Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 11


__ADS_3

Sebelumnya pukul 10 malam di rumah kakek Hasan.


Setelah melalui pembicaraan penting dengan ayah dan sahabat kakeknya, Ammar langsung menghubungi temannya yang merupakan seorang polisi untuk membantunya mencari Ulfi yang di duga kabur.


Ammar berjalan menuju kawasan santriwati untuk mencari petunjuk, hingga ia tiba di depan kantin putri. Beruntung, ia menemukan CCTV yang terpasang di depan sebuah rumah yang digunakan untuk mengumumkan informasi sekaligus tempat memanggil santri atau santriwati jika ada keluarga yang menjenguknya. Dan rumah itu tepat berhadapan dengan kantin putri tersebut.


Tak ingin menunggu lama, Ammar langsung menemui penanggung jawab keamanan untuk melihat CCTV tersebut, siapa tahu ia bisa menemukan petunjuk di sana.


Dan benar saja, dalam rekaman CCTV itu, terlihat jelas Ulfi masuk ke dalam mobil pick up yang sering mengantar bahan makanan ke pesantren.


"Dasar gadis nakal," umpatnya dalam hati.


Seteleh mencatat nomor plat mobilnya, ia meminta temannya yang polisi tadi untuk melacak keberadaan mobil tersebut melalui nomor plat mobilnya.


Tidak menunggu lama, teman Ammar berhasil menemukan titik lokasi dimana mobil tersebut berada saat ini dan langsung mengirimkannya kepada Ammar.


Ammar pun langsung melajukan mobil meninggalkan pesantren menuju ke titik lokasi itu. Hingga kurang lebih 30 menit, kini ia sudah berada di dekat lokasi. Karena lokasi mobil tersebut berada di dalam lorong sempit yang tidak cukup jauh dari lokasinya saat ini, ia pun memutuskan untuk berjalan kaki masuk.


"Semoga gadis itu masih ada disana," batinnya sambil berjalan hingga ia benar-benar mendapatkan mobil pick up yang terlihat di rekaman CCTV tadi.


Perlahan ia membuka sedikit tarpal yang menutupi deck mobil itu, untuk memeriksanya.


"Ulfi, kamu kenapa?" ucapnya terkejut saat mendapati gadis itu tengah tertidur.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Kini mobil melaju membelah gelapnya malam, hening dan dingin itulah yang di rasakan oleh Ulfi saat ini, Ammar yang sejak tadi fokus mengemudikan mobil sama sekali tak lagi bersuara dengan menampilkan wajah dingin, membuat Ulfi semakin merasa dingin.


Bahkan saking dinginnya, kedua tangan Ulfi naik memeluk kedua lengannya sendiri sambil mengusapnya agar terasa sedikit hangat. Di liriknya ustadz di sampingnya yang memakai jaket, tampak begitu hangat dan nyaman. Ingin sekali ia meminta Ammar untuk meminjamkan jaketnya, namun rasa gengsi mendominasinya.


Tak habis akal, Ulfi kemudian mengusap kuat kedua lengannya berharap Ammar menoleh ke arahnya dan peka lalu rela meminjamkan jaketnya kepada Ulfi.


"Ekhem.. Ya Allah dingin sekali," sindir Ulfi lagi sambil melirik ke arah si empunya jaket.


Namun sayang, sepertinya harapan Ulfi terlampau tinggi. Jangankan peka, menoleh ke arahnya saja ia enggan. Lehernya bagaikan robot yang begitu kaku.

__ADS_1


"Ish, dasar ustadz killer tidak peka, pantas jomblo. Kasihan banget yang nanti jadi istri ustadz ini, pasti menderita lahir batin, udah garang, tidak peka lagi, hisss menyebalkan," umpat Ulfi dalam hati sambil menatap sinis ke arah Ammar.


Tidak terasa 30 menit telah berlalu, kini mobil telah berada di depan gerbang yang saat ini sudah tertutup, untung saja tadi Ammar sempat meminta kunci cadangan kepada penanggung jawab keamanan agar ia bisa masuk nantinya.


Ammar sejenak menghentikan mobilnya, ia turun dari mobil lalu membuka gerbang besar itu.


"Huufth, sepertinya memang takdirku di penjara suci ini, tidak peduli seberapa keras usahaku untuk kabur, pada akhirnya aku pasti kembali, dan anehnya yang membawaku kembali selalu ustadz killer yang tidak peka itu. Nasib nasib," batin Ulfi sembari membuang napas kasar.


Ammar kembali ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya hingga memasuki gerbang besar itu, dan sekali lagi ia turun untuk mengunci kembali gerbang itu.


"Huuuu, dasar ustadz rempong." Lagi-lagi Ulfi mengumpat ustadz tampan itu. Ia masih sangat kesal karena ketidak pekaan ustadz itu sehingga tubuhnya saat ini begitu menggigil.


Mobil kembali melaju pelan, hingga tiba di depan rumah sang kakek, dimana kakek Hasan maupun kakek Ghafur sudah menunggu mereka sejak tadi.


Dengan rasa takut dan malu, Ulfi memberanikan diri untuk turun menemui tiga pria yang saat ini tengah berdiri dan menatap serius ke arahnya, yah mereka adalah kakek Hasan, kakek Ghafur dan Ammar yang telah turun lebih dulu.


"Ka-kakek," cicit Ulfi sambil menunduk saat melihat.kilatan amarah di mata sang kakek.


"Masuk!" titah kakek Hasan begitu tegas sambil berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu, sungguh auranya saat ini bagaikan serigala berekor sembilan yang siap menerkam musuhnya.


Ia mendapati kakek Hasan sedang duduk di sofa sambil bersedekap tangan melihat ke arahnya yang sejak tadi terus menunduk.


"Tidurlah!" titahnya kemudian, membuat Ulfi langsung mengangkat wajahnya tidak percaya.


"What? Nggak salah nih kakek langsung menyuruhku tidur tanpa menasehatiku atau memarahiku, apa mood kakek saat ini lagi bagus? Ah apapun itu, aku sangat bersyukur," batinnya bersuka cita namun berbeda dengan wajahnya yang berpura-pura bingung.


"Kakek bilang tidur," ulang kakek Hasan.


"Ta-tapi kek, kamar asrama Ulfi pasti sudah dikunci."


"Siapa yang menyuruhmu tidur di asrama? Tidur lah disini," tukas kakek Hasan.


"Ba-baik kek," lirih Ulfi lalu berjalan ke arah kamar kosong yang biasa di peruntukkan untuk tamu.


Setelah memastikan Ulfi masuk ke kamarnya, mereka bertiga kembali berkumpul.

__ADS_1


"Bagaimana rencana besok?" tanya kakek Hasan.


"Tenang saja, aku sudah menghubungi semuanya sudah aman," jawab kakek Ghafur.


"Bagaimana dengan kerahasiaannya? Mengingat Ulfi masih di bawah umur," tukas kakek Hasan.


"Sebaiknya para ustadz disini harus tahu, mengingat setelah itu Ulfi akan sering datang kesini," jawab kakek Ghafur.


"Betul, lebih baik begitu untuk menghindari fitnah," timpal kakek Hasan.


"Lalu bagaimana dengan para ustadzah?" tanya Ammar.


"Sebaiknya semua ustadzah dan ustadz harus tahu, kecuali para santri dan santriwati," jawab kakek Hasan.


"Baiklah, begitu lebih baik." Kakek Ghafur menyetujui.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Adzan subuh mulai menggema memenuhi lingkungan pesantren itu, yang menandai hari baru telah tiba.


"Ulfi, bangun," ucap seseorang membangunkan gadis yang masih begitu nyaman membungkus tubuhnya dengan selimut.


Mendengar suara yang sangat tidak asing, dan sangat ia rindukan, Ulfi langsung membuka matanya.


"I-ibuu," ucap Ulfi begitu terkejut, ia lalu bangkit dari tidurnya untuk mematikan apa yang ada di hadapannya saat ini bukanlah mimpi.


Tangannya terulur untuk mengelus pipi wanita di hadapannya. "Hangat, ini bukan mimpi," batin gadis itu bersamaan dengan air mata yang kini berhasil menerobos keluar dalam waktu sekejap.


"Ini beneran ibu kan?" ulangnya dengan suara bergetar.


Ibu Hana mengusap lembut tangan Ulfi yang masih menempel di kedua pipinya dengan air mata yang tidak mampu di bendung lagi.


"Iya sayang, ini ibu," jawab ibu Hana lembut.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2