tatapannya berubah dingin, rahangnya mengeras ,” Mau sampai kapan kau berdiri dan menatap seperti orang bodoh di sana Leonardo? “


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2