Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#24


__ADS_3

Berita tentang Evan membuat semua orang terkejut terutama ketiga sahabat Evan. Mereka benar-benar kaget dengan berita ini, Evan mengalami kebutaan yang sama sekali tidak pernah bisa mereka bayangkan akan dialami oleh sahabat mereka.


Evan telah bangun setelah efek obat itu berakhir, dia duduk di atas brankar sambil menatap Jonash dan Mahesa yang duduk dengan tatapan khawatir di sampingnya.


“ apa kau sungguh tidak bisa melihat Evan?” Mahesa memegang tangan Evan sambil menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Ptass...


Evan menepis tangan pria itu,” hmmm aku tidak bisa melihat,” ucap Evan yang tak senang dengan psical touching yang dilakukan Mahesa terhadap dirinya,” Mahesa Kau... jangan coba-coba...” geram Evan sambil melemparkan tangan Mahesa begitu saja.


“ aku hanya khawatir, kau tidak perlu seperti itu,” ketus Mahesa sambil duduk bersandar dengan wajah kesal.


“ Apa kau benar benar buta? Tapi bagaimana bisa, kami mencarimu selama seminggu penuh tidak menemukan tetapi setelah...


“ sshhhhttt...jangan ucapkan itu sekarang, fokus saja pada kesehatan Nadira, berikan pengobatan yang terbaik untuknya, dan di mana Leo... Pria bajingan itu, di mana dia?” tanya Evan sambil duduk dengan kedua matanya yang tertutup.


“ Di.. dia...” Jonash dan Mahesa saling menatap satu sama lain,” Di mana dia?” tanya Evan dengan nada dinginnya yang berhasil membuat bukan hanya kedua sahabatnya terkejut tetapi juga Eka dan Chiko yang duduk di dekat brankar Nadira. Gadis itu satu ruangan perawatan dengan Evan atas permintaan Evan sebelum dia kehilangan kesadaran karena pengaruh obat.


“ Dia pergi setelah dipukul pria gemuk itu,” jelas Jonash singkat.


“ apa kau tidak tahu aku buta Jonash?” ketus Evan.


“ Ehh ma... maaf tuan, saya lupa, “ jawab Jonash yang kembali ke mode formal, mode yang biasa antara dia dan Evan.


“ Dia pantas mendapatkan itu, si bodoh itu, dia pantas, sangat pantas mendapatkannya,” kesal Evan.


“ Bagaimana keadaan Nadira?” tanya Evan.


“ tadi sempat kekurangan darah karena stok darah langka habis dan jenis golongan darahnya sulit di temukan, tetapi Leo mendonorkan darahnya, kami yang paksa,” jelas Jonash,” tapi setelah bangun Leo malah pergi dari sini dengan wajah kacau,” ucapnya lagi.

__ADS_1


Evan terdiam mendengar itu,” darah langka? Leo dan Nadira? Itu ... apakah mungkin? Secara darah langka milik Leo hanya bisa di dapatkan dari keluarganya , bagaimana Nadira memiliki golongan darah yang sama dengan Leo?” batin Evan yang merasa curiga dengan hal ini.


Di saat yang sama, Nadira membuka matanya, gadis itu meringis kesakitan, wajahnya sedikit pucat, luka di perut tepat berada di bawah hatinya terasa sangat sakit dan berdenyut,” akhhhh... shhh... Evan... Evan di.. dimana... di... di mana dia?” bukannya mengkhawatirkan dirinya, Nadira malah mencari Evan terlebih dahulu.


Mendengar hal itu membuat Evan menoleh ke arah sumber suara. Dia mendengarkan Nadira sambil mengepalkan kedua tangannya,” Nadira, kau bangun...” ucap pria itu.


Nadira terlihat kesakitan, “ Nad.. diam dulu jangan banyak gerak, pria seram itu baik-baik saja, sekarang kau harus mengkhawatirkan dirimu dasar gadis jahat, kau tahu tidak kalau aku hampir mati saat mendengar kau tertusuk, dasar bodoh !! “ teriak Eka dengan kesal dan marah .


Nadira tersentak kaget,” ehh... E.. Eka.. Chiko.. ma.. maaf, tapi aku khawatir dengan dia, dia buta dan dipukuli karena aku.. akhhh ini sangat sakit, di tusuk pisau ternyata sesakit ini,” Nadira berdecak kesal sambil menghela nafas.


“ ya ampun, Nanad kau masih bisa memikirkan orang lain di saat seperti ini? Ini sebabnya aku tidak mengijinkanmu pindah ke desa, kau jadi bodoh!!!” bentak Eka dengan wajah merah padam yang berapi-api.


“ Tenang Eka, kau mengamuk juga tidak ada gunanya, dia ini keras kepala, jangan membuang tenagamu, langsung kita bawa saja dia ke rumah utama!” tegas Chiko,” mulai hari ini kau tinggal di rumah utama !!” tegas Chiko.


Nadira bukannya mendengarkan mereka, gadis itu malah menatap Evan yang terlihat menutup kedua matanya, tubuhnya di balut dengan perban, kepalanya juga demikian, ada beberapa bagian yang dijahit.


“ nad.. otak kamu gak cedera kan? Kamu masih normal kan? Baru kali ini kamu liatin cowok sampai begitu banget, Nad nyebut Nad, sadar sayang...” Eka menggoyang tubuh Nadira berpikir gadis kesayangannya gila atau kesurupan.


“ aku normal Eka, sudah jangan di goyang luka ku sakit,” ketus gadis itu,” sekarang bantu aku mendekat ke Evan,” ucapnya sambil duduk di brankarnya.


Telinga Evan yang tajam dan jarak mereka yang dekat membuat Evan langsung bereaksi,” Jonash, Mahesa, geser brankarku ke dekat Nadira,” titah pria itu .


“ Evan, biar aku melihatmu,” ujar Nadira.


“ Diamlah di situ, dasar gadis berisik ini, kau sudah terluka, mau berjalan jalan lagi?” ketus Evan,” ‘Apa tidak ada satupun dari kalian yang ingin memanggilkan petugas medis?” kesal Evan karena sejak tadi tak ada yang bergerak memanggil petugas medis untuk memeriksa keadaan Nadira.


“ Biar aku yang panggilkan,” Chiko dengan cepat berjalan keluar dari ruangan itu, sementara kedua netra Mahesa terus menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa,” Mahesa jaga matamu,” hardik Evan seolah dia tahu kalau Mahesa sedang mengamati Chiko saat ini.


Jelas teman teman Evan aneh semua, Jonash pria yang suka overthinking, Leo si bobrok yang jenaka dan Mahesa pria misterius yang sering melakukan sentuhan sentuhan aneh pada sesama jenisnya.

__ADS_1


Brankar Evan dan Nadira di dekatkan. Eka yang melihat hal ini tentu di buat terkejut sama halnya dengan Jonash dan Mahesa. Ini pertama kalinya teman teman mereka bisa dekat dengan orang lain di depan mata mereka.


Nadira duduk dan menatap Evan yang babak belur, tangannya mengambil tangan Evan dan menggenggam dengan erat,” kau baik baik saja? Bagaimana penglihatan mu?” tanya Nadira.


“ apa yang dokter katakan tentang dia Pak Jonash?” tanya Nadira seraya menatap Jonash.


“ Kebutaan untuk sementara waktu, ada maslah dengan saraf matanya, kita hanya di minta menunggu entah sampai kapan, pukulan di bagian belakang kepalanya menyebabkan dia kehilangan penglihatannya,” jelas Jonash .


“ Ck... ini semua karena pria bajingan itu, beraninya dia melakukan ini padamu, arrhkkk sialan, kalau sampai ketemu lagi akan ku cabik cabik tubuhnya sampai habis...” geram gadis itu sambil menggertakkan giginya .


“ kau tidak perlu melakukan itu Nad, bantu saja aku untuk sembuh, aku akan sangat kesulitan setelah ini, tanganku, tubuhku dan mataku rasanya sakit,” ucap Evan .


“ Aku yang akan mencabik cabik anak bajingan itu sampai ke tulang tulangnya, aku akan membunuhnya Nadira, kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan darah manusia bangsat itu” lanjut Evan di dalam hatinya.


“ Kalau itu pasti Evan, aku kan sudah berjanji,” ucapnya sambil mengusap wajah Evan dengan lembut.


Melihat adegan manis nan mesra ini membuat ketiga manusia yang jadi duta jomblo seantero dunia berdiri di pojokan sambil menangis bombay meratapi nasib mereka yang begitu miris tak punya kekasih dan hanya jadi nyamuk di antara kedua orang itu.


“ Nadira sudah gila...


“ Sama, Evan juga gila, ,dia mana bisa dekat perempuan sampai seperti ini,” balas Mahesa seraya menepuk bahu Eka dengan pelan.


“ Jangan pegang pegang Mahesa....” celetuk Jonash sambil memisahkan Eka dari mahesa.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2