Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 60


__ADS_3

Kata pepatah


Jangan remehkan diamnya orang sabar, sebab saat ia marah tak ada lagi yang membuatnya takut selain Allah.


Sama halnya dengan yang terjadi saat ini di hadapan Ulfi. Meski matanya telah di penuhi air mata, tapi ia masih dapat melihat dengan jelas kilatan amarah di sorot mata pria di hadapannya dan Boy. Siapa lagi kalau bukan Ammar.


Bahkan wajahnya kini tampak merah padam, rahangnya mengeras dan tatapan matanya tajam seakan siap menerkam mangsa saat itu juga.


"Akh dasar pria tua ini merusak rencana saja," gerutu Boy sembari mendekati Ammar.


Ammar tidak mengalihkan tatapannya dari pria muda di hadapannya. Sama halnya dengan yang dilakukan Boy, pria itu juga ikut melangkah mendekati Boy, dan tanpa aba-aba sebuah bogeman mentah langsung melayang ke wajah Boy, hingga membuatnya terhuyung ke belakang.


"Ck, dasar pria tua si***an!" Boy kembali menghampiri Ammar untuk meleyangkan bogemannya, tapi sayang, Ammar rupanya lebih gesit dari dugaannya.


Pria itu dengan mudah menghindari bogeman yang dilayangkan Boy. Sebagai gantinya, ia menarik tangan Boy itu lalu menendang kaki Boy hingga membuatnya langsung tersungkur.


Bukannya membiarkan Boy yang sudah tersungkur, Ammar justru kembali melayangkan pululan bertubi-tubi ke wajah pria itu.


"Bahkan semua pukulan ini tidak akan seimbang dengan semua yang sudah kau lakukan kepada istriku, kehormatan dan harga diri istriku!" sungut Ammar sembari terus memukul wajah Boy yang sudah mulai mengeluarkan darah.


"Hmmmp, hmmmmp." Ulfi mencoba bersuara untuk menghentikan Ammar. Sungguh ia tidak ingin sampai suaminya itu membu*** orang.


Ammar menghentikan gerakannya saat mendenfar suara Ulfi yang tertahan karena tertutup lakban. Ia kini beralih menatap istrinya yang sudah berantakan, rambut berantakan dan tidak lagi di tutup kerudung, pipi yang sedikit lebam, dan ujung bibir yang memperlihatkan darah kering, hatinya begitu sakit melihat keadaan Ulfi.


Takdir benar-benar menguji kesetiaan istrinya itu. Padahal jika ingin cari aman, Ulfi bisa saja mengikuti Boy, secara pria itu sangat tampan, bahkan terlihat sempurna karena berasal dari keluarga yang kaya raya. Tapi, rupanya apa yang di katakan Ulfi waktu itu memang benar. Kesetiaan adalah sumber dari ketenangan hati. Belum mencintai saja ia sudah setia, apalagi saat sudah mencintai.


Ammar berdiri mendekati Ulfi dengan tatapan sendu. Tangannya segera meraih kerudung yang berada di lantai dan memasangkannya di kepala Ulfi. Tak lupa ia membuka perlahan lakban yang menutupi mulutnya dan juga membuka ikatan di tangan Ulfi.

__ADS_1


"Maafkan saya yang lagi-lagi gagal menjaga kamu," ucap Ammar dengan suara yang mulai bergetar lalu mendekap tubuh mungil Ulfi.


Berkali-kali kata maaf keluar dari bibir pria itu, membuat Ulfi segera melepas pelukannya. "Hubby nggak salah, justru saya bersyukur karena Allah mendatangkan Hubby di waktu yang tepat," ujar Ulfi lembut sembari memegang kedua pipi Ammar yang juga mulai sedikit basah oleh air mata. "Terima kasih, Hubby," lanjutnya dengan suara pelan lalu kembali memeluk sang suami.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Ammar dam Ulfi memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, mereka tak lagi kembali ke kampus atau ke sekolah, menenangkan pikiran saat ini adalah tujuan mereka.


Sembari merangkul pinggang Ulfi, Ammar berjalan memasuki rumah mewah itu.


"Ulfi, Ammar, ada apa, Nak? Kenapa wajah Ulfi seperti ini?" tanya Ibu Hana sangat khawatir saat melihat mereka memasuki rumah.


"Begini, Bu, Boy kembali bebas dan menculik Ulfi tadi," jawab Ammar.


"Apa? Bagaimana bisa?" Ibu Hana tampak begitu terkejut. Ia meminta penjelasan detailnya kepada mereka berdua.


"Kembalilah ke pesantren, Nak. Sepertinya itu memang tempat yang paling aman untuk kamu, kalau pun ia ingin kesana lagi, setidaknya wajahnya sudah di kenali oleh ustadz atau tim keamanan di sana," ujar Ibu Hana setelah berpikir sejenak.


"Hah? Beneran, Bu?" tanya Ulfi semangat.


"Apa Ibu tidak apa-apa jika kami tinggal di pesantren?" tanya Ammar.


"Iya, Ibu minta maaf, seharusnya Ibu tidak memaksa kalian tinggal di sini. Walau bagaimana pun juga Ulfi adalah istri kamu, tanggung jawab kamu, Ammar. Kamu lebih berhak menentukan di mana kalian akan tinggal," tutur Ibu Hana yang mulai kembali menangis.


"Ibu, maafkan kami jika belum bisa membuat Ibu bahagia," ujar Ulfi memeluk sang Ibu.


"Tidak, Sayang. Ibu sudah sangat bahagia melihat kalian bahagia, Nak. Kembalilah ke pesantren besok dan jangan lupa, kasi Ibu cucu secepatnya yah." Ibu kini ikut menarik Ammar ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Insya Allah, Bu," jawab Ammar, lalu melirik Ulfi yang berada di sampingnya dengan wajah yang sudah bersemu merah bak kepiting rebus saat mendengar permintaan terakhir ibunya itu.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Keesokan harinya, setelah mengurus perpindahan kampus untik Ulfi dan resign untuk Ammar, mereka langsung berangkat ke pesantren. Sebelum sampai di pesantren, mereka harus menaiki pesawat seperti biasa.


Selama dalam perjalanan, Ulfi tak pernah melepaskan tangan suaminya. Entah kenapa setelah melewati semua masalah yang menghampirinya akhir-akhir ini, rasa cintanya kepada Ammar seolah terpupuk dengan baik hingga perasaannya kian tumbuh subur di dalam hati.


Begitu pun dengan Ammar yang semakin mencintai istrinya itu. Benar kata pepatah, masalah itu ada untuk menguatkan ikatan cinta, dan itu jelas sudah terbukti di antara mereka.


Apalagi Ammar yang tidak pernah lagi bermimpi buruk dan sakit setelah pernikahan mereka resmi di adakan. Dan itu adalah suatu kesyukuran besar bagi pria itu. Kehadiran Ulfi dalam hidupnya telah memberikan warna sekaligus menjadi obat bagi segala kesulitan yang ia hadapi sebelummya.


Setelah menempuh perjalanan yang begitu melelahkan dengan pesawat dan mobil. Kini mereka tiba di depan gerbang pesantren yang cukup tinggi itu.


"Dan kembali lagi di pesantren, dengan Ustadz Killer ini tentu saja," celetuk Ulfi seketika membuat Ammar melotot ke arahnya.


"Hehe, hanya mengenang masa-masa hobi kabur dulu yang pada akhirnya selalu dibawa pulang oleh Hubby, iya kan?" lanjutnya sembari nyengir menampilkan gigi putihnya.


Ammar tersenyum saat kembali mengingat masa-masa itu. "Padahal banyak orang yang sebenarnya bisa membawa kamu pulang saat itu, tapi qadarullah, Allah selalu menunjuk saya," imbuh Ammar.


"Bener, mungkin ini cara Allah memperkenalkan kita," ujar Ulfi sembari menatap sang suami.


"Iya betul, Sayang," timpal Ammar juga ikut menatap Ulfi.


Mereka sejenak saling menatap, kemudian melangkah masuk bersama dengan bergandengan tangan. Selama perjalanan menuju rumah guru khusus milik Ammar, Ulfi dan Ammar sering berpapasan dengan para santri maupun santriwati dan tentu saja mereka akan mengucapkan salam sebagai bentuk rasa hormat mereka.


Saat berada di depan koperasi, tanpa sengaja Ulfi dan Ammar melihat Lisa sedang belanja di koperasi. Meski tempat itu ramai, Ulfi dapat dengan mudah menebak jika Lisa tidak haya sedang belanja melainkan juga sedang berbicara serius dengan seseorang.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2