Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 27


__ADS_3

Malam kian larut, waktu telah menunjukkan pukul 01.30 dini hari, dimana suhu di kamar rawat Ulfi terasa semakin dingin. Ya, setelah pemeriksaan oleh dokter tadi, Ammar langsung mengurus rawat inap untuk Ulfi agar ia bisa istirahat dengan nyaman tanpa gangguan siapapun di kamar.


Ulfi perlahan membuka matanya sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Apa aku di rumah sakit?" batinnya.


Pandangannya kini tertuju pada seorang pria yang sedang tidur di samping tempat tidurnya dalam posisi duduk dengan berbantalkan kedua lengannya di atas tempat tidur, dimana wajahnya menghadap ke kaki Ulfi.


"Siapa kamu?" teriaknya sangat terkejut, bayangan tentang Boy yang mengejarnya kembali berputar diingatannya, membuat jantungnya berdegup kencang.


Namun, karena pria di sampingnya itu sama sekali tidak terusik akibat teriakannya, akhirnya Ulfi memberanikan diri untuk melihat sisi wajah pria itu dari atas, "oh ternyata ustadz Ammar, syukurlah," lanjutnya kini merasa lega.


Ulfi melihat tangan kanannya yang di genggam oleh Ammar, tanpa ia sadari seutas senyuman tersungging di bibirnya, bahkan ia sedikit tertawa karena merasa lucu.


Bisa-bisanya dia terkejut tapi tidak menarik tangannya dari genggaman pria itu, kemana gerangan gerakan refleksnya itu, begitu pikirnya.


Lama menatap Ammar, tangan kiri Ulfi kini terangkat untuk mengusap kepala pria itu.


Namun matanya seketika membola saat menyadari suhu tubuh Ammar sangat panas.


"Ya ampun, bagaimana ini?" batinnya khawatir.


Perlahan ia melepas tangannya dari genggaman pria itu lalu turun dari tempat tidur.


"Aduh tubuhku kenapa sakit semua?" ucapnya berbisik.


Meski sakit, ia memaksa tubuhnya berjalan sambil menarik tiang infus dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya belum bisa ia gerakkan secara bebas karena menggunakan arm sling. Gadis itu keluar mencari perawat yang berjaga malam untuk membantunya.


Beberapa saat kemudian, Ulfi datang dengan seorang perawat wanita. Perawat itu mengecek suhu tubuh Ammar menggunakan termometer.


"Suhu tubuh bapak 38,5 derajat bu, tapi ibu tenang saja dan jangan panik, karena bapak tertidur pulas, cukup kompres saja dulu malam ini, jika besok masih demam ibu bisa kasi obat penurun demam," jelas perawat itu sembari membantu Ulfi menyediakan air dan handuk kecil untuk mengompres.


Setelah membantu Ulfi naik ke atas tempat tidur, perawat itu akhirnya keluar dari kamar Ulfi. Kini gadis itu mengompres Ammar sendiri, tak lupa ia memberikan selimutnya kepada pria itu, berharap usaha itu dapat membantu memulihakan kesehatannya.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Adzan subuh mulai terdengar di sekitar rumah sakit itu. Ammar mulai membuka matanya perlahan lalu bangkit. Pria itu dibuat terkejut saat sebuah handuk kecil jatuh dari keningnya, di tambah selimut yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Merasa aneh, Ammar melihat ke arah Ulfi yang masih tertidur namun tidak lagi memakai selimut, dan sebuah wadah di atas nakas berisi air, hal itu cukup menjawab pertanyaan Ammar mengenai siapa yang telah memberikan perhatian padanya malam tadi.


"Terima kasih," bisiknya di dekat telinga Ulfi sembari teesenyum.


Ammar pergi mengambil air wudhu di kamar mandi, tak lama setelah itu, ia keluar dengan wajah yang tampak lebih segar dan demamnya juga sudah turun, meski lehernya sedikit pegal karena posisi tidurnya yang salah, tapi itu bukan masalah baginya.


"Ustad, Ulfi mau sholat juga," lirih Ulfi dengan suara serak khas bangun tidur saat melihat pria di hadapannya hendak sholat.


Mata Ammar berbinar mendengar permintaan Ulfi. "Baiklah, saya akan mencarikan kamu mukenah terlebih dahulu, kerudung kamu semalam sudah kotor soalnya."


Ammar melangkah keluar kamar, lalu beberapa saat kemudian, pria itu datang dengan membawa mukenah untuk Ulfi, entah darimana dia mendapatkannya.


Dengan hati-hati Ammar memakaikan mukenah di kepala Ulfi lalu membimbingnya untul bertayammum, dan mereka pun sholat berjamaah.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Matahari kini semakin meninggi, kakek Hasan dan ayah Ghafur kini telah tiba di rumah sakit setelah di jemput oleh Ammar pagi itu.


Ulfi yang merasa diperhatikan oleh ketiga pria beda generasi itu benar-benar merasa nyaman, apalagi Ammar yang betul-betul merawatnya dengan baik.


Seperti saat ini, Ammar rela keluar mencari bubur ayam seperti yang di minta Ulfi karena ia tidak ingin memakan makanan rumah sakit.


Namun, entah kenapa kata maaf begitu sulit ia ungkapkan. Masih ada rasa gengsi yang mendominasi hatinya saat ini sehingga ia masih memilih diam.


"Assalamu 'alaikum," suara dari beberapa orang terdengar seiring dengan terbukanya pintu kamar rawat Ulfi.


Rupanya yang datang kali ini adalah teman satu kamar Ulfi beserta ustadzah Fauziah, yang tentu saja mendapat kabar dari kakek Hasan.


Sarah, Sinta, Ika, Ira, Lisa dan Fira kini mendekati tempat tidur Ulfi setelah menunduk sopan ke arah pemilik yayasan tempat mereka menimba ilmu.


"Bagaimana keadaanmu Ulf?" tanya Lisa.


"Baik Lis," jawab Ulfi sembari duduk dan bersandar di kepala tempat tidur.


"Aku sudah curiga sama tuh Boy Boy sejak awal masuk di pesantren, apalagi ia selalu menatap kamu dengan tatapan aneh," celetuk Sinta.


"Iya, padahal dia cakep banget, tapi sayang kelakuannya kayak gitu." Lisa ikut menimpali.

__ADS_1


"Namanya juga manusia Lis, nggak ada yang sempurna," sanggah Sarah.


"Iya iya, sepertinya yang sempurna di dunia ini hanya ustad Ammar deh," sindir Sinta sembari mencolek lengan Sarah tanpa sepengetahuan yang lain, namun Ulfi dapat dengan jelas melihatnya, apalagi wajah Sarah kini tampak merona di buatnya.


"Yang sempurna itu Daus, kalian hanya belum menyadarinya saja," ucap Ika tak ingin kalah.


"Apanya yang sempurna, muka iya, tapi sikap kaku kayak robot dan dingin kayak kulkas, hii aku nggak bisa membayangkan jika nanti dia jadi suamiku, bisa mati membeku aku," seloroh Lisa membuat mereka terkekeh.


"Huss, kalian ini, datang-datang bukannya doain Ulfi biar cepat sembuh, malah ngajak ghibah," sela ustadzah Fauziah. Mau tidak mau wanita itu harus menghentikan aksi seribu bibir santriwatinya itu karena sudah mulai menyebut nama cucu kakek Ghafur yang tidak di ketahui oleh para santri tentunya.


"Iya ustadzah, maaf," cicit Lisa.


"Assalamu 'alaikum," ucap seorang pria yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat Ulfi.


Serentak para penghuni kamar satu itu berbalik ke arah pintu dan kompak merasa terkejut. Apalagi saat melihat Ammar membawa sebuah kantongan berisi bubur ayam dan langsung menyerahkannya kepada Ulfi.


"Pssst, itu ustadz Ammar kan? Aku nggak salah lihat kan?" bisik Lisa namun dapat di dengar oleh ke enam gadis itu.


"Nggak tahu, coba tanyakan langsung ke orang itu," ujar Ira ikut berbisik.


"Sembarangan aja kamu, masa iya aku nanyain langsung ke orang itu kalau dia beneran ustadz Ammar atau bukan," bisik Lisa lagi, membuat mereka terkekeh geli.


"Tapi aku juga penasaran loh serius, tapi bukan siapa, melainkan kenapa beliau bisa ada disini," ujar Ika.


"Nggak usah penasaran, ustadz Ammar kan ustadz kita jadi wajar jika beliau menjenguk Ulfi," sahut Sinta.


Sarah yang sejak tadi tidak bersuara, diam-diam memperhatikan Ammar yang saat ini sedang mengupas buah, namun sebuah cincin yang melingkar di jari manis pria itu menarik perhatian Sarah.


"Sejak kapan ustadz punya cincin yah," batin Sarah saat melihat cincin emas putih di jari manisnya.


"Sin, lihat deh disana," bisik Sarah menunjuk ke arah ustad Ammar.


"Iya aku lihat, tapi ada apa?" tanya Sinta penasaran.


"Itu loh, cincin yang di pake ustadz Ammar," tukas Sarah.


"Oh iya, memangnya kenapa dengan cincinnya?" ujar Sinta sejenak, namun tiba-tiba ia menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Ya ampun, apa Ustad Ammar sudah nikah?"


-Bersambung-


__ADS_2