Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia

Terjebak Dalam Pesona Sang Mafia
#26


__ADS_3

Menatap dan mengawasi dari tempat yang tidak terlihat, sebuah keahlian yang tidak dimiliki oleh semua orang. Tentu kebiasaan ini uik karena pelakunya nekat berbuat hal ekstrem demi tercapainya tujuan.


Sama halnya dengan Leo, si pirang gila yang sedang menggantung di jendela rumah sakit sambil mengintip dengan posisi kepala terbalik ke bawah seperti laba-laba yang sedang bergelantungan dengan jaringnya.


Sejak satu jam yang lalu pria itu menatap Nadira dan Evan dari balik jendela dengan posisi terbalik. Dengan tali tambang yang dia curi dari gudang rumah sakit, pria sinting nan nekat ini bergelantungan di gedung rumah sakit hanya untuk mengamati Nadira Dan Evan.


Seminggu ini dia pulang ke rumahnya, Kejadian penusukan yang dia lakukan membuatnya tak bisa tidur tenang. Hatinya gelisah, entah kenapa setelah menusuk Nadira dengan pisau tajam itu dia merasa tubuhnya seolah hancur dan hatinya sakit. Entah kenapa dia merasa seperti ini.


Leo pulang ke rumah ayahnya, satu satunya orang tua yang dia miliki saat ini. Ibunya? Jangan di tanya, pergi begitu saja setelah melahirkan anak keduanya yang entah berada di mana saat ini. Sudah berpuluh tahun Leo tidak bertemu dengan sosok ibunya, sampai dia lupa kalau dia punya ibu.


Bahkan keluarga dari pihak ibunya adalah keluarga paling menyebalkan, mereka memiliki niat buruk terhadap Leo.


Dengan wajah kusut anak berandalan itu pulang seraya mengacak-acak rambutnya,” ada apa denganmu brother? Tidak seperti biasanya?” celetuk seorang pria yang sedang duduk di halaman rumah dengan kursi kecil dan sebuah pancing di tangannya, pria itu sedang memancing di kolam depan rumahnya, yang benar saja?


Belum lagi topi pelangi yang dia pakai menutupi rambut putihnya yang panjang sebahu. Perut semangka yang besar dan kulit berkeriput yang kemerah-merahan terkena sinar matahari, kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya tengah menikmati siang harinya di depan kolam kesayangannya yang berisi banyak ikan .


Siapa sangka kolam itu sangat dalam sampai membuat Tuan Dave nyaman berjemur sambil memancing di sana seraya memeriksa grafik warna-warni di laptop miliknya.


Orang kaya selalu punya cara aneh untuk memuaskan dirinya.


“ Pa.. haha... dasar tua tua keladi, sedang apa kau di situ Dave? Apa tidak panas? Kenapa berada di bawah matahari langsung, dasar si tua kolot ini, kulitmu sensitif, kau bisa demam, lama tidak pulang ke negara ini ternyata ini yang kau lakukan selama aku tidak mengawasimu dasar preman kampung...” omel Leo sambil mengangkat sebuah payung lebar ke arah tuan Dave dan meletakkannya disana untuk menutupi sang ayah dari paparan sinar radiasi yang membuat kulit kering dan tua.


“ Kau yang preman, dasar anak tengil sialan, ada apa kau ke sini, kau bilang mau mandirilah, mau hidup beginilah, begitulah, baru ingat bapakmu sekarang, anak durhaka.,..” celetuk Tuan Dave seraya mengangkat ikan yang dia pancing dan melemparkannya ke wajah Leo.


Plujkk...


“ What... arrrkkhhhh Paaaa.... bau amiss.....” pekik Leo kesal saat ikan segar itu menggelepar di wajah tampannya yang kini jadi sarang ikan jahir.


“ Rasakan... dasar anak durhaka,”


“ Arrkkh Papa, wajah tampan ku kau rusak dasar Dave gilaaaa..” pekik Leo kesal dan marah sambil melemparkan ikan itu terbang dan mendarat tepat di kepala super licin kepala pelayan di rumahnya itu.


Perdebatan anak dan ayah ini memang tak ada habisnya, bahkan para pelayan yang melihatnya sampai tertawa cekikikan dengan sifat mereka yang penuh drama komedi setiap kali bertemu. Rasanya menyenangkan bekerja dengan orang-orang seperti mereka.


“ Ada apa denganmu? Kenapa kau kesal dan marah, lihat kerutanmu bertambah..” ejek tuan Dave.


Leo mengambil kursi untuknya, sambil menghela nafas,” aku menusuk seseorang pa,” ucapnya jujur sambil menatap kosong ke arah kolam itu.

__ADS_1


“ hmmm sudah biasa, tak ada yang lain?” tanya Tuan Dave tak terkejut.


“ ya ampun pa.... anakmu mau bunuh orang kau bilang biasa? Sudah gila ya?” teriak Leo terkejut.


“ kan kau sudah biasa anak, bahkan anjingmu sendiri kau mutilasi, dasar psikopat,” ejek Tuan Dave.


“ Itu bukan ku mutilasi, karena sudah mati jadi badannya ku bedah siapa tahu ada yang kasih racun atau benda tajam, bukan mutilasi Papa...” ucap Leo mempertahankan dirinya di depan Tuan Dave.


“ Bwahahahha dasar tukang gaasss.... ada apa denganmu? Biasanya setelah membunuh kau akan lega, tapi kenapa kau seperti ikan kering tanpa nyawa, menghela nafas berat seolah punya lima istri dan seratus anak hmmm?” tanya tuan Dave.


“ baru kali ini aku merasa bersalah setelah menusuk seseorang Pa, baru kali ini aku merasa sakit saat melihat seseorang sakit,” ujar Leo.


“ Apa dia perempuan?”


“ Bagaimana papa tahu?”


“ ahhh kau jatuh cintrong itu nak hahhaha... wah kau sudah besar ya, sudah bisa main cinta-cintaan...” celetuk Tuan Dave sambil terkekeh.


“Bukan Pa, ini lebih ke perasaan marah pada diriku sendiri, seolah aku menusuk sosok yang merupakan bagian dari diriku, dan papa tahu tidak?”


“ Ck... aku mendonorkan darahku padanya, tipe darah langka, dia memiliki darah itu, wahh ini benar benar di luar dugaan...” ujar Leo tak percaya.


Seketika tuan Dave terdiam. Dia menatap putranya tak percaya, matanya membulat sempurna, ada beberapa kemungkinan jika Leo sampai bisa mendonorkan daranya pada orang itu.


“ Leo kau tidak bercanda kan? Kau tahu tipe darahmu yang paling sulit di temukan di muka bumi ini, kalaupun ada harus dari Papa dan saudara atau anakmu nanti, tidak ada yang punya tipe darah seperti itu, kalau pun ada pasti punya hubungan keluarga,” ucap Tuan Dave.


“ Ahhh tapi buktinya Nadira, si cerewet itu punya jenis darah yang sama, berarti masih ada kemungkinan lain Pa,” ucap leo.


“ Tidak... tidak... selidiki gadis itu, siapa dia... apa mungkin dia adikmu... adikmu yang kata perempuan hina itu telah mati...” ucap Tuan Dave syok.


Leo terdiam, benar kata ayahnya, hanya ada sedikit kemungkinan jika sampai Leo bisa mendonorkan darahnya pada Nadira.


“ Adikku? Apa itu mungkin Pa?” tanya pria itu.


Flash back end,


“ Masuk ke sini Leonardo, atau aku benar-benar akan menggantungmu di alun alun kota..” kesal Evan sambil duduk tegap di pinggir ranjangnya.

__ADS_1


Leo terkejut,” wahhh si raksasa ini tidak bisa diragukan,” batin pria itu sambil masuk ke dalam ruangan itu melalui jendela.


Krakkk.... krerakkkkk.... brukkkk...


‘ Ck... bisa tidak kau pelan-pelan bodoh, dia sedang tidur...” Evan berdecak kesal sambil menarik kerah Leo dari sana.


“ Ma.. maaf...” ucap Leo sambil bangkit berdiri dan melepaskan tali yang terikat di badannya.


“ Apa yang kau lakuan di sana?”


“ Aku...” Leo menunduk seraya melirik Nadira yang terlelap dengan begitu nyaman di atas brankar,” aku mau melihatnya...” ucap Leo seperti anak kecil yang sedang disidang karena mencuri pakaian dalam dari jemuran orang.


“ kau tahu kan kalau kau..


“ iya aku tahu... aku tahu aku salah Evan, jadi tolong jangan marah, kau... ka... kau juga kan berbohong soal matamu kepadanya aku... aku akan menjaga rahasiamu selama membiarkanku tetapi dekat dengannya jangan pulangkan aku...” Leo langsung duduk berlutut di depan Evan.


“ beraninya kau mengancamku...”


“ Tentu saja, aku ingin meminta maaf dengan benar,....” celetuk Leo .


“ Ck... berdirilah, setelah dia bangun minta maaf padanya, aku tahu kau melakukan itu karena marah, tapi asal kau tahu aku selamat karena dirinya, jangan melukainya, “ ucap Evan.


“ bagaimana dengan bajingan itu, apa kau sudah melacak lokasinya?” tanya Evan.


“ aku sudah melacaknya, tapi dia sepertinya menyembunyikan diri jauh dari publik, kita tunggu saja,” ucap Leo sambil terus menatap Nadira .


“ Leo apa kau sadar hubunganmu dengan Nadira seperti apa? Kau tahu soal donor darah itu kan? “ Evan tampak serius.


“ aku tahu, karena itu aku datang, untuk meminta maaf pada perempuan misterius ini.”


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2