
Hari terus berganti, membawa kejutan menjadi kenangan, mengantar luka menjadi cinta dan menghadirkan jawaban dari setiap rahasia.
Ada doa yang selalu menyertai rindu, ada harapan yang selalu menyertai langkah. Hidup terus berjalan, entah itu membawamu pada masa depan penuh harapan atau membawamu pada pembuka kehidupan yang abadi penuh misteri.
Tiga tahun telah berlalu tidak terasa. Sebuah langkah kaki kecil melangkah keluar dari rumah sang pemilik yayasan sembari memakai sebuah peci, matanya tertutup sempurna oleh peci itu karena memiliki ukuran yang jauh melebihi ukuran kepala mungilnya.
Di lehernya melingkar sebuah tasbih yang berisi 99 biji manik berukuran besar, membuat anak mungil itu seolah menggunakan kalung. Wajahnya tampak begitu riang melangkah meninggalkan rumah sang kakek dan masuk ke rumah orang tuanya.
Sementara di dalam rumah, kakek Hasan dan Kakek Ghafur terlihat uring-uringan mencari barang milik mereka, rencananya Kakek Hasan akan memakai peci favoritnya ke masjid, sementara Kakek Ghafur akan membawa tasbih favoritnya ke masjid.
"Aduh, kemana juga peci itu, perasaan tadi subuh ada di sini," ujar Kakek Hasan sembari menunjuk meja di ruang tamunya.
"Biji tasbihku juga hilang, seingatku tadi ada di sini," ujar Kakek Ghafur sembari menunjuk sofa di ruang tamu.
"Apa jangan-jangan cucu kita yang membawanya?" tebak Kakek Hasan.
"Bukan cucu kita, tapi cucuku, dan cicitmu," sanggah Kakek Ghafur.
"Ck, kita seumuran, kenapa status kita untuk anak itu beda, memusingkan sekali," gerutu Kakek Hasan.
"Hahaha sudahlah menggerutunya, ayo kita menemui Aqil," ajak Kakek Ghafur.
Mereka pun keluar dari rumah mereka dan masuk ke dalam rumah Ammar dan Ulfi, tak lupa mengucapkan salam.
"Kakek, kakek," teriak seorang anak kecil menyambut kedatangan mereka masih dengan style yang sama.
Sang ibu dan ayah yang berada di kamar langsung ikut keluar saat mendengar teriakan sang buah hati yang baru berusia 2 tahun itu.
"Kakek, Ayah?" ucap Ulfi dan Ammar bersamaan.
"Anak kalian ini iseng banget, lihat tuh!" Kakek Hasan menunjuk sang cucu yang masih mengenakan peci besar di kepalanya dan tasbih di lehernya.
__ADS_1
Ulf dan Ammar kini mengikuti arah tunjuk sang kakek dan langsung tertawa pelan melihat sang anak yang tampak begitu lucu dan menggemaskan.
"Eh, Aqil pake apa sayang?" Ulfi berjongkok sembari mengajak anak yang belum terlalu lancar bicara itu untuk berbicara.
"Aqil mau colat," ucap anak itu dengan bahasa bayinya.
"Oh mau sholat, masya Allah anak sholeh. Tapi kalau mau sholat, Aqil pake barang milik Aqil yah, ini dan ini kan punya kakek, Sayang." Ulfi menunjuk peci dan biji tasbih itu bergantian.
"Puna kakek?" ulang anak itu.
"Iya, Sayang. Punya Aqil yang ini." Ammar ikut berjongkok sembari mengganti peci besar itu dengan peci kecil miliknya, dan memberikan sebuah biji tasbih kecil yang berisi 33 butir manik di tangan kecilnya.
"Nah, ini baru cocok, Sayang. Sekarang Aqil kasi kembali barang milik kakek yah," pinta Ulfi dan di angguki anak itu.
Dengan langkah kecilnya, Aqil berjalan menghampiri kedua kakeknya dan memberikan barang milik mereka.
"Anak pintar," ucap Kakek Hasan dan Kakek Ghafur bersamaan.
"Wa'alaikum salam," jawab Ulfi.
Mereka bertiga pun akhirnya keluar dari rumah dan hendak pergi ke masjid, tapi langkah mereka terhenti saat ada yang memanggil.
"Kakel, Om, saya ikut," ujar Firdaus yang rupanya juga tinggal di rumah guru sejak ia menikah. Pria itu berjalan menghampiri tiga pria beda usia itu.
"Kyaaaaa, Abiiii," tangis seorang anak perempuan yang belum cukup 2 tahun di ambang pintu.
Rupanya anak itu sedang merengek ingin ikut ke masjid bersama sang ayah. Tak lama setelah itu, muncul seorang wanita yang langsung menggendong anak itu hingga tangisannya perlahan mereda.
Firdaus yang melihat sang buah hati sudah tenang di gendong istrinya langsung melemparkan senyuman di sertai kode kepada keduanya bahwa ia akan berangkat ke masjid.
Setelah para pria itu pergi ke masjid, Ulfi yang sejak tadi berada di ambang pintu bersama Aqil, langsung menghampiri anak kecil tadi bersama ibunya.
__ADS_1
"Eh Lisa, gimana? Apa sore ini mereka jadi datang?" tanya Ulfi.
"Insya Allah, mereka udah di jalan tadi, malam ini kan pembukaan acara reumi akbar, nggak mungkin mereka mau melewatkan momen ini," jawab Lisa sembari menurunkan anaknya yang bernama Alfi untuk bermain bersama Aqil.
"Baguslah, aku sangat merindukan mereka." Senyuman mengembang kini terlihat di wajah cantik Ulfi.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Malam pembukaan acara reuni akbar sebentar lagi akan di mulai. Lapangan yang cukup luas itu kini di sulap sebagian menjadi area panggung yang begitu indah dan estetik, sedangkan sebagian lagi di sulap menjadi tempat duduk para alumni yang akan menyaksikan rangkaian acara pembuka malam ini.
Ulfi dan Lisa beserta anaknya sudah menunggu kedatangan Ira, Ika, Sinta, dan Sarah di dekat gerbang tempat acara reuni akbar yang akan berlangsung. Tapi hingga detik ini juga mereka belum menampakkan batang hidungnya.
"Untuk para kakak alumni yang masih berada di luar, silahkan masuk karena acara sebentar lagi akan di mulai." Suara MC yang terdengar begitu jelas mulai memanggil, membuat kedua wanita itu membuang napas kasar.
"Sepertinya mereka tidak datang, Lis," ucap Ulfi lesu.
"Ho'o, katanya mau datang sore ini, tapi nggak datang-datang sampai sekarang, kalau kita jemuran, udah kering kali kita dari tadi, ck," decak Lisa kesal. Mereka berdua hendak masuk ke dalam gerbang, tapi tiba-tiba terdengar suara beberapa orang memanggil mereka.
"Ulfi! Lisa!" Kedua wanita itu kompak berbalik ke arah sumber suara. Dan seketika mata mereka berbinar saat melihat Sarah yang datang bersama dua anak dan suaminya, Ira yang datang bersama suami dan kakaknya yang juga alumni, sementara Ika dan Sinta datang tidak membawa siapa pun.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian datang juga. Kemana aja kalian, hah? Dari tadi di tungguin, katanya mau datang sore ini, tapi malah baru datang sekarang, memangnya kalian pikir kami jemuran apa," cerocos Lisa dengan cepat.
"Heeei, dasar wanita cerewet, memangnya kamu pikir kami tidur dulu apa? Kami datang terlambat karena kami singgah di rumahnya Sarah. Kamu tidak tahu saja betapa lamanya kami menunggu ibu dua anak ini bersiap, belum lagi bapaknya yang masih dalam perjalanan pulang dinas," cerocos Sinta balik.
"Astaga, sesama wanita cerewet nggak usah berdebat deh, bisa-bisa acara reuninya kelar sebelum kita masuk," sela Ira.
"Iya-iya pengantin baru," ucap Sinta dan Lisa bersamaan, membuat Ira hanya bisa geleng-geleng kepala salah tingkah.
Mereka sejenak tertawa bersama, saling melepas beban mereka seharian dengan saling bercanda. Namun, tawa mereka seketika terhenti saat melihat seseorang berjalan sendiri menghampiri mereka.
"Fira?" ucap Ulfi.
__ADS_1
-Bersambung-