
Suasana sedikit hening di antara Nadira dan Evan, keduanya sama-sama diam sambil berpikir.
Nadira menatap Evan, “ aku tahu, sangat tahu karena aku ingin bertanggung jawab sampai kau sembuh, " Nadira membisikkan ucapannya ke telinga ptia itu.
Evan hanya bisa terdiam, tak tahu harus berkata apa.
"Kau yang meminta Nadira, karena aku telah memikirkan hal ini sejak kejadian dengan si Yanto sialan itu terjadi,"
Nadira dengan senyuman lembut mengganti pakaian Evan, sementara teman-teman mereka menunggu di luar dengan selimut keheningan yang luar biasa mencekam.
Jonash sibuk dengan semua dokumen yang ada di tangannya, mengumpulkan semua file dengan seksama dan memastikan tidak ada yang tersisa hingga kata-kata Eka membuat pria itu terkejut.
“ Data apa ini? Bukannya ini foto si Yanto sialan yang....” Eka mengangkat selembar kertas yang terjatuh di bawah brankar, jauh dari jangkauan Jonash.
Jonash terkejut bukan main, dia langsung menyambar kertas itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri dengan wajah panik dan terkejut.
“ Bukan apa-apa, ini rahasia perusahaan...” ucap pria itu sambil menutup mulutnya yang berisi dokumen tersebut.
Eka mengangkat kedua bahunya,” aneh,” ucap gadis itu sambill mengambil tempat duduk dan bersantai di sana.
Nadira dan Evan sudah selesai, sejak tadi pria itu hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun bahkan membalas ucapan Nadira pun tidak.
“ Saatnya pulang,” ucap Nadira yang sudah selesai dengan pakaian Evan.
Nadira menggandeng tangan Evan, menuntun pria itu mengikuti langkah kakinya.
“ Kita akan pulang ke apartemen Anda tuan. Semua sudah di sipakan,” ucap Jonash .
“ Jonash siapkan dokumen pernikahan. Kami akan menikah hari ini.” Ucap Evan dengannada memerintah.
“ Apaaa....?” Nadira dan mereka semua terkejut bukan main saat mendengar ucapan Evan. Bahkan Nadira sampai melepaskan tangan pria itu saking terkejutnya dengan keputusan Evan, Bukan ini yang dia maksud tentang tetap tinggal.
“ Evan kau...
“ Jonash siapkan semuanya, kami akan menikah, keputusanku sudah bulat, “
“ Ta.. tapi kau.... kenapa kau melakukan ini?” tanya Nadira tak sangka.
“Menurut saja, kau sudah jadi target mereka Nadira karena sejak awal kau sudah terlibat denganku, jika kau jauh dan tidak punya hubungan apa pun denganku maka akan semakin mudah bagi mereka untuk menyakitimu,” jelas Evan singkat namun jelas.
“ Kita harus menikah, lagi pula kau..” Evan menarik tangan Nadira dan menatap mata gadis itu,” kau sudah melihat apa yang tidak seharusnya seorang perempuan yang belum menikah lihat, kau harus bertanggung jawab Nadira,” ucapnya sambil tersenyum menyeramkan di depan gadis itu.
__ADS_1
Nadira sangat terkejut ,” Evan. Ka.. kau.... kau jangan bercanda...” teriak gadis itu sambil menyentil kening Evan dengan wajah kesal dan marah. Berkali kali dia mendengar kesal karena tatapan Evan yang aneh.
“ aku tidak bercanda, Kita menikah, aku tidak mau perempuan yang sudah melihat tubuh...hemmppkkkhh...
“ Jangan bilang bilang Evaaannn...” Nadira yang panik spontan menutup mulut Evan sambil menatap ke kanan dan kiri saking malunya dnegan ucapan pria itu.
“kau tahu tidak, pernikahan itu bukan main main,” ucap Nadira serius.
“ siapa yang main main, Mereka akan menargetkanmu Nadira, apa kau malu menikah dengan pria buta seperti diriku? atau kau sudah punya kekasih?” tanya Evan.
Nadira menggeleng,” belum, tapi bukannya ini terlalu ....
“ Nah baiklah kalau begitu, Jonash siapkan semuanya,” ucap Eavan sambil menatap ke arah ujung lorong di mana seorang pria berdiri sambil menghubungi seseorang dan mengambil foto Nadira dan yang lainnya.
“ Evan... ka.. kau.. tidak bercanda kan? Menikah bukan permainan,” ucap Leo terkejut.
“ Apa aku terdengar seperti sedang bermain-main? Yang kupermaikan hanya nyawa orang bukan pernikahan,” ucap pria itu sambil menggenggam tangan Nadira dengan erat dan merangkulnya dalam pelukannya.
“ Kita pulang ke rumahku, “ ucap Evan dengan nada tegas.
Nadira dan yang lainnya di buat merinding dengan ucapan dan nada datar yang keluar dari dalam mulut pria itu.
Eka menatap sahabatnya dan juga pria itu, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mencegah nadira karena memang dia telah menunggu Evan sejak lama,” Akhirnya Nadira menemukan orang itu, syukurlah ku harap traumamu bisa sembuh Nad, meski aku harus sedih kehilangan kamu," batin Eka sambil menatap haru ke arah Nadira.
"Apa kau yakin? aku sih tidak masalah?" tanya Nadira.
" Hei gadis tengik, tidak masalah!?? kau yakin ingin menikahi pria ini? kau belum tahu dia seperti apa!?? " Leo menarik kerah baju Nadira dan memegangnya seperti memegang sekantong kain kotor sambil menatapnya dengan tatapan nyeleneh.
"ck... aku bukan gadis tengik, kenapa kau pegang-pegang sih!!??" ketus Nadira sambil menepis tangan Leo.
"Aku yang mau, kenapa kamu yang sewot!?? atau jangan-jangan...." Nadira berbalik dan menatap Leo dengan jari telunjuk yang terarah tepat di depan wajah pria itu, belum lagi tatapan Nadira yang penuh curiga.
"ja..jangan jangan apa hah!??" balas Leo.
"Jangan-jangan kau suka ya padaku!?? aku kan cantik, baik hati ,pintar, rajin menabung, dan berbakat!!" celetuk Nadira dengan narsisme yang sebelas dua belas dengan pria di depannya itu.
Leo terhenyak melihat tingkah centil gadis itu, dia terdiam sejenak sambil menatap Nadira dengan tatapan kosong.
Diamnya Leo membuat semua orang penasaran, tetapi satu-satunya yang tersenyum di sini adalah Evan.
Dia menatap Nadira dan Leo," Pantas saja sifat kalian tidak jauh berbeda, darah memang lebih kental daripada Air," batin pria itu sambil tersenyum lembut menatap Nadira dan sahabatnya Leo.
__ADS_1
"Cihh dasar narsis!!" Leo tertawa sambil mengacak-acak rambut Nadira sampai berantakan seperti sarang burung.
"Dasar Nadira narsis ahahhahaha....."
"ikaaan Lele.... kenapa rambutku di acak-acak!!!!!' teriak Nadira sambil berlari mengejar Leo yang sudah kabur duluan.
Evan, Mahesa dan Jonash terkekeh melihat tingkah kedua orang itu. Mahesa sampai tertawa terbahak-bahak.
"Mereka seperti kakak beradik yang sedang bertengkar, sangat lucu hahahahaha......"
"Tunggu dulu!!" tiba-tiba Eka menatap Evan seraya menyelidiki pra itu.
Gadis itu memicingkan matanya sambil menatap Evan yang terdiam dan mengalihkan matanya ke arah lain.
"Kau.... kau tidak buta kan!??" ucap Eka sambil menghardik pria itu dengan tajam dan tegas.
Jonash dan Mahesa terkejut, apalagi Evan, dia hampir lupa kalau di sana ada Eka, gadis yang tidak kalah menyebalkan dengan Leo.
"Apa maksudmu Nona, kau meragukan tuan kami!???" Jonash langsung menuntun Evan berjalan dari sana dan mendorong Eka ke pinggir.
" Jonash, Mahesa bantu aku!" ucap Evan seraya meraba-raba seolah dia buta.
Eka tak percaya, dia menatap mereka sambil menyipitkan kedua matanya.
" Kalian aneh, seperti ada yang kalian sembunyikan!!!!" gumam gadis itu sambil menatap Evan dan yang lainnya.
Cekrerkk....
"Ehh suara jepretan kamera!?? siapa itu!??" Eka terkejut saat mendengar suara jepretan kamera sampai membuat dia berbalik dan melihat ke sana kemari.
Greepp...
" Ikut kami nona, jangan jauh-jauh!" Jonash kembali dan menarik tangan Eka lalu pergi dari lorong itu.
Di balik dinding ada seorang pria misterius yang sedang mengawasi mereka sejak keluar dari dalam kamar. Mengambil beberapa foto sambil mengamati situasi.
"Aku harus segar melaporkan pada tuan!!" batin pria itu.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗