Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 41


__ADS_3

Matahari kini semakin tinggi, embusan angin kian terasa menerobos masuk ke dalam rumah bernuansa hijau dan putih yang terletak tidak jauh dari pesantren. Tampak begitu sejuk menyapa para santri dan santriwati yang saat ini sedang asik bercerita di halaman belakang rumah.


Bagai waktu yang berhenti, Ulfi menatap jelas benda yang berada tidak jauh dari kakinya. Sangat jelas bahwa itu adalah bros pemberian Ammar untuknya.


Saat menyadari siapa yang ikut terjatuh di hadapannya saat ini, Ulfi dengan cepat mengedipkan mata lalu dengan cepat berdiri dan membantu gadis di hadapannya tanpa mempedulikan bros itu, bahkan ia pura-pura tidak melihatnya.


"Fira, afwan, kamu tidak apa-apa?" ucap Ulfi sembari menarik tangan Fira. Melalui ekor matanya, Ulfi dapat melihat gerakan Fira yang dengan cepat mengambil bros itu dan menyimpannya kembali ke dalam saku roknya.


"Iya tidak apa-apa, kamu bagaimana?" tanya Fira namun tampak wajahnya sedikit gugup.


"Tidak apa-apa, ya sudah aku mau ke depan dulu panggil yang lain," ucapnya tersenyum lalu berbalik pergi ke arah depan. Bersamaan dengan itu, senyuman di wajah Ulfi seketika hilang tak berbekas dan berganti dengan raut wajah kecewa.


Ada rasa kecewa dan marah yang merangkul hatinya saat ini. Baginya, Fira adalah teman yang sangat baik. Di saat yang lain mendiaminya dalam waktu lama, ia justru menjadi orang pertama yang berdamai dengannya.


"Jadi benar, ternyata Fira adalah orang yang membenci dalam kebaikan, menyimpan rasa dendam dalam perhatian, bahkan dia begitu tega mengambil benda pemberian ustadz Ammar tanpa sepengetahuanku."


Ingin rasanya Ulfi mengajukan protes dari sikap palsu Fira, namun ia bagaikan kapas yang terhempas tak tentu arah oleh sapuan angin.


Ulfi marah, namun gadis itu tidak ingin lagi kehilangan teman seperti ia kehilangan Sarah, biarlah selamanya ia menutup mata dari fakta, asal hubungannya dengan Fira tidak pecah bagaikan kaca.


Ulfi kini hampir tiba di pintu depan rumah, langkahnya sejenak terhenti hanya untuk mengatur suasana hatinya saat ini. Perlahan ia menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan.


Setelah dirasa suasana hatinya sudah membaik, Ulfi kembali melanjutkan langkahnya.


"Makanan udah siap, yang mau makan silahkan ke belakang, yang tidak mau silahkan angkat kaki," ujar Ulfi, membuat Syafri, Arsyad, Firdaus dan beberapa teman lelaki lainnya sejenak saling pandang tak bersuara.


"Dih bahasamu Ulf, kayak emak-emak garang aja yang nggak suka lihat teman anaknya ngumpul di rumah," ujar Arsyad yang hendak masuk namun terhalang oleh posisi Ulfi yang tepat berada di ambang pintu.


"Ulfi, geser dikit deh, perutku udah meronta-ronta loh," pinta Arsyad, membuat Ulfi langsung bergeser sehingga jalan masuk pun terbuka.


Mereka akhirnya masuk satu per satu, Firdaus yang berjalan terakhir pun mulai melewati pintu dimana Ulfi berdiri.


"Daus, apa kamu punya nomor ponsel ustadz Ammar dan Balqis?" tanya Ulfi, membuat langkah laki-laki itu terhenti.


"Tunggu, aku akan menuliskannya," ucap Firdaus lalu masuk ke dalam sebuah kamar yang Ulfi duga adalah kamarnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Firdaus keluar dari kamar itu sambil membawa secarik kertas dan memberikannya kepada Ulfi.


Mata Ulfi langsung berbinar melihat kertas dengan tulisan kombinasi angka di dalamnya.


"Oke, syukron Daus," ucap Ulfi.


"Afwan, tante." Mata Ulfi seketika membola mendengar kata terakhir Firdaus, laki-laki itu bahkan sudah pergi semakin mejauh usai mengucapkan itu.


"Hey, jangan memanggilku tante," teriak Ulfi tidak terima. Ia hendak menyusul teman-temannya ke belakang rumah, namun terhalang saat ibu Firdaus keluar dari kamar dan menghadang jalannya.


"Jadi kamu istri Ammar?" tanya wanita itu sembari tersenyum ramah kepada Ulfi.


"Tante," ucap Ulfi sedikit salah tingkah.


Wanita itu tersenyum, "saya kakak kandung Ammar, jadi panggil saja saya kakak, meski usiamu sama dengan usia anak saya," ujarnya.


"Ba-baik kak," jawab Ulfi.


"Boleh kita bicara sebentar?" tanya wanita itu dan di angguki oleh Ulfi.


"Masuklah, dulu ini adalah kamar suami kamu saat ia belum memiliki rumah guru di dalam pesantren, bahkan dia akan kesini saat ia bosan tinggal sendiri di rumah gurunya itu," jelas wanita itu.


Ulfi perlahan masuk dan duduk di kasur tepat di samping wanitaa itu setelah mendapat kode darinya.


"Oh iya nama saya Airin, anak kedua dari Ghafur, sahabat kakek kamu. Kakak pertama saya namanya Ghazali, sekarang beliau sedang di Kairo bersama keluarganya karena sedang melanjutkan studi S3nya di sana, dan Ammar adalah adik bungsu kami," ujar wanita bernama Airin sembari menyodorkan sebuah album foto yang berisi foto-foto Ammar sejak kecil kepada Ulfi.


"Maaf, saat kamu nikah saya tidak datang, kebetulan ada acara di rumah mertua saya saat itu, pas aku undang Ammar makan malam, kamunya malah tidak datang," tutur Airin.


"Memangnya kapan kak?" tanya Ulfi bingung.


Airin sangat terkejut karena bahkan acara itu tidak di ketahui oleh Ukfi. Airin menjelaskan bahwa acara itu berlangsung pada malam jum'at, tepat sebelum Ammar melakukan pengajian. Ulfi baru mengingat bahwa saat itu ia sedang marah kepada Ammar, bahkan sudah beberapa hari ia tinggal di asrama dan tidak ingin bertemu Ammar.


"Dasar anak itu," gerutu Airin namun cepat di luruskan oleh Ulfi.


"Oh maaf kak, aku lupa, saat itu aku lagi ada urusan mendadak jadi tidak bisa ikut," ujar Ulfi sambil nyengir, membuat Airin mengangguk maklum.

__ADS_1


Ulfi mulai membuka album foto itu, sesekli ia tersenyum saat melihat foto Ammar kecil yang sangat menggemaskan.


"Kakak dekat sekali yah sama ustadz Ammar," ujar Ulfi saat melihat beberapa foto yang hanya ada mereka berdua saling merangkul dari kecil hingga dewasa.


Airin tertawa pelan mendengar perkataan adik iparnya itu. "Apa kamu memanggil suamimu dengan sebutan ustadz Ammar?"


"I-iya kak, hehe," jawab Ulfi sambil nyengir bodoh.


"Hahah kamu itu lucu sekali," gelak Airin.


"Saya dan Ammar memang sangat dekat, terutama saat kami kehilangan sosok ibu, Ammar semakin dekat dengan saya, bahkan ia tidak akan ragu berbagi cerita jika ia rasa itu perlu," lanjutnya.


Ulfi masih diam menyimak sembari melihat foto-foto di hadapannya.


"Apa kamu sudah mencintai Ammar?" tanya Airin seketika membuat aktivitas Ulfi terhenti lalu menatap Airin dengan wajah gugup.


"Hahah santai saja, saya paham kamu menikah secara mendadak di usia yang terbilang sangat muda, dan itu tentu butuh waktu untuk menumbuhkan rasa cinta. Tapi apa kamu sudah tahu bagaimana perasaan Ammar kepada kamu?" tanya Airin.


"Sudah kak, sebelum kembali ke Kairo ustadz Ammar sudah jujur tentang perasaannya," jawab Ulfi.


"Kamu tahu, Ammar itu sudah lama suka sama kamu, saya yakin Ammar tidak akan menceritakan ini kepada kamu, tapi saya rasa kamu harus tahu."


Ulfi mengerutkan keninganya menyimak perkataan kakak iparnya itu.


Airin mulai menceritakan tentang bagaimana pertama kali Ammar melihat Ulfi saat usianya baru 19 tahun.


Kala itu, tepat satu bulan pasca meninggalnya ibu mereka, dan Ammar selalu mengurung diri di kamar sejak saat itu, wajahnya datar, tak banyak bicara, hingga suatu hari ia melihat Ulfi yang kala itu baru berusia 9 tahun datang ke rumah kakek Hasan yang memang bertetangga dengan rumah mereka saat itu.


Ammar yang awalnya tidak sengaja melihat Ulfi sedang bermain sendiri akhirnya kembali tersenyum untuk pertama kalinya, dan sejak saat itu keceriaan Ammar kembali.


Airin teringat jelas, saat Ammar berusia 20 tahun, ia tampak gelisah. Ketika ditanya, ternyata dia sedang menantikan kedatangan Ulfi kembali ke rumah kakek Hasan, katanya saat itu ia mulai jatuh hati sama anak kecil yang suka bermain sendiri di rumah kakek Hasan.


Jantung Ulfi berdebar mendengar cerita Airin, hatinya terasa berdesir saat mengetahui fakta itu, rasanya ia ingin sekali tertawa riang namun ia sadar, saat ini ia sedang berada di hadapan kakak iparnya, maka ia harus sedikit jaga image.


"Tapi, ada satu hal yang harus kamu tahu tentang Ammar." Wajah Airin seketika berubah sendu.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2