
"Lisa!" panggil Ulfi, membuat gadis cantik itu langsung berbalik ke sumber suara.
"Ulfi? huwaaaa Ulfiiii," teriaknya sembari lari ala film India menghampiri Ulfi dan langsung memeluknya.
Pria yang tadi menemani Lisa berbicara pun akhirnya ikut menghampiri mereka.
"Daus?" ucap Ulfi terkejut. "Wah, kalian lagi ngomongin apa tadi? Serius amat," selidiknya.
"Itu, anuu." Lisa sejenak melirik ke arah Firdaus yang tampak cuek. "Sebenarnya ..." Gadis itu menggantungkan perkataannya.
"Sebenarnya apa?" tanya Ulfi penasaran.
"Sebenarnya kakek Ghafur berencana menjodohkan kami, katanya kami terlihat cocok," jawab Firdaus sembari membuang muka ke tempat lain.
"Iya, jadi tadi kami membicarakan masalah ini, so mau tidak mau aku terpaksa menerima perjodohan ini," celetuk Lisa, membuat Firdaus langsung mendelik ke arahnya.
"Terpaksa?? padahal kamu memang mau kan?" tanya Firdaus tidak terima dengan pernyataan Lisa.
"Sok tahu kamu, kamu aja kali yang memang mau, atau jangan-jangan kamu yang minta kakek Ghafur menjodohkan kita, iya kan?" tuduh Lisa. Firdaus kini tampak menepuk jidat sembari menggelengkan kepalanya.
"Hahaha, jadi bagaimana? Sebenarnya kalian ini setuju atau tidak?" tanya Ammar yang kini ikut berbicara karena merasa lucu dengan sikap mereka.
Jelas ia dapat melihat dari sorot mata mereka, di mana menunjukkan bahwa hati dan sikap mereka berjalan tidak searah saat ini.
"Mau," jawab Firdaus.
"Tidak," jawab Lisa.
Mereka menjawab secara bersamaan, lalu saling menatap sejenak.
"Tidak," jawab Firdaus.
"Mau," jawab Lisa.
Mereka kembali menjawab secara bersamaan dan kembali saling menatap sinis.
"Kalian apaan sih, nggak kompak banget," ujar Ulfi sembari tertawa pelan.
"Biarlah ku pikirkan dulu, jika Daus bersikap baik kepadaku, maka insya Allah akan ku terima," cetus Lisa.
__ADS_1
"Hei, kenapa kamu bicara seolah-olah aku sedang mengejarmu?" Firdaus lagi-lagi tidak terima dengan perkataan Lisa.
"Oh, salah yah? Jadi bukan mengejar, tapi jalan santai ke arahku, iya kan?" Lagi-lagi perkataan Lisa membuat pria itu menggeleng sembari membuang napas kasar.
Ulfi dan Ammar yang merasa lucu dengan tingkah mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke rumah guru, sementara Lisa yang merasa terancam oleh tatapan kesal Firdaus kini ikut menyusul Ulfi meninggalkan Firdaus.
Pria itu diam-diam rupanya tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Bagaimana jadinya nanti rumah tanggaku bersama gadis itu?" monolognya lalu pergi menuju asrama santri.
"Ulfi, kenapa kamu tiba-tiba pindah kesini? Bukannya kamu sudah kuliah di Jakarta?" tanya Lisa yang berjalan sambil merangkul tangan Ulfi.
"Biasa, Lis. Boy itu seperti roh gentayangan yang selalu muncul di mana pun aku berada. Semoga saja dia nggak bisa lagi muncul di sini," jawab Ulfi.
"Insya Allah, Sayang, saya sudah menyuruh teman saya di bagian keamanan untuk mencegah Boy masuk kembali ke sini," ujar Ammar.
"What? Sayang? Duh, so sweet banget sih, pasahal dulu Ustadz Ammar nggak se sweet ini," celetuk Lisa.
"Memangnya kamu mau lihat saya bersikap so sweet ke siapa? Kan aneh kalau saya so sweet dengan yang bukan mahram," sahut Ammar.
"Eh, iya juga yah, heheh," jawab Lisa nyengir bodoh.
"Kapan kamu akan di lamar sama Firdaus secara resmi?" tanya Ulfi.
"Semoga lamarannya lancar," ucap Ammar dan di aminkan oleh Ulfi, sementara Lisa hanya bergumam dalam hati.
Mereka pun berpisah dengan Lisa sebelum memasuki kawasan santri putra. Kini tersisa Ammar dan Ulfi yang melanjutkan langkah mereka ke rumah sang kakek untuk menanyakan kunci rumah mereka sekaligus bertemu dengan dua pria berusia senja itu.
Malam hari setelah sholat isya, Ulfi dan Ammar makan bersama. Seperti biasa, mereka akan makan dalam piring yang sama. Sesekali Ammar menyuapi istri kecilnya itu hingga makanan di piring mereka tandas.
"Besok saya akan mengantar kamu ke kampus untuk kepindahan kamu," ucap Ammar mengawali pillow talk yang sudah menjadi kebiasaan baru mereka setelah resepsi pernikahannya dua bulan lalu.
"Iya, Hubby. Terima kasih yah," jawab Ulfi.
"Iya, Sayang." Ammar kini memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Ulfi.
"Hmm, Hubby, saya boleh nanya nggak?" Ulfi ikut memiringkan tubuhnya ke arah Ammar.
"Hmm? Apa?" tanya pria itu lembut.
"Hubby, kalau misalnya saya hamil gimana yah?" tanya gadis secara tiba-tiba, ia ingin melihat tanggapan dari sang suami.
__ADS_1
"Tentu saja saya akan sangat bahagia, Sayang. Itu artinya Allah telah mempercayai kita untuk menjadi orang tua," jawab Ammar dengan mata berbinar.
"Tapi kalau belum hamil gimana?" lanjutnya kembali bertanya.
"Tentu saja tetap bahagia, Sayang. Allah kan lebih tahu kapan kita siap menjadi orang tua," jawab Ammar santai.
"Memangnya Hubby nggak sedih atau kecewa gitu kalau saya belum hamil?"
"Saya tidak ingin menjadikan anak sebagai patokan kebahagiaan, Sayang. Pada akhirnya rasa kecewa karena satu kekurangan bisa menghalangi rasa syukur karena beribu kelebihan, akibatnya rumah tangga menjadi gampang retak. Patokan kebahagiaan saya adalah selalu bersama dengan kamu, bersama meraih SurgaNya Allah, baik dalam suka maupun duka. Kalau pun Allah menakdirkan kehadiran anak maka itu adalah bonus yang bisa menambah kebahagiaan kita," jawab Ammar.
Hati Ulfi berdesir mendengar jawaban sang suami yang menenangkan dan meneduhkan. Dan hal itu berhasil membuat wanita itu tanpa sadar menitikkan air mata haru.
Ammar mengulurkan tangannya untuk megusap air mata di wajah sang istri, lalu mengecup keningnya dengan begitu hangat.
"Terima kasih untuk semuanya, Hubby. Saya bahagia bisa menjadi istri dari seorang Ammar Hisyam," lirihnya disertai senyuman.
"Saya juga sangat bahagia bisa menjadi suami dari seorang Lutfiyah Salamah Rasyid," balas Ammar disertai senyuman.
"Ada yang ingin saya perlihatkan kepada Hubby," ucap Ulfi sembari mengambil sesuatu dari laci nakas.
"Apa itu?" tanya Ammar penasaran.
Tanpa berbicara, Ulfi meletakkan sebuah benda kecil dan pipih di tangan Ammar. Pria itu mengerutkan keningnya melihat benda pipih kecil itu, tampak jelas terdapat dua garis merah lada bemda itu.
"Sayang, ini tespek kan? Berarti kamu ..." Ammar tidak melanjutkan perkataannya, ia justru menatap wajah sang istri untuk mengonfirmasi dugaannya.
Seakan mengerti akan tatapan sang suami, Ulfi mengangguk pelan sembari tersenyum kepadanya, dan seketika pria itu langsung menarik Ulfi ke dalam dekapannya.
"Alhamdulillah wa syukurillah, terima kasih, Sayang." Ammar menghujani pucuk kepala Ulfi dengan banyak kecupan hangat. Ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya malam ini atas semua kebaikan dari Allah yang tidak terhitung lagi jumlahnya.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Satu bulan telah berlalu, kini tiba saatnya Firdaus dan keluarga termasuk Ammar dan Ulfi akan datang ke rumah Lisa untuk melakukan aqad nikah. Ya, sebelumnya mereka telah melalui tahap lamaran yang telah di terima baik oleh Lisa dan keluarganya.
Meski keduanya menikah karena perjodohan sang kakek, tapi raut wajah mereka tidak bisa berbohong kalau mereka bahagia. Biarlah Allah yang menjadi saksi atas perasaan indah yang mereka rasakan.
Setelah melalui prosesi aqad, kini tiba saatnya Lisa dan Firdaus menjadi Raja dan Ratu sehari. Sinta, Ira dan Sarah juga turut hadir dalam acara pernikahannya, kecuali Ika yang berada di Kairo sangat tidak memungkinkan untuk hadir, dan Fira yang sampai saat ini masih tidak di ketahui kabarnya.
-Bersambung-
__ADS_1