Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 49


__ADS_3

Hari kini semakin sore, bahkan sang mentari perlahan mulai tergelincir ke ufuk Barat, semburat warna jingga yang begitu indah pun mulai menghiasi langit.


Di bawah langit pesantren ini, kembali para santri berkumpul dengan sejuta cerita selama liburan, tak terkecuali di asrama putri kamar satu.


Bahkan sejak sore tadi hingga senja, kamar itu tak pernah hening, ada saja bahan cerita yang kadang membuat tertawa dan tidak jarang membuat pendengarnya bergidik ngeri.


Ya, salah satunya adalah kisah Lisa siang tadi, gadis itu menceritakan kisahnya yang hampir tertabrak oleh mobil, namun Firdaus datang menolongnya bagaikan di film-film action-romantic, membuat cerita yang harusnya sedikit menakutkan justru berubah menjadi cerita komedi.


"Bagaimana denganmu Ulfi, kenapa kamu tidak ikut berbagi cerita?" tanya Ika membuat semuanya kini menoleh ke arah gadis itu.


Ulfi yang disebut namanya mendadak salah tingkah sekaligus bingung. Menurutnya, selama di Jakarta ia tidak memiliki cerita yang perlu dibagikan karena menyangkut kehidupan pribadinya dengan orang tuanya. Tidak mungkin juga kan dia menceritakan pengalaman mengerikannya saat di Mesir, mengingat ada dua orang yang harus ia jaga perasaannya, meskipun itu bukan cerita romantis.


"Sepertinya nggak ada," jawabnya kemudian.


"Apa selama libur kamu tidak pernah bertemu dengan ustadz Ammar?" Ira ikut bertanya.


Ulfi yang agak ragu hendak membuka mulut untuk menjawab, namun ia urungkan kembali saat Lisa lebih dulu membuka suara.


"Gimana ceritanya mau ketemu, satu di ujung sana, dan satu di ujung sini," ujar Lisa sambil merentangkan kedua tangannya menjelaskan posisi tersebut, membuat mereka tertawa pelan dengan tingkah Lisa.


Saat masih asik bercerita, Sinta langsung berbicara dengan nada tinggi menyela cerita mereka.


"Guys, udah mau maghrib, kalian nggak ada yang mau mandi?" tanya Sinta.


"Astaghfirullah, iya, ayo mandi, aku duluan yah," ujar Sarah cepat.


"Ana ba'daki (saya setelah kamu)," sambung Ika.


"Ba'daki Ika," ujar Ulfi.


"Et et et, kalian kalau antri kayak gini di waktu yang udah mepet pasti akan terlambat," sela Lisa.


"Jadi?" tanya Ulfi bingung.


"Kita mandi bareng di bak besar aja," usul Lisa.


"Setuju," jawab semuanya kecuali Ulfi yang bingung.


"Mandi bareng? Ih malu lah!" protes Ulfi.


"Nggak perlu malu, kan mandinya pake sarung beb," ujar Ika sembari mengambil sarung di dalam lemarinya.

__ADS_1


"Oh gitu, okelah."


Ulfi langsung bergegas mengambil sarungnya dan ikut pergi ke kamar mandi bersama teman kamarnya.


Ya, selain memiliki beberapa bilik kamar mandi, area kamar mandi di asrama mereka juga memiliki bak besar di luar bilik tersebut, namun masih dalam area tertutup jadi tidak akan ada yang melihat mereka kecuali para santriwati lain yang ingin mandi. Dan itu sering di jadikan sebagai tempat mandi bersama yang dapat meningkatkan keakraban mereka.


Mereka pun melewati mandi bersama yang begitu menyenangkan, bahkan melalui mandi tersebut, Sarah mulai berbicara kembali dengan Ulfi tanpa nada ketus sama sekali. Mingkin gadis itu mulai belajar menerima fakta.


Setelah menyelesaikan acara mandi, mereka berangkat ke masjid bersama, hingga pulang pun bersama. Bahkan kali ini, mereka bersepakat makan di asrama, mumpung ini adalah hari pertama masum pesantren jadi aturan asrama masih agak longgar.


Dan kali ini adalah giliran Ulfi, Sarah serta Fira yang akan mengambil makanan.


"Eh, Sinta, apa tidak apa-apa kamu menyuruh mereka pergi bersama?" tanya Ika.


"Tidak apa-apa, lagian mereka butuh waktu untuk saling berbicara kembali dan berdamai kan, insya Allah ini jalan terbaik," jawab Sinta karena mulai tidak tahan dengan sikap Sarah yang selalu mendiami Ulfi.


"Iya yah, semoga saja mereka bisa berdamai," gumam Ira.


Sementara di kantin, Ulfi, Sarah dan Fira tampak sedang mengantri untuk mengambil makanan.


"Ulfi, bagaimana kabarmu dan ustadz Ammar?" Tanya Sarah yang masih agak sedikit canggung untuk berbicara lagi setelah tadi sudah mulai berbicara kepada Ulfi saat sedang mandi.


"Alhamdulillah baik," jawab Ulfi, "apa kamu sudah tidak marah lagi sama aku Sarah?" lanjutnya bertanya.


"Ada apa Sarah?" tanya Fira yang sejak tadi hanya menyimak.


"Liburan kemarin, aku dijodohkan dengan anak dari sahabat ayahku, dan baru saja kemarin aku resmi dilamar," jawab Sarah lesu.


"Masya Allah, selamat Sarah," ucap Ulfi.


"Aku tidak mencintai pria itu Ulfi, aku takut tidak bahagia dengannya," ujar Sarah.


"Selama kamu berusaha mencintainya dan menerimanya, insya Allah seiring berjalannya waktu, Allah akan menghadirkan rasa cinta itu di hati kalian," terang Ulfi sambil mengusap pelan punggung Sarah.


"Hmm, semoga saja," balas Sarah memaksakan senyumnya.


Tak lama setelah itu, mereka pun tiba di asrama dengan membawa makanan sebanyak 7 porsi. Seperti biasa, mereka akan makan bersama menggunakan sebuah wadah besar.


Ulfi tidak lagi menolak, ia justru ikut menikmati makanan tersebut bersama teman-temannya.


Jika ingin terbiasa dengan sebuah kebiasaan yang baru, bukankah lebih baik belajar menerima dan berusaha menikmatinya? Sebab berusaha menolak justru akan membuatmu semakin merasa asing.

__ADS_1


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Keesokan paginya, Ulfi dan keenam teman kamarnya berangkat ke sekolah bersama. Namun, ada pemandangan yang sedikit aneh pagi ini di depan kantor, membuat langkah gadis itu terhenti.


Seorang santriwati berkerudung merah sedang berdiri bersama seorang santri dengan kepala botak yang jaraknya tidak terlalu jauh. Di leher mereka tergantung sebuah papan karton bertuliskan, 'Kami ketahuan pacaran'.


Melihat raut wajah penasaran Ulfi, Ika ikut menghentikan langkahnya dan langsung menjelaskan tentang apa yang terjadi.


"Jadi mereka ini ketahuan bertemu dan pacaran berdua di lingkungan pesantren, nanti saat santri sudah banyak di sekolah, mereka akan di salam-salami oleh para santri seperti orang nikah, ini untuk memberi rasa malu dan jera kepada mereka agar tidak mengulangi kesalahannya lagi," jelas Ika.


"Emang disini sering gitu yah?" tanya Ulfi lagi sambil berjalan meninggalkan pasangan itu dan diikuti Ika di sampingnya.


"Yaa nggak juga, hanya saja ada di antara mereka yang diam-diam saling suka, terus saling berkomunikasi di luar pesantren saat libur, dan saat awal masuk pesantren mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk bertemu, ini hanya terjadi untuk mereka yang belum paham aturan saja kok," terang Ika lagi.


"Wah, ngeri juga yah, kenapa nggak langsung dinikahin aja?" tanya Ulfi.


"Yaa takutnya para santri malah ikuti jejak mereka, sengaja bertemu agar cepat dinikahkan, orang tua mereka juga pasti tidak mau," jawab Ika.


"Oh iya juga yah, hehehe." Ulfi terkekeh pelan. Ia ingin kembali bertanya-tanya namun segera ia urungkan saat ia menyadari langkah kakinya sudah memasuki kelas baru mereka.


Ya, saat ini Ulfi dan teman-temannya sudah berada di kelas 3 SMA yang jika di pesantren biasanya di kenal dengan kelas 6.


"Ulfi, kenapa kemarin kamu tidak datang saat pemilihan ketua Organisasi Pelajar Pesantren yang baru? seru loh," tanya Ira saat melihat Ulfi telah duduk di kursinya.


Ulfi baru teringat bahwa satu hari setelah diumumkannya libur, para pengururs organisasi melakukan musyawarah pemilihan ketua organisasi baru, namun saat itu Ulfi memilih langsung pulang karena kedua orang tuannya sudah datang menjemput.


"Maaf Ira, Ibu dan Ayahku sudah datang menjemput," jawabnya, "jadi, siapa ketua organisasi sekarang?" tanya Ulfi kemudian.


"Yah siapa lagi, Firdaus dong, lalu ketua putrinya Sarah," jawab Ira.


"Wah selamat yah Sarah," ucapnya antusias membuat Sarah tersenyum tipis ke arahnya, namun berbeda dengan Sinta, Ira, Ika, dan Lisa, mereka menatap tidak percaya ke arah mereka.


"Kalian udah berdamai?" tanya Ika.


"Iya alhamdulillah, iya kan Sarah?" tanya Ulfi dan Sarah mengangguk pelan.


Setelah puas bercerita, Ulfi memutuskan untuk mengambil buku yang sebentar lagi akan digunakan, namun keningnya mengerut saat menemukan sebuah kertas yang dilipat sedemikian rupa di dalam tasnya.


"Ini apa?" lirihnya sembari membuka lipatan kertas itu.


Hai Ulfi, aku memiliki sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu, apa kita bisa bertemu usai sholat Isya nanti di belakang asrama kamu?

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2