Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#27


__ADS_3

Nadira membuka kedua matanya, bangun dari tidurnya yang nyenyak. Kedua matanya berkedip, menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan .


“ wahhh tidurku sangat nyenyak,” gumam gadis itu sambil mengangkat satu tangannya dan mengusap wajahnya sampai dia tersadar dengan tatapan konyol seorang pria yang duduk di sampingnya sambil melihatnya dengan kedua bola matanya yang bulat dan besar, rambutnya yang acak-acakan bak sarang burung, singlet putih dan celana bola dengan kacamata bertengger di wajah tampannya menatap Nadira dengan senyuman lebar sambil berkedip kedip saat gadis itu terbangun dari tidurnya.


“ Wadaawww... ada orang gilaa... Evaannn...... ada orang gilaa!!!!” teriak nadira panik, spontan dia mengayunkan tangannya dan..


Bughhh


Satu pukulan telak mendarat di wajah tampan Leo yang sedang menatap Nadira sambil senyum senyum sendiri seperti joker yang sedang mencari mangsa.


“ Arrkkhhhh wajah tampanku, aset mahalku, dasar gadis ini arhrhh kau membuat hidungku patah gadis tengil!!” rengek Leo sambil memegang hidungnya yang lagi-lagi miring karena ulah Nadira.


Gadis itu sangat terkejut melihat Leo ketika baru bangun belum lagi wajah dan penampilannya yang berantakan berhasil membuat gadis itu syok,” ya ampun ini orang titisan apa ? kenapa jorok sekali...” gumam Nadira sambil duduk di brankarnya seraya mengusap dadanya.


“ Nadira kau baik-baik saja? Dia memang sedikit gila, padahal masih muda,” celetuk Evan yang sejak tadi duduk di brankar, kembali berpura-pura buta, menyembunyikan keberanaran dari Nadira.


“ Ahhh aku baik-baik saja, dari planet mana orang gila ini datang Evan? Kenapa dia sudah nangkring di sini, dia kan yang menusukku?” ketus Nadira sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Leo yang sedang menatap ke arah lain.


“ Sudah seperti gembel saja, seandainya kau melihat penampilannya Evan, dia ini seperti gembel, ck... ck...ck... mengejutkanku saja,” ketus gadis itu.


Leo menggaruk-garuk lehernya sambil cengengesan, dia berjalan mendekati Nadira dan duduk di dekat gadis itu sambil tersenyum kikuk,” ma... maafkan kakak untuk yang waktu itu, kakak terlalu marah sampai menusukmu, kakak...


“Cihhh siapa kau, aku tidak punya kakak, beraninya kau menyebut dirimu sebagai kakakku..” ketus Nadira sambil turun dari brankar dan melepaskan jarum infusnya karena sudah waktunya untuk pulang.


Nadira beranjak mendekati Evan yang duduk di atas brankarnya tanpa menghiraukan perkataan Leo.


“ bagaimana keadaanmu?” tanya gadis itu sambil memperbaiki kancing baju Evan, dia memeriksa luka-luka pria itu dan memastikan Evan baik baik saja.


“ Kenapa ini terlepas,” tanyanya saat melihat jarum infus milik Evan terlepas.


“ Tidak sengaja ku tarik, aku baik baik saja,” jawab Evan sambil tersenyum dengan mata terbuka tetapi seolah tak melihat keberadaan Nadira padahal dia mengawasi semuanya.


Nadira tersenyum sambil memutar lembut kepala Evan,” aku di sini,” ucap gadis itu mengarahkan pandangan Evan pada dirinya.

__ADS_1


Dengan sangat jelas Evan bisa melihat wajah Nadira yang tersenyum lembut ke arahnya, jantung pria itu berdebar tak karuan, wajahnya malah berubah jadi merah dan telinganya terasa panas karena jaraknya dengan Nadira sangat dekat.


“ Wajahmu merah, kau lucu hahhaha....”


“ EKhmmm... apa kau tidak menganggapku di sini?” celetuk Leo sambil gigit jari menatap Nadira dan Evan dengan tatapan iri.


Gadis itu menatap datar ke arah Leo,” mau apa lagi? Dasar pengacau... kau tidak tahu aku kehilangan banyak darah karena dirimu, mengesalkan sekali, jangan dekat dekat denganku maupun Evan, aku tidak mengijinkanmu..” celetuk gadis itu lalu kembali menatap Evan dengan tatapan berbinar-binar.


“ cihhhh... dasar... mengesalkan, aku kan sudah bilang maaf, dasar mak lampir cerewet, kau membuatku kesal saja...” Leo berjalan mendekati mereka, melihat Nadira dan Evan yang berada dalam posisi dekat membuat pria itu gregetan sendiri.


“ Kalau mau mesra-mesraan lakukan saja sekarang, jangan di tunda-tunda dasar goblok!!” celetuk Leo sambil mendorong kepala Nadira dan membuat gadis itu malah memeluk Evan dengan dadanya tepat berada di depan wajah Evan.


“ ya ampun... Dasar Tikus tanas sialan.. kau... arrkkhhhhh kau membuatku kesal.. beraninya kau!!” pekik Nadira.


“ Evan sebentar ya, biar ku gebuki dulu tikus tanah sialan ini!" ucap Nadira sambil menepuk pucuk kepala Evan tanpa tahu kalau Evan benar benar di buat salah tingkah akibat kejadian tadi.


“ ya ampun... apa itu... dadanya.. arrkrkkhhhhhhhhhh aku jadi berpikiran kotor, awas kau nanti Leo, ku kuliti kau bangsat!!” geram Evan seraya mengeraskan rahangnya sambil mengatur pernafasannya yang tidak stabil dan menidurkan burung peliharannya yang tiba-tiba bangun .


Nadira mengambil botol air mineral yang kosong dan berlari mengejar leo yang membuatnya pusing tujuh keliling,” kemari kau biar ku botaki rambut pirang mu itu, arrkrkhhh kau tahu tidak itu sama saja dengan pelecehan bodoh... teganya kau merusak pikiran Evanku yang polos dan baik hati...” teriak Nadira.


“ Apa polos dan baik hati? Pria itu ... pftthhh bwahahahhahahaha... seandainya kau tahu siapa dia kau tidak akan berani bilang kalau dia itu polos dan baik hati hahahhaa... kau di bohongi mak lampir....” ejek Leo sambil berlari menghindari pukulan Nadira yang terus dilayangkan oleh gadis itu.


“ Grrhhhhhh kemari kau... kau akan ku habisi, sudah menusuk perutku tak minta maaf dengan benar, sangat mengesalkan...” teriak Nadira sambil mengambil segelas air yang terletak di meja dan...


Byyuuuurrrr......


Air yang Nadira pegang berhasil terhambur dan membasahi wajah si pria kacamata dan si mata biru yang baru tiba di rumah sakit, tepat saat Leo membuka pintu dan menarik mereka berdua hingga akhirnya keduanya basah kuyup karena air dari Nadira.


“ Apa.. apaan ini.....” ucap mereka berdua dengan tatapan kosong dan tubuh membeku.


Padahal penampilan sudah tampan dan rupawan tahu tahunya harus ganti baju karena ulah gadis itu dan juga Leo yang sedang tertawa sampai guling guling di atas lantai karena behasil membuat kekacauan di pagi hari.


“ Eh... aduh... ma...maaf harusnya yang mandi pagi dia bukan kalian, kalian sih munculnya tiba-tiba...” celetuk Nadira sambil berjalan mundur dan kembali mendekati Evan.

__ADS_1


“ Kau... kau membuatku basah kuyup dasar perempuan si...


“ Mahesa!!” suara Evan langsung memotong perkataan Mahesa yang belum sempat keluar dari bibirnya yang cantik itu.


“ Ck... sialan, aku baru beli baju dan sekarang basah kuyup karena kedua manusia laknat ini, sangat mengesalkan...” geram Mahesa.


“ kau juga basah Jonash, bicaralah,” celetuk Mahesa sambil membersihkan kerah Jonash dan mengusap jas pria itu.


Nadira menatap Mahesa dengan tatapan aneh, cara pria itu sangat menggelikan di mata gadis itu, aneh dan tidak wajar dilakukan pada sesama pria seolah dia sedang membersihkan pakaian pasangannya.


“ van... dia itu gay ya?” bisik Nadira tepat di telinga Evan, yang berhasil membuat Evan berbalik dan menoleh pada Nadira saking terkejutnya dengan ucapan Nadira.


“ Ehh bukan ya? Habisnya dia aneh, masa begitu megangnya, temanmu aneh semua van, jangan dekat dekat dia, “ bisik gadis itu.


Melihat Nadira bisik-bisik membuat Jonash menarik tangan Mahesa dari dadanya,” menjauhlah Mahesa, sana ganti pakaianmu, aku harus mengerjakan tugasku,” ketus Jonash sambil bejralan dan menghindar dari Mahesa.


“ ehh.. baiklah,” ucapnya pasrah.


“ Nona, bisa Anda keluar sebentar? Gantilah pakaian Anda, kita akan pulang, teman Anda sudah menunggu di luar, dia membawa perlengkapan Anda, ada yang harus saya bicarakan dengan Evan,” ucap Jonash dalam mode serius.


“ Van... yang ini kayak robot, seram ihh... aku keluar dulu ya, hati hati di gigit!" celetuk Nadira sambil menatap heran pada Jonash.


Evan terkekeh mendengar celetukan gadis itu, lucu dan membuatnya bersemangat,” baiklah, bersiaplah, kita pulang,” ucap Evan yang dibalas anggukan kepala oleh Nadira.


Nadira keluar dari ruangan itu dengan Evan yang menatapnya sambil tersenyum merekah,” manis sekali,” gumamnya.


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2