Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci
BAB 53


__ADS_3

Sarah dan seorang pria yang kini telah berstatus sebagai suaminya kini duduk bersama di atas pelaminan. Wajah Sarah tampak begitu cantik oleh polesan make up, ditambah pria tampan di sampingnya yang memakai seragam polisi membuat keduanya tampak sangat serasi.


Satu yang kurang dari Sarah, yaitu senyuman. Gadis itu tak pernah menunjukkan senyumannya kecuali jika ada yang memberikan ucapan selamat kepadanya, itu pun hanya senyuman terpaksa. Berbeda dengan pasangannya yang tampak selalu memberikan senyuman kebahagiaan tulus dari wajahnya.


Namun, wajah Sarah yang tadinya datar, tiba-tiba tampak terkejut, sejenak ia melongo melihat kejadian di depan matanya, dan sesaat kemudian ia tertawa lepas.


Bagaimana tidak, kejadian di mana Ulfi menyemburkan makanan ke wajah Ustadz Ammar, sementara pria itu terlihat pasrah sembari menutup matanya sungguh berhasil menggelitik perutnya hingga membuat Sarah tak bisa lagi menahan tawanya.


"Ada apa, Dik?" tanya sang suami.


"Itu, Kak, lucu banget." Sarah menunjuk ke arah teman-teman di hadapannya masih dengan tawa lepasnya, bukannya mengikuti arah yang ditunjukkan Sarah, pria di sampingnya itu justru enggan untuk memelingkan wajahnya dari sang istri lantaran kecantikan gadis itu yang meningkat bersama dengan tawanya.


"Ustadz!" lirih Ika, Ira, Sinta dan Lisa bersamaan dengan raut wajah yang sedikit meringis tatkala mendapati wajah tampan ustadz mereka yang kini telah dipenuhi oleh makanan.


"Allahu Akbar, Ustadz?" pekik Ulfi yang baru tersadar akan perbuatannya. Tangannya dengan cepat mengambil tissue dari dalam tas kecilnya, lalu mengusap wajah sang suami dengan begitu lembut.


"Nah, sudah," ucap Ulfi sedikit salah tingkah karena selama ia membersihkan wajah Ammar, pria itu tak pernah memalingkan tatapannya dari wajah Ulfi.


"Masih lengket," ujar Ammar dengan wajah seriusnya.


"Ta-tapi ini udah bersih kok Ustadz," cicit gadis itu sembari menunjuk wajah Ammar yang tampak semakin tampan saja setelah kurang lebih satu tahun tidak bertemu.


Tanpa berbicara, pria itu langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke luar gedung acara.


Ulfi yang melihatnya terdiam sejenak, ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, apakah suaminya itu marah karena mendapat semburan makanan atau karena malu? Entahlah Ulfi tampak bergeming di tempatnya sembari menatap punggung Ammar yang semakin menjauh.


"Hey, Ulf! Mau sampai kapan kamu diam seperti itu? Cepat susul Ustadz Ammar," tegur Ika, membuat Ulfi dengan cepat tersadar dan langsung berlari mengikuti Ammar yang sudah jauh di depannya.


Gadis itu mengikuti Ammar dari belakang, ia mengerutkan keningnya saat Ammar hanya melewati toilet begitu saja.


"Bukankah tadi dia bilang wajahnya lengket? Kenapa nggak singgah di toilet? Terus sebenarnya Ustadz mau kemana sih?" Ulfi membatin karena Ammar terus saja berjalan ke tempat yang sedikit jauh dari gedung, bahkan tempat itu tampak sangat sepi dari orang-orang.


Ulfi berjalan sambil celangak-celinguk memperhatikan tempat itu, hingga membuatnya tidak menyadari bahwa Ammar telah menghentikan langkahnya.


Bugh


Ulfi tidak sengaja menabrak punggung Ammar, hingga membuat pria itu langsung berbalik ke arahnya.


"Astaghfirullah, afwan, Ustadz," ucap Ulfi pelan sembari mengusap hidungnya yang sedikit sakit akibat tabrakan itu.


Namun, bukannya menjawab, Ammar justru melangkah dan semakin mengikis jaraknya dengan Ulfi, sehingga gadis itu refleks berjalan mundur.


"A-afwan, Ustadz, saya beneran nggak senga..." Perkataan Ulfi terputus saat Ammar langsung menariknya ke dalam dekapan.

__ADS_1


Tubuh Ulfi seketika menegang, jantungnya berdegup kencang, pun dengan jantung Ammar, ia dapat dengan jelas mendengar degupan jantung pria itu.


Perlahan tangan Ulfi terangkat dan membalas dekapan Ammar, mencari rasa nyaman dan kehangatan dari pria yang berstatus suaminya itu.


Rasa rindu yang sudah ia tahan sejak satu tahun terakhir kini terlepas sudah. Ia mulai memahami alasan Ammar membawanya ke tempat itu.


"Kaifa haluki yaa Zaujati?" (Bagaimana kabarmu duhai istriku?) tanya Ammar dengan suara pelan dan lembut.


"Bikhair Alhamdulillah," (Baik Alhamdulillah) jawab Ulfi. Hanya itu yang bisa ia katakan, sebab ia sadar kemampuannya dalam berbahasa Arab tidak terlalu bagus.


"Kabar Ustadz gimana?" tanya Ulfi kembali tapi tidak mendapat tanggapan dari Ammar.


"Ustadz?" ulangnya hendak mengurai pelukannya, tapi Ammar justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Apa kamu lupa dengan panggilanmu untuk saya?" tanya Ammar.


Gadis itu sejenak terdiam, dan beberapa saat kemudian ia mulai mengingatnya.


"Bagaimana kabarmu Hubby?" Ulfi mengulangi pertanyaannya tapi dengan panggilan yang berbeda.


Mendengar panggilan yang sudah lama tidak ia dengar, membuat Ammar menarik ujung bibirnya. Ia kemudian melepas pelukannya dan menatap Ulfi yang semakin terlihat dewasa dan semakin cantik tentu saja.


"Baik, Sayang," jawabnya menatap lekat mata Ulfi.


"Kemarin, Sayang, tapi saya terpaksa singgah di sini karena masih ada beberapa urusan dengan teman," jawab Ammar.


"Ooo," Ulfi membulatkan bibirnya. "Lalu setelah ini Hubby mau kemana?" lanjutnya bertanya.


"Saya akan ke pesantren lalu saya akan menemani kamu pulang ke Jakarta."


"Memangnya nggak mau lagi ngajar di pesantren yah?"


"Bukankah kamu ingin kuliah, Sayang? saya hanya ingin menemani kamu," jawab Ammar dengan kembali bertanya.


Ulfi sejenak berpikir, benar, tentu ia ingin melanjutkan kuliah. Bahkan saat pendaftaran masuk kuliah jalur undangan, gadis itu tidak pernah memikirkan itu. Ia hanya memilih kampus impiannya tanpa mempertimbangkan bagaimana tanggapan suaminya nanti.


"Saya bisa kuliah di sini kok, jadi Hubby bisa tetap mengajar di pesantren," jawab Ulfi akhirnya.


Ammar mengerutkan keningnya mendengar jawaban Ulfi yang seperti terpaksa. "Memangnya kamu nggak punya tempat kuliah impian?" tanya pria itu.


"Emm, nanti kita bicarakan di rumah yah Hubby, saya juga masih bingung," jawab Ulfi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ammar hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu mengecup kening gadis itu.

__ADS_1


"Saya sangat merindukan kamu," ucap Ammar lalu kembali mendekap Ulfi dengan sayang.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Di sisi lain, Ika, Ira, Sinta dan Lisa sedang asik bercerita tentang pernikahan. Membuat keempat gadis itu kerap kali tertawa bahkan saling menggoda.


"Guys, melihat Ulfi dan Ustadz Ammar, kok aku jadi pengen nikah juga yah sama ustadz," celetuk Lisa.


"Kamu nggak cocok sama ustadz Lis," sanggah Sinta.


"Memangnya kenapa? Terus aku cocoknya sama siapa dong?" tanya Lisa heran.


"Kamu cocoknya sama Firdaus," jawab Ira sedikit meninggikan suaranya.


Firdaus yang kebetulan berada tidak jauh dari mereka refleks menoleh saat mendengar namanya disebut, membuat Lisa yang tanpa sengaja saling bertatapan dengannya seketika salah tingkah.


"Kalau aku guys, gimana?" sela Ika yang juga penasaran akan penilaian temannya itu.


"Kamu kan pintar, kamu cocok sama ustadz juga," jawab Sinta.


"Benarkah? Wah, kuharap Ustadz Ammar memiliki teman yang single dan mau menjadikanku istrinya," ujar Ika penuh harap.


"Aamiiin," jawab Ustadz Ammar yang baru saja tiba bersama Ulfi.


"Eh, Ustadz, saya cuma bercanda kok Ustadz," sahut Ika yang merasa sangat malu dan salah tingkah karena perkataannya di dengar oleh Ustadz mereka.


"Serius juga tidak apa-apa, bagaimana Azka?" tanya Ammar kepada temannya yang berada di sampingnya.


Sontak keempat gadis itu langsung berbalik ke belakang melihat sosok pria tampan di samping Ustadz Ammar yang sejak tadi duduk di belakang mereka.


"Allahu Akbar, berarti sejak tadi dia mendengar perkataanku,' lirih Ika langsung berbalik ke arah depan karena merasa sangat malu sembari menutup wajahnya.


-Berlangsung-


Assalamu 'alaikum.


Apa kabar untuk kakak-kakak semua? sebelumnya Author mohon maaf karena 2 hari yang lalu libur up, dan kemarin pun upnya lambat alhasil lolos reviewnya baru hari ini, padahal upnya dari semalam.


Tidak terasa karya Author ini sudah berjalan satu tahun yah, dari 2022-2023 ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… tapi jangan bosan yah sama ceritanya, hihi.


Oh iya hari ini kita sudah memasuki tahun baru, Author berharap semoga resolusi kita di tahun 2023 dapat tercapai. Aamiiin.


Mohon dukungannya selalu yah ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Terima kasih untuk semuanya, love you all ๐Ÿฅฐ


__ADS_2