Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#13


__ADS_3

Nadira menarik nafas dalam dalam, dia menatap Evan yang terlihat berantakan. Belum lagi luka-luka di tubuhnya itu pasti sangat sakit.


“ Saya yang siram bapak di perusahaan dua hari lalu, yang sembunyi di bawah meja, yang bapak ambil ciuman pertamanya,” celetuk Nadira.


“ Sebaiknya aku rahasiakan dulu hal ini, biar ku rawat dia, aku takut terjadi sesuatu yang buruk sebelumnya, bekas luka ini sama seperti bekas luka akibat cairan air keras, senjata yang sama yang selalu mereka gunakan,” batin Nadira sambil menatap Evan dengan tatapan sendu.


Sebaiknya dia merahasiakan hubungan dekat dan masa lalu mereka sampai Nadira tahu apa yang terjadi pada Evan.


“ Apa?” Evan tampak terkejut mendengar penjelasan Nadira,” hah pantas saja ada aroma bayi,” gumam pria itu tak percaya kalau dia justru diselamatkan oleh gadis cerewet dan pembuat onar yang menyiramnya dua hari yang lalu. Gadis yang hampir dia kuliti hidup hidup karena menyiramnya dengan air dan mengacaukan harinya.


“ kau sepertinya punya peruntungan yang baik, jika saja tidak terjadi sesuatu hari itu, kau mungkin sudah mati di tanganku,” ucap Evan dengan nada dingin.


Glekkk....


Nadira menenggak kasar salivanya, Evan memang sangat menakutkan, dia memang seperti itu sejak kecil dan Nadira hapal jelas dengan sifat pria itu.


“ cihh.. banyak omong, sudahlah, kita ke rumahku, hari sudah malam dan kita ada di tengah hutan, akan berbahaya karena ada serigala liar di sini,” ucap Nadira sambil bangkit berdiri.


“ Apa kau bisa bergerak?” tanya gadis itu.


“ aku tetap di sini saja, kau pulanglah, biarkan aku di sini,” ucap Evan menolak tawaran Nadira. Namun bukannya jawaban Nadira yang dia terima, gadis itu malah menarik tangannya dengan kuat tak peduli pria itu terluka,” jangan bebal dasar otak udang, cepat berdiri dan ikut aku pulang...” kesalnya sambil mengomel dan mengoceh tak segan mengejek Evan.


Evan tersentak kaget dengan kata kata sarkas Nadira, rasanya dia seperti mengalami deja Vu,” siapa kau...” ucap Evan tiba-tiba yang diingatkan kembali dengan gadis yang dia cari keberadaannya sampai sekarang.


“ Aku? Malaikat mautmu, cepat berdiri dan pegang aku..” ucap Nadira dengan nada ketus setelah dia mengumpulan semua barang yang dia bawa tadi.


“ Aku ingin tetap di sini, biarkan aku mati..


“ Sttthh...... diamlah, jangan mati di sini bodoh, ini tempat aku mencari ikan dan berburu, kalau kau mati di sini aku jadi malas ke tempat ini,” kesal Nadira sambil menaruh tangan Evan di bahunya menggunakan tubuhnya sebagai tumpuan Evan yang berbadan besar dan tinggi bak raksasa itu.

__ADS_1


“ Kenapa kau menyelamatkanku? Kita bahkan tidak saling kenal, aku hanya manusia menyedihkan yang tidak seharusnya ada di bumi ini,” ucap Evan pelan sambil berjalan tertatih mengikuti langkah kaki Nadira. Dia tidak bisa melihat dan terpaksa menggunakan Nadira sebagai pemandunya.


“ Apa untuk menyelamatkan nyawa seseorang perlu berkenalan dahulu? Keburu orangnya mati kali...” celetuk Nadira.


“ Pertanyaan bodoh macam apa itu Abraham Evan? Ahhh usia membuatmu semakin bodoh, tentu saja aku menyelamatkamu karena itu adaah kau, Evan... orang yang ku tunggu,” batin Nadira.


“ Tapi..


“ Shhhttthh diamlah, sudah malam, jalan kita panjang, jangan sampai kita di kejar serigala, aku tidak tahu mahluk malam apa yang ada di sini, kau beruntung tidak bisa melihatnya,mereka pasti sangat seram,” ucap gadis itu.


“ apa menurutmu buta adalah hal yang menguntungkan?” tanya Evan.


“ Eh... aku tidak bermaksud mengejekmu, tapi terkadang kita perlu buta, perlu menutup mata terhadap masa lalu atau akar pahit yang selama ini menggerogoti hati kita, ya begitulah, kau diam jangan banyak bicara, apa kau tidak sadar tubuhmu sangat berat,” kesal Nadira sambil berjalan tertatih tatih membawa Evan keluar dri hutan itu.


Evan hanya bisa terdiam, Baru kali ini dia menemukan seseorang yang menawarkan bantuan dengan bonus omelan super pedas dan bibir cerewet yang selalu mendumel tidak jelas. Sama persis dengan sahabatnya, Leo si pirang yang otaknya kadang waras kadang tidak.


Setelah hilangnya Evan, entah pria itu bisa waras atau malah semakin gila.


Mereka berdua berjalan tertatih-tatih, melewati pepohonan dengan tuntunan Nadira.


Tanpa mereka ketahui, ada beberapa orang kampung yang menatap mereka dari kejauhan sambil tersenyum licik.


"Wah... Wah... Wah... Lihat itu, dia kan si Nadira yang menolak tawaran lamaran pernikahan pak Yanto? Hah... Ini akan jadi berita hebat untuk Pak Yanto, kita pasti dapat banyak uang kalau kita jebak mereka!!" Ucap salah satu dari tiga pria yang entah sedang apa di pinggir hutan itu.


"Kau benar, ayo kita lapor pak Yanto, biar dia terkena masalah!!" Ucap yang lain.


Warga kampung Nadira berjalan mendahului mereka. Ketiganya beranjak menuju rumah Pak Yanto. Seorang pria kaya berperut semangka yang sudah punya tiga istri dan pernah melamar Nadira untuk menjadi istri ke empatnya.


Sungguh edan memang pria yang satu ini, dia tidak ada puasnya sekalipun sudah memiliki tiga istri super cantik dan bahenol, saat melihat Nadira dia malah ingin menjadikan gadis itu sebagai miliknya.

__ADS_1


Yanto adalah orang kaya nomor satu di kampung itu, pemegang kekuasaan nomor satu sebelum kepala desanya sendiri.


Karena dia punya banyak uang, maka dia berhak mengatur siapa pun dan menginjak-injak orang sesuka hatinya. Bermain dengan bunga uang dan menekan siapa pun yang bisa dia manfaatkan.


Tetapi Nadira, gadis independen itu sama sekali tidak bisa dia dapatkan. Dan hal ini justru membuat semuanya menarik, Yanto suka dengan tantangan.


Ketiga orang tadi berlari menuju rumah pak Yanto hingga tiba-tiba salah satu dari mereka memikirkan ide lain yang lebih bermanfaat.


" Hei... Tunggu.. tunggu... Tunggu dulu!!!" Ucap pria berkumis tebal persegi panjang seolah kumis itu sudah di cetak tebal di sana.


"Kenapa Pak Kumis!??" Tanya pria bertahi alat di ujung hidungnya, cukup besar sampai membuat orang berpikir kalau itu adalah upil yang menempel di pinggir hidungnya.


"Aku punya ide lain!" Ucap Pak Kumis.


"Ide apa!?" Tanya Pak Janggut yang punya janggut segitiga yang ikonik.


"Bagaimana kalau berita ini kita sampaikan pada istri-istrinya saja, justru kita akan dapat banyak uang, kalau Pak Yanto kan memang ingin menikahi Nadira, tapi istrinya pasti tidak setuju, lebih baik kita minta uang pada istrinya saja!" Celetuk Pak Kumis dengan senyum sumringah di wajahnya.


" Ahhh... Bener bener.... Aku setuju, kalau sama Pak Yanto yang ada laki-laki tadi disuruh bunuh, aku gak mau terlibat pembunuhan!!"


" Ehhh sshhttt.... Jangan ada yang dengar bisa bahaya kita, sudah ayo ke rumah istrinya saja!!" Ucap Pak Janggut yang dianggukkan kedua temannya .


Setelah berembuk mereka berjalan dengan cepat menuju rumah istri tertua pak Yanto, orang paling galak dan judes sejagad raya dan sangat ditakuti oleh warga kampung disana.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2