
Dia saudara tak sedarahku, dia yang dulu mendekat, di saat yang lain menjauhiku, dia yang percaya, di saat yang lain mengecapku pembohong, dan dia yang menghiburku di saat yang lain menghakimiku.
Kata sebagian orang, satu kesalahan bisa menutupi seribu kebaikan. Tapi, sepertinya itu tidak berlalu untukku. Hubungan kita memang merenggang sejak masalah itu, tapi rasa rindu itu masih ada hingga saat ini, aku tidak mungkin melupakan semua kebaikan yang pernah kamu berikan kepadaku.
Jika nanti kamu ingin datang, datanglah, karena sesungguhnya aku sudah belajar berbesar hati untuk memaafkan dan berdamai denganmu.
(Lutfiyah Salamah Rasyid)
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Ulfi, Lisa, Ira, Ika dan Sarah seketika menghentikan tawa mereka saat menyadari siapa yang ada di hadapan mereka saat ini. Dan secara bersamaan, ke empat wanita itu menoleh ke arah Ulfi yang masih diam bergeming menatap orang itu.
"Fira?" lirih Ulfi menyebut nama wanita yang semakin mendekat ke arahnya.
Saat Fira telah berada tepat di hadapan Ulfi, tanpa diduga-duga, wanita itu langsung bertekuk lutut di hadapannya. Dia tidak peduli siapa yang melihatnya saat ini.
Semua orang yang ada di situ refleks menutup mulutnya dengan tangan karena begitu terkejut. Begitu pun dengan Ulfi yang refleks mundur satu langkah saat melihat sikap Fira.
"Ulfi, aku ingin memohon maaf atas semua perbuatanku dulu. Tolong maafkan aku," ucap Fira sembari tertunduk.
Mendengar permintaan maaf itu, Ulfi tersenyum haru. Ia memindahkan Aqil yang sejak tadi berada dalam gendongannya kepada Ika, lalu melangkah menghampiri Fira. Kemudian ia meraih kedua pundak wanita itu dan membawanya kembali berdiri.
Senyuman tulus tampak ia perlihatkan kepada Fira lalu memeluknya. "Kemana saja kamu selama ini? Seperti hilang di telan bumi saja. Tenang saja, aku sudah memaafkanmu," ujar Ulfi lalu melepas pelukan Fira.
"Benarkah? Apa kamu nggak menyimpan dendam kepadaku? tanya Fira.
"Yaa nggak lah, dendam itu penyakit hati, hati dan tubuhku bisa saja rusak karena penyakit hati yang sangat berbahaya itu. Lagian, ini sudah hampir 4 tahun sejak masalah itu, aku pasti sudah tua jika masih saja mengenangnya," terang Ulfi sembari tertawa pelan.
"Benarkah?" Fira masih memastikan ketulusan wanita di hadapannya itu, dan langsung di angguki oleh Ulfi.
"Hiks, terima kasih, Ulf. Aku memang jahat banget, bahkan sampai aku sudah menikah aku masih saja memikirkanmu, aneh kan?" ujar Fira yang terisak sembari tertawa kecil di akhir kalimatnya karena merasa lucu.
"Ternyata kamu udah nikah yah, alhamdulillah. Sekarang lupakan semua masa lalu buruk itu, cukup masa lalu yang seru saja di ingat," lirihnya sembari mengusap punggung Fira.
Tanpa di sangka-sangka, Sarah, Ika, Ira, Sinta dan Lisa ikut menghambur memeluk mereka bersama anak yang mereka gendong tentu saja.
"Hiks, jangan ada lagi kebencian di antara kita yah guys. Kita masuk di pesantren mungkin dengan alasan dan cara yang berbeda-beda, tapi keluar dari pesantren ini dalam keadaan yang sama. Sama-sama senang dan tak menyimpan rasa benci apalagi dendam dalam hati," ujar Ulfi begitu bijak.
Masih asik saling berpelukan, tiba-tiba suara deheman seorang pria mengagetkan mereka dan refleks melerai pelukannya.
"Eh, Ustadz Ammar, Firdaus dan ...." Ucapan Ika terpotong saat ia kembali melihat sosok pria yang pernah membuatnya merasa malu berat saat pernikahan Sarah.
"Azka," sambung pria itu sembari tersenyum.
__ADS_1
"Eh, i-iya, itu sudah," jawab Ika begitu kaku.
"Kalian lagi ngapain di sini?" tanya Ammar heran.
"Ini lagi melepas rindu saja kok, Ustadz," jawab Sinta.
"Oh, ya sudah, lanjutkan pelukannya, kami akan masuk dulu," ujar Ammar. "Aqil mau ikut sama Abah nggak?" tawar Ammar kepada putranya yang masih berada dalam gendongan Ika.
"Mau, tapi gendongna cama Om ini," jawab anak kecil itu sembari menunjuk Azka.
Pria itu kemudian mendekat dan mengambil Azka dari gendongan Ika, membuat gadis itu menahan napas sesaat dengan wajah yang sudah memerah bagaikan kepiting rebus.
"Lah, nih anak. Kecil-kecil udah pintar nyomblangin orang," celetuk Sinta.
"Jangan salah, dia udah aku kader. Biasanya kalau udah gitu berarti orang yang bersangkutan memang udah jodoh," ujar Ulfi menimpali.
"Tapi Ustadz Azka ini masih single atau udah nikah?" tanya Firdaus, tentu saja hanya pura-pura karena ia sudah tahu jawabannya.
"Belum," jawab Azka sedikit malu-malu.
"Duh, pas banget. Di antara kita bertujuh hanya Ika yang masih single," ujar Lisa.
"Hei, jangan lupakan aku, aku juga masih single yah," protes Sinta.
"What? Kamu udah di khitbah? Siapa? Dih nggak bilang-bilang, malah mengaku single padahal aslinya udah mau jadi menten," cerocos Ulfi.
"Yaa siapa lagi Ulf kalau bukan yang ngomong tadi." Bukan Sinta yang menjawab kali ini tapi Ira.
"Astaga, berarti kalian beneran datang berpasang-pasangan kecuali aku? Allahu Akbar." Ika yang tadi malu-malu kembali berbicara, seolah ia melupakan siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Tenang, kamu udah punya pasangan kok, asal kamu nikah dulu," ujar Ammar sembari merangkul Azka.
"Maksud Ustadz apa?" tanya Ika bingung.
"Nanti biar Ulfi yang jelaskan, sekarang kita masuk dulu, acara sudah mulai nih," ajak Ammar lalu melangkahkan kakinya memasuki gerbang, di ikuti yang lain.
Acara berlangsung begiru meriah, setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan sambutan dari para petinggi pesantren, kini giliran para santri yang melakukan pertunjukkan seperti mini drama mengenai keseharian para santri di pesantren, mulai dari santri yang taat aturan hingga santri tukang kabur, tentu saja di ambil dari kisah nyata salah satu alumninya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ulfi.
Melihat pertunjukan itu, Ulfi tidak henti-hentinya tersenyum membayangkan betapa bandelnya ia dulu. Jika saja ia tidak sampai di nikahkan, mungkin catatan kaburnya akan semakin bertambah.
Setelah pertunjukan itu, kini tiba saatnya memperlihatkan foto kenangan saat para alumni masih menjadi santri. Tentu saja foto-foto itu di ambil oleh para ustadz. Lagi-lagi ia tersenyum saat melihat foto teman seangkatannya saat pertama kali menginjakkan kaki di pesantren, tampak begitu polos dan lucu, bahkan ada juga beberapa foto Ammar saat masih menjadi santri yang tampak begitu imut.
"Ulf," panggil Ika membuat Ulfi langsung menoleh ke arahnya yang tampak sedang gelisah, membuat ibu satu anak itu langsung paham akan maksud Ika memanggilnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, afwan Ika, aku lupa. Jadi gini, sebenarnya Ustadz Azka sudah bicara kepada kami jauh-jauh hari sebelumnya tentang niat baiknya." Ulfi menggantungkan perkataannya.
"Niat baik?" tanya Ika bingung.
"Iya, Ustadz Azka itu sudah lama menaruh hati sama kamu, lebih tepatnya saat dia melihat kami di Kairo kuliah. Mungkin kamu tidak pernah melihatnya, tapi dia justru sering melihatmu di kampus secara tidak sengaja. Dari situ ia mulai memantapkan hati dan memohon petunjuk Allah, dan hasilnya tetap kamu." Ulfi menghentikan perkataannya untuk menutup mulut Ika yang refleks menganga karena terkejut.
"Udah, nih mulut nggak usah pake acara di buka, intiya semua ini nyata, dan jika kamu berkenan dia akan ke rumahmu besok untuk melamar," ujar Ulfi sembari menahan tawa.
"Besok?" ulangnya semakin terkejut.
"Iya, dia udah diminta segera menikah oleh orang tuanya, makanya dia butuh jawaban kamu, bukankah niat baik memang perlu disegerakan?" jawab Ulfi.
Ika tampak berpikir sejenak, kemudian perlahan wajahmya tampak memancarkan senyuman tipis, "aku mau," jawabnya malu-malu. Terang saja ia begitu cepat menerima, sebab pada kenyataannya ia sudah jatuh hati pada pria itu sejak pertama kali bertemu.
"Oke alhamdulillah, berarti semua anggota kamar satu fix sold out, meskipun duanya masih otw. Semoga dilancarkan yah, terharu aku guys," ujar Ulfi.
"Iya alhamdulillah, selamat yaa," ucap Sarah, Ira, Lisa dan Fira secara bersamaan kepada Ika dan Sinta.
Mereka kembali menikmati malam reuni akbar yang begitu meriah dengan penuh suka cita.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Ulfi, gadis manja yang masuk ke pesantren karena di jebak kini begitu betah tinggal di sana. Bahkan ia tidak lagi menyebutnya dengan penjara suci melainkan rumah ternyaman. Tempat di mana ia mulai mengenal aturan agama, tempat ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang tulus, bahkan juga tempat ia bertemu dengan jodoh dan kebahagiannya.
Dalam mencapai puncak kebahagiaan, terkadang dibutuhkan pengorbanan. Jalan yang dilalui setiap orang pun tentu tidak sama, ada yang lurus, ada yang menanjak, ada yang menurun bahkan ada yang berkelok -kelok, semua itu terjadi tak luput dari kuasa Allah Yang Maha Tahu akan kemampuan masing-masing hambaNya.
Jangan sesali apa yang baru saja terjadi padamu, sebab bisa jadi di masa depan ia justru akan mendatangkan kebaikan. Yang terpenting adalah kita menjalani kehidupan saat ini dengan baik, sebab apa yang kita tuai hari ini maka itulah yang akan kita panen di masa yang akan datang.
-Tamat-
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Setelah sebulan lebih berjalan, akhirnya saya bisa menammatkan kisah Ulfi dalam novel berjudul "Terjebak Di Penjara Suci".
Terima kasih banyak kepada Kakak-kakak readers yang telah menyempatkan diri untuk membaca karya receh ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam novel ini, ambil yang baik dan buang yang buruk. Semoga novel ini bisa memberikan manfaat untuk kakak-kakak readers terutama saya yang masih harus banyak belajar ini.
Sekali lagi hanya ucapan terima kasih yang bisa saya ucapkan kepada kakak-kakak semua. Author tanpa readers apalah artinya, so I Love You All ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
Sampai bertemu lagi di karya saya berikutnya. Salam hangat dari saya.
UQies
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
__ADS_1