
Rindu
Ku pikir diriku tak merindu, nyatanya, hatiku gelisah saat tak melihatmu.
Cinta
Ku pikir diriku tak mencinta, nyatanya, rasa nyaman menghampiriku saat bersama denganmu, rasa cemburu menggangguku saat melihatmu dengan yang lain, dan rasa khawatir menyelimutiku saat mendengar kabar buruk darimu.
Yah, ku akui hatiku telah jatuh pada kesabaranmu, pada sikap dewasamu, dan pada seluruh yang ada padamu. Namun, aku tidak pandai dalam merangkai butiran kata demi kata hingga membentuk sebuah tasbih cinta.
Tapi, jika kamu ingin tahu seberapa dalam rasa cintaku padamu, maka aku tidak akan mampu menjabarkannya, karena yang mampu dijabarkan hanyalah sesuatu yang dapat diukur, dan cintaku padamu adalah sesuatu yang tidak dapat di ukur.
Katakan aku berlebihan, namun itulah yang aku rasakan. Meski begitu, Allah tetaplah nomor satu untuk semua cinta yang ada di dunia ini.
(Lutfiyah Salamah Rasyid)
💮💮💮
Hari demi hari telah berlalu, Ulfi kini telah siap dengan rencananya yang pernah ia buat saat dia putus asa karena kehilangan bros pemberian Ammar.
Dengan bantuan Ayah Rasyid, Ulfi kini telah berada di sebuah bandara. Ia melangkahkan kakinya keluar dari bandara sambil mencari seseorang yang katanya sedang menunggu kedatangannya.
Dan benar saja, dari kejauhan, gadis itu sudah dapat melihat Balqis bersama ayahnya sekaligus kakak iparnya beberapa kali melambaikan tangan ke arah Ulfi.
Karena hari sudah semakin larut, Ghazali dan Balqis langsung mengantar Ulfi ke apartemen Ammar, tak lupa ia menyebutkan kode sandi pembuka pintu tempat tinggal suaminya itu.
Dengan langkah pelan, Ulfi masuk dan hendak memberikan kejutan kepada sang suami. Namun, belum sampai di kamar Ammar, ia justru dikejutkan dengan suara Ammar yang terdengar seperti sedang memanggil seseorang.
Karena penasaran, Ulfi perlahan membuka pintu kamar Ammar, dan kini ia dapat melihat dengan jelas suaminya yang sedang memanggil 'bunda' sambil tertidur. Bahkan kening dan lehernya sudah basah oleh keringatnya.
Tanpa pikir panjang, Ulfi langsung menghampiri Ammar, ia duduk di samping Ammar sambil menepuk pelan pipinya.
"Sssst, ustadz?"
"Ustadz, bangunlah."
"Ustadz, bangun, ba..." ucapan Ulfi terpotong saat Ammar kembali berteriak.
"Bunda" teriak Ammar sembari bangkit dari tidurnya dan membuka mata.
"Ustadz? Ustadz tidak apa-apa?" tanya Ulfi, membuat pria itu menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Ulfi? Apa saya masih bermimpi?" lirihnya sembari memegang kedua pipi Ulfi, dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
"Tidak ustadz, ini bukan mimpi, saya memang datang ke tempat ustadz," ujar Ulfi dengan tangan yang kini terulur untuk menghapus air mata Ammar.
Tangannya bergerak dengan lembut mengusap pipi Ammar yang sudah basah oleh air mata, namun seketika gerakan tangannya terhenti saat Ammar memegang kedua tangannya.
"Saya sedang tidak bermimpi kan? Kamu memang Ulfi kan?" tanya pria itu dengan mata yang mulai berbinar bercampur air mata yang masih sediki menggenang di pelupuk matanya.
Ulfi menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum, ia baru hendak mengeluarkan suara namun kembali tertahan saat Ammar langsung memeluknya dengan erat.
"Terima kasih sudah mau datang kesini, kamu tahu, saya benar-benar merindukan kamu," ucapnya.
Ulfi yang mendengarnya kini merasakan desiran hebat di hatinya, jantungnya berdebar tidak keruan, ia sangat bahagia mendengar kata rindu yang terucap dari bibir suaminya itu.
Tangan Ulfi kini terangkat dan membalas pelukan Ammar, bahkan ia sedikit menepuk-nepuk punggung Ammar untuk memberikan rasa tenang pada pria itu.
Seakan teringat akan sesuatu, Ammar langsung melepaskan pelukan Ulfi dan mengamati kerudung panjang yang ia kenakan, sesaat kemudian pria itu tertunduk lesu.
Ulfi mengerti apa yang di cari Ammar saat ini, ia pun tersenyum sebelum akhirnya mulai berbicara.
"Maaf ustadz, bros pemberian ustadz hilang di dalam lemari saya, entah kemana perginya, bahkan saya sudah putus asa mencarinya tapi tidak kunjung saya temukan." Ulfi menghentikan sejenak kata-katanya untuk melihat reaksi Ammar.
Ammar yang sejak tadi menyimak perkataan Ulfi kini mengusap matanya yang kembali berair. Ia tentu paham akan maksud dari istrinya itu.
"Apa kamu yakin?"
"Apakah dengan sampai disini masih menujukkan keraguan?" Alih-alih menjawab, Ulfi justru kembali bertanya, dan membuat Ammar menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Pria itu kini kembali menarik Ulfi ke dalam dekapannya, "terima kasih karena sudah mau mencintai saya Ulfi, saya sangat bahagia."
"Saya yang berterima kasih ustadz karena sudah sabar menghadapi saya dan mencintai saya dengan tulus," ucap Ulfi sembari membalas pelukan Ammar.
Ammar semakin mengeratkan pelukannya, ia merasa gadis belia di hadapannya ini semakin dewasa dan tidak lagi bar-bar seperti saat baru masuk di pesantren.
Bahkan kini tubuhnya yang terasa menggigil tak lagi ia pedulikan, rasanya ia ingin terus memeluk gadis di hadapannya ini.
Cukup lama mereka berada dalam posisi itu, hingga Ammar melepas pelukannya karena merasa tubuhnya semakin lemah, debga sisa kekuatannya, pria itu mengecup kening Ulfi dengan begitu lembut.
Namun, seketika Ulfi merasa ada yang salah, keningnya mendeteksi suhu Ammar yang cukup hangat. Ia meraba kening Ammar untuk memastikan, dan benar saja, kening pria itu terasa cukup hangat, bahkan suaminya itu tampak lemah dan kedinginan saat ini.
"Ustadz baring dulu yah, saya ingin mengompres ustadz," ucap Ulfi sembari membaringkan tubuh Ammar lalu pergi ke dapur.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ulfi datang dengan membawa wadah berisi air dan handuk kecil.
Dengan hati-hati dan tanpa menimbulkan suara, Ulfi mulai mengompres suaminya yang kini tampak mulai tertidur dengan nyenyak, mungkin tadi ia begitu lelah karena mimpi buruknya.
Beberapa kali Ulfi mengganti air kompresan yang sudah dingin, hingga tidak terasa ia pun tertidur sambil duduk di sisi tempat tidur Ammar karena kelelahan.
Malam kini berjalan begitu cepat, mengantar dua orang yang terlelap ke dalam mimpi yang indah. Hingga tiba saat adzan subuh mulai berkumandang.
Ammar perlahan membuka matanya, dan langsung menoleh mencari keberadaan Ulfi untuk memastikan apa yang ia lihat semalam bukanlah mimpi.
Pria itu kemudian mengulas senyum saat mendapati gadis yang semalam merawatnya sedang tertidur di sampingnya dalam keadaan setengah duduk.
Perlahan ia beranjak dari tempat tidur dan hendak mengangkat tubuh Ulfi agar bisa tidur dengan nyaman di atas kasur, namun baru akan memindahkannya, gadis itu terbangun sehingga Ammar malah mengangkat istrinya itu ke atas pangkuannya.
"Ustadz?" ucapnya lalu refleks meraba kening Ammar.
"Huffth, syukurlah demamnya sudah turun," ucapnya lagi dengan raut wajah lega namun masih terlihat lelah.
Raut wajah Ulfi seketika berubah tegang dan jantungnya berdegup kencang saat menyadari dimana ia duduk saat ini.
"Astaghfirullah maaf ustadz," ucap Ulfi lalu hendak turun dari pangkuan Ammar, namun tangan pria itu justru menahan pinggang rampingnya sehingga ia tidak bisa banyak bergerak.
Merasa dirinya tak mampu melepaskan diri, Ulfi kini diam bagai patung yang tertunduk tanpa berani melihat wajah suaminya yang saat ini berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Ulfi, ada yang ingin saya tanyakan," ucap Ammar dengan wajah serius.
"A-apa ustadz?" tanyanya masih tak berani menatap wajah suaminya itu.
-Bersambung-
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apa kabar semuanya, semoga Allah senantiasa menjaga kita semua , aamiiin.
Oh iya, SELAMAT HARI IBU untuk semua para ibu dan calon ibu. Kasih sayang dan cinta tulusmu tak dapat di hitung. Bagai matahari yang menyinari dunia tanpa mengharapkan balas jasa.
Menjadi Ibu memang tidak mudah, butuh kesabaran yang luar biasa tentunya. Namun di balik itu semua, Allah telah menyiapkan pahala yang sangat besar juga.
Tetaplah semangat dalam menjaga dan mendidik anak-anakmu, semoga kelak mereka menjadi anak sholeh-sholehah yang senantiasa mendoakanmu sampai kapan pun itu.
Love you all 🥰
__ADS_1